Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 7 (Lanjutan) — Jangan Ikut Campur

Suara langkah kaki Clara tergesa-gesa menuruni anak tangga utama kediaman Alexsander. Setelah panggilan darurat dari kepala pelayan tadi, atmosfer di dalam rumah mewah itu seketika berubah dari zona nyaman penuh kehangatan menjadi markas komando yang sarat akan ketegangan.

Fedro menyusul beberapa langkah di belakangnya, mengenakan kemeja putih berkerah rapi dengan lengan yang digulung sebatas siku, memancarkan aura dominan yang siap memecahkan masalah apapun yang menghadang.

Begitu tiba di ruang tengah, ponsel pribadi Clara yang diletakkan di atas meja konsol berdering nyaring tanpa henti. Clara langsung menyambar benda pipih itu. Layar menunjukkan nama sang ayah—Papi Evellyn.

"Halo, Papi? Ada apa?" tanya Clara tanpa basa-basi, memasang mode *speaker* agar Fedro juga bisa mendengarkan.

Suara di seberang terdengar panik bercampur marah. "Clara! Cepat datang ke kantor pusat sekarang juga! Para pemegang saham mendadak mengadakan rapat darurat secara sepihak. Mereka... mereka berencana melengserkan Papi dari kursi direktur utama!"

Kening Clara berkerut dalam. Napasnya memburu. "Melengserkan? Bagaimana bisa? Bukannya masa jabatan Papi masih lama?"

"Orang yang membeli saham mayoritas kita melalui perusahaan cangkang itu baru saja menggunakan hak suara kolektifnya," jawab Papi dengan suara bergetar di ujung telepon. "Mereka membawa dokumen legalitas yang sah. Seseorang dari dalam dewan direksi benar-benar telah berkhianat dan menjual suara kita!"

"Papi tenang dulu, kami segera ke sana," potong Fedro dengan nada rendah, tegas, dan penuh wibawa. Suara berat itu seolah menjadi jangkar yang menahan kepanikan Papi di seberang sana. "Jangan tanda tangani dokumen apa pun sebelum aku dan Clara tiba di ruang rapat."

"Baiklah, Fedro... cepatlah kesini. Keadaan di sini sudah tidak terkendali," ujar Papi sebelum sambungan terputus secara sepihak.

Clara mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang selama ini ia pendam akhirnya meledak. "Rina! Pasti bibi tua itu pelakunya! Selama ini dia selalu mengincar posisi Papi!" teriak Clara frustrasi sambil mondar-mandir di ruang tamu.

Fedro melangkah mendekat, lalu mencengkeram kedua bahu Clara dengan lembut namun mantap, memaksa wanita itu untuk berhenti bergerak dan menatap matanya.

"Dengar, Clara," ucap Fedro tenang namun mengintimidasi. "Marah tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau kita datang ke sana dengan emosi yang meluap-luap, mereka akan dengan mudah memutarbalikkan fakta dan menganggap kita tidak profesional. Tarik napasmu."

Clara menatap mata hitam suaminya yang begitu dalam. Perlahan-lahan, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya, mencoba menjernihkan kepalanya. Insting liarnya sebagai mantan ketua geng motor yang terbiasa membaca situasi berbahaya di jalanan malam kini kembali mengambil alih, berpadu sempurna dengan logika bisnis yang ia pelajari dari ayahnya.

"Aku mengerti," jawab Clara dingin, sorot matanya menajam. "Kita main cantik. Kalau mereka ingin bermain kotor di kandang kita sendiri, kita tunjukkan siapa penguasa sebenarnya."

Fedro tersenyum tipis, sebuah seringai penuh percaya diri yang membuat pesonanya semakin terpancar. "Itu baru istriku. Ayo, kita berangkat."

---

Kurang dari tiga puluh menit kemudian, mobil sport hitam mewah milik Fedro memasuki area parkir basement gedung pencakar langit milik keluarga Evellyn. Pengawalan ketat langsung terlihat begitu mereka keluar dari kendaraan. Beberapa anak buah Fedro berpakaian jas hitam tampak siaga di berbagai sudut lobi, memastikan tidak ada orang asing yang bisa mendekati pasangan tersebut.

Clara berjalan dengan langkah tegas, mengenakan setelan blazer berwarna arang yang mempertegas kesan anggun sekaligus mematikan. Di sampingnya, Fedro berjalan tegap dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana, menampilkan karisma seorang predator puncak yang siap menerkam mangsanya.

Mereka langsung menuju lift khusus eksekutif yang membawa langsung ke lantai paling atas—ruang rapat utama.

