Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Nama di Lambung
...#...
...Bima tidak ingat bagaimana ia sampai ke ujung dermaga. Yang ia ingat hanya tangan Rico yang mencengkeram lengan kanannya, dan papan kayu yang basah di bawah lutut. Ia masih terbatuk. Setiap batuk membuat dada kirinya terbakar, dan bau solar dari air ikut masuk ke hidung setiap kali ia menarik napas....
..."Berdiri," kata Rico....
..."Saya lagi berdiri."...
..."Itu namanya jongkok."...
...Bima mencoba bangkit. Kakinya gemetar, tapi cukup kuat untuk menahan tubuhnya sendiri. Ia melihat ke laut. Lampu merah di buritan kapal tinggal satu titik kecil, lalu hilang di balik deretan tongkang....
...Di belakangnya, Dimas masih menangis. Bukan tangisan keras. Lebih seperti orang yang menahan napas, lalu gagal, lalu menahan lagi. Perempuan itu berdiri di depannya, tidak menyentuh, tidak juga menjauh. Tangan Dimas menggenggam ujung mantelnya, dan perempuan itu membiarkannya....
...Bima menatap pemandangan itu sebentar, lalu berpaling....
... ...
...Pak Darto duduk di atas drum besi dekat tiang lampu. Seseorang sudah memberinya handuk, tapi ia hanya memegangnya di pangkuan. Mukanya bengkak di bagian pipi, dan ia terus menatap sepatunya sendiri....
..."Pak," panggil Bima....
...Pak Darto mengangkat kepala. Matanya merah, tapi ia tidak menangis. Ia tampak lebih takut dari orang yang baru saja dipukuli....
..."Mas nggak apa-apa?"...
..."Bapak yang harusnya ditanya."...
..."Saya sudah tua, Mas. Gampang sembuh." Pak Darto menyeka darah kering di sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Maaf, Mas. Saya harusnya bilang dari kemarin."...
..."Bilang apa?"...
...Pak Darto tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah perempuan di ujung dermaga, lalu kembali ke sepatunya....
..."Bapak yang nyetir mobil itu," kata Bima pelan. "Tanggal empat belas Maret. Jam empat pagi."...
...Pak Darto memejamkan mata. Napasnya keluar panjang, seperti orang yang akhirnya diizinkan duduk setelah berdiri terlalu lama....
..."Iya, Mas."...
..."Kenapa bapak nggak pernah bilang?"...
..."Karena saya cuma disuruh nyetir." Suara Pak Darto pecah di tengah. "Ayah Mas nyuruh saya diam. Katanya kalau saya ngomong, Mas Bima yang bakal kena. Waktu itu Mas masih SMA. Mas suka main bola di lapangan belakang pasar. Saya lihat Mas latihan tiap sore dari jendela warung, dan saya mikir... anak itu nggak boleh tahu apa-apa."...
...Bima tidak bisa menjawab. Di dadanya ada sesuatu yang berat dan panas, dan ia tidak tahu harus diarahkan ke mana....
..."Terus kenapa sekarang Bapak mau bilang?"...
..."Karena sekarang Dimas sudah ikut ke sini." Pak Darto menunduk lagi. "Saya nggak mau dia kayak Mas."...
... ...
...Ada suara langkah dari arah gudang. Rico berjalan ke depan, membawa sesuatu di tangan, dan Bima baru sadar itu kotak P3K yang tadi dibawa perempuan paruh baya di ruko....
..."Lengan," kata Rico, dan melempar kotak itu ke samping Bima....
...Bima menangkapnya dengan tangan kanan, dan kotak itu hampir jatuh ke air. Rico tidak tertawa. Ia hanya berdiri di sana dengan rahang mengeras, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi memutuskan itu tidak penting....
..."Kamu tadi hampir bunuh diri," kata Rico akhirnya....
..."Saya nggak mau bunuh diri."...
..."Terus kenapa lompat ke kapal?"...
..."Karena adik saya di kapal."...
...Rico menghela napas lewat hidung. "Dia bukan adikmu yang bisa kamu tarik pulang pakai tangan kosong."...
...Bima tidak menjawab. Ia membuka kotak P3K dan mulai membersihkan lukanya sendiri, dengan satu tangan dan gigi yang mengatup. Kain kasa menempel di kulit yang sudah robek. Ia mendesis, lalu tetap melanjutkan, karena berhenti terasa lebih menyakitkan....
