Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Belum Punya Wajah
Tiga minggu itu waktu yang cukup buat sebuah tempat baru berubah jadi tempat biasa.
Aku belajar ini dari banyak hal, dari pola perjalanan karakter di anime slice of life yang selalu ngelewatin fase pengenalan yang penuh energi sebelum akhirnya masuk ke arc kehidupan sehari hari yang lebih tenang, dari buku psikologi yang pernah aku baca setengahnya sebelum berhenti karena bahasanya terlalu berat buat dijadiin bacaan santai, dan sekarang dari pengalaman langsung sebagai mahasiswa baru yang udah enggak lagi baru.
Tiga minggu, dan Universitas Nusantara Jaya udah enggak kerasa asing.
Aku udah hafal jalur tercepat dari gerbang utama ke gedung Teknik, bukan lewat jalan utama yang lebar tapi selalu padet, tapi muter dikit ke kiri setelah lewatin kantin belakang, motong lewat area parkir motor yang setengahnya kosong di jam pagi, dan masuk lewat pintu samping gedung B yang engselnya sedikit longgar sampe kebuka dengan dorongan bahu. Ngehemat tiga menit dibanding rute resmi. Tiga menit yang, dalam konteks ngehindarin keramaian, nilainya enggak proporsional dengan penghematannya secara teknis.
Aku udah hafal di mana spot terbaik duduk di tiap kelas. Baris ketiga dari belakang, posisi paling pinggir kanan, cukup jauh dari papan tulis buat enggak terlalu mencolok, cukup deket dari pintu buat bisa keluar dengan minimal hambatan, dan sudut yang memungkinkan buku kecil kebuka di atas paha tanpa terdeteksi dari podium kecuali dosen secara khusus jalan ke arah belakang kelas.
Aku udah hafal ritme kantin, rame antara jam sebelas sampe satu, bisa makan waktu dua puluh menit cuma buat antrian, jadi kalau mau makan dengan damai pilihan terbaiknya jam sepuluh empat puluh lima atau jam satu tiga puluh, di antara dua gelombang manusia yang seolah punya jadwal makan kolektif yang enggak ada di kurikulum manapun.
Dan di antara semua hafalan itu, ada satu hal yang enggak perlu dihafal karena udah ada dengan sendirinya sejak hari pertama: Cahaya selalu ada di kantin jam dua belas lewat sepuluh. Tanpa gagal. Tanpa variasi yang signifikan. Kayak konstanta dalam persamaan yang lain lainnya masih berubah ubah.
Aku, karena alasan yang enggak pernah aku analisis terlalu dalam, selalu ada di situ juga.
Kuliah Algoritma dan Pemrograman hari Rabu mulai jam sepuluh dan berakhir jam dua belas, diisi Pak Hendra yang suaranya punya kualitas hipnosis yang aku curigain enggak disengaja, monoton dalam frekuensi yang pas buat bikin sistem kesadaran manusia berangsur angsur nyerah ke mode standby sekitar dua puluh menit setelah paparan.
Bukan berarti materinya enggak berguna. Sebaliknya, aku udah baca bab yang bersangkutan dua hari sebelumnya dan ngerjain latihan di akhir bab tersebut, sampe secara teknis aku enggak kehilangan apapun kalau pikiranku ngembara sedikit ke tempat lain selama Pak Hendra jelasin konsep yang udah aku pahamin dari sumber yang lebih menarik bacanya.
Tempat lain yang dimaksud, hari itu, adalah chapter dua puluh delapan dari manga yang udah aku tunggu updatenya selama dua minggu. Arcnya baru sampe di titik yang, kalau dianalogiin ke struktur narasi standar, adalah "titik balik kedua menjelang klimaks", jenis chapter yang enggak bisa berhenti di tengah tanpa ninggalin kekosongan yang ganggu produktivitas.
Buku A6 nya udah kebuka di atas paha sejak dua puluh menit yang lalu. Posisi kepalaku diposisikan sampe dari sudut pandang Pak Hendra, aku keliatan kayak lagi natap meja dengan penuh perhatian sambil sesekali ngangguk.
Sistem yang udah sempurna lewat iterasi panjang sejak SMP.
"Rendy."
Namaku dipanggil dengan nada yang enggak meninggi, bukan nada panggilan panik atau nada teguran keras, tapi nada netral dosen yang udah cukup berpengalaman buat tau bahwa intonasi tertentu lebih efektif daripada yang lain.
Aku dongak.
Pak Hendra berdiri enggak jauh dari barisan ketiga, artinya di suatu titik beliau jalan ke belakang dan aku enggak nyadarin karena lagi dalam fase baca yang, kalau ada skalanya, ada di angka tujuh dari sepuluh dalam hal absorpsi konsentrasi.
"Tolong jelasin perbedaan antara algoritma rekursif dan iteratif, beserta satu contoh implementasinya."
Dua puluh enam kepala di kelas noleh ke arahku dengan berbagai macam ekspresi, dari yang penasaran, dari yang ngerasa lega bukan mereka yang kena, sampe dari yang kayaknya berharap jawabanku salah karena drama akademik itu hiburan tersendiri.
