Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Gadis di Balik Kemudi

Sentuhan jemari yang halus dan gemetar di balik tengkuknya terasa makin nyata, membuyarkan sisa-sisa suara sang leluhur yang bergema di alam bawah sadarnya. Kelopak mata Dirga terasa amat berat, bergetar perlahan saat berusaha meraba cahaya matahari yang menyengat dari celah iris matanya. Rasa pening yang hebat menghantam tempurung kepalanya, disertai rasa nyeri yang menjalar di bahu dan siku tangannya akibat benturan keras dengan aspal.

"Mas! Mas bisa mendengar suara saya? Tolong buka matamu, Mas!" suara wanita yang panik itu terdengar makin jelas tepat di atas wajahnya.

Dirga mengerjapkan matanya beberapa kali hingga pandangannya yang kabur perlahan menajam. Wajah pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah seorang gadis muda berparas sangat cantik dan anggun. Kulitnya putih bersih, dengan mata bulat yang bening kini tergenang air mata kecemasan. Rambut hitam gelombangnya yang terurai sedikit acak-acakan ditiup angin, sementara pakaian formal yang dikenakannya memancarkan wibawa kelas atas. Gadis itu berlutut di atas aspal panas, menopang bahu Dirga tanpa peduli gaun mewahnya ternoda debu dan darah.

Di sekeliling mereka, belasan warga dan pengemudi lain tampak mengerumuni lokasi kejadian, saling bersahut-sahutan dengan nada tegang.

"Pak, bagaimana ini? Ambulansnya masih terjebak macet di Sudirman!" seru seorang pria paruh baya bertopi yang ikut berlutut di samping Dirga.

"Jangan ditunggu lagi, Mbak! Bawa saja Korban ke rumah sakit pakai mobil Mbak!" sahut warga lainnya dengan nada mendesak.

Gadis itu menatap warga dengan mata bergetar, lalu kembali menatap Dirga yang mulai mengumpulkan kesadarannya. "Iya, betul! Pak, tolong bantu saya papah Mas ini ke dalam mobil saya sekarang!"

Dirga menarik napas panjang, meresapi hawa panas jalanan yang bercampur aroma darah di pelipisnya. Ia mencoba menggerakkan jemarinya, meraba aspal kasar di bawah tubuhnya. "Tidak... tidak usah..." gumam Dirga dengan suara yang amat parau.

Gadis cantik itu terperanjat, mendekatkan wajahnya dengan binar lega yang membuncah. "Mas sudah sadar? Jangan banyak bergerak dulu! Kepala Mas berdarah dan tubuh Mas terlempar tadi!"

"Saya... saya tidak apa-apa," bisik Dirga seraya berusaha mendudukkan tubuhnya perlahan.

"Jangan gila, Mas!" pangkas gadis itu tegas, nada suaranya berganti menjadi kombinasi antara rasa bersalah dan otoritas yang tak terbiasa dibantah. "Mobil saya menghantam motor Mas sampai hancur! Mas sempat pingsan beberapa menit di jalanan! Kita harus ke rumah sakit sekarang juga untuk memeriksa cedera dalam!"

"Saya bilang saya tidak apa-apa, Mbak," pangkas Dirga lebih kuat, walau ia harus memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Ia memandangi motor tuanya yang tergeletak ringsek beberapa meter di depan, lalu menatap gadis itu lurus-lurus. "Saya tidak butuh rumah sakit."

"Kenapa Mas sangat keras kepala?!" jerit gadis itu gemas, air matanya menetes melewati pipinya yang mulus. "Nama saya Lisa! Saya pemilik sedan hitam yang menabrak motor Mas tadi! Saya bertanggung jawab penuh atas insiden ini! Jangan mempertaruhkan nyawa Mas hanya karena menolak ditolong!"

Warga yang mengerumuni mereka ikut menimpali. "Betul itu, Mas Ojol! Penampilan Mbak Lisa ini jelas orang berada, dia mau tanggung jawab! Jangan ditolak, mumpung dia baik mau bawa ke rumah sakit!"

