Indonesia
NovelToon NovelToon
Resep Terakhir Dari Ibu

Resep Terakhir Dari Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Wushhh.

Angin malam berhembus cukup kencang menyapu wajah lelah para peserta yang baru saja turun dari bus pariwisata.

Sebuah bangunan asrama tiga lantai bergaya modern berdiri kokoh di hadapan mereka.

Ini adalah tempat di mana kelima puluh peserta yang lolos audisi akan menghabiskan waktu selama kompetisi berlangsung.

Aldo merapatkan kerah jaket tipisnya untuk menahan udara dingin yang menusuk tulang.

Kruyukkk.

Suara perutnya kembali berbunyi mengingatkan bahwa dia belum memakan hidangan utuh sejak kemarin.

Kemenangan di babak audisi tadi membuatnya lupa sejenak akan rasa lapar yang menyiksa.

Namun kini setelah adrenalinnya mereda rasa lapar itu datang menyerang dengan dua kali lipat lebih ganas.

"Perhatian semuanya, silakan berkumpul di lobi asrama sekarang juga," teriak seorang panitia pria berkacamata.

Para peserta bergegas masuk ke dalam lobi yang luas dan dilengkapi dengan banyak sofa empuk.

"Wah, tempat ini mewah sekali untuk ukuran asrama karantina," ucap seorang pria jangkung di sebelah Aldo.

"Ini lebih mirip hotel bintang empat daripada asrama biasa," sahut peserta lain menyetujui.

Aldo hanya diam dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan lobi.

Dia tidak terlalu peduli dengan kemewahan tempat ini asalkan ada tempat tidur yang hangat dan makanan.

"Baiklah, saya akan membagikan kunci kamar kalian," ucap panitia itu sambil memegang tumpukan kartu akses.

"Satu kamar akan diisi oleh empat orang peserta."

"Kalian tidak bisa memilih teman sekamar karena sistem sudah membaginya secara acak."

Mendengar pengumuman itu, suara protes langsung terdengar dari barisan paling depan.

"Apa apaan ini, saya tidak mau tidur sekamar dengan sembarang orang," protes Kevin dengan nada tinggi.

Pemuda sombong itu maju ke depan dengan wajah sangat kesal.

"Saya terbiasa tidur di kamar tipe presidential suite sendirian," lanjut Kevin menyombongkan diri.

"Tolong berikan saya satu kamar khusus, saya bisa membayar berapapun harga sewanya."

Panitia berkacamata itu hanya menghela nafas panjang seolah sudah terbiasa menghadapi peserta arogan.

"Maaf, Saudara Kevin. Aturan karantina ini berlaku mutlak untuk semua peserta tanpa terkecuali."

"Jika Anda keberatan dengan aturan ini, Anda dipersilakan untuk mengundurkan diri malam ini juga."

Wajah Kevin langsung memerah padam mendengar ancaman telak dari panitia tersebut.

Dia mendengus kasar lalu kembali ke barisannya sambil menggerutu tidak jelas.

"Baiklah, saya akan panggil nama kalian satu per satu untuk maju mengambil kartu akses."

Pembagian kamar pun dimulai dan nama para peserta dipanggil secara bergantian.

Aldo menunggu dengan sabar di barisan belakang sambil sesekali memegang perutnya yang melilit.

Duk.

Tiba tiba ada seseorang yang menabrak punggung Aldo dari belakang dengan cukup keras.

"Aduh, maaf ya. Aku tidak sengaja," ucap sebuah suara perempuan yang terdengar sangat lembut.

Aldo menoleh ke belakang dan melihat seorang gadis berambut sebahu sedang memungut tasnya yang jatuh.

Gadis itu memiliki wajah bulat yang manis dengan lesung pipit di kedua pipinya.

Dia mengenakan kemeja kotak kotak dan celana jins panjang yang terlihat sangat nyaman.

"Tidak apa apa," jawab Aldo singkat lalu berniat kembali menghadap ke depan.

"Tunggu sebentar, kamu Aldo kan? Peserta yang lolos terakhir tadi?" tanya gadis itu antusias.

Aldo sedikit terkejut karena ada peserta lain yang memperhatikan namanya.

"Iya, namaku Aldo. Kamu siapa?"

Gadis itu tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.

"Namaku Rina Anatasya, panggil saja Rina."

Rina mengulurkan tangan kanannya ke arah Aldo dengan penuh semangat.

Aldo menatap tangan itu sejenak sebelum akhirnya membalas jabatan tangan Rina.

"Salam kenal, Rina."

"Kamu hebat sekali tadi di ruang audisi, Aldo," puji Rina dengan mata berbinar.

"Aku sempat melihat ayam wokumu saat aku antri di belakang, wanginya enak sekali."

"Terima kasih. Masakanmu juga pasti enak sampai bisa lolos ke asrama ini."

Rina tertawa kecil sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Aku hanya beruntung saja lolos membawa kue sus rasa pandan," jawab Rina merendah.

Kruyukkk.

Suara perut Aldo yang sangat nyaring tiba tiba memotong obrolan mereka berdua.

Wajah Aldo seketika terasa panas karena menahan malu di depan gadis yang baru dikenalnya.

Rina terdiam sejenak lalu tawanya kembali meledak dengan pelan agar tidak mengganggu orang lain.

