Indonesia
NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerasukan?

Bab. 08

# Kerasukan? #

Usai mengantarkan sang ayah keluar dari kamar, Sora dengan sigap menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Kewaspadaannya belum boleh kendur sedikit pun. Walau Tuan Mubis sudah termakan mentah-mentah oleh tipu muslihat Ino, entah mengapa dada Sora masih terasa sesak dan berat.

Banyak hal berkecamuk di kepalanya mengenai Ino. Situasi ini benar-benar di luar dugaannya. Apakah Axcelino memang serandom ini? Kalau iya, wajar saja ia kerap menebar kekacauan pada orang-orang di sekitarnya. Namun, dari laporan informan bayarannya, tidak ada satu pun yang menyebutkan kalau Ino gemar mengoleksi hobi cosplay menjadi perempuan. Yang tertulis di sana hanyalah deretan rekam jejak kebrutalannya semata.

Meskipun belum ada bukti video atau rekaman CCTV, Sora yakin Ino versi 'anggun nan ajaib' ini bukan sosok yang membuat keonar-keonaran tersebut. Atau jangan-jangan... semua isu miring itu cuma rumor tanpa bukti? Sebuah skenario murahan yang disiapkan para rival Pierce Group demi menjatuhkan reputasi sang calon penerus?

Dengan sisa energi dan kesadaran yang pas-pasan, Sora melangkah menuju area ranjang. Ia baru saja hendak melantangkan suara, menyuruh Ino segera berganti pakaian. Namun, kalimat itu tertahan di tenggorokan. Sora melongo tak percaya, Ino tanpa dosa sudah berbaring santai di atas kasurnya sambil mengotak-atik ponsel. Seolah-olah pria itu tidak paham konsep etika antar-gender!

Berada dalam satu ruangan saja sudah membuat norma sosial menangis, apalagi kelakuan santai Ino saat ini. Menurut Sora, ini sudah jauh melewati batas aman!

Melihat wajah Sora yang menegang panik bak melihat penampakan, Ino malah menyingkap selimut lalu menepuk-nepuk bantal di sebelahnya. Ia memberi isyarat manis agar Sora ikut berbaring. Dengan langkah tegas dan tatapan membunuh, Sora menghampiri Ino lalu naik dan berdiri diatas kasur. Bukan untuk tidur, melainkan untuk meluncurkan tendangan maut!

BRUKKK...

"AWWW... Soraaaa! Pinggangku patah ini, sakiiiiit...!"

Sora tak bergeming menyaksikan Ino yang kini tersungkur dramatis di atas lantai. Ia melipat kedua tangan di dada sambil duduk bersila, memperhatikan reaksi pria itu. Dalam pikiran Sora, Ino pasti akan meledak, marah besar, dan membalas perlakuan kasarnya, atau justru memperpanjang sandiwara absurd ini.

Ino mengelus-elus pinggangnya yang mengaduh, lalu menggapai-gapai tepi ranjang meminta belas kasihan.

"Ehh... Ino? Kamu benar-benar kesakitan? Tunggu, tunggu... Maaf! Maafkan aku!" Sora mendadak panik. Ia langsung meloncat turun dan membimbing Ino berdiri. Sora sungguh tak menyangka tendangan 'sentuhan kasih sayangnya' bisa membuat pria itu seencok ini. Apakah daya tahan tubuh Ino serenyah keripik?

Dan di luar dugaan Sora, Ino sama sekali tidak ngamuk. Padahal Sora sudah siap membayangkan skenario terburuk.

Saat didudukkan di ranjang, Sora melihat mata Ino berkaca-kaca dengan napas bergelombang, persis seperti dirinya sendiri kalau sedang menahan tangis. Rasa bersalah mendadak menghantam dada Sora. Dengan penuh penyesalan, ia menepuk-nepuk pelan bahu Ino. "Axcel... kamu tidak apa-apa?"

"Axcel... Axcel... Bukankah kau ini temanku?" potong Ino dengan suara bergetar serak. "Kenapa yang kau khawatirkan Axcel terus dan bukan aku? Kenapa kau jahat sekali? Kenapa sekarang kamu ikut-ikutan bully aku? Apa salahku, Sora? Ku kira kita bisa jadi sahabat..."