*Ting.*

Pintu lift terbuka. Suara riuh perdebatan di dalam ruang rapat langsung terdengar samar-samar. Clara dan Fedro melangkah melewati pintu kaca ganda yang dijaga oleh dua petugas keamanan perusahaan.

Begitu mereka memasuki ruangan, suasana yang tadinya gaduh seketika mendadak sunyi senyap. Semua pasang mata langsung tertuju ke arah pintu.

Di ujung meja rapat panjang berlapis kayu mahoni, Papi duduk dengan wajah pucat di sebelah Mami yang tampak cemas. Sementara di seberang mereka, duduklah Rina—bibi Clara—dengan senyum licik tersungging di bibirnya. Di samping Rina, berdiri seorang pria paruh baya berjas rapi yang belum pernah Clara lihat sebelumnya, memegang map hitam tebal di tangannya.

"Ah, lihat siapa yang datang," ucap Rina dengan nada menyindir yang dibuat-buat, memecah keheningan. "Pengantin baru yang dikira hebat, ternyata baru muncul setelah perusahaan keluarga hampir runtuh."

Clara menghentikan langkahnya tepat di belakang kursi sang ayah. Ia menatap Rina tajam, lalu melangkah maju tanpa ragu sedikit pun.

"Menjaga perusahaan keluarga dari tikus-tikus got yang berkhianat memang membutuhkan waktu, Bibi Rina," balas Clara dingin, suaranya menggema di seluruh penjuru ruang rapat yang luas itu. "Terutama tikus yang selama ini diberi makan, tapi malah menggigit tangan pemiliknya sendiri."

Wajah Rina seketika berubah merah padam karena marah. Ia mendengus kesal. "Jaga mulutmu, Clara! Kamu hanya anak kemarin sore yang tahu apa soal bisnis besar?!"

"Cukup," sebuah suara berat memotong perdebatan itu. Fedro melangkah maju, berdiri tepat di samping istrinya. Kehadiran pria itu seketika menebarkan aura dingin yang membuat sekujur bulu roma para pemegang saham meremang. Fedro menyapukan pandangannya ke seluruh orang di ruangan itu sebelum menatap lurus ke arah pria asing di sebelah Rina.

"Kalian mengadakan rapat darurat secara ilegal tanpa persetujuan dari pemegang saham mayoritas mutlak," ujar Fedro dengan nada datar, namun penuh ancaman terselubung. "Dan kalian berani membahas pencopotan direktur utama di hadapan hukum?"

Pria asing berjas rapi itu tersenyum tenang, mencoba menutupi kegugupannya di hadapan Fedro. "Maaf, Tuan Fedro. Kami bertindak atas nama pemegang saham baru yang kini memegang kendali atas lima puluh satu persen saham perusahaan Evellyn Corp. Berdasarkan undang-undang korporasi, kami memiliki hak penuh untuk merombak jajaran direksi."

Semua orang di ruangan itu menahan napas. Papi menutup wajahnya dengan tangan, merasa segalanya sudah berakhir. Lima puluh satu persen adalah angka mutlak. Tidak ada jalan keluar.

Namun, di luar dugaan semua orang, Fedro justru tertawa kecil—sebuah tawa dingin yang membuat suasana ruangan semakin membeku.

"Pemegang saham baru, ya?" tanya Fedro retoris. Ia mengeluarkan sebuah tablet dari saku jasnya, lalu meletakkannya di atas meja rapat dengan gerakan santai. Ia mengetuk layar beberapa kali, menampilkan dokumen digital yang diproyeksikan ke layar besar di depan ruangan. "Kalian bicara tentang perusahaan cangkang bernama *Shadow Capital*, yang terdaftar di Kepulauan Cayman dan dibiayai oleh sindikat keuangan ilegal?"

Wajah pria asing itu seketika memucat pasi. Senyum di wajah Rina langsung lenyap seketika, berganti dengan kepanikan luar biasa.

"B-bagaimana kamu bisa..." bisik pria itu terbata-bata.

Fedro melipat kedua tangannya di depan dada, menatap tajam ke arah mereka. "Aku adalah Fedro Alexsander. Di dunia bisnis bawah tanah, melacak aliran dana bodong seperti yang kalian gunakan sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan. Dan asal kalian tahu..." Fedro mendekatkan wajahnya ke meja, menatap seluruh anggota dewan yang berkhianat satu persatu, "...perusahaan cangkang itu baru saja dibekukan oleh otoritas keuangan internasional atas permintaan khususku pagi ini."

