Indonesia
NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Tiga hari telah berlalu sejak malam itu.

Tiga hari yang bagi Zaira terasa seperti keabadian yang menggantung di antara rasa jijik, rasa bersalah, dan amarah.

Setiap pagi ia terbangun dengan simpul dingin di perutnya, seolah rasa bersalah menggerogoti isi tubuhnya. Air hangat dari pancuran tak cukup membersihkan kotoran tak kasatmata yang melekat di kulitnya. Ia menggosok kedua lengannya sampai memerah, tapi kenangan terkutuk itu tetap di sana, menempel bagai noda yang tak bisa dihapus.

Ia berpegang pada rutinitasnya seperti orang karam berpegang pada sekeping papan hanyut: pagi hari kuliah, tempat ruang-ruang kelas terasa lebih dingin, koridor-koridor lebih panjang, wajah-wajah lebih asing. Ia nyaris tak bicara dengan teman-temannya. Pulpennya bergerak di atas buku catatan seperti mesin, tanpa tahu apa yang ia tulis.

Sore harinya ia bekerja di sebuah kafe kecil di lingkungan kumuh, dindingnya berwarna vanila yang mengelupas di tepi-tepinya, dan aroma kopi gosong terus membekap udara. Tawa para pelanggan, bunyi mesin kopi, pesanan yang berteriak dari dapur... semuanya terdengar teredam, seolah ada bel kaca yang memisahkannya dari dunia nyata.

Ia mengenakan pakaian sederhana: jin lusuh, kaus tak berbentuk, dan rambut dikuncir kencang hingga menarik kulit kepalanya. Wajahnya, yang terpantul di kaca mesin kopi, memperlihatkan lingkar hitam yang kian dalam, bibir kering, dan pandangan hampa.

Ketika akhirnya ia tiba di rumah pada malam hari, kamar kecilnya yang berdinding mengelupas dan berbau lembap apak menyambutnya seperti peti mati yang hangat. Ia duduk di meja belajarnya yang reyot, catatan terbuka di depannya, dan berpura-pura belajar sementara pikirannya kembali dan kembali lagi ke kamar itu, ke pria bertatapan tajam dengan tangan kokoh yang telah menandai tubuh dan jiwanya.

Uang yang diberikan Leonardo masih tersembunyi di lacinya, di antara pakaian lama dan kertas-kertas terlupakan. Uang itu adalah noda yang berkilau sekaligus gelap, mengingatkannya pada apa yang telah ia lakukan, pada apa yang telah dirampas darinya. Ia tahu tak lama lagi ia takkan bisa mengabaikannya: tagihan-tagihan menumpuk, sewa rumah sudah jatuh tempo, dan ibunya nyaris tak mampu menopang rumah dengan upah yang menyedihkan dari membersihkan rumah orang.

Sore itu, saat uap nasi memenuhi dapur dengan aroma pekat dan menenangkan, ibunya mengamatinya dalam diam. Matahari yang menyusup lewat tirai lusuh membasuh wajah lelah perempuan itu dengan cahaya keemasan, membuat kerutan di dahinya semakin jelas terlihat.

"Belakangan ini kamu tidak bicara dengan Tatiana," ucapnya lirih sambil mengaduk nasi dengan sendok kayu. "Dia baik-baik saja?"

Zaira merasakan getar dingin merambati punggungnya. Jemarinya mencengkeram pulpen lebih kuat dari yang semestinya, sampai hampir patah. Ia mengangkat wajah dan memaksakan senyum yang terasa sakit, seolah wajahnya menolak berpura-pura.

"Iya, Mama..." suaranya terdengar kosong, asing. "Dia sibuk dengan pesta-pestanya, seperti biasa. Mama kan tahu bagaimana dia."

Ibunya mengangguk pelan, melepaskan embusan napas penuh kepasrahan sambil mengeringkan tangan pada celemek bermotif bunga.

"Anak itu perlu menata hidupnya. Tidak semua hal di dunia ini soal bersenang-senang..."

Zaira mengatupkan rahang, merasa kata-kata ibunya menikamnya bagai pisau-pisau kecil. Ia menunduk dan berpura-pura menekuni catatannya, tapi matanya hanya melihat bayang-bayang kabur.

Tidak semua soal bersenang-senang...

Kadang, itu adalah pengkhianatan yang keji.

Air mata membakar di balik kelopaknya, tapi ia menolak membiarkannya keluar. Tidak di depan ibunya. Tidak saat ini.

Dalam diam, ia terus membalik halaman buku catatannya, bagai seseorang yang berusaha menyusun kembali hidup yang hancur dengan potongan-potongan kertas.