*NYUUUUTTT...*

Mendengar tuduhan itu, rasa bersalah langsung menenggelamkan perasaan Sora hingga ke dasar samudra Atlantik. Ino sukses menempatkan dirinya sebagai korban dari kekejaman Sora. Padahal niat Sora bukan begitu!

"Maaf, Ino... Aku tidak bermaksud begitu," bujuk Sora panik. "Kita bisa berteman, tapi kan tetap harus ada batasannya! Aku cewek dan kamu cowok, kamu paham batasan norma kan? Kamu pakai gaun untuk mengelabui Ayahku saja aku sudah paham. Terus, kenapa kamu marah kalau aku panggil Axcel? Kan memang itu nama panjangmu?"

Ino memamerkan raut wajah yang hancur berkeping-keping. Tanpa menjawab, ia memunggungi Sora dan kembali berbaring di kasur. Sora hanya bisa berdiri mematung dalam kebingungan mendalam. Pria di depannya ini benar-benar berbeda 180 derajat dari Axcel yang ia kenal kemarin. Komunikasi dengannya terasa seperti bicaranya dengan alien, penuh teka-teki.

Setelah mendengar dengkuran halus bertiup dari hidung Ino, Sora menghela napas lega. Ia membiarkan pria itu beristirahat dan memilih duduk di meja belajar untuk memeriksa materi kuliah yang dikirim temannya via email. Walau seharian bolos, Sora menolak jadi mahasiswa tertinggal.

Di sela-sela belajarnya, Sora beberapa kali menoleh ke arah Ino yang tertidur pulas. Mengingat deretan kejanggalan hari ini, jemari Sora bergerak membuka tab peramban. Ia mengetikkan kata kunci tentang seseorang yang kepribadiannya bisa berubah drastis dalam sekejap.

Hasil pencarian teratas muncul.

"Kesurupan...? Kerasukan arwah...?"

Membaca artikel blog tentang fenomena orang yang dirasuki jiwa lain hingga sifatnya berubah total, seketika membuat bulu kuduk Sora berdiri serentak. Hawa di kamar itu mendadak terasa dingin menusuk. Saat rasa takut makin mencengkeram, berembus angin dingin yang menerpa belakang lehernya, membuat helaian rambut kuncirnya berterbangan menutup muka.

"AH!" Sora berbalik kaget. Ternyata pintu kaca balkon belum tertutup rapat, membuat tirai meliuk-liuk tertiup angin malam.

Setelah mengunci pintu balkon rapat-rapat, Sora kembali menatap Ino. Dalam remang kamar, wajah Ino yang polos dan tampan saat tertidur malah terlihat memancarkan aura mengerikan di mata Sora yang sedang paranoid. Tanpa pikir panjang, Sora langsung mematikan laptop dan berlari ketakutan keluar dari kamar.

Setelah berlari cukup jauh di sepanjang koridor, Sora baru teringat satu hal. Ia kembali lagi ke depan kamarnya hanya untuk memutar kunci dari luar, memastikan Ino terkurung rapi dan tidak berkeliaran seperti hantu penasaran.

Dengan badan bergidik ngeri, Sora menyusuri lorong menuju lantai dasar, lalu mengetuk pintu salah satu kamar di dekat area laundry.

"Nona? Nona kenapa? Ada apa?!" Bi Muna yang membukakan pintu langsung tertular kepanikan. Wanita paruh baya itu mencengkeram kedua lengan Sora sambil celingukan ke arah lorong belakang, takut-takut ada penyusup atau pembunuh berdarah dingin yang sedang mengejar sang majikan muda.

"Malam ini aku tidur sama Bibi di sini, ya... Aku takut," bisik Sora gemetaran.

Tanpa banyak tanya, Bi Muna menarik Sora masuk lalu mengunci pintu rapat-rapat. Ini keajaiban dunia. Setahunya, Nona mudanya ini punya personal space yang luar biasa ketat dan tidak akan pernah bisa tidur sekamar dengan orang lain.

Bi Muna menyuruh Sora berbaring di atas kasurnya yang pas-pasan untuk dua orang. "Nona tiduran dulu, Bibi ambilkan segelas susu hangat ya."

"Jangan! Bibi di sini saja!" Sora menahan lengan Bi Muna erat-erat. Ia tidak mau ditinggal sendirian di kamar asing ini.