"Kamu lapar banget ya, Aldo?" tanya Rina sambil tersenyum geli.

"Iya, aku belum makan sejak kemarin sore karena sibuk mencari kerja dan mendaftar audisi."

Mendengar jawaban jujur Aldo, raut wajah Rina langsung berubah menjadi sangat iba.

"Astaga, pantas saja wajahmu pucat sekali dari tadi."

Srek srek.

Rina buru buru membuka resleting tas jinjingnya dan mengeluarkan sebuah kotak bekal plastik.

Dia menyodorkan kotak bekal itu ke dada Aldo tanpa ragu sedikitpun.

"Ini, makanlah. Aku membuat beberapa potong kue sus lebih saat di ruang tunggu tadi."

Aldo menatap kotak bekal itu dengan perasaan ragu ragu.

"Tapi ini makananmu, Rina. Nanti kamu kelaparan bagaimana?"

"Tenang saja, aku sudah makan banyak sebelum berangkat ke gedung audisi siang tadi."

"Ambil saja, anggap ini tanda perkenalan kita sebagai teman satu angkatan."

Aldo menelan ludah melihat kebaikan tulus dari gadis di depannya ini.

"Terima kasih banyak, Rina. Aku akan membalas kebaikanmu nanti kalau ada kesempatan."

Aldo menerima kotak itu dan langsung membukanya dengan tangan sedikit gemetar karena lapar.

Di dalamnya terdapat tiga buah kue sus berukuran sedang yang terlihat sangat menggoda.

Nyam.

Aldo menggigit satu kue sus itu dan matanya langsung melebar karena terkejut.

Kulit susnya sangat renyah di luar namun sangat lembut di bagian dalam.

Krim pandan yang menjadi isiannya meledak di dalam mulut dengan rasa manis yang sangat pas.

"Ini sangat enak, Rina. Keseimbangan rasa manis dan gurihnya sangat sempurna," puji Aldo tulus.

Wajah Rina memerah mendengar pujian langsung dari peserta yang masakannya dipuji oleh Chef Bram tadi.

"Syukurlah kalau kamu suka, aku selalu takut krim buatanku terlalu manis."

"Tidak, ini sangat pas. Kamu punya bakat besar di bidang pastry."

"Aldo Raditya, silakan maju ke depan."

Panggilan dari panitia membuat Aldo buru buru menelan sisa kuenya dan mengelap mulutnya.

"Aku maju dulu ya, Rina. Sekali lagi terima kasih kuenya," ucap Aldo sambil setengah berlari ke depan.

"Sama sama, Aldo. Semoga kita tidak tereliminasi besok," balas Rina sambil melambaikan tangan.

Aldo mengambil kartu akses dari tangan panitia dan melihat nomor kamar yang tertera di sana.

"Kamar 302, lantai tiga," gumam Aldo dalam hati.

Dia segera berjalan menuju lift dan naik ke lantai tiga bersama beberapa peserta pria lainnya.

Lorong lantai tiga terlihat sangat sepi dan berlantai karpet tebal yang meredam suara langkah kaki.

Ceklek.

Aldo menempelkan kartu aksesnya pada sensor pintu dan mendorong pintu kamar 302 tersebut.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
makasi crazy up nya
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
Was pray
Rina mentalnya tempe ketakutan mesti perut mules. kok gak pusing atau yg lain.. masak hobi kok perut mules. 🤭
Was pray
Aldi sering kalah duluan bangun paginya sama Kelvin
Was pray: si Aldo thooor...
total 2 replies
sitanggang
terlalu monoton, hanya seputaran galery memasak saja. gak ada konteks diluar gallery , sprti org yg pinjamkan uang 50k atw kluarganya yg me onton di tv semisalnya🙄
kiyoe: kan Aldo yatim piatu kak
total 2 replies
ceuceu
di tunggu up nya thor
Was pray
nah benar kan? sejelek apapun hasil masakan Kevin tetap lolos, lama lama jadi kurang greget baca novel ini
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
ceuceu
aneh kok bisa jojo bertahan pdhl ga bisa masak ceroboh,knp ga tereleiminasi dari awal thor,masak apa si jojo selama tanding?
ceuceu
baru tau tehnik membuka kluwek
kiyoe: wkwk berarti belum pernah masak pakai kluwek yaa kak 🤭
total 1 replies
ceuceu
danang sotoy arogan
ceuceu
serakah bgt kevin
ceuceu
perjuangan seorang anak demi masa depan
Was pray
beberapa kali Kevin melakukan kesalahan dalam memasak tapi tetap juga lolos... ini ntar memasak bebek betutu yg amburadul juga lolos lagi kah?
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
kiyoe: Terimakasih kak selalu mensupport saya 🙏
total 1 replies
Was pray
Danang and Jojo selevel Danang sok pintar tapi o'on Jojo berpikir lemot tapi mau belajar walau pelan, kalau Dua koki ini digabungkan satu tim bisa mengundang tim damkar.... 🤣🤣🤣
Was pray
kok bisa lolos audisi si Jojo k as lau masak dop aja keasinan? ntar kalau Jojo bukan warung makan bisa bisa pembelinya bisa pada darah tinggi tuh..... 😄😄😄
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
Was pray
ya salah tim biru sendiri yg memilih Danang jadi kapten tim, kalau udah kacau baru menyesal
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!