Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08 #Kemeja couple
"M-Mir! Itu... itu suara mas-mas yang lagi benerin keran air!" cetus Nayla panik, mencari alasan asal yang terlintas di kepalanya. "Iya, keran di dapur rumahku rusak! Sudah ya, Mir! Ini ada email penting masuk buat kerjaan besok, aku tutup dulu ya. Dah!"
Pip!
Tanpa menunggu balasan dari Mira yang di balik layar sudah memicingkan mata penuh curiga, Nayla mengusap layar ponselnya cepat-cepat untuk mematikan panggilan video.
Nayla menarik napas panjang, lalu perlahan memutar tubuhnya. Di sana, Adrian masih berdiri menatapnya dengan satu alis terangkat.
"Maaf ya, Mas... saya terpaksa sebut Mas Adrian sebagai tukang ledeng," gumam Nayla seraya menunduk dengan raut wajah canggung luar biasa. "Soalnya temanku yang satu ini ember banget. Kalau dia sampai tahu itu suara Mas Adrian, besok satu kantor pasti langsung gempar."
Adrian mengembuskan napas pelan dari hidungnya, mengibaskan handuk kecil di tangannya. "Iya, tidak apa-apa. Sudah, tidurlah."
Nayla mengangguk cepat. Ia bergegas menaiki sisi ranjang sebelah kiri dan membaringkan tubuhnya rapat di tepi kasur. Adrian menyusul di sisi kanan, mematikan lampu utama hingga menyisakan cahaya remang-remang dari lampu tidur di atas nakas.
Keduanya berbaring saling membelakangi. Keheningan malam mendadak terasa begitu pekat, diiringi ketegangan tak kasat mata yang memenuhi setiap inci kamar berukuran besar itu. Nayla menahan napasnya, mencoba sebisa mungkin agar gerakan tubuhnya tidak menimbulkan guncangan di kasur.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang serba canggung. Karena posisi tidurnya yang terasa kaku, Nayla berniat membalikkan badan untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Namun, tepat pada detik yang sama, Adrian ternyata juga sedang membalikkan tubuhnya.
Deg!
Mereka berdua terkejut saat pandangan mata mereka saling bertemu kembali dalam jarak yang sangat dekat di tengah-tengah kasur.
Nayla yang panik bermaksud hendak kembali berbalik membelakangi Adrian secepat kilat. Namun, sebelum tubuhnya berputar, jemari hangat milik Adrian mengudara dan menyentuh pelan pergelangan tangannya, menahannya bergerak.
"Nayla..." panggil Adrian rendah.
Nayla membeku, jantungnya berdegup tak beraturan. "I-iya, Mas?"
Adrian menatap netra hitam Nayla lekat-lekat di bawah pendar redup lampu tidur. Pria itu tidak mengucapkan selamat hari peringatan pernikahan. Tetapi, dengan suara berat nan hangat yang mampu meluluhkan kebekuan, Adrian berkata, "Terima kasih... sudah bertahan sampai hari ini."
Kalimat singkat itu menghantam dada Nayla begitu dalam. Ungkapan terima kasih yang tulus tanpa kepura-puraan. Nayla menelan ludah, tenggorokannya mendadak mengganjal oleh rasa haru yang tak tertahan.
"Iya, Mas... sama-sama," bisik Nayla pelan seraya mengangguk.
Nayla perlahan menarik tangannya dan kembali berbalik membelakangi Adrian. Ia memeluk bantalnya erat-erat demi menyembunyikan pipinya yang memanas dan detak jantungnya yang bergemuruh hebat.
Namun, di balik kehangatan itu, bisikan insecure dalam benak Nayla kembali berujar sinis. 'Jangan keburu percaya diri, Nayla. Mas Adrian bersikap manis hanya karena dia pria bertanggung jawab yang menghargai kamu. Ingat... dia menikahimu hanya karena utang budi pada almarhum Bapak.'
Nayla memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir sesak di dadanya. Ia tidak tahu bahwa di belakangnya, Adrian sama sekali tidak membalikkan badan. Pria itu tetap berbaring memiring, menatap punggung tebal istrinya yang terbalut daster krem dalam diam hingga wanita itu akhirnya tertidur lelap.
