Indonesia
NovelToon NovelToon
Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa pedesaan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.

Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.

Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?

“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AVB 9

Suara mesin pompa bergemuruh di hamparan sawah, kepulan asap hitam mengeluarkan aroma solar yang menyengat. Anne sengaja memakai pompa air demi memaksimalkan penggantian air, menambah beberapa hasil meminjam milik juragan-juragan kaya desa tetangga.

Beberapa pekerjanya di bantu penduduk yang legowo, tak menyalahkan sebelah pihak, membantu membuat parit-parit darurat yang menghubungkan ke petak-petak sawah yang sebelumnya telah di kuras. Mereka bekerja sama, tanpa banyak bicara, sadar jika semua itu adalah masalah bersama.

Hingga matahari condong ke barat, mesin-mesin tua terus meraung, beberapa yang berada di kejauhan melambaikan tangan, pertanda pekerjaan mereka telah usai, sebagian masih meraung di tepi sungai, menjadi penopang terakhir bagi padi-padi yang sedang sekarat.

“Apa kita perlu mengabari papamu, Nduk?” tanya Broto di tengah mereka mengawasi para pekerja.

“Tak perlu, Pakde. Jika cara ini tak berhasil, aku akan sukarela mundur dari tempatku dan menyusul mereka ke Sumatera,” Jawab Gadis menatap yakin hamparan padi masih tertunduk layu. “Pakde sudah berhasil mencari informasi tentang keluarga pemuda itu?”

Sejak pertemuannya dengan Argono di gubuk reyot beberapa hari lalu, Anne memutuskan meminta Broto untuk mencari tau tentang siapa Argono. Bukan hanya karena kecakapan pemuda itu dalam memberi kritikan, namun sorot mata yang ia rasa mirip dengan orang pernah ditemuinya di masa lampau.

“Yang aku dapat, mereka pindahan dari desa Rejo Sewu sebelah utara pesisir laut. Dulunya si wanita paruh baya itu penduduk sini, tapi aku tak bisa mengenalinya, wajahnya selalu tertutup kerudung panjang, orang-orang yang aku suruh mengawasi juga kesulitan mengenalinya,” sahut Broto.

“Cari tau terus. Aku yakin ada tujuan lain mereka kembali ke desa ini. Entah karena ada sesuatu di desa atau karena keberadaanku. Cara mereka terlalu ketara ingin menjatuhkan ku dari posisi pimpinan ketua.” Anne menghisap dalam kretek di jarinya, lalu melangkah pelan menuju temon yang di ikat di batang pohon.

“Berikan sekantong beras untuk para petani yang membantu pekerjaan hari ini, minta pada Rani jika stok di gudang tidak ada. Bagikan langsung saat ini jangan menunggu esok hari,” titahnya sebelum menghentakkan kaki.

Broto mengangguk patuh seraya berjalan menuju para petani dan pekerja yang tengah beristirahat di bawah pohon. “Setelah membereskan peralatan, berkumpul di lapak ujung desa, ada obat lelah untuk kalian yang sudah bekerja seharian.”

Perintah Broto disambut teriakan puji syukur para petani juga pekerja.

Di area persawahan terletak paling ujung, berbatasan dengan desa Lembah Gunung, Dasim masih sibuk menarik selang kanvas berdiameter sebesar lengan orang dewasa, menjulur dari pompa di tepi sungai hingga ke saluran sawah.

Netra pria telah memasuki usia paruh baya itu memicing hingga alis tebalnya menyatu. “Aku ora salah deleng? Mosok ….” (Aku tidak salah melihat? Masak ….)

Ia meletakkan asal selang di tangan, mengkode dengan kepala beberapa pekerja untuk melanjutkan pekerjaannya. Pandangannya terus mengikuti lelaki tua berjalan tertatih dengan tongkat di sepanjang aliran sungai hingga jalan desa.

“Demit opo menungso,” bibir hitamnya terus bergumam, mata membulat saat sosok masih terkunci dipandangnya menoleh ke arahnya sambil menyeringai. (Hantu apa manusia)

Jarak mereka yang terpaut beberapa puluh meter, menyulitkan sang juru perairan untuk melihat jelas, namun ia begitu yakin bahwa yang dilihatnya adalah seseorang telah lama menghilang.