*Deg!*

Ruangan rapat mendadak senyap seperti kuburan. Rina berdiri dari kursinya dengan gemetar, menunjuk ke arah Fedro. "Itu tidak mungkin! Dokumen itu sah!"

"Sah di atas kertas yang kalian beli dari hasil suap," sahut Clara menimpali dengan suara penuh penekanan. Ia berjalan mendekati Rina, berdiri begitu dekat hingga bibi kesayangannya itu terpaksa mundur selangkah karena ketakutan. "Dan sekarang, semua aset perusahaan cangkang itu sudah disita atas tuduhan pencucian uang dan sabotase industri."

Clara menoleh ke arah Papi dan Mami, memberikan senyuman menenangkan. Lalu ia berbalik menghadap seluruh pemegang saham yang tadi menunduk ketakutan.

"Bagi siapa saja di ruangan ini yang masih ingin mencoba bermain-main di belakang keluarga Evellyn," ucap Clara dengan nada suara dingin ala seorang ratu jalanan yang sedang memberikan peringatan keras kepada musuh-musuhnya, "silakan maju sekarang. Tapi ketahuilah, suamiku dan aku tidak akan segan-segan menghancurkan kalian sampai ke akar-akarnya."

Tidak ada seorang pun yang berani bersuara. Bahkan para pengacara bayaran yang dibawa oleh Rina perlahan-lahan merapikan berkas mereka dan bersiap untuk kabur dari ruangan.

Fedro melangkah mendekati Clara, merangkul pinggang istrinya dengan penuh kebanggaan. Ia menatap Rina untuk terakhir kalinya sebelum berbisik pelan, "Jangan ikut campur dalam urusan keluarga kami lagi, Bibi. Karena permainan kalian sudah berakhir."

---

Sore harinya, setelah kekacauan di kantor pusat berhasil diselesaikan dan dewan direksi yang berkhianat langsung diserahkan kepada pihak berwajib atas tuduhan penggelapan dan sabotase, Clara dan Fedro kembali ke rumah mewah mereka.

Begitu pintu utama tertutup, pertahanan tegang Clara seketika runtuh. Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke pintu kayu yang kokoh. Rasanya tenaganya terkuras habis setelah drama panjang di ruang rapat tadi.

Fedro berdiri di hadapannya, menatap wanita itu dengan senyuman hangat. "Hebat sekali penampilanmu tadi, Nyonya Alexsander. Hampir saja aku tidak perlu mengeluarkan kartu as-ku."

Clara memutar bola matanya dengan malas, meski sudut bibirnya membentuk senyuman kecil. "Jangan sombong, Tuan Alexsander. Kalau bukan karena data dari anak buahmu, aku mungkin sudah melompat dan menjambak rambut Bibi Rina di depan umum."

Fedro tertawa lepas—suara renyah yang selalu berhasil menghangatkan hati Clara. Ia mengulurkan tangannya, menyelipkan helaian rambut Clara ke belakang telinga. "Melakukan itu di depan umum sepertinya akan menjadi tontonan yang sangat menarik."

Clara mencubit pelan lengan suaminya. "Ih, malah mendukung!"

Namun tawa itu perlahan mereda. Suasana di antara mereka berubah menjadi hening yang menenangkan. Clara menatap mata Fedro, menyadari betapa jauh perjalanan hubungan mereka dalam beberapa hari terakhir. Dari pernikahan terpaksa yang penuh kecanggungan, malam-malam penuh rahasia di ruang kerja, hingga kini berdiri berdampingan menghadapi badai bersama-sama.

"Fedro..." panggil Clara pelan.

"Hm?"

"Terima kasih."

Fedro menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa lagi?"

"Untuk semuanya," jawab Clara tulus, meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. "Untuk motornya, untuk perlindunganmu, dan karena kamu tidak pernah membiarkanku berjalan sendirian menghadapi semua ini."

Fedro tersenyum lembut. Ia menarik tubuh Clara mendekat, mendekapnya erat dalam pelukan hangat yang menjadi tempat teraman di dunia bagi wanita itu.

"Sudah kubilang, Clara," bisik Fedro tepat di dekat telinga istrinya. "Aku tidak punya rencana untuk pergi ke mana-mana. Kita adalah satu tim sekarang."

Di luar, matahari perlahan terbenam, memancarkan rona jingga keemasan di langit kota. Namun di dalam rumah itu, tidak ada lagi ketakutan ataupun keraguan. Yang ada hanyalah dua jiwa yang telah sepenuhnya menyatu, siap menyambut lembaran baru kehidupan mereka sebagai suami istri sejati.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!