...
Malam berganti fajar. Cahaya samar kebiruan mulai merambat masuk menembus celah gorden kamar yang tinggi.
Nayla, yang sudah terbiasa bangun pagi, menguap pelan dalam lelapnya. Saraf kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul usai tidur nyenyak di atas kasur empuk nan nyaman itu. Karena merasa tubuhnya terlalu berada di tepi ranjang, Nayla menggeliat pelan dan memutar posisi tidurnya semakin bergeser ke tengah kasur.
"Emmh... jam berapa ini? Sepertinya masih ada waktu sepuluh menit lagi..." gumam Nayla seraya memeluk sesuatu yang terasa hangat dan keras di sampingnya.
Jemari lembut Nayla tanpa sadar meraba dan memegang lengan kokoh berotot yang terasa nyata di sisinya. Namun, baru beberapa detik tangannya menempel di sana, matanya mendadak membelalak lebar.
'Tunggu... lengan siapa ini?!'
Nayla tersentak kaget seolah baru saja menyentuh sengatan listrik mendadak! Kesadarannya langsung melesat seratus persen. Ia mendongak dan seketika bertatapan langsung dengan Adrian yang ternyata sudah terbangun dari tadi dan sedang menatapnya tenang.
"A-astaga! Mas... maaf!" seru Nayla panik setengah mati.
Gadis itu langsung terduduk tegak di atas kasur. Rambut hitam panjangnya yang tebal tampak acak-acakan khas orang baru bangun tidur, matanya yang sedikit sembap membelalak bulat dengan warna kemerahan samar menghiasi kedua pipinya yang berisi.
Adrian, yang masih berbaring santai dengan satu tangan menopang kepala, sama sekali tidak menunjukkan raut marah atau terganggu. Sebaliknya, di balik wajah datar dan tenangnya, dada Adrian berdesir hangat. Dalam hati, Adrian merasa begitu gemas melihat penampilan polos Nayla yang benar-benar tanpa rekayasa dan menggemaskan di pagi hari.
"Tidak apa-apa," sahut Adrian pendek dengan suara serak khas bangun tidur.
Nayla yang diliputi rasa malu luar biasa tidak sanggup lagi menatap suaminya. "S-saya... saya mau ke kamar mandi dulu!" celotehnya cepat, lalu buru-buru melompat dari kasur dan kembali melarikan diri ke dalam kamar mandi untuk kedua kalinya.
Beberapa menit kemudian, Nayla keluar dari kamar mandi. Kali ini ia sudah rapi mengenakan pakaian tertutup, kaos lengan panjang dan celana kain longgar, serta membawa mukena di tangannya. Gadis itu bersiap melaksanakan ibadah shalat Subuh.
Namun, baru saja Nayla hendak membentangkan sajadahnya di atas karpet, suara Adrian menghentikan langkahnya.
"Tunggu saya sepuluh menit," panggil Adrian seraya berdiri dari tepi kasur. "Kita shalat berdua."
Nayla terpaku di tempatnya berdiri, menatap punggung Adrian yang melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dada Nayla kembali bergetar hebat. Selama satu tahun usia pernikahan mereka, ini adalah pertama kalinya Adrian meminta untuk shalat berjamaah bersamanya.
Sepuluh menit kemudian, ruangan kamar berukuran luas itu menjadi begitu hening dan sakral. Adrian berdiri tegak di depan sebagai imam dengan baju koko putih bersahaja, sementara Nayla berdiri tepat di belakangnya berbalut mukena putih bersih.
Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan Adrian mengalun begitu merdu, tenang, dan tajam, merayapi setiap sudut kamar dan mengetuk pintu hati Nayla hingga matanya berkaca-kaca tanpa sadar. Ada rasa kedamaian yang mendalam menelusuri dadanya.
Hingga akhirnya, dua kali salam mengakhiri ibadah mereka. Usai membacakan doa singkat, Adrian memutar tubuhnya menghadap sang istri.
