Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Don Tanpa Hati

Sang Don Tanpa Hati

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Karir / Teman lama bertemu kembali / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vlaucia Campos

Namanya Ares. Bos mafia Amerika yang paling ditakuti—dingin, kejam, dan tak percaya pada cinta. Mereka menjulukinya "Don Tanpa Hati", dan dia bangga akan gelar itu.

Demi memenuhi janji terakhir pada mendiang ayahnya, Ares memutuskan menikah. Bukan karena cinta—dia bahkan tak percaya kata itu—melainkan untuk mendapatkan seorang pewaris. Pilihannya jatuh pada Ingrid: gadis desa berusia sembilan belas tahun, polos, ceria, tumbuh di peternakan di antara hewan-hewan yang ia beri nama satu per satu. Ares merenggutnya dari keluarganya dengan ancaman, membawanya masuk ke dunia berdarah penuh senjata, pengawal, dan wanita-wanita simpanan yang haus akan takhta di sisinya.

Ingrid seharusnya hanya menjadi "istri di atas kertas". Tapi gadis yang tampak lugu ini menyimpan hati sekeras baja dan akal sehalus sutra. Alih-alih hancur, ia memilih bertahan—dan bertarung. Dengan senyum manis, lidah tajam, dan strategi yang membuat para saingannya bertekuk lutut, Ingrid perlahan menembus tembok es yang selama ini melindungi sang Don.

Namun mencintai seorang bos mafia berarti hidup di antara bayang-bayang: pengkhianatan, dendam, dan musuh yang mengincar titik terlemahnya—Ingrid sendiri. Mampukah cinta seorang gadis desa yang tulus benar-benar mencairkan hati pria yang bersumpah tak akan pernah mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percakapan Ingrid dan Justine

Ingrid menangis tersedu-sedu.

"Anakku, dengarkan Mama. Mama tahu kamu pasti putus asa dan sangat ketakutan. Mama tak pernah menginginkan ini terjadi padamu, atau pada siapa pun dari kalian. Mama sangat menyayangimu, Ingrid, tapi satu-satunya cara keluar dari situasi ini, sayangnya, adalah membiarkanmu pergi bersamanya. Tolong, jangan menangis! Mama tak ingin dia melihatmu seperti ini. Mama tahu hatimu pasti hancur berkeping-keping. Kalau bisa, Mama akan menggantikan tempatmu, akan membunuh Don itu, membiarkanmu kabur, menyembunyikanmu... pokoknya ribuan hal sudah melintas di kepala Mama. Tapi dia pasti akan menemukanmu, dan itu akan jauh lebih buruk, sayang. Mama ingin mengatakan banyak hal padamu, tapi kita tak punya waktu! Jadi Mama akan bicara jelas dan langsung ke intinya. Dengarkan Mama baik-baik, Ingrid. Perhatikan sungguh-sungguh apa yang akan Mama katakan, dan lakukan seperti yang Mama bilang," kata Justine.

"Aku mendengarkan, Ma," ujar Ingrid, masih terisak.

"Yang pertama, berhenti menangis! Dia tidak pantas mendapat satu tetes pun air matamu! Lagi pula itu hanya akan mempersulit hidupmu, bukan hidupnya. Dengar, dia sudah memutuskan untuk membawamu, apa pun yang kamu lakukan atau katakan. Mama tahu kamu cerdas, Ingrid, dan sekarang kamu harus memakai kecerdasan itu serta semua nilai yang sudah Mama ajarkan," kata Justine.

"Maksud Mama apa?" tanya Ingrid.

"Kamu harus bertindak dengan cerdas, dan sayangnya juga dengan sangat dingin, sayangku. Kamu harus kuat, punya iman, dan memanfaatkan segala yang bisa kamu manfaatkan demi dirimu sendiri. Ini bukan soal dia, ini soal kamu! Turuti dia, lakukan apa yang dia minta, jangan mempersulit hidupnya. Setidaknya belum sekarang," kata Justine.

"Tidak! Aku justru ingin mempersulit hidupnya! Aku tak mau dia menyentuhku, aku tak mau apa pun darinya, aku ingin dia mati!" seru Ingrid putus asa.

"Jangan, Ingrid! Sadarlah, Nak, kamu harus cerdas! Jangan persulit hidupnya, dan itu akan lebih baik untukmu! Mama memikirkan kamu, bukan dia. Kalau kamu melakukan yang tadi kamu katakan, dia akan murka, dan kamu bisa bayangkan sendiri, pria seperti dia kalau murka bukanlah hal yang baik. Keadaan bisa jauh lebih buruk. Jadilah pintar! Kalau Tuhan mengizinkan dia membawamu, itu karena Tuhan punya rencana yang belum kita pahami. Percayalah pada-Nya. Mintalah pertolongan Tuhan dan malaikatmu. Sekarang ada hal-hal yang harus kamu lakukan, harus kamu kerjakan! Hanya berdoa saja tidak cukup."

"Lalu apa yang harus kulakukan, Ma?" tanya Ingrid.

"Salah satunya, tegarlah, jangan menangis, lakukan apa yang dia minta, dan carilah cara agar dia mengizinkan Mama menemuimu langsung beberapa kali dalam sebulan. Dapatkan itu, Nak, dan Mama akan melakukan apa saja untuk membantumu. Dia seorang Don, dan Mama yakin salah satu alasan dia memilihmu adalah karena kamu masih perawan!" kata Justine.

