Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUJUAN TERSEMBUNYI

Pagi itu udara di bangsal terasa berbeda. Ada meja kecil di dekat brangkar dengan standing flower minimalis memperindah ruangan, ditambah janur kuning yang diikatkan di kaki brangkar. Lalu tirai pembatas yang disingkap, brankar Pak Sukimin yang dinaikkan, dan beberapa kursi plastik yang dipinjam dari ruang tunggu.

Penghulu duduk di ujung brankar, dengan dua berkas di pangkuan. Dua orang saksi dari pihak RT berdiri kaku di sampingnya. Mak Mia menggenggam sapu tangan erat-erat dan Sutami duduk di kursi di samping ayahnya dengan riasan wajah yang tipis.

Randu berdiri di hadapannya, mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Wajahnya teduh, seperti tidak terjadi apa-apa semalam.

Kuswara mondar-mandir di dekat jendela. Sesekali ia melirik pintu, lalu melirik jam.

"Sudah, cepat. Saya sudah bayar izin ke rumah sakit. Penghulu juga sudah saya bayar lebih buat datang pagi-pagi," gumamnya, cukup keras untuk didengar semua orang.

Pak Sukimin menoleh ke anaknya. Wajahnya masih pucat, tetapi sorot matanya tegas. Ia mengangguk pelan kepada penghulu.

Penghulu berdeham. "Baiklah, mari Kita mulai."

Semua orang menahan napas. Situasi itu terasa ganjil, bercampur antara haru dan cemas. Ada bahagia karena Pak Sukimin bisa menyaksikan putrinya menikah, ada deg-degan karena waktunya mepet, ada takut karena ancaman Kuswara.

Penghulu membuka mulut, hendak mengucapkan ijab.

Tepat saat itu, pintu bangsal terbuka pelan.

Masuk empat orang. Dua diantaranya berpakaian preman, dua lainnya berseragam polisi. Langkah mereka sopan, tidak tergesa.

"Selamat siang, maaf," kata salah satu pria berbadan tegap. Suaranya terdengar tenang. "Kami menyela, tapi mohon pernikahan ini dibatalkan terlebih dahulu."

Semua kepala menoleh. Penghulu pun tak melanjutkan ucapannya, tapi ekspresinya seolah tak terkejut.

Orang kedua maju setengah langkah.

"Kami mohon maaf. Bukan maksud kami membuat kegaduhan. Kepada Bapak yang sedang sakit, mohon tetap tenang. Kami terpaksa melakukan ini,” ucapnya tegas.

Pak Sukimin mengangguk kecil, tapi wajahnya jelas terlihat semakin pucat. Mak Mia langsung meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat, seolah menahan agar tekanan darah suaminya tidak kembali berontak.

Dua orang petugas langsung bergerak. Mereka berdiri di sisi kanan dan kiri Randu. Sikap mereka profesional, tidak kasar, tapi tidak memberi celah.

Sutami menegang. Bibirnya sedikit terbuka, tapi bingung sibuk menerka.

Petugas pertama kemudian bicara, kali ini lebih jelas. "Kami dari Kepolisian. Dengan sangat terpaksa kami harus menjalankan tugas. Kami akan menangkap tersangka Randu. Beliau diduga terlibat dalam kasus perdagangan perempuan dengan modus pernikahan."

Hening selama dua detik, lalu riuh bisik-bisik diantara para warga yang diminta hadir sebagai saksi.

Tapi bagi Kuswara, dunianya seolah runtuh.

"Bohong!" serunya menggerakkan tangannya ke meja di samping brangkar kosong di sebelah Pak Sukimin. "Itu pasti fitnah! Kalian pasti salah tangkap!"

Kuswara maju, mendorong dada salah satu petugas. "Lepaskan dia! Tahu tidak saya sudah keluar uang berapa untuk ini?! Izin rumah sakit, penghulu, saksi! Semua sudah saya urus!"

"Mas, mundur," kata petugas itu datar, menahan dorongan Kuswara dengan satu tangan.

"Mundur?! Ini kakak ipar saya! Dia orang sukses di Jepang!” sangkal Kuswara merasa tak terima.

"Mas Kuswara, cukup," kesal Pak RT. "Ini bukan tempatnya. Hormati bapakmu yang sakit!"

"Hormati? Kalian yang harusnya hormat! Kalau bukan karena saya, si pembawa sial itu tak akan pernah dapet jodoh!" jawab Kuswara sambil menunjuk ke arah Sutami. "Sekarang kalian malah bawa polisi! Dasar..."

"Kuswara!" Mak Mia memotong dengan suara bergetar. "Diam!"

Di tengah keributan itu, Randu tidak melawan. Ia hanya menatap Sutami. Sekali. Lama. Lalu ia mengangguk kecil, seolah meminta maaf.

Sutami tidak bisa bergerak. Dadanya terasa kosong. Kecewa, malu, dan lega bercampur jadi satu. Ia menoleh ke ayahnya. Pak Sukimin memejamkan mata, menahan agar dirinya tidak syok lagi. Tangan Mak Mia tidak pernah lepas dari genggamannya.