Melihat genggaman erat sang Nona, rasa penasaran Bi Muna akhirnya membumbung tinggi. Ini sudah jauh melewati jam tidur Sora. Bi Muna duduk di tepi kasur dan membelai lembut tangan Sora, memintanya bercerita pelan-pelan.

Dan meluncurlah seluruh kisah itu dari mulut Sora.

"HAAAH?! NONAA!" Bi Muna menjerit tertahan, menepuk mulutnya sendiri. "Gimana kalau sampai Tuan Besar tahu?! Bukan cuma Nona yang disate, kita semua yang ada di rumah ini bakal kena hukum duluan sebelum Tuan menghukum Nona! Satpam depan juga pasti tamat! Apa kita bakal mati berjamaah, Nona? Lagian Nona masih ada ambisi jadi anak nakal kah? Bibi kira Nona sudah pensiun!"

Sora memang sedekat itu dengan pengasuhnya. Sejak kecil, segala rahasia ia tumpahkan pada Bi Muna. Bahkan saat memasuki masa puber, perihal perubahan fisik hingga mood swing remaja selalu ia ceritakan pada Bi Muna dibanding ke ibunya sendiri. Jadi, perihal kedatangan sahabat barunya, Axcelino Pierce, Bi Muna sudah memegang informasi lengkapnya.

"Tapi Nona... apa mungkin teman Nona itu beneran kemasukan hantu cewek?" Bi Muna mengelus dagunya, mendadak jadi detektif mistis. "Kalau dengar cerita Nona sih, baunya bau-bau mistis. Kita tidak boleh tinggal diam! Gimana kalau besok, setelah Tuan dan Nyonya berangkat kerja, kita bawa Tuan Axcel itu ke dukun... eh, maksud Bibi, paranormal? Kebetulan kemarin teman Bibi cerita, ada orang sakti yang berhasil menyembuhkan anaknya yang nakalnya minta ampun!"

Sora mengangguk antusias. Ide mistis itu mendadak terdengar sangat rasional di telinganya saat ini.

Melihat Bi Muna yang berkali-kali menguap, Sora merebahkan diri dan menyuruh pengasuhnya itu ikut tidur. Awalnya Bi Muna menolak karena takut suara ngoroknya yang berkaliber berat akan mengganggu sang Nona. Namun karena terkuras lelah dan didesak Sora, tak sampai hitungan menit, Bi Muna sudah berkelana ke alam mimpi.

 

"AAAAAAAAA.... SETAAAANNNNN!"

*BRUGHHH!*

Pagi yang cerah itu disambut dengan suara dentuman keras. Bi Muna sukses menggelinding jatuh dari atas tempat tidur. Badannya yang gempal menghantam lantai hingga menimbulkan getaran hebat.

Bagaimana tidak kaget? Begitu Bi Muna membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah sosok Sora yang sedang duduk bersila di atas kasur. Rambut panjangnya terurai acak-acakan, wajahnya pucat pasi, dan lingkaran hitam tebal melingkupi matanya. Sangat mirip kuntilanak yang sedang depresi menatap jendela yang masih tertutup!

Melihat Bi Muna tersungkur di lantai, Sora hanya menoleh lambat dengan tatapan datar nan sayu.

"E-eh... Nona, maaf! Suara jatuh Bibi pasti bikin kaget ya?" Bi Muna meringis sambil memegangi pinggangnya. "Ngomong-ngomong... Nona semalaman begadangan? Gimana kalau Bibi buatkan sarapan dulu?"

Sora menggeleng pelan, lalu memohon agar Bi Muna mengantarnya kembali ke kamar atas. Ia perlu mendiskusikan strategi 'pengamanan' Ino untuk tiga hari ke depan agar situasi tetap terkendali.

 

*Cklekk... Klek.*

Sora memutar kunci pintu kamarnya perlahan.

"Nona, sepertinya teman Nona itu masih tidur. Perlu Bibi bangunkan?" bisik Bi Muna mengintip dari balik bahu Sora.

Sora mengangkat satu tangannya, memberi isyarat tahan. Ia menyuruh Bi Muna duduk tenang di sofa sementara dirinya merayap perlahan naik ke atas kasur. Rencananya sederhana, menyusup ke balik selimut dan berakting seolah-olah ia tertidur di samping Ino semalaman.