Nayla memajukan tubuhnya, mengulurkan kedua tangannya dengan santun, lalu meraih tangan kanan Adrian dan mencium punggung tangannya dengan khidmat dan tulus. Sensasi hangat menyapu kulit mereka saat bibir Nayla menyentuh punggung tangan suaminya.
Saat Nayla perlahan hendak mendongak, Adrian membeku di tempatnya. Pria tampan itu menatap puncak kepala istrinya yang masih tertutup kain mukena putih bersih.
'Apakah... aku harus mencium keningnya?' batin Adrian ragu, hatinya bergejolak hebat. 'Bukankah setiap pasangan suami istri setelah shalat berjamaah biasanya melakukan hal itu? Tapi... kalau aku nekat mencium keningnya sekarang, apa Nayla akan merasa risih dan menghindar?'
Adrian bertarung dengan keraguan di dalam dadanya. Jemarinya sempat bergerak sedikit, berniat mengudara untuk menyentuh dagu Nayla. Ia sangat ingin melakukannya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar yang terdengar tiba-tiba menghancurkan momen sakral nan magis di antara mereka seketika.
"Adrian! Nayla! Kalian sudah bangun, kan? Mama bawa sesuatu untuk kalian!" seru suara Bu Ratih dari balik pintu.
Adrian mengembuskan napas panjang, menarik kembali jemarinya, seraya berdehem pelan menutupi rasa kecewa dan salah tingkahnya. "Iya, Ma... sebentar."
Nayla yang juga kaget bergegas bangkit berdiri. Masih mengenakan mukena putihnya yang panjang, Nayla melangkah cepat memutar kunci dan membuka pintu kamar.
"Aduh! Menantu Mama yang soleha!" pekik Bu Ratih gembira begitu melihat Nayla berdiri dengan mukena. Muka wanita paruh baya itu berseri-seri menatap ke dalam kamar tempat Adrian masih duduk di atas sajadah. "Baru selesai shalat Subuh, ya? Oh... romantisnya anak dan menantu Mama shalat berdua!"
Nayla tersenyum malu-malu, menundukkan kepalanya. "Iya, Ma... baru saja selesai."
"Nih, Mama bawakan ini!" seru Bu Ratih seraya menyerahkan dua set pakaian yang terbungkus kantong pakaian mewah. "Ini kemeja khusus yang Mama belikan untuk kalian pakai kerja hari ini. Baju ini harus dipakai ya, wajib!"
Nayla menerima kantong pakaian itu dengan ragu. Ketika ia mengintip stands di dalamnya, terlihat dua kemeja berwarna biru elegan dengan corak motif batik yang identik di bagian kerahnya.
"M-Mama... ini kemeja kembar?" tanya Nayla ragu.
"Iya dong! Biar kelihatan serasi!" jawab Bu Ratih penuh semangat. "Pokoknya harus dipakai hari ini, ya! Mama tidak mau tahu!"
Setelah memuji-muji kepatuhan anak dan menantunya, Bu Ratih akhirnya pamit turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan pagi.
Nayla menutup pintu kamar kembali, lalu berjalan mendekati Adrian seraya membawa kantong kemeja biru tersebut. Perasaan sungkan dan cemas kembali merayapi benaknya.
"Mas Adrian..." panggil Nayla ragu. "Soal baju ini... nanti begitu sampai di kantor, saya bisa ganti baju lain kok kalau Mas Adrian merasa tidak nyaman atau malu kembaran begini sama saya."
Adrian berdiri, merapikan sarung dan baju kokonya. Ia menatap Nayla lurus-lurus, menyapu pandangannya pada raut wajah istrinya yang selalu dipenuhi ketakutan akan penilaian orang lain.
"Tidak usah ganti," potong Adrian tegas namun dengan nada suara yang tenang. "Ini bagus kok. Anggap saja ini seragam resmi CEO dan sekretarisnya."
Nayla terpaku menatap Adrian yang tersenyum sangat tipis, hampir tak terlihat sebelum pria itu melangkah santai menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Nayla memegang kemeja biru di tangannya erat-erat, meratapi detak jantungnya sendiri yang makin hari semakin sulit untuk dikendalikan jika berada di dekat Adrian.
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️