Sementara itu, di sudut lain kota, suasananya jauh berbeda.

Cahaya menara kaca tempat Leonardo Santos tinggal menerangi kota seperti mercusuar modern yang angkuh. Di ruang kerjanya, udara beraroma kulit baru, wiski mahal, dan wewangian maskulin yang samar meresap ke tirai-tirai tebal.

Leonardo bersandar di kursi kulit hitamnya, kaki terjulur di atas meja, dan segelas wiski keemasan berayun di tangannya. Wajahnya yang biasanya tak terbaca kini disamarkan oleh senyum miring. Kilau kota, yang tampak lewat dinding kaca, memantul di kedua matanya seperti kebakaran jauh.

Ia bukan pria yang mudah tergoda hasrat. Ia mengambil, menguasai, lalu meninggalkan. Selalu begitu.

Namun...

Sejak malam itu, Zaira telah menjelma menjadi kurungan daging dan hasrat di dalam kepalanya. Ia bisa memejamkan mata dan melihatnya: tubuh yang bergetar, suara yang pecah menjadi desahan, cara gadis itu menatapnya sebelum menyerah di bawah belaiannya.

Ada semacam kesucian yang ternoda pada gadis itu, kepolosan yang tercabik, dan itu membuatnya gila.

Ia mengernyitkan dahi, jengkel pada dirinya sendiri, lalu menghabiskan wiski dalam sekali teguk.

Tanpa ragu, ia mengeluarkan ponsel dan menulis pesan kepada pemilik klub. Nadanya tak menerima bantahan:

"Aku mau menemuinya lagi. Akhir pekan ini. Atur apa pun yang harus kau atur."

Ia menekan "kirim" dan mendengus puas.

Ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Zaira takkan menjadi pengecualian.

Di seberang kota, di dalam klub yang temaram, Sergio, seorang lelaki botak berkeringat dengan cincin tebal di setiap jari, memandang ponselnya lalu mendengus.

Leonardo bukan orang yang bisa kaukatakan "tidak" tanpa membayar akibatnya.

Dengan sekali jentikan jari ia memanggil salah satu anak buahnya, suaranya menggema di ruangan yang sarat bau tembakau apak dan alkohol murahan:

"Bawakan Tatiana ke sini! Sekarang juga!"

Penantian tak berlangsung lama. Kurang dari sejam, Tatiana menerobos masuk ke ruang kerjanya, dengan kacamata hitam besar menutupi separuh wajahnya, mengunyah permen karet mint dengan malas. Ia mengenakan gaun pendek yang memamerkan kaki jenjangnya yang kecokelatan, dan tas bermerek tergantung di bahunya bagai medali yang tak layak ia terima.

"Ada apa, Sergio?" tanyanya dengan sedikit nada angkuh sambil merapikan rambut.

Sergio menyipitkan mata, menatapnya seperti orang yang menilai sepotong daging.

"Kamu sibuk mengerjakan apa pun yang kuperintahkan, Nak." Suaranya serak, berbahaya. "Leonardo mau gadis itu lagi. Akhir pekan ini."

Tatiana mengerjap beberapa kali, seakan tak mengerti.

"Ga... gadis itu?" ia tergagap sambil melepas kacamatanya. Matanya yang berbingkai celak dan lelah membelalak lebar. "Kurasa dia tidak akan mau... Setelah semua yang terjadi, dia bahkan tidak sudi melihatku."

Gebrakan Sergio di atas meja membuatnya tersentak. Cangkir kopi bergetar dan genangan cokelat kecil menyebar di atas kertas-kertas.

"Aku tak peduli!" ia mengaum. "Bawa dia ke sini atau kamu bisa lupakan semuanya, uangmu, pesta-pestamu, hidup gampangmu yang terkutuk itu! Bawa dia, atau kutenggelamkan kamu!"

Tatiana merasa lantai terbelah di bawah kakinya. Mulutnya terasa seperti abu. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan umpatan yang tak berani ia lontarkan.

Ia tahu Sergio sanggup menepati ancamannya. Dan ia juga tahu, di dunia kotor dan berbahaya itu, gadis seperti dirinya takkan bertahan lama bila tak lagi berguna.

Ia mengeluarkan ponsel dengan jemari gemetar dan menulis pesan singkat, sadar bahwa tiap kata bagai peluru:

"Zaira... kita perlu bicara. Kumohon. Ini penting."

Pesan itu terkirim, melayang di kehampaan bagai permohonan yang putus asa.

Tatiana membiarkan tubuhnya jatuh ke kursi, merasa bahwa entah bagaimana, ia telah kehilangan jauh lebih banyak daripada yang ia kira.

1
Enik Ulandari
aku suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!