“Wedus berok! Jebul kowe isih urip?” Ia terus menatap dokar telah menjauh dari pinggir jalan desa, sampai suara Anne mengejutkannya. (wedus berok\= sejenis umpatan. Jebul kowe isih urip\= ternyata kamu masih hidup?

“Ada apa, Kang?”

“Ora opo-opo. Kemarikan temon, Nduk. Kang Dasim ada perlu mendesak,” ujarnya seraya mengambil alih tali kekang temon dari tangan Anne.

Anne mengernyitkan dahi, bibirnya bergerak hendak bertanya, tetapi urung, memilih turun dari punggung temon, membiarkan Dasim berganti menunggangi kuda jantan itu.

Di jalanan desa, Dasim terus mengikuti dokar yang melaju dengan kecepatan sedang, tatapannya tak lepas dari punggung kusir dokar yang sepertinya tau ia mengikutinya.

“Bocah mambu prengus itu, rupa-rupanya masih tetap bodoh,” gumam Kasman—si kusir dokar, ia lalu membelokkan dokarnya, memasuki hutan bambu, bersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu.

“Jan_cox! Ilang kemana wedus berok itu! Opo dia masuk ke hutan itu?” Lelaki yang memang penakut itu bergidik ngeri, suara batang bambu berderit tertiup angin yang tiba-tiba datang di tambah waktu telah memasuki magrib membuatnya memilih berbalik arah, tak jadi masuk ke dalam hutan.

“Besok lagi saja aku cari tau nya, surup-surup ngene iso di gondol wewe aku,” ia menghentakkan kaki dua kali, meminta temon berlari lebih kencang sebab bulu kuduk telah berdiri. (magrib-magrib begini, bisa di gondol wewe gombel aku)

Di tempat yang berbeda, pedar dimar manari lembut di tengah amben kayu, memantulkan cahaya kekuningan pada dinding anyaman bambu yang mulai mengusam dimakan usia. Di sebelahnya, sepiring ketela rebus dan kopi hitam tersusun pada nampan stenlis telah berkarat pinggirannya.

“Kemana perginya makde mu, Le? Kenapa sampai malam belum juga kembali?” tanya wanita paruh baya pada sang putra yang duduk bersandar di kursi goyang terbuat dari kayu penjalin. (kayu njalin)

“Entahlah, mungkin mencari angin di kedai tuak pinggiran desa,” jawab Argono sambil menyesap mbako semprul di jarinya. (Mbako semprul \= merajuk pada tembakau lintingan)

Sang ibu tertawa pelan, tangan telah terdapat keriput membelai pucuk kepala putra kebanggaannya. “Sebentar lagi rencana kita berhasil, Le. Anak gundik itu pasti sedang kelimpungan saat ini.”

“Jelaslah, Bune, sawah yang rusak bukan cuma sepuluh dua puluh kedok, tapi hektaran. Saat ini, mereka pasti seperti belut di garami, blingsatan lalu perlahan lemas, terus mati.” Argono tersenyum tipis, ujung matanya memicing, membayangkan wajah Anne berada di tengah kepanikan.

“Bune tenang saja, setiap tetes air mata dan keringat yang bune keluarkan untuk merawatku, akan dibalas air mata darah gadis sombong itu. Anak gundik murahan itu harus merasakan yang jauh lebih menyakitkan dari yang bune rasakan. Aku bersumpah!” Ia kecup dalam punggung tangan wanita telah melahirkannya, netra hitamnya menatap tajam gelap malam.

“Bapakmu harus ee bangga memiliki putra sepintar kowe, tapi sayang … dia pilih modar demi gundik licik itu. Tapi Bune tak kan tinggal diam, bune bersumpah akan merebut semua yang sudah diambil mereka dan mengembalikan semua yang harusnya jadi milikmu,” ujar sang ibu penuh keyakinan.

Wanita paruh baya masih memancarkan kecantikan meski terdapat kerutan halus di wajahnya itu menyeringai seram, sorot matanya penuh dendam. Dalam hati berujar tajam.

‘Sulastri harus merasakan penderitaan karena berani merebut Meneer dari tanganku!’

