Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
“Tapi kita sudah melakukannya.”
“Justru karena itu aku ingin berhenti.”
Dimas menatapnya. “Kamu yakin bisa? Kita sudah melewati malam indah berkali-kali lho!"
Amanda tidak menjawab. Ia ingin mengatakan iya. Sangat ingin. Tetapi jauh di dalam dirinya, ia tahu Dimas masih memiliki pengaruh besar terhadapnya. Setiap kali Dimas datang, sebagian pertahanan Amanda runtuh. Setiap kali Dimas meminta kesempatan, ia merasa bersalah untuk menolaknya. Setiap kali ia mencoba memutus hubungan, Dimas membuatnya merasa seolah-olah ia adalah satu-satunya orang yang bisa memahami lelaki itu.
Sampai akhirnya Amanda menyadari sesuatu yang menyakitkan bahwa selama ini ia tidak hanya terjebak karena mencintai Dimas. Ia terjebak karena Dimas membuatnya merasa dibutuhkan. Dan perasaan dibutuhkan bisa menjadi candu yang sangat sulit dilepaskan.
Bahkan setelah bertunangan dengan Arga, Amanda masih membiarkan Dimas datang. Ia masih membuka pintu. Masih menjawab pesan. Masih menjadi tempat persembunyian lelaki itu. Setiap kali semuanya selesai, rasa bersalah kembali datang. Amanda akan melihat cincin di jarinya dan teringat Arga. Ia akan teringat Tira. Ia akan bertanya kepada dirinya sendiri bagaimana mungkin ia bisa menjadi sahabat Tira sambil menyimpan rahasia sebesar ini.
Delapan tahun berlalu tanpa pernah benar-benar menyelesaikan apa pun. Dimas tidak menikahi Tira. Amanda tidak benar-benar meninggalkan Dimas. Dan Tira, tanpa mengetahui apa yang terjadi di belakangnya, tetap menunggu lelaki yang ia cintai. Sampai akhirnya Tira memberikan ultimatum.
Sampai akhirnya Dimas menerima undangan pernikahan. Dan pagi itu, setelah Dimas pergi dari kamar kosnya, Amanda berdiri lama di depan cermin sambil memandangi cincin pertunangannya. Ia menyentuh cincin itu dengan ujung jari. “Aku harus berhenti,” bisiknya.
Kali ini bukan karena Arga akan datang. Bukan karena takut ketahuan. Bukan pula karena Dimas mulai kehilangan Tira. Ia harus berhenti karena untuk pertama kalinya ia sadar bahwa selama hampir delapan tahun, ia telah membiarkan dirinya hidup dalam kebohongan. Ia menyakiti Tira, perempuan yang menyebutnya sahabat. Ia menyakiti Arga, lelaki yang mempercayainya. Dan yang paling menyedihkan, ia juga menyakiti dirinya sendiri.
Amanda mengambil ponsel. Nama Tira masih berada di daftar kontak teratas. Ia menatapnya lama. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Ada begitu banyak rahasia yang ingin ia keluarkan. Tetapi satu pertanyaan membuat jarinya berhenti di atas layar, apakah Tira akan tetap menyebutnya sahabat setelah mengetahui semuanya? Amanda menutup mata. Ia tahu cepat atau lambat kebenaran akan keluar. Dan mungkin, pernikahan Tira dengan Fahri bukanlah akhir dari masalah ini. Justru bisa menjadi awal terbongkarnya rahasia yang selama delapan tahun mereka sembunyikan.
***
Jam makan siang membuat sebuah kafe kecil di dekat kantor Tira dipenuhi pegawai yang datang silih berganti. Amanda sudah duduk lebih dulu di sudut ruangan, dekat jendela, dengan secangkir kopi yang sejak tadi hanya disentuh sekali. Ketika Tira datang, wajah sahabatnya itu tampak lebih ringan daripada beberapa minggu terakhir, meskipun masih ada sesuatu yang tersimpan di matanya.
“Maaf, Man. Tadi ada kerjaan mendadak,” kata Tira sambil menarik kursi.
Amanda tersenyum. “Nggak apa-apa. Aku juga baru datang.”
Tira meletakkan tas di samping kursi, kemudian memanggil pelayan untuk memesan makan siang.
Setelah pelayan pergi, Amanda langsung menatapnya. “Jadi... benar?”
Tira tahu pertanyaan itu. Ia tersenyum kecil. “Benar apa?”
“Kamu benar-benar mau menikah.”