Warga yang hadir saling pandang. Ada yang menggeleng, ada yang berbisik. Rasa kecewa jelas terlihat, tapi sisi lega sekaligus terkejut lebih kentara di wajah mereka.

Petugas polisi pun akhirnya mengeluarkan surat perintah. "Saudara Randu, kami mohon kerja samanya."

Randu mengulurkan kedua tangannya. Borgol terpasang dengan bunyi klik yang pelan, tapi terdengar jelas di seluruh ruangan.

Kuswara masih mencoba menerobos. "Jangan bawa dia! Dia satu-satunya jalan kita!"

Dua warga menahan bahunya. "Sudah, Kus! Malu sama orang!"

Tanpa perlawanan berarti, Randu digiring keluar dengan kepala tertunduk, dan bibir yang membisu.

Sutami menunduk. Air matanya akhirnya jatuh. Bukan karena patah hati, tapi karena lega, ia baru saja lolos dari mimpi buruk, meski kekhawatiran lain masih menantinya.

Kuswara duduk di lantai, memukuli kepalanya sendiri. "Sialan... sialan semua!"

Di ambang pintu, dua petugas yang berjalan paling belakang serentak berhenti. Mereka saling berpandangan, lalu mengangguk hormat ke arah luar.

Semua orang menoleh penasaran, siapa orang yang justru membuat petugas polisi tampak sangat hormat. Bahkan penghulu yang sejak tadi duduk di ujung brangkar, langsung berdiri menyambut sosok dibalik pintu bangsal itu.

Pria itu masuk bersama penghulu. Kemeja batik lengan panjang yang dipadukan dengan celana bahan warna hitam, membuat sosok itu memiliki wibawa yang luar biasa. Ruangan yang tadi tegang mendadak terasa berbeda.

Penghulu berdiri di tengah bangsal, di antara brankar Pak Sukimin dan kursi-kursi plastik. Ia tersenyum, mencoba mencairkan suasana. "Perkenalkan. Beliau adalah Bapak Waluyo. Berkat beliau, penjahat tadi dapat ditangkap."

Seketika seisi ruangan saling lirik dan berbisik lirih.

Pak RT mengerutkan dahi. Ia maju dua langkah, menatap lekat wajah Waluyo.

"Lho... Juragan? Bagaimana... bagaimana semua ini bisa terjadi, Juragan?"

Di sudut ruangan, Kuswara buru-buru merunduk. Ia duduk kursi plastik, punggungnya menempel ke dinding. “Sial. Kenapa dia ada di sini!” gerutunya.

Pak Waluyo mengangguk sopan pada Pak Sukimin dan Mak Mia, lalu menoleh ke seluruh ruangan. Suaranya tenang dan jelas.

"Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai warga.”

Kalimat itu membuat Mak Mia terisak sekali, lalu menutup mulutnya.

Penghulu kemudian melanjutkan. Nadanya lega, tetapi tetap dijaga agar tidak membuat Pak Sukimin terkejut. "Begini, Pak RT, Bapak Ibu sekalian. Kemarin saya hanya curhat ringan dengan kawan saya ini. Saya ceritakan ada tiga orang laki-laki dengan nama berbeda, penampilan berbeda, tapi wajahnya mirip sekali. Semuanya mengajukan permohonan pernikahan kilat dengan alasan berbeda-beda."

Penghulu tersenyum sejenak lalu melanjutkan. "Berkat kecermatan Bapak Waluyo, kami akhirnya mengetahui identitas asli orang itu. Ternyata ia menggunakan nama samaran dan sudah melakukannya di tiga kota berbeda."

Pak Waluyo membuka map-nya. Di dalamnya ada beberapa lembar fotokopi.

"Saya yang menghubungi pihak kepolisian. Kami bekerja sama selama dua hari ini untuk memantau dan menangkapnya tepat sebelum akad dilaksanakan. Mohon maaf kami tidak memberitahukan sebelumnya. Kami takut rencana ini bocor."

Pak Sukimin menarik napas panjang, bahunya turun karena lega. Ia menggenggam tangan Mak Mia lebih erat, saling menatap dengan mata berkaca-kaca.

Bu RT menutup mulutnya dengan ujung kerudungnya. "Astagfirullah...."

Warga lain yang sejak kemarin ikut mendesak Sutami untuk menikah kini menunduk malu.

Waluyo mengangguk hormat lagi ke arah brankar Pak Sukimin dan Mak Mia. Baru kemudian ia bicara. Suaranya tenang, berat, dan lebih jelas. "Saya datang karena ada dua urusan. Satu urusan kemanusiaan yang sudah terselesaikan. Satu lagi... urusan keluarga."

Semua mata menatap Waluyo karena penasaran. Sutami yang dari tadi diam pun kini menegang. Begitu juga dengan Kuswara yang menunduk di sudut ruangan, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.

...****************...

Bersambung...

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!