...Rico memperhatikan sebentar. Lalu ia berjongkok di sebelah Bima, mengambil gulungan perban, dan mulai membalut lengan itu tanpa bicara....
..."Kenapa Mbak itu nggak nolongin Dimas dari awal?" tanya Bima....
..."Dia nolong."...
..."Dia baru datang setelah Dimas diseret ke kapal."...
..."Dia datang sebelum kapalnya jalan," kata Rico. "Itu yang kamu lihat. Bukan yang kamu bayangkan."...
... ...
...Perempuan itu akhirnya berjalan mendekat. Dimas masih menempel di lengannya, dan Om Gio mengikuti dari belakang dengan tenang, gelas kopi di tangan yang sekarang sudah kosong....
...Dimas melihat Bima, dan wajahnya langsung berubah. Ia melepas genggamannya dari mantel perempuan itu, lalu berlari dua langkah, berhenti, lalu berlari lagi....
...Bima berdiri, dan lututnya hampir menyerah. Dimas menabraknya. Kepala adiknya membentur dada Bima, dan Bima refleks memeluknya dengan lengan kanan. Tangan kiri Bima masih diperban dan terasa seperti milik orang lain....
..."Mas bodoh," kata Dimas di bahunya. Suaranya teredam dan tidak stabil. "Mas bodoh, bodoh banget."...
..."Iya."...
..."Aku kira Mas mati."...
..."Aku juga kira kamu mati."...
...Dimas mendorongnya sedikit, cukup untuk menatap wajahnya. Matanya basah, pipinya memar, dan di lehernya masih ada bekas merah yang tadi pagi dilihat Bima....
..."Itu gelangku," kata Dimas, menunjuk ke tangan kanan Bima. "Mas bawa?"...
...Bima menatap tangannya. Gelang perak itu masih ada di sana, meski ia tidak ingat kapan tangannya menggenggam benda itu sekuat tadi. Ujung-ujung logamnya meninggalkan garis merah di telapak....
..."Kamu tinggalin di gudang?"...
..."Aku taruh di meja." Dimas menelan ludah. "Aku sengaja. Biar Mas tahu aku pernah ke situ."...
..."Kenapa kamu ke situ?"...
..."Karena Mas pulang basah." Suara Dimas bergetar. "Karena Mas tiap malam duduk di kasir sendirian, dan Ibu pura-pura tidur. Aku ngikutin Pak Darto. Aku cuma mau tahu apa yang bikin Mas kayak gitu."...
...Bima ingin memarahi adiknya. Ada kalimat yang sudah siap di mulutnya. Tapi yang keluar justru pertanyaan lain....
..."Mereka ngapain kamu?"...
...Dimas menggeleng cepat. "Nggak ada. Mereka cuma ngomong. Tapi mukanya nakutin."...
..."Ada yang mukul kamu?"...
..."Cuma yang di gudang." Dimas menunduk. "Pas aku mau kabur."...
...Bima menoleh ke perempuan itu. Ia tidak tahu kenapa, tapi tatapannya langsung tertuju ke sana, seolah pertanyaan itu harus dijawab oleh orang yang berdiri di situ....
...Perempuan itu sedang menatap laut. Ia tidak menoleh ketika Bima menatapnya, dan itu membuat Bima semakin kesal....
... ...
...Om Gio menyalakan rokok di belakang mereka. Asapnya naik perlahan ke udara lembap, tidak tergesa, seperti laki-laki yang sudah terbiasa menunggu....
..."Kamu tahu kenapa dermaga ini namanya Tiga?" tanyanya kepada Bima....
..."Nggak."...
..."Karena dulu hanya ada tiga kapal yang boleh sandar di sini. Tiga keluarga. Tiga kontrak." Om Gio mengetuk abu rokoknya ke pagar. "Sekarang sudah banyak yang berubah. Tapi kapal yang tadi itu, namanya tetap Tiga Belas. Orang yang mendaftarkannya punya selera humor yang aneh."...
..."Itu kapal siapa?"...
..."Itu kapal yang tidak pernah berlabuh di pelabuhan resmi."...
..."Saya nanya kapal siapa."...
...Om Gio tertawa kecil. "Kamu sudah tahu jawabannya. Kamu lihat sendiri namanya di lambung."...
...Bima ingat tulisan kecil di bawah TIGA BELAS. Huruf-hurufnya miring dan sedikit naik ke kanan. *H. ARDHANA.*...