Dirga mengusap bercak darah kering di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu memandang Lisa dengan tatapan yang dingin dan tak bergeming. Pengalaman pahit dihancurkan oleh orang-orang kaya seperti Leon dan Pak Hendra telah menanamkan benteng pertahanan yang sangat kokoh di dalam dadanya. Ia tidak ingin lagi berhutang budi atau berurusan dengan kalangan berkelas yang berpotensi memindas dirinya di kemudian hari.

"Mbak Lisa," ujar Dirga dengan nada suara yang terkontrol, sangat formal dan tenang meski tubuhnya gemetar menahan sakit. "Kecelakaan ini bukan sepenuhnya kesalahan Anda. Pandangan saya sempat kabur saat melintasi persimpangan, dan saya tidak memperhatikan sinyal lalu lintas. Saya tidak akan menuntut Anda atau meminta ganti rugi apa pun."

Lisa melongo, tertegun menatap pemuda di hadapannya. Ia terbiasa menghadapi orang-orang yang memanfaatkan posisinya demi keuntungan finansial, namun pemuda bertubuh kurus dengan jaket ojol kusam ini justru menolak mentah-mentah bantuan medis di saat tubuhnya bersimbah darah.

"Mas berbicara apa sih?!" tukas Lisa, suaranya meninggi karena frustrasi. "Ini bukan soal siapa yang salah atau benar! Ini soal keselamatan nyawa Mas! Lihat pakaian dan kepala Mas itu! Kalau terjadi pendarahan di dalam otak bagaimana?!"

"Saya tahu kondisi tubuh saya sendiri," balas Dirga singkat. Dengan bertumpu pada lututnya, ia berusaha berdiri secara perlahan. Tubuhnya sempat oleng ke samping, membuat warga reflek menahannya.

"Tuh kan! Mas berdiri saja tidak sanggup!" seru Lisa seraya ikut bangkit berdiri dan memegang lengan jaket Dirga. "Saya memohon pada Mas, ikuti saya ke rumah sakit! Semua biaya pengobatan, pemeriksaan CT-scan, hingga pergantian motor Mas yang hancur akan saya tanggung sepenuhnya! Saya tidak bisa membiarkan Mas pergi begitu saja dalam kondisi seperti ini!"

"Terima kasih atas kebaikan Mbak Lisa," sahut Dirga seraya melepaskan pegangan tangan Lisa pada lengannya secara sopan namun teramat dingin. "Tapi saya benar-benar harus pergi. Saya masih memiliki urusan yang harus diselesaikan."

"Urusan apa yang lebih penting dari nyawa Mas sendiri?!" cerca Lisa, menatap Dirga dengan pandangan tak percaya. "Apa Mas mengira saya melakukan ini hanya karena takut dilaporkan ke polisi?! Saya benar-benar mengkhawatirkan keadaan Mas!"

"Saya menghargai empati Anda, Mbak," pangkas Dirga lantang, menatap lurus ke dalam matanya. "Namun saya menegaskan sekali lagi, saya menolak dibawa ke rumah sakit. Keputusan saya sudah bulat."

Lisa menahan napasnya, bibirnya terkatup rapat karena kehabisan kata-kata. Keteguhan dan wibawa tersembunyi dari balik tatapan mata Dirga membuat nyalinya sedikit ciut, sesuatu yang sangat jarang ia rasakan saat berhadapan dengan orang asing.

"Mas ini benar-benar aneh dan sangat keras kepala..." gumam Lisa dengan helaan napas berat, mencoba meredakan amarah dan rasa bersalahnya yang bercampur aduk.

Pria paruh baya bertopi mendekati Lisa seraya berbisik. "Mbak, kalau Masnya memang tidak mau dibawa ke rumah sakit, sebaiknya Mbak berikan nomor kontak atau kartu nama saja. Jangan dipaksa, kasihan dia makin tertekan di tengah kerumunan begini."

Lisa mengusap air matanya, lalu mengangguk pelan setuju. Ia merogoh tas tangan mewahnya, mengambil sebuah dompet kulit kecil, dan mengeluarkan selembar kartu nama elegan bersepuh emas serta beberapa lembar uang kertas nominal seratus ribu dalam jumlah yang sangat tebal.

