Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 8
Dilara merapikan letak tas bahunya, menatap Asha dengan sorot mata yang teramat tenang.
"Kemenangan yang kamu banggakan itu hanyalah sisa rasa bersalah, Mbak Asha. Selamat, kamu menang. Kamu boleh mengambilnya kembali. Tapi apakah kamu yakin kalau hati Mas Kevin utuh untukmu seperti dulu?"
"Kamu...!" Asha menggeram, melangkah satu tapak lebih maju. Wajahnya yang semula tampak anggun seketika berubah sengit. Sorot matanya yang manis dan manja di depan Kevin menguap tanpa bekas, berganti dengan kilat kejam yang penuh intimidasi.
"Jangan berlagak suci di depanku, Dilara!" bisik Asha tajam, suaranya kini terdengar rendah dan sarat penekanan.
"Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu itu cuma wanita panti asuhan miskin yang beruntung bisa memanjat ke kehidupan Kevin! Selama satu tahun ini kamu cuma beban, menyusup ke tempat yang tidak pernah pantas untukmu! Kamu cuma sampah yang akhirnya dibuang!"
Dilara tidak gentar. Ia menatap perubahan drastis pada raut wajah Asha, sosok manipulatif yang pandai memainkan peran.
"Terima kasih atas penilaianmu, Mbak. Tapi sampah yang kamu maksud ini pergi dengan terhormat, tanpa perlu memalsukan sakit demi menarik simpati seorang pria."
Kalimat Dilara menancap tepat di titik terlemah Asha. Amarah Asha meledak seketika.
"Berani-beraninya kamu..."
"Sudah selesai bicara menyakitkannya, Mbak Asha?" tanya Dilara pelan, suaranya datar tanpa ada getaran emosi.
"Kamu... kamu tidak dengar apa yang kukatakan?!" taring Asha mulai meruncing, kesal karena provokasinya diabaikan sepenuhnya.
"Aku mendengar," balas Dilara halus. Ia menarik napas pendek lalu menatap Asha dengan senyum tipis yang teramat dingin.
"Tolong sampaikan pada Mas Kevin, tolong desak dia agar segera menyusun dan memberikan berkas perceraian kami untuk aku tanda tangani. Aku ingin prosesnya cepat selesai."
Asha terperanjat, matanya membelalak tak percaya mendengar permintaan santai dari Dilara.
"Mau kalian tinggal bersama setelah ini, mau kalian menikah besok, atau apa pun yang akan kalian lakukan di rumah ini, aku sudah tidak peduli sedikit pun," lanjut Dilara mantap.
"Ambillah Mas Kevin. Dia milikmu sepenuhnya."
"Asha? Dilara?"
Suara berat dan parau dari arah pintu memotong kalimat Asha. Kevin berdiri di sana, penampilannya berantakan dengan mata memerah bekas menangis. Pria itu menyusul keluar setelah mendengar derit koper dan suara riuh di teras.
Dalam hitungan detik, perubahan mengerikan terjadi pada Asha. Kilat kejam di matanya lenyap seketika, digantikan oleh raut wajah yang merintih kesakitan. Tubuhnya mendadak limbung, jemarinya cengkeram ke pilar teras, dan napasnya memburu seolah tersengal-sengal.
"Kev... Kevin..." bisik Asha dengan suara gemetar yang teramat ringkih. Tubuhnya meluncur turun, terduduk di lantai teras sambil memegangi dadanya.
"Dada... dadaku sakit sekali, Kev... Aku cuma mau... cuma mau menyapa Dilara... tapi tiba-tiba..."
"Asha!" Kevin terperanjat hebat. Pria itu berlari melintasi teras, langsung berlutut dan menopang tubuh Asha yang tampak tak berdaya. Panic luar biasa terpancar dari wajah Kevin.
"Asha, kamu kenapa?! Obatmu di mana?!"
"Di... di mobil..." rintih Asha lirih, menyandarkan kepalanya di dada Kevin dengan hembusan napas yang lemah, namun matanya yang tersembunyi di balik bahu Kevin sempat melirik ke arah Dilara, memberikan senyuman culas penuh kemenangan yang amat terselubung.
"Maafkan aku, Kev... aku cuma tidak ingin kalian bertengkar karena aku... akh!"
Kevin merengkuh tubuh Asha semakin erat, menatap Dilara dengan raut wajah yang sangat panik dan penuh rasa bersalah yang makin menghimpit.