...Tangannya mengepal, lalu ia membuka kembali karena perban di telapaknya menarik kulit....
..."Bapak saya sudah meninggal dua belas tahun."...
..."Iya."...
..."Terus kenapa namanya ada di kapal?"...
..."Karena nama itu belum dicabut dari dokumen." Om Gio menoleh ke perempuan di ujung dermaga. "Iya kan, Nona? Kamu yang paling tahu soal dokumen."...
...Perempuan itu tidak menjawab. Tapi Bima melihat sesuatu berubah di bahunya. Pelan. Hampir tidak kelihatan....
...Om Gio tersenyum seperti mendapat jawaban yang ia cari. "Dia tidak suka pertanyaan yang dia belum siap jawab. Tapi kamu tahu apa yang lebih buruk dari itu?"...
..."Apa?"...
..."Orang yang sudah siap jawab, tapi memilih diam."...
... ...
...Mereka naik ke mobil lagi. Kali ini Dimas duduk di sebelah Bima, bersandar pada bahunya yang tidak terluka, dan Pak Darto duduk di kursi depan dengan kepala terkulai ke kaca. Rico menyetir sambil sesekali melirik spion, dan tidak ada yang bicara sampai mereka melewati gerbang pelabuhan....
...Di luar, langit mulai terang. Lampu-lampu jalan padam satu per satu, dan pasar ikan di pinggir jalan sudah ramai oleh bunyi ember dan teriakan penjual. Bau ikan asin bercampur bau gorengan dari gerobak yang baru dibuka....
...Bima melihat itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dunia masih berjalan seperti biasa. Orang-orang masih menimbang ikan, masih tawar-menawar, masih tertawa....
..."Ibu saya di mana?" tanya Bima tiba-tiba....
..."Masih di rumah Pak Darto," jawab perempuan itu dari kursi belakang sebelah kiri. Ia tidak berpaling dari jendela. "Ada dua orang yang jaga di depan. Mereka tidak akan masuk."...
..."Saya mau ke sana."...
..."Boleh."...
...Bima menoleh. Ia sudah siap berdebat, tapi jawaban itu membuatnya kehilangan pegangan....
..."Boleh?"...
..."Kamu bebas pergi ke mana pun. Tapi kamu tidak akan sampai dengan selamat kalau kamu pergi sendiri. Dan Ibumu tidak akan suka kalau kamu datang dengan orang seperti Rico di belakangmu."...
..."Saya nggak butuh orang di belakang saya."...
..."Ya. Tapi orang lain butuh kamu tidak sendirian."...
...Bima menatap sisi wajah perempuan itu. Garis rahangnya tegas, tapi ada bekas lelah di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan riasan tipis. Tangannya tergeletak di pangkuan dengan jari sedikit terbuka. Di telapaknya ada goresan kecil yang sudah mengering, mungkin dari pagar kapal, mungkin dari sesuatu yang lain....
..."Mbak juga ikut kena peluru tadi?"...
...Perempuan itu menoleh. Sekilas. "Tidak."...
..."Tangan Mbak luka."...
..."Itu dari tadi malam."...
..."Mbak nggak nyebut itu waktu saya tanya."...
..."Kamu tidak tanya."...
..."Saya lagi tanya sekarang."...
...Perempuan itu diam sebentar. Lalu ia menarik tangannya dari pangkuan dan menyembunyikannya di balik mantel....
..."Itu bukan hal penting," katanya....
...Bima tidak mendesak. Ia hanya menatap gerakan itu, lalu menatap wajah perempuan itu, dan menyadari bahwa perempuan ini tidak tahu cara menyembunyikan sesuatu dengan sempurna. Ia hanya terbiasa membuat orang lain tidak bertanya....
... ...
...Mobil berhenti di depan rumah Pak Darto. Gang Melati lebih sempit dari yang Bima ingat, dan cat hijau di dinding rumah itu sudah mengelupas hampir separuh....
...Pintu kayunya terbuka sebelum Bima sempat mengetuk. Wartini berdiri di sana dengan selendang lusuh di bahu. Matanya membesar ketika melihat Dimas, lalu melihat lengan Bima yang berbalut perban, lalu turun ke baju basah yang masih menempel di tubuhnya....
...Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis....
