Indonesia
NovelToon NovelToon
PENGANTIN YANG DITUKAR

PENGANTIN YANG DITUKAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.

​Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.

​Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGANTIN YANG DITUKAR

​

​Deru mesin mobil sedan hitam milik Reno yang memecah keheningan sore itu menjadi pertanda bahwa panggung sandiwara akan segera dimulai. Mahika, yang sedang berdiri di balik tirai jendela kamarnya, perlahan melangkah keluar dengan cermat. Ia membiarkan pintunya sedikit terbuka, mengambil posisi aman di lorong gelap dekat ruang tamu yang terlindung oleh lemari pajangan kayu.

​Namun, sebelum pintu utama terbuka lebar, ada pemandangan yang membuat langkah kaki Mahika terhenti. Pak Bambang dan Bu Maya bergegas keluar menuju teras dengan raut wajah yang diliputi kecemasan luar biasa. Bu Maya meremas-remas jemarinya, sementara Pak Bambang berkali-kali melirik ke arah pintu kamar Mahika dengan pandangan gelisah.

​Mahika mengernyit dalam kegelapan lorong. "Kenapa Ibu sama Bapak secemas itu hanya karena Reno mengantar Kak Gisel pulang?." bisik jiwanya penuh tanda tanya. Ada kejanggalan yang teramat besar, sebuah firasat buruk yang mendadak menekan dadanya.

​Dari celah jendela teras yang terbuka, suara riang Gisella terdengar memecah udara sore.

​"Bapak! Ibu! Lihat nih, Reno belanjakan aku banyak barang!" ucap Gisel ceria seraya melangkah turun dari mobil, kedua tangannya menjinjing beberapa kantong belanjaan bermerek. Wajahnya berseri-seri, sama sekali tak memperlihatkan rasa bersalah setelah apa yang terjadi di kafe tadi siang.

​Reno menyusul di belakangnya, membawa satu kantong besar lainnya dengan senyum tipis yang memancar di wajahnya.

​Namun, bukannya sambutan hangat yang didapat, Bu Maya justru setengah berlari mendekati Gisella dan memegang lengan anaknya itu dengan cengkeraman erat. Wajah Bu Maya pucat pasi.

​"Gisel! Reno! Di dalam ada Mahika!" bisik Bu Maya penuh kecemasan yang tertahan, matanya bolak-balik menatap pintu rumah. "Apakah Mahika tahu kalian pergi bersama hari ini?"

​Gisel membeku di tempatnya. Senyum manja di wajahnya mendadak sirnah. Kantong belanjaan di tangannya terkulai lemas.

​"Hah? Ibu... Ibu enggak lagi bercanda, kan?" tanya Gisel dengan nada suara bergetar dan wajah yang sangat shock. "Mahika ada di dalam rumah?!"

​Reno yang berdiri di samping Gisel tak kalah terkejutnya. Wajah pria itu langsung memucat, matanya membelalak panik. Ketakutan yang amat sangat menjalar di raut wajahnya yang tadinya tenang.

​"Gimana bisa, Bu?" tanyanya Reno gagap, suaranya naik satu oktaf karena panik. "Bukannya Mahika bilang dia mau me time di kosan seharian ini?"

​Pak Bambang melangkah mendekati mereka bertiga, suaranya terdengar sangat berat dan sarat akan ketakutan. "Apakah Mahika memergoki kalian bersama?"

​Pertanyaan yang keluar dari mulut Pak Bambang itu menghantam dada Mahika bagai petir di siang bolong.

​Di balik dinding lorong yang dingin, tubuh Mahika gemetar hebat. Tangannya mencengkeram tepi lemari kayu begitu kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Udara di sekitarnya seolah mendadak menguap, membuatnya kesulitan untuk sekadar menyedot oksigen.

​"Bapak sama Ibu... sudah tahu?."

​Rasa sakit yang terpancar dari kenyataan baru ini seribu kali lebih membakar dibanding saat ia mendengar pengakuan Reno di kafe tadi siang.