Aku naruh buku pelan, tanpa buru buru, karena buru buru cuma ngonfirmasi rasa bersalah, dan jawab.
"Algoritma rekursif adalah algoritma yang manggil dirinya sendiri sebagai bagian dari proses penyelesaian masalah, dengan base case sebagai kondisi pemberhentian. Algoritma iteratif pake perulangan eksplisit buat nyapai hasil yang sama. Contoh paling umum: penghitungan faktorial. Rekursif: factorial(n) manggil factorial(n-1) sampe n sama dengan satu. Iteratif: pake loop yang ngaliin nilai secara bertahap dari satu sampe n. Rekursif lebih elegan secara kode tapi lebih boros memori karena tiap pemanggilan fungsi numpuk di call stack. Iteratif lebih efisien secara memori tapi kodenya kurang intuitif buat masalah yang secara alami bersifat rekursif, kayak traversal pohon atau algoritma divide and conquer."
Hening dua detik.
Pak Hendra ngangguk. "Lengkap." Beliau balik ke bagian depan kelas. "Tapi lain kali, kalau mau baca, pastiin judulnya bukan manga."
Dua puluh enam kepala yang tadi noleh ke arahku sekarang ngasilin suara tawa yang beda beda volumenya. Aku nutup buku dengan tenang dan nyimpennya ke tas.
Di kursi sebelah kiriku, Bimo nyikut lenganku pelan. "Hampir sempurna, Ren," bisiknya, senyum tertahan.
"Secara teknis enggak ada yang salah dari jawabannya."
"Secara teknis enggak ada yang salah dari mangganya juga, mungkin."
"Itu logika yang beda."
"Tapi sama sama valid."
Aku enggak punya argumen yang bagus buat itu, jadi aku diem dan natap balik ke papan tulis sampe jam nunjukin jam dua belas dan suara bel elektronik gedung ngakhirin sesi dengan tepat.
Kantin lantai satu gedung utama jam dua belas lewat tujuh menit: penuh, bising, dan berbau campuran antara nasi putih, ayam goreng, dan deterjen dari lap meja yang belum sepenuhnya kering.
Aku berdiri di ujung antrian paling kiri, antrian ayam geprek, yang hari Rabu selalu lebih panjang dari antrian lain karena ada promo harga yang entah sejak kapan udah jadi pengetahuan kolektif di angkatan kami tanpa ada yang secara resmi ngumumin. Informasi nyebar secara organik di ekosistem mahasiswa dengan kecepatan yang, kalau dikuantifikasi, mungkin bisa jadi topik penelitian sosiologi yang menarik.
"Antrian kamu panjang banget."
Suara dari kiri. Aku noleh.
Cahaya udah berdiri di antrian sebelah, antrian nasi campur yang, dibanding antrian ayam geprek, jauh lebih pendek dan gerak dengan kecepatan yang lebih manusiawi. Dia pegang nampan kosong di depan dadanya, rambut dikuncir dua hari itu, variasi dari kunciran satu yang biasanya, dan pake kemeja putih lengan panjang yang dimasukin ke rok abu gelap, penampilan yang gampang banget bikin orang ngira dia baru selesai rapat OSIS daripada baru keluar dari kelas Pengantar Ilmu Komunikasi.
"Promo Rabu," jawabku.
"Kamu rela antri panjang demi diskon dua ribu perak."
"Dua ribu perak itu tiga persen dari harga normal. Dalam setahun kuliah, kalau diasumsiin frekuensi makan ayam geprek di sini rata rata dua kali seminggu..."
"Rendy."
"...dengan lima puluh minggu efektif per tahun akademik..."
"Rendy."
"...total penghematannya bisa nyapai dua ratus ribu lebih yang bisa dialihin ke..."
"REN."
"Apa?"
"Diem."
Aku diem.
Cahaya hela napas dengan ekspresi orang yang berdamai sama pilihan pilihan hidupnya. "Kamu kalkulasi semua ini di kepala?"
"Baru aja. Dua puluh detik."
"Dan kamu pikir itu normal?"
"Kamu yang mulai mempertanyakan keputusan antrianku."
"Aku cuma bilang antriannya panjang."
"Dan aku jelasin logika di balik keputusan tersebut."
"Dengan kalkulasi return on investment."
"Itu istilah yang tepat buat apa yang..."
"Halo."
Suara ketiga, dari arah kanan, motong dengan nada yang udah sangat familiar dengan cara yang sangat khas: lantang, enggak minta izin buat hadir, dan bawa energi orang yang enggak pernah bener bener khawatir soal apa kedatangannya disambut atau enggak karena pengalamannya bilang emang selalu disambut.
Salsabila Anggraini, Sasa, yang ngenalin dirinya dengan nama itu di hari ketiga PKKMB dan belum pernah sekalipun nawarin versi panjangnya ke aku, muncul dari sisi kanan dengan nampan yang udah keisi penuh: nasi putih, tempe orek, sup bening, es teh, dan satu buah pisang yang posisinya di tepi nampan keliatan agak enggak stabil.