...Ia melangkah keluar, menampar Bima sekali di pipi kanan dengan tangan terbuka, cukup keras untuk membuat telinganya berdenging. Lalu ia menarik Bima ke pelukan, sangat erat, sambil memukul punggungnya pelan dengan tangan yang gemetar....
..."Kamu tuh..." bisiknya. "Kamu tuh sama kayak bapakmu."...
...Bima tidak membalas pelukan itu. Ia hanya berdiri kaku, membiarkan ibunya memukul punggungnya, dan memejamkan mata....
...Di belakang mereka, perempuan itu berdiri di dekat mobil. Ia tidak mendekat. Hanya menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang tidak bisa Bima baca. Lalu ia berbalik, membuka pintu belakang, dan duduk....
...Wartini melihat itu. Ia melepas pelukannya, menoleh ke arah mobil, dan sekilas tatapannya menajam....
..."Dia yang bawa kamu ke sana?"...
..."Iya, Bu."...
..."Dia yang bikin kamu kayak gini?"...
..."Bukan dia yang lempar kapal, Bu."...
..."Kapal apa?"...
...Bima tidak menjawab. Ia melihat ibunya menatap mobil itu lama, dan wajah ibunya berubah. Bukan takut. Lebih seperti seseorang yang baru sadar bahwa pintu yang ia kunci selama dua belas tahun ternyata sudah lama terbuka....
..."Masuk," kata Wartini akhirnya. "Pak Darto perlu dijahit."...
... ...
...Di ruang tamu sempit, dengan kipas angin yang berputar pelan, Bima duduk di lantai dan menyandarkan punggung ke dinding. Dimas tertidur di sofa dengan sepatu masih terpasang. Pak Darto sedang diobati Wartini di kamar belakang, dan dari sana terdengar suara batuk dan omelan kecil....
...Bima membuka tangan kanannya. Gelang perak itu masih ada. Ia menatap ukiran inisial yang nyaris habis. *D.A.*...
...Lalu ia mengeluarkan kartu hitam dari saku jaketnya yang basah. Tulisan emas di bawah lampu redup hampir tidak terbaca. Hanya satu baris angka, tanpa nama. Ia membalik kartu itu....
...Coretan pensil di belakangnya masih ada. *Jangan biarkan dia tahu kamu sudah membaca buku itu.*...
...Bima tertawa pendek, pahit. Terlambat....
...Ponselnya bergetar. Bukan telepon. Sebuah pesan dari nomor yang tidak tersimpan....
...Ia membukanya pelan....
...*Kamu sudah tahu nama di lambung. Sekarang tanya ke dia kenapa tanggal di dokumen itu baru diperbarui bulan lalu.*...
...Di bawahnya, ada foto kecil. Sebuah dokumen kapal, difoto miring dari meja yang tidak Bima kenal. Di kolom pemilik, tertulis *H. Ardhana*. Di kolom bawah, tanggal pengesahan....
...Bulan lalu....
...Dan di pojok kanan bawah dokumen itu, tepat di sebelah cap basah, ada tanda tangan. Miring. Naik sedikit ke kanan....
...Bima menatap tanda tangan itu lama, sampai layar ponsel meredup sendiri....
...Bapaknya sudah mati dua belas tahun....
...Dari kamar belakang, terdengar pintu terbuka. Perempuan itu sudah berdiri di ambang pintu ruang tamu, dengan mantel masih terpasang dan ponsel di tangan. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap Bima, lalu ke ponsel di tangannya....
..."Dari siapa?" tanya Bima....
...Perempuan itu tidak menjawab langsung. Ia berjalan masuk, duduk di kursi plastik di seberang Bima, dan meletakkan ponselnya di lantai dengan layar menghadap ke bawah....
..."Kamu sudah lihat tanggalnya," katanya....
..."Saya tanya dari siapa."...
..."Dari orang yang tidak mau terlihat."...
..."Mbak yang nyuruh?"...
...Perempuan itu menatapnya lama. Dan untuk pertama kalinya sejak Bima mengenalnya, ia tidak langsung punya jawaban yang siap....
..."Tidak," katanya pelan. "Tapi aku tahu siapa yang mengirimnya."...
..."Siapa?"...
...Perempuan itu menoleh ke arah kamar belakang, tempat Pak Darto sedang dijahit, lalu kembali menatap Bima....
..."Orang yang sudah menulis tanda tangan itu sejak dua belas tahun lalu," katanya. "Dan dia masih menulisnya sampai sekarang."...