Tira menunduk sebentar, kemudian mengangguk. “Iya.” ia juga mengambil sebuah undangan dan memberikannya pada Amanda. "Sebenarnya aku ingin memberikan pada kamu lebih dahulu, tapi beberapa hari ini aku sibuk jadi belum sempat main ke kosan kamu, Man."
Amanda menarik napas pelan. Mendengar jawaban itu secara langsung terasa jauh lebih berat daripada melihat nama Fahri di undangan. “Kamu yakin?”
Tira tersenyum tipis. “Aku juga masih sering bertanya begitu kepada diriku sendiri.”
“Kamu mencintai Fahri?”
Pertanyaan itu membuat Tira diam cukup lama. “Belum,” jawabnya akhirnya. “Aku belum mencintai dia.”
Amanda menatap wajah sahabatnya. Tidak ada kebohongan dalam jawaban itu. “Lalu kenapa kamu mau?”
Tira memainkan ujung sendok di atas meja. “Karena aku sudah terlalu lama menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar datang.”
Amanda tahu siapa yang dimaksud. “Dimas?”
Tira mengangguk. “Aku mencintai Dimas, Man. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar. Aku nggak bisa bangun tidur lalu tiba-tiba bilang perasaanku hilang.”
Amanda menunduk. Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menekan dadanya. Ia tahu betapa dalam cinta Tira kepada Dimas. Ia juga tahu bahwa selama bertahun-tahun dirinya menjadi salah satu orang yang mendengarkan semua cerita itu sambil menyimpan rahasia paling kejam. “Terus Fahri?” tanya Amanda pelan.
Tira menarik napas. “Fahri datang ketika aku sudah capek.”
“Bagaimana awalnya?”
Tira tersenyum kecil. “Awalnya dari Ayah.” Ia kemudian bercerita bagaimana ayahnya mulai mengenalkan Fahri. Seorang lelaki dua puluh tujuh tahun yang bekerja di sebuah BUMN, berasal dari keluarga baik-baik, dan datang bukan untuk sekadar berkenalan. Fahri datang bersama keluarganya. Tidak sendirian, tidak diam-diam, dan tidak dengan hubungan yang tidak jelas. Pertemuan pertama mereka bahkan membuat Tira sedikit canggung. Ia duduk di ruang tamu bersama kedua orang tuanya, sementara Fahri duduk berhadapan dengannya. Lelaki itu mengenakan kemeja sederhana. Tidak banyak bicara. Tidak berusaha membuat dirinya terlihat hebat. Ketika ayah Tira bertanya tentang pekerjaannya, Fahri menjawab seperlunya. Ketika ibunya bertanya tentang keluarga, ia menjawab dengan tenang. Dan ketika akhirnya mereka diberi kesempatan berbicara berdua, Fahri tidak langsung mengucapkan kalimat romantis seperti yang mungkin dilakukan lelaki lain. Ia justru berkata, “Saya tahu mungkin Tira belum mengenal saya. Saya juga tahu Tira punya masa lalu. Saya tidak datang untuk memaksa Tira melupakan siapa pun.” Tira masih mengingat kalimat itu.
“Lalu dia bilang apa?” Amanda bertanya.
“Dia bilang, kalau aku belum bisa mencintainya sekarang, dia tidak akan memaksaku. Dia cuma meminta aku mempertimbangkan apakah aku bersedia membangun kehidupan bersama seseorang yang berniat serius.”
Amanda terdiam. “Kedengarannya dewasa.”
“Iya.” Tira tersenyum. “Itu yang membuatku berpikir.” Fahri tidak berusaha memenangkan hati Tira dengan rayuan. Ia tidak membandingkan dirinya dengan Dimas. Ia bahkan tidak bertanya mengapa hubungan Tira sebelumnya belum sampai pernikahan. Ia hanya hadir dengan niat yang jelas.
Ketika keluarga Fahri datang untuk melamar, Tira masih memikirkan Dimas. Bahkan malam sebelum memberikan jawaban, ia menangis sendirian. Ia membuka percakapan lama dengan Dimas. Foto-foto mereka selama kuliah masih tersimpan. Ada foto ketika Dimas pertama kali mengajaknya makan. Ada foto kelulusan. Ada foto ketika mereka merayakan ulang tahun bersama.
Delapan tahun kenangan itu tidak mungkin hilang hanya karena seorang lelaki baru datang. Tetapi Tira juga teringat percakapan mereka dua pekan sebelumnya. Kalau kamu tidak melamarku sekarang, kita putus. Dimas tidak bergerak. Tidak datang. Tidak mengirim keluarganya. Tidak memberikan kepastian.