"Dilara... tolong ambilkan tas Asha di dekat pagar! Dia tidak boleh kelelahan!"
Dilara berdiri membisu. Ia menyaksikan sandiwara sempurna di depannya tanpa ada riak emosi sedikit pun. Kebohongan Asha, kepalsuan penyakitnya, serta ketidakberdayaan Kevin yang begitu mudah dimanipulasi, semuanya terpampang jelas di matanya.
Dilara tidak melangkah untuk mengambilkan tas itu. Ia hanya menarik gagang kopernya kembali, menegakkan bahunya dengan keanggunan seorang wanita yang telah benar-benar lepas dari belenggu.
"Pintu rumahmu sudah terbuka lebar untuknya, Mas Kevin. Kamu bisa merawatnya seumur hidupmu sekarang," ucap Dilara halus, suaranya terdengar begitu jernih menembus kepanikan di teras itu.
"Dilara, tunggu! Jangan pergi saat keadaan seperti ini!" seru Kevin parau, memegang tubuh Asha yang berpura-pura pingsan di pangkuannya. Matanya menatap Dilara dengan keputusasaan yang tak tertahankan.
"Tolong dengarkan aku..."
"Selamat tinggal, Mas. Tugas saya di rumah ini sudah selesai."
Dilara berbalik tanpa ragu sedikit pun. Roda kopernya berderit pelan menyusuri jalan setapak teras, melangkah keluar dari pagar rumah mewah tersebut. Ia tidak menoleh lagi, membiarkan Kevin berteriak memanggil namanya di tengah rintihan palsu Asha yang menggema di belakangnya.
"Dilara! Tunggu sebentar... Kita bicara dulu..."
Asha meringis pelan, memegangi dadanya, lalu raut mukanya dengan cepat berubah menjadi cemberut manja. Matanya mendadak berkaca-kaca, menatap Kevin dengan pandangan penuh keputusasaan dan rasa terluka yang mendalam.
"Kok kamu tega marahin aku sih, Kev?" bisik Asha, suaranya bergetar hebat sebelum akhirnya air mata menetes membasahi pipinya.
"Aku ke sini cuma karena mencintaimu... Aku takut kehilangan kamu lagi, Kev. Tolong jangan dorong aku keluar dari hidupmu lagi..."
Melihat lelehan air mata Asha, pertahanan Kevin runtuh seketika. Hatinya melunak total. Rasa cinta yang mendalam untuk wanita di hadapannya ini, cinta yang selama ini membakar dadanya kembali menguasai kesadarannya. Kevin menghela napas panjang, melangkah mendekat dan mengusap lembut air mata di pipi Asha dengan ibu jarinya.
"Maaf... Maafkan aku, Sha. Jangan menangis, ya?" bisik Kevin lembut, menatap mata Asha dengan binar kasih sayang yang utuh.
"Aku cuma kacau pagi ini."
Asha menyunggingkan senyum tipis di balik sisa air matanya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kevin, menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
"Kalau kamu memang sayang sama aku, tolong turuti kemauan Dilara, Kev," rengek Asha dengan suara serak yang memelas.
"Dia sendiri yang minta berkas cerainya segera diurus. Kamu lihat kan betapa tidak pedulinya dia sama kamu? Dia sudah menyerahkan kamu sepenuhnya untukku."
Kevin terpaku sejenak, mengelus rambut Asha perlahan. Rasa bersalah pada Dilara sempat melintas, namun tatapan memohon dari wanita yang begitu dicintainya ini jauh lebih kuat.
"Kamu mau kita segera buka lembaran baru, kan?" desak Asha lagi, mendongak menatap Kevin.
"Urus berkas perceraian itu cepat-cepat, Kev. Supaya kita bisa segera menikah dan hidup bahagia tanpa ada yang mengganggu lagi."
Kevin menatap wajah Asha dalam-dalam. Bayangan air mata Asha dan janji masa depan mereka akhirnya menutupi sisa-sisa penyesalannya pada Dilara.
"Baik, Sha," ucap Kevin mantap, mengambil keputusan yang selama ini menggantung.
"Hari ini juga aku akan panggil pengacara untuk menyusun berkas perceraiannya. Aku akan berikan apa yang Dilara minta."
Asha tersenyum lebar dan langsung memeluk Kevin dengan erat. Kevin membalas pelukan itu, memantapkan hatinya untuk melepaskan Dilara sepenuhnya demi wanita yang paling ia cintai.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