Bersambung

1
Linceu thea
semangat thor😍😍😍
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
rama Rasyidin
seperti hal nya mentari y terjada mendung
tak mengapa menunggu siang hari
ndoro y baik hati tak usah murung
kami siap menunggu hingga ndoro cerah lagi...

semangat💪...
rama Rasyidin: semoga sang hyang cipta memudahkan segala nya untuk kita
total 2 replies
Ratih Tupperware Denpasar
asyek akhirnya anggono tahu kebusukan bunenya
Anna: tapi akhir ee Argono menyesal🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
untung masih ada kewarasan pikiran mu argono
jati diri palsu yg di gaungkan Marni
musnah ,mencederai argono
tak punya muka untuk berdebat dgn anne
Anna: lebih ke takut gk bisa move on sih 😭
total 1 replies
Andira
👍🙂
Muhammad Arifin
AQ jengkel ambek Kasman...
kenapa sih kak Kasman belum dapat hukuman😒😒😒
Anna: Karena tujuan Kasman belum tercapai. 🔥
total 1 replies
rama Rasyidin
sehat ndoro?
semoga d mudahkan segala urusan nya
maturnuwun wis update🙏
rama Rasyidin: alhamdulillah.... semangat trus ya ndoro
total 2 replies
Andira
🙂
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
knp bisa bgtu
blm tentu yang menyebut sampah
bisa berkarya seperti ini
alur dan penempatan kalimat
juga harus nyaman di cerna
mungkin kalimatt kasar yang terbaca
blm masuk di kamus pembaca yang baik dan Budiman
klo sy yaa , ikutt aaja
mau bahasa aluss apa bahasa bajingg
pun tak baca
Ndak suka ya skip aja to,
Anna: Kak, tolong jangan salah paham. Saya pribadi yang merasa karya ini sampah sebab nggak ada nilainya. bayangkan pembaca saya yang sebaik kakak dan lainnya nggak kedeksi sistem. Jujur sedih banget🙏
total 1 replies
Cen
karya anda bagus, kenapa dibilang sampah!!!! 💪💪tetap semangat berkarya ya /Heart//Heart//Heart/
Anna: Kak, tolong jangan salah paham. Saya pribadi yang merasa karya ini sampah sebab nggak ada nilainya. bayangkan pembaca saya yang sebaik kakak dan lainnya nggak kedeksi sistem. Jujur sedih banget🙏
total 1 replies
rama Rasyidin
sakit hati itu manusiawi ndoro.. y membedakan adalah hati y murni, y mengubah cacian jadi lecutan menjadi lebih baik, mengubah pujian menjadi penting untuk menjaga diri, dan setelah membaca karya ndoro sy yakin ndoro adalah salah satu org y memiliki hati y murni,biarlah waktu y mengembalikan rasa sakit pada tuanya... cukup lah ndoro menunggu dg ke anggunan rasa... titeni ndoro
rama Rasyidin: nangis se puasnya.... tp setelah bangkit lagi... ingat pepatah ken Arok... gula manis gula Jawa... raden Ayu boleh nangis tp jgn lupa ketawa🤭
total 2 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semangat kak, ceritanya bagus kok.. saya suka. abaikan orang2 yg nyinyir. nyinyir thi tanda tak mampu
Ratih Tupperware Denpasar: sistem NT ini yg bikin author pelan2 pergi kerumah lain. sering kuperhatikan karya bagis retensinya jelek trus author menghapus karyanya disini dan pindah rumah dimuat dirumah baru
total 3 replies
Muhammad Arifin
sabar...yg semangat kak...JD kan cambuk untuk JD lebih baik lagi.bagus kok ceritanya...
Anna: Makasih, Kak. Sedih banget pembaca sebaik ini tapi sama sistem ke deteksi 😭😭
total 3 replies
Lylia Yuu
Bune ... akhirnya muncul juga, ayo bantu selamatkan putrimu buneee 😭😭
rama Rasyidin
akhirnya.....bab y sangat melegakan hati.Terima kasih ndoro🙏
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
wlaahdalahh rooodiyah
jebule apem mu
di.icipp.banyak lananganan
Anna: cuma tetangga belakang rumah sama ....🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
rusli meriang ketemu wewe ,
nyebur sawah
🤣🤣
Anna: wewe bukan sembarang wewe 😆😆😆
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
walahh ,hans telat drama mu ...
ngunu langsung sahh yooo
ng balai desa 🤣
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
aahh , yg benerr saja kau Marni
gundik bekasan bnyak orang
masih ngeyell mau rebut harta kartijo
sull aja ke liang kubur sana
Anna: belum waktunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!