Ingrid ketakutan.

"Ma, aku tak mau dia menyentuhku," ujar Ingrid.

Justine menahan air matanya.

"Sayangnya, dia akan menyentuhmu, Ingrid, dan itu tidak akan menyenangkan. Kali pertama seorang perempuan tak pernah menyenangkan, bahkan sekalipun dilakukan dengan cinta, sungguh! Kalau ada yang bilang menyenangkan, jangan percaya. Kali pertama itu sakit, dan sulit bagi perempuan mana pun. Percayalah, Ingrid, Mama berharap ini tak perlu terjadi, berharap kali pertamamu adalah dengan pria yang penuh kasih, yang kamu cintai dan yang mencintaimu. Tapi kenyataannya tidak begitu. Jadi tolong, Nak, cukup lakukan apa yang dia minta. Mungkin terdengar gila Mama mengatakan ini, Mama pun tak mau, tapi Mama perlu kamu tahu kenyataannya! Mama lebih rela seribu kali memberitahumu apa yang akan terjadi daripada membiarkan itu menimpamu tanpa kamu siap menghadapinya," kata Justine.

"Ma, Mama tahu aku tak pernah ingin menikah, dan soal kali pertamaku, kupikir masih lama baru akan terjadi. Jujur saja, aku tak pernah memikirkannya. Kalaupun terjadi, aku ingin seperti di novel-novel roman, dengan cinta!" ujar Ingrid.

"Mama turut sedih, sayangku. Mama tahu ini terdengar tak masuk akal, tapi ini jauh lebih menyakitkan bagi Mama daripada bagimu. Kamu tak tahu bagaimana perasaan Mama harus mengatakan semua ini padamu, Mama lebih rela disiksa... Maafkan Mama, sayang, maafkan Mama karena tak bisa menolongmu," kata Justine.

"Tidak apa-apa, Ma. Aku tahu kalian sudah melakukan segala yang kalian bisa. Aku tahu aturan mafia, apalagi dia seorang Don! Dia bisa melakukan... Mama tak perlu minta maaf, dan aku berjanji akan berusaha melakukan seperti yang Mama minta," ujar Ingrid.

"Lakukanlah, Nak. Mulai hari ini kamu harus memikirkan matang-matang setiap tindakanmu. Pakai kecerdasanmu dalam segala hal, dan usahakan agar dia mengizinkan kita bertemu dan berbicara langsung! Dengar, Ingrid, langsung!" kata Justine.

"Ma, bagaimana aku bisa melakukannya? Dia membuatku jijik, marah, dan yang kuinginkan hanyalah membunuhnya!" ujar Ingrid.

"Nak, dengar, jadilah dingin! Kamu harus melakukan apa yang dia minta. Jadilah pintar. Kalau kamu mempersulitnya, itu akan lebih buruk untukmu! Dia bahkan tak mengenalmu, dia tak peduli. Mama lihat dari matanya betapa dinginnya dia, tanpa perasaan. Tapi dia menerima dua permintaan Mama. Bijaklah, jangan bodoh seperti gadis-gadis yang akan berteriak, menangis, atau mencoba melawannya. Cukup bertahan dan dapatkan apa yang Mama minta. Mama akan terus mendoakanmu dan menunggu untuk berbicara denganmu. Mama akan menolongmu, Ingrid," kata Justine.

Ia menutup koper kecil yang telah mereka siapkan.

Saat itu mereka kembali, dan keduanya terpaksa keluar dari kamar.

"Berpamitanlah pada orang tuamu, lalu kita pergi," kata Ares, dingin dan datar seperti biasanya.

Ingrid

Aku ingin sekali tak menuruti satu pun ucapannya, tapi seperti nasihat Mama, aku harus cerdas. Saat ini yang terbaik adalah menuruti permintaannya. Walau sebenarnya aku ingin melayangkan tendangan terbang ke arahnya, tapi tidak... aku akan mendengarkan Mama.

Maka aku berpamitan pada mereka dengan hati yang perih, tapi tanpa menangis... Aku tahu, kalau bergantung pada mereka, ini tak akan pernah terjadi. Lalu aku pergi bersama monster menjijikkan itu.

Ares

Yang membuatku heran, gadis itu tak membuat keributan, begitu pula ibunya. Tak perlu memakai kekerasan ataupun ancaman yang lebih besar. Ini lebih baik dari yang kuduga. Aku menghemat waktu. Sekarang tinggal membawanya untuk menikah, menjelaskan aturan-aturannya, lalu segera menyempurnakan pernikahan itu.

Ingrid

Kami naik ke sebuah jet pribadi, wah! Super mewah. Tak pernah kubayangkan suatu hari akan masuk ke salah satunya! Aku selalu membayangkan diriku bepergian dengan pesawat besar, kereta, atau kereta bawah tanah...

Setidaknya jet ini keren, berbeda dari makhluk menjijikkan yang duduk di sana itu...

Aku duduk sendirian, dia duduk dengan Tuan Mark. Tuan Mark dulu sering datang ke peternakan untuk berbicara dengan Papa.

Aku terus memikirkan kata-kata Mama dan memutuskan untuk menurutinya. Aku akan berdoa, meminta pada Tuhan agar memberiku kekuatan dan kebijaksanaan untuk menanggung apa yang akan datang. Seperti kata Mama, lebih baik menghadapi keadaan ini, karena toh kami tak punya cara untuk kabur.

Lagi pula, aku tak takut padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!