​Mahika memejamkan matanya rapat-rapt. Air mata yang hangat menerobos keluar dari sudut matanya, meluncur deras membasahi pipi. Dinding pertahanan batinnya runtuh tak berbekas.

​Selama ini, ia mengira orang tuanya terutama ibunya hanya sekadar pilih kasih dan selalu menuntutnya mengalah demi menjaga perasaan sang kakak. Namun ternyata, kenyataannya jauh lebih menjijikkan dan kejam dari itu. Orang tua yang melahirkannya, yang rumahnya dibangun menggunakan darah dan keringatnya, ternyata adalah pelindung, perencana dan pendukung utama dalam perselingkuhan terlarang ini.

​Ibu dan Ayahnya tahu bahwa Reno dan Gisella menjalin hubungan di belakang punggungnya. Dan alih-alih menasehati atau menampar Gisella atas perbuatan nirmoral itu, mereka justru menjadi benteng penjahat yang membantu menyembunyikan kebohongan busuk ini dari Mahika.

​"Kenapa, Bu? Kenapa, Pak?." jerit batin Mahika tanpa suara, dadanya terguncang oleh terpaan sesak yang luar biasa. "Aku ini anak kandung kalian... Aku yang kasih kalian tempat tinggal yang layak, aku yang bayar semua kebutuhan rumah ini... Tapi kenapa kalian tega membiarkan aku dibodohi dan dimanfaatkan seperti ini? ."

​Di luar, percakapan panik itu masih berlanjut dengan nada berbisik.

​"Dia pulang bawa koper jam dua siang tadi," jelas Bu Maya cepat pada Reno dan Gisel. "Sikapnya aneh banget! Dia sinis, galak, dan enggak mau mendengarkan kata-kata Ibu sama sekali! Ibu takut dia sudah tahu sesuatu."

​"Gak mungkin, Bu..." sahut Gisel mencoba menenangkan dirinya sendiri, walau napasnya memburu panik. "Di kafe tadi kita sembunyi-sembunyi kok. Gisel juga cuma bikin story blur di Instagram. Mahika enggak mungkin tahu."

​"Iya, Bu," tambah Reno, menyapu keringat dingin di dahinya. "Mahika itu polos dan percaya banget sama aku. Kalau dia tahu, dia pasti udah ngamuk atau nangis-nangis dari tadi. Mungkn dia cuma capek aja."

​"Tapi kalian harus hati-hati!" tegas Pak Bambang pelan. "Awas kalau sampai bocor sebelum hari H! Jangan bikin masalah!"

​Rasa kasihan Mahika pada ayahnya yang tadi siang sempat tersisa, kini sirna sepenuhnya. Pak Bambang sama saja. Pria tua itu memilih menjadi antek kejahatan demi menutup kemanjaan Gisella.

​Mahika menyapu air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Ia menghirup napas dalam-dalam, membiarkan dinginnya kemarahan menggantikan rasa sakit yang melumpuhkan jiwanya.

"​Tidak", bisik Mahika pada hatinya yang kini mengeras bagai batu karang. "Aku tidak boleh menangis untuk manusia-manusia busuk ini. Jika kalian semua bisa berakting menjadi keluarga yang menyayangi aku, maka aku akan menjadi aktris terbaik yang pernah kalian lihat dalam hidup kalian."

​Rencana balas dendam yang tadinya hanya berupa gambaran kasar di kepalanya, kini terpatri sempurna. Mahika tidak akan sekadar membatalkan pernikahan ini. Ia akan membiarkan mereka melangkah ke atas panggung impian mereka, lalu meruntuhkan panggung itu tepat di hadapan ratusan pasang mata, sampai tidak ada satu pun dari mereka yang bisa berdiri tegak lagi.

​Mahika membenahi lilitan jilbabnya, mengusap bekas air mata di pipinya hingga tak berbekas, lalu mengatur napasnya agar terdengar tenang. Ia memasang senyum paling manis senyum kepolosan yang biasa mereka manfaatkan.