"Kalian berantem lagi?" tanyanya dengan nada yang sama sekali enggak kedengeran khawatir sama kemungkinan jawabannya iya.
"Enggak," jawab aku dan Cahaya hampir bersamaan.
"Kedengerannya berantem."
"Itu diskusi," aku koreksi.
"Rendy lagi jelasin kalkulasi tabungan dari beli ayam geprek," kata Cahaya.
Sasa natap aku sebentar dengan ekspresi yang aku udah mulai bisa baca sebagai "lagi mroses informasi yang enggak diminta dan mutusin apa perlu direspons atau enggak." Terus dia ngangguk pelan. "Okay." Dan balik badan ke arah meja kosong di sudut kanan. "Aku duluan ya, nunggu di situ."
"Antrianku masih panjang," kata aku.
"Aku tau. Makanya aku bilang nunggu di situ." Sasa udah jalan. "Cahaya cepetan, kamu tinggal dua orang lagi."
Cahaya maju ngikutin antrian yang gerak. Aku tetep di tempat, natap antrian panjang di depanku, terus natap meja di sudut kanan di mana Sasa udah duduk dengan tenang sambil ngupas pisangnya.
Tiga minggu berinteraksi sama Sasa udah ngajarin aku beberapa hal. Pertama: dia orang yang ngomong langsung ke poin tanpa lapisan kesopanan yang enggak perlu, sifat yang awalnya kerasa agak ngejutin tapi belakangan aku sadar justru lebih efisien daripada kebanyakan gaya komunikasi lain yang aku temuin. Kedua: dia punya kemampuan baca situasi antar personal yang jauh di atas rata rata, kadang lebih baik dari yang terlibat langsung dalam situasi tersebut, yang aku duga ada kaitannya sama jurusan Psikologi yang dia pilih bukan secara kebetulan. Ketiga: dia suka sama Cahaya dengan tulus dan nunjukinnya dengan cara yang enggak pernah kerasa berlebihan, yang menurut pengamatanku adalah jenis persahabatan yang cukup langka.
Terhadap aku, Sasa perlakuin aku dengan cara yang bisa aku deskripsiin paling tepat sebagai "skeptis tapi enggak bermusuhan", kayak seseorang yang belum mutusin apa sesuatu layak investasi perhatian penuh atau enggak, tapi sambil nunggu keputusan itu, tetep hadir dan ngamatin.
Aku enggak yakin apa itu posisi yang aku suka, tapi aku juga enggak bisa bilang enggak wajar.
Meja sudut kanan berkapasitas empat orang dan hari itu diisi tiga, Sasa di sisi kiri, Cahaya di depan Sasa, aku di sisi kanan berhadapan dengan kursi kosong yang kayaknya enggak bakal keisi karena siapapun yang liat komposisi orang orang di sekitar meja ini biasanya milih meja lain.
Bukan karena kami nakutin. Lebih karena Sasa punya cara natap kursi kosong di mejanya yang entah gimana ngomunikasiin bahwa kursi tersebut udah "diambil" secara enggak resmi tanpa perlu kata kata.
Kemampuan yang aku kagumin dari segi efisiensi.
"Tadi Pak Hendra ketangkep baca manga?" tanya Sasa ke aku sambil nyendok sup.
"Ketangkep bukan kata yang tepat. Dipanggil buat jawab pertanyaan."
"Dan kamu bisa jawab."
"Iya."
"Sambil ketangkep baca manga."
"Satu enggak ngeksklusi yang lain."
Sasa ngangguk pelan dengan ekspresi yang aku enggak bisa baca sepenuhnya, antara terkesan atau lagi nyimpen komentar buat nanti. "Cahaya bilang kamu bisa baca dua hal sekaligus sejak SMP."
"Sejak SD, tepatnya." Aku buka tutup kotak makan siangku. "Kelas empat."
"Multitasking."
"Lebih tepatnya prioritisasi selektif. Input dari kuliah diproses di latar belakang sementara fokus utama di tempat lain, selama materinya udah dipelajarin sebelumnya."
Sasa naruh sendoknya sebentar dan natap aku dengan cara yang spesifik, cara yang aku udah pelajarin artinya aku lagi nganalisis kamu dan kamu seharusnya sadar akan itu. "Rendy."
"Apa?"
"Kamu selalu jelasin hal hal sederhana dengan terminologi yang unnecessarily complicated."
"Itu cara aku mikir."
"Aku tau." Dia balik ke supnya. "Itu yang bikin aku bingung sama kamu."
"Bingung kenapa?"
"Nanti." Sasa angkat bahu. "Kalau udah ada datanya."
Aku enggak sepenuhnya ngerti apa yang dia maksud, tapi pengalaman tiga minggu nunjukin bahwa minta klarifikasi dari Sasa soal pernyataan setengah selesai biasanya ngasilin jawaban yang lebih membingungkan, jadi aku biarin itu lewat dan pindah ke ayam geprek yang ternