⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 8: Intrik di Kediaman Jendral
Langkah kaki terburu-buru Pelayan Bi bergema di lorong batu menuju paviliun utama. Sambil memegangi pergelangan tangannya yang membengkak dan terasa panas, wajah pelayan tua itu pucat pasi berhias peluh dingin.
Rasa sakit fisik di tangannya tidak sebanding dengan rasa guncangan mental yang baru saja dialaminya di kamar Shen Yue.
Di dalam ruangan beraroma kayu cendana yang mewah, Jiang Xiuwei sedang duduk anggun di depan meja riasnya. Tangan mewahnya yang dihiasi cat kuku merah sibuk memilih perhiasan emas untuk dipakai besok pagi.
Brak!
Tiba-tiba pintu kamar terdorong dengan kasar. Pelayan Bi tersungkur dan berlutut di ambang pintu, dengan napas yang memburu dan tersengal-sengal.
"N-Nyonya Besar... Nyonya!" ratap Pelayan Bi dengan suara melengking ketakutan.
Jiang Xiuwei meletakkan tusuk konde emasnya dengan dentakan keras ke atas meja kayu. Alisnya bertaut tajam, memancarkan amarah atas ketidaksopanan bawahan kepercayaannya itu.
"Apa-apaan kau, Pelayan Bi?!" tegurnya dingin. "Berani-beraninya kau berteriak dan mendobrak kamarku seperti orang kesetanan! Di mana tata kramamu?!"
"Ampun, Nyonya! Hamba pantas dihukum!" Pelayan Bi mengangkat tangannya yang gemetar, hingga memperlihatkan pergelangan tangan yang memerah dan terkilir. "Tapi Nona Sulung... Nona Shen Yue sudah sadar! Dan... dan dia sudah gila, Nyonya!"
Mata Jiang Xiuwei membelalak seketika. "Apa kau bilang? Yue-er sudah sadar?"
"Benar, Nyonya! Bukan hanya sadar, dia... dia menolak meminum obat yang diracik Tabib! Bahkan saat hamba mencoba membantunya, Nona Sulung secara mendadak memutar tangan hamba hingga terkilir!" Pelayan Bi merintih, air matanya menetes karena menahan nyeri. "Cara bicaranya, tatapan matanya... semuanya berubah! Dia bilang Shen Yue yang lama sudah mati, dan... dan dia menyuruh Anda membawakan sendiri obat itu jika Anda berani!"
"Lancang!"
Jiang Xiuwei menggebrak meja rias porselen di depannya hingga cermin tembaga itu bergetar. Wajahnya yang semula anggun kini berubah menjadi sangat buruk, dipenuhi oleh kedengkian dan amarah yang meluap-luap.
Selama bertahun-tahun sejak ibu kandung Shen Yue meninggal, gadis itu tak ubahnya seperti anak ayam yang penakut di bawah telapak kakinya.
Jangankan memutar tangan pelayan, menatap mata Jiang Xiuwei saja gadis itu tidak pernah berani! "Bagaimana mungkin seorang gadis lemah yang pingsan selama dua hari mendadak memiliki keberanian dan kemampuan melawan seperti ini? Apakah selama ini dia pura-pura lemah di depanku? Atau ada seseorang di belakangnya yang mengajarinya?!" batin Jiang Xiuwei panas.
Ia kemudian berdiri dari kursi cantiknya, jemarinya mengepal rapat hingga buku jarinya memutih. "Gadis sialan! Berani-beraninya dia menghinaku melalui seorang pelayan! Aku sendiri yang akan mematahkan lehernya malam ini—"
"Nyonya Besar!" pelayan wanita lain berbisik panik di luar pintu. "Jenderal Shen Longwei baru saja selesai memeriksa dokumen militer di ruang baca dan sedang berjalan menuju balai tengah!"
Langkah kaki Jiang Xiuwei terhenti seketika.
Rasa panas di dadanya langsung tertahan secara paksa. Otaknya yang penuh intrik politik langsung bekerja dengan cepat.
Jenderal Shen Longwei berada di kediaman malam ini! Jika ia bertindak gegabah dan mendatangi kamar Shen Yue bersama pasukan pelayan untuk menghukumnya, keributan itu pasti akan terdengar oleh suaminya.
Meskipun Shen Longwei selama ini terkesan abai dan menyerahkan segala urusan rumah tangga padanya, Shen Yue tetaplah darah daging kandung sang Jenderal dari istri pertamanya.
Jika Shen Longwei mengetahui bahwa Shen Yue baru saja pulih dan terlibat keributan fisik dengan pelayan kepercayaan rumah tangga, reputasi Jiang Xiuwei sebagai "ibu tiri yang bijaksana dan penuh kasih" akan hancur seketika di mata suaminya.
Jiang Xiuwei menarik napas dalam-dalam, dan memaksa wajah gusarnya kembali menjadi topeng kelembutan yang penuh kehangatan.
"Pelayan Bi, masuk dan obati tanganmu di kamar belakang. Jangan sampai Suamiku melihatmu dalam kondisi seperti ini!" perintah Jiang Xiuwei dengan setengah berbisik. "Soal gadis sialan itu... kita urus nanti. Aku tau cara menjebaknya tanpa harus mengotori tanganku sendiri."
"B-baik, Nyonya Besar," bisik Pelayan Bi pasrah, lalu merayap keluar lewat pintu samping.
Jiang Xiuwei menepuk-nepuk pipinya dengan pelan, merapikan jubah hijau zamrudnya, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah kaki yang tenang dan anggun.
Ia menyusuri lorong paviliun menuju ruang baca utama tempat Shen Longwei baru saja melangkah keluar.
"Suamiku," panggil Jiang Xiuwei dengan suara yang sehalus sutra, diiringi senyuman yang paling manis.
Jenderal Shen Longwei pun menoleh. Pria paruh baya itu tampak lelah. Garis-garis kekhawatiran masih tercetak di dahinya akibat beban urusan militer di perbatasan utara, beradu dengan rasa cemas yang tertahan atas kondisi putri sulungnya yang koma dua hari ini.
"Xiuwei? Ada apa malam-malam begini kau belum istirahat?" tanya Shen Longwei.
Jiang Xiuwei menyatukan kedua tangannya di depan dada, lalu memasang raut wajah yang lega dan kegembiraan yang sangat alami.
"Ada kabar bahagia, Suamiku! Pelayan baru saja melapor padaku dari paviliun barat... Yue-er sudah sadarkan diri! Tabib bilang masa kritisnya telah lewat!"
Kata-kata itu bagaikan embun di tengah padang pasir bagi sang Jenderal.
Mata Shen Longwei yang semula redup dan tegang langsung berbinar terang. Rasa lega yang luar biasa terpancar dari wajah tegasnya.
"Yue-er sudah sadar?!" seru Shen Longwei dengan nada suara bersemangat. "Syukurlah! Langit masih melindungi putriku!"
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut dari Jiang Xiuwei, Shen Longwei langsung membalikkan badannya.
Dengan langkah kaki yang lebar dan mantap khas seorang prajurit tempur, ia bergegas melangkah menuju Kediaman Barat, kamar tempat Shen Yue beristirahat.
Jiang Xiuwei menyunggingkan senyum tipis di belakang punggung suaminya, meski pandangan matanya memancarkan kilatan racun yang dingin. Ia menyibak jubahnya dan mengikuti langkah Shen Longwei dari belakang.
_______
Di depan kamar Shen Yue, dua orang pelayan wanita penjaga berdiri dengan tegap. Begitu melihat sosok berwibawa Jenderal Shen Longwei mendekat bersama Jiang Xiuwei, keduanya langsung menundukkan kepala dan berlutut.
"Salam untuk Jenderal dan Nyonya Besar!" seru kedua pelayan itu serempak.
"Buka pintunya!" perintah Shen Longwei.
"Yu'er," panggil Shen Longwei, suara beratnya bergema saat dua pelayan tersebut membuka pintu kayu berukir itu lebar-lebar.
Shen Longwei melangkah masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Jiang Xiuwei yang mengekor di belakang.
Di dalam ruangan yang hangat oleh cahaya lentera minyak, Shen Yue masih duduk tegak di atas tempat tidur kayu jatinya. Pakaian kurung sutra putihnya tergantung rapi di tubuhnya yang ramping.
Ketika mendengar pintu terdorong dan suara bass ayahnya memanggil nama panggilan pemilik tubuh ini (Yu'er), Shen Yue modern tidak menunjukkan rasa terkejut atau kepanikan sedikit pun.
Insting dan memorinya langsung memandu sikap tubuhnya.
Ia memiringkan kepalanya dengan lambat, dan menatap dua sosok yang baru saja masuk.
Shen Yue tidak langsung meloncat berdiri atau menampakkan aura ketangguhan bela dirinya seperti saat menghadapi Pelayan Bi tadi.
Sebaliknya, ia secara taktis menurunkan standar kewaspadaannya dan berpura-pura menjadi Shen Yue yang penurut dan lemah, sebuah topeng yang diperlukannya untuk menilai situasi.
Ia ingin melihat dan mengamati sejauh mana rasa peduli ayah kandung dari pemilik tubuh ini sebenarnya. Apakah pria berkuasa ini benar-benar mencintai putrinya, ataukah ia hanya seorang ayah yang buta dan membiarkan putrinya disiksa demi kenyamanan rumah tangganya sendiri?
Shen Yue menurunkan kakinya perlahan dari atas ranjang, dan berpura-pura bahwa tubuhnya masih sangat lemas dan kaku.
"A-Ayah..." suara Shen Yue keluar dengan nada agak parau dan pelan, meniru nada bicara lemah khas putri sulung Jenderal Shen yang sebenarnya.
"Jangan bergerak dulu, Yue-er! Berbaringlah!" seru Shen Longwei sambil bergegas mendekat.
Dengan tangan kekarnya yang biasa memegang pedang perang, ia menahan bahu Shen Yue dengan lembut, dan melarangnya untuk berdiri.
Sang Jenderal kemudian duduk di tepi tempat tidur, dan menatap wajah pucat putrinya dengan mata yang berkaca-kaca oleh rasa bersalah dan juga merasa lega.
"Kau pingsan selama dua hari penuh... Ayah sangat mengkhawatirkanmu," ujar Shen Longwei. Jemari kasarnya lantas mengusap helai rambut hitam Shen Yue yang terurai di bahunya. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah dadamu masih terasa sesak? Apakah ada bagian tubuhmu yang sakit?"
Bersambung...
.