​Dengan langkah kaki yang dibuat sedikit berisik, Mahika keluar dari balik lorong menuju ruang tamu.

​"Lho? Siapa yang datang, Bu?" suara Mahika menyapa dengan nada riang yang dibuat-buat dari dalam rumah.

​Langkah kaki di teras mendadak terhenti. Empat orang di luar sana tampak membeku sejenak sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah dengan canggung.

​Reno memimpin di depan, berusaha mengukir senyum setenang mungkin walau sorot matanya menyiratkan kecemasan yang amat sangat. Gisella menyusul di belakang, menyembunyikan kantong-kantong belanjaannya di belakang tubuhnya dengan cepat, disusul oleh Bu Maya dan Pak Bambang.

​"Eh, Sayang..." sapa Reno dengan suara yang sedikit bergetar. Pria itu melangkah mendekati Mahika, hendak mengusap kepala Mahika seperti biasanya. "Kamu... kok sudah di sini?"

​Dengan gerakan halus namun terukur, Mahika sedikit menghindar dengan berpura-pura merapikan letak jambangan bunga di atas meja ruang tamu, membuat tangan Reno melayang canggung di udara.

​"Iya, Ren," jawab Mahika menatap Reno lurus-lurus dengan binar mata yang sengaja dibuat berbinar lugu. "Aku kangen sama rumah, makanya tadi siang aku langsung beres-beres kosan dan pindah ke sini. Kan lebih enak kalau persiapan H-30 ini aku pantau langsung dari sini."

​Reno bernapas lega, bahunya yang tegang perlahan rileks. Ia yakin 100 persen bahwa Mahika sama sekali tidak tahu apa-apa. Kepolosan wanita di depannya masih utuh.

​"Ooh... gitu," ujar Reno tersenyum lebar, kembali pada topeng pria penyayangnya. "Bagus dong kalau gitu. Jadi aku bisa sering-sering ketemu kamu di sini."

​Mahika beralih menatap Gisella yang berdiri kaku di dekat pintu. Mata Mahika melirik ke arah kantong-kantong belanjaan yang dipegang kakaknya.

​"Wah, Kak Gisel habis belanja ya?" tanya Mahika antusias, melangkah mendekati kakaknya. "Banyak banget belanjaannya. Beli baju baru buat acara pernikahan aku nanti ya, Kak?"

​Gisella tersentak, sedikit menyembunyikan kantong belanjaannya. "Eh... i-iya, Mahika. Ini... cuma beberapa potong baju sama kosmetik, oh iya kamu jangan salah paham ya aku tadi ketemu Reno di jalan."

"Ah iya betul." Timpal Reno.

​"Bagus dong," sahut Mahika tersenyum sangat manis.

"Maksud nya?." Tanya Reno dan Gisel kompak.

"Ya bagus kalau ketemu Reno jadi bisa irit uang bensin dan Kan Kak Gisel harus tampil cantik di hari pernikahan aku. Iya kan, Ren?"

​Reno tertegun sejenak, melirik Gisella dengan canggung sebelum mengangguk cepat. "Ah... iya, betul. Kakak kamu harus kelihatan anggun nanti."

​Bu Maya yang melihat interaksi itu perlahan menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Wajah tegangnya kini berganti menjadi senyuman lega, merasa bahwa kekhawatirannya tadi hanyalah ketakutan berlebihan.

​"Nah, kalau gitu kan enak," potong Bu Maya menyela. "Reno, kamu sudah sekalian mampir, makan malam di sini ya? Ibu tadi masak agak banyak."

​"Wah, maaf Bu," sahut Reno dengan raut wajah penuh penyesalan buatan. "Sore ini saya enggak bisa ikut makan malam. Masih ada urusan pekerjaan di kantor yang harus saya selesaikan malam ini."

​Mahika menatap Reno, menahan rasa mual yang mendadak merayap di tenggorokannya. "Urusan pekerjaan? Atau janji romantis lainnya yang belum selesai dengan Kak Gisel?."

​"Yah... sayang banget," ucap Mahika dengan nada sedikit cemberut yang menggemaskan, memerankan peran calon istri yang merindukan tunangannya. "Padahal aku mau ngajak kamu bahas soal interior rumah baru kita, Ren."

​Reno mengusap bahu Mahika lembut, menatapnya penuh rasa bersalah yang palsu. "Besok ya, Sayang? Besok aku jemput kamu, kita bahas semuanya di rumah baru. Aku janji."

​"Beneran ya?" tanya Mahika memastikan, menatap mata pria yang sudah bersamanya delapan tahun itu.

​"Iya, Mahika. Aku janji," jawab Reno mantap.

​"Ya sudah kalau gitu," kata Mahika tersenyum. "Hati-hati di jalan ya, Ren."

​Reno pamit pada Pak Bambang dan Bu Maya, lalu melangkah keluar menuju mobilnya. Mahika mengantar hingga ke pintu depan, melambaikan tangan saat mobil sedan hitam itu perlahan meninggalkan pekarangan rumah.

​Saat mobil Reno menghilang di ujung lorong, senyuman manis di wajah Mahika memudar secara perlahan. Raut wajahnya berganti menjadi dingin bagai es.

​Ia membalikkan badan, menatap tiga anggota keluarganya yang kini sedang tertawa kecil di ruang makan, sibuk melihat-lihat barang belanjaan mahal milik Gisella yang dibelikan menggunakan uang Reno uang yang sebagian besar seharusnya menjadi tabungan masa depan mereka.

"​Kalian tertawalah sempuasnya hari ini", batin Mahika seraya melangkah dingin menuju kamarnya. Nikmati setiap kebohongan dan kemewahan semu yang kalian bangun di atas penderitaanku. Karena dalam tiga puluh hari ke depan, aku yang akan memastikan kalian semua menangis darah di depan semua orang.

1
sutiasih kasih
gmn rasanya... klean jdi gembel😅😅
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
Ernaaaaa
makasih Thor
merry
jdi gelandangan dech klian
merry
bisa gk hdp tnp mahika dan kluarga mu reno dan untuk cari krj susah nama mu dh terkenal 🤭🤭🤭🤭
sutiasih kasih
smpe sana.... rumah udh di jual😂😂😂😂😂😂
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
Lee Mba Young
selamat menikmati jd gembel
Mundri Astuti
mang dah bener ma pas ya, si Reno ma keluarga si sel ..sel..
Mundri Astuti
owh ortunya Reno org ada toh, tapi ko anaknya dompleng mahika yak🤔
sutiasih kasih: knaoa mndompleng mahika yg dri kalangan biasa....
mmbingungkn🤔🤔🤔
total 2 replies
Lee Mba Young
tanpa harta selamat mnikmati
Mundri Astuti
mang bisa tuh anak kesayangannya bangun atap aja, jangan bangun rumah dah
sutiasih kasih
di bangun lgi dunk rumah yg sdh runtuh.....
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
Tining Revi
bukanya mahika berhijab thor. kok "puji Tuhan"
merry
pdhl tdi mau bongkar ditmpt mrk resepsi dihotel tau ya mrk cm resepsi di tanah kosong dan mahika lewat live ig buat mrk maluu 🤭🤭🤭🤭se kanoha pd tau lhh
Mundri Astuti
sekali tepok ....jatuh semua .... gayanya mahika kereeennnn....Badas....😂😂😂
sutiasih kasih
tamatlah sudah riwayat para pmbohong & penghianat......
😂😂😂😂😂😂
Heni Setiyaningsih
Mahika,,,,,,, KEREN!! gk perlu teriak teriak cuma tunjukkan hasil dari kerja kamu, siapa itu Reno dan klrg toxic, hempaskan😂😂
Agunk Setyawan
bacanya deg"an banget🤣
Humay Uum
dtunggu bomy KK Thor 💪💪💪💪
falea sezi
kelamaan bertele tele 🤣
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!