"Baiklah, kalau Mas memang tidak mau ke rumah sakit sekarang," kata Lisa seraya menyodorkan kartu nama dan seikat uang tersebut ke arah Dirga. "Ini kartu nama saya, dan ini ada sedikit uang untuk—"

"Saya tidak menerima uang tunai di jalanan," potong Dirga cepat, tatapannya menyipit menatap ikatan uang kertas tersebut. Bayangan saat Leon melempar uang lima ratus ribu ke dadanya di kafe Senopati seketika melintas, membakar harga dirinya. "Saya bukan pengemis, Mbak Lisa."

"Ini bukan uang duka atau uang pengemis, Mas!" seru Lisa, nada suaranya kembali meninggi karena merasa niat baiknya terus-menerus disalahartikan. "Ini uang darurat untuk pengobatan Mas sendiri kalau nanti merasa pusing atau butuh naik taksi pulang! Kenapa Mas selalu berpikiran negatif atas niat baik orang lain?!"

"Karena tidak semua niat baik di dunia ini murni tanpa pamrih," pangkas Dirga dingin, matanya mengunci pandangan Lisa.

Lisa tertegun, terdiam kaku mendengar ucapan tajam pemuda itu. Untuk sejenak, hening menyelimuti interaksi mereka di tengah hiruk-pikuk lalu lintas yang mulai diurai oleh petugas kepolisian yang baru tiba di lokasi.

Lisa menatap mata Dirga dalam-dalam, berusaha mencari tahu alasan di balik kepahitan luar biasa yang terpancar dari aura pemuda bertubuh ringkih tersebut.

Namun, tepat pada saat mata mereka saling mengunci secara intensif...

BZZZZT!

Sengatan rasa sakit yang amat dahsyat mendadak menghantam bagian belakang kepala Dirga dengan kekuatan yang teramat menusuk. Pendar cahaya keemasan yang tertanam di dahinya akibat sentuhan sang leluhur mendadak berdenyut hebat secara tersembunyi. Sensasi seolah otaknya dicengkeram oleh ribuan jemari es membuat tubuh Dirga mematung seketika.

"Agh...!" erang Dirga menahan sakit, memegangi dahinya dengan kedua tangan.

"Mas? Mas kenapa lagi?!" seru Lisa panik, merentangkan tangannya hendak menahan tubuh Dirga yang mendadak gemetar hebat. "Tuh kan! Saya bilang juga apa, Mas itu cedera parah!"

Dirga tidak dapat mendengar suara Lisa lagi dengan jelas. Di balik rasa sakit yang membakar kepala dan penglihatannya yang mendadak buram, sebuah kilatan visi asing melompat keluar dari tabir waktu secara mendadak.

Pandangannya terlempar ke sebuah lorong kamar hotel berbintang yang amat megah dan mewah. Dalam penglihatan gaib tersebut, Dirga melihat Lisa sedang berdiri di depan sebuah pintu kamar bertuliskan nomor 808 dengan tubuh gemetar hebat. Lisa dalam penglihatan itu tampak menangis histeris, melabrak seorang pria berjas rapi yang sedang mendekap wanita lain di atas ranjang. Tangisan keputusasaan Lisa menggema nyaring, diiringi makian rasa pengkhianatan yang memilukan.

Visi tersebut bergerak amat cepat, memperlihatkan angka tanggal di kalendar meja resepsionis hotel, tepat dua hari dari sekarang.

SHHHH!

Kilatan penglihatan masa depan itu terputus secara mendadak, menyisakan rasa pening yang luar biasa dan napas Dirga yang tersengal-sengal.

Saat pandangannya kembali ke alam nyata, wajah Lisa yang panik masih berada tepat di hadapannya. Dirga menatap Lisa dengan mata membelalak penuh guncangan jiwa. Penglihatan takdir yang dikatakan oleh leluhurnya di alam bawah sadar tadi ternyata nyata dan baru saja beraksi secara mutlak di depan matanya.

"Mas! Jawab saya, Mas tidak apa-apa kan?!" bisik Lisa dengan nada sangat cemas, kedua tangannya kini memegang kedua bahu Dirga.

Dirga menatap wajah anggun gadis itu, menyadari alur takdir tragis yang akan menimpa kehidupan Lisa dalam waktu dekat. Mata batinnya telah terbuka, dan pintu menuju takdir barunya kini terhampar tepat di hadapannya.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!