Namun, baru saja Sora mengambil posisi merangkak di atas kasur, sebuah suara menginterupsinya.

"Soraaa... kau tidak tidur semalaman, ya?"

Sora membeku seketika di posisi merangkak. Badannya kaku. Bagaimana bisa pria yang matanya masih tertutup rapat ini tahu kalau dirinya tidak tidur semalaman?!

"Mmm... T-ternyata kamu sudah bangun, ya?" Sora tertawa canggung, berusaha memutar otak secepat kilat. "Itu... semalam aku mual, masuk angin parah! Jadi aku ke kamar Bi Muna buat minta dipijit. Biasanya kalau sudah dipijit Bi Muna langsung sembuh... hehehe. Kamu juga bisa minta pijit Bi Muna kalau mau! Kebetulan Bi Muna aku ajak ke sini. Mau tidak?"

Sora mengoceh melantur demi mengalihkan pembicaraan agar Ino tidak tersinggung.

Ino akhirnya bangun, mendudukkan dirinya lalu menatap Bi Muna yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya dengan tatapan selidik. Dengan ramah dan tanpa dosa, Ino tersenyum manis sambil melambaikan tangan.

Bi Muna yang disapa hanya bisa membalas dengan senyum canggung dan anggukan kaku.

"Tapi sepertinya kamu beneran tidak tidur semalaman. Apa perutmu masih sakit, Sora?" tanya Ino lembut. Tangannya terulur memegang pipi kiri Sora, menatap cemas wajah Sora yang kusut, pucat, dan memiliki kantung mata hitam bak panda.

Sora yang salah tingkah refleks menepis halus tangan Ino. Ia tertawa garing ke arah Bi Muna, yang kini menatap mereka berdua dengan alis terangkat tinggi, lalu menegaskan bahwa kondisinya sudah sangat baik.

"Oh ya! Kamu mau sarapan apa?" potong Sora cepat. "Biar Bi Muna yang buatkan. Tapi kita makan di kamar saja, ya? Ayah dan Bunda belum berangkat kerja. Kalau kita turun, aku takut Bunda syok melihat aku bawa teman cowok pulang. Nanti penyamaranmu bisa sia-sia dan kamu tidak diizinkan menginap lagi di sini!"

Mendengar kata 'penyamaran', Ino mendadak bersemangat. Ia berdiri dari kasur lalu memegang kedua ujung gaun malam yang masih melekat di tubuhnya sejak semalam. Ia mulai berputar-putar dengan gaya centil yang berlebihan, bak seorang peri dalam dongeng kerajaan.

Teringat sesuatu, Ino menepuk dahi. Ia mengambil wig rambut panjangnya dari atas nakas, memakainya dengan cekatan, lalu merapikannya penuh penghayatan di depan cermin.

"Menurut kalian... aku kurang cantik, ya?" tanya Ino sambil mengedipkan mata ganjen.

PFFTTTT! Hahahaha...

Bi Muna tak sanggup lagi menahan tawa. Tawa pengasuh itu meledak kencang hingga Sora harus menyikut perutnya dan memberi isyarat melotot agar diam. Sora trauma! Ia takut Ino bakal menangis sesenggukan lagi dan merasa sedang di bully. Menghadapi hantu wanita penunggu tubuh Axcelino ini sungguh memeras otak dan tenaga.

Namun bukannya menangis, Ino malah ikut tertawa. Ia melayangkan tawa melengking yang dibuat-buat persis tawa wanita aristokrat.

"Tapi beneran kan, Bik... aku cantiiiiiik...?" goda Ino sambil mengibas-ngibaskan gaunnya.

WUUSSSSHHHH...!

"AAHHH...anginnya!"

⭐⭐⭐⭐⭐

Duh, Ino ini sebenarnya lagi kesurupan beneran, kena mental, atau cuma aktingnya aja yang level Hollywood sih?! Makin misterius aja nih perangai penerus Pierce Group satu ini. Kira-kira apa yang bakal terjadi sama Sora dan Bi Muna setelah "mbak hantu" di tubuh Ino ini?

Jangan lupa tinggalkan jejak, vote, dan comment ya biar makin semangat update part selanjutnya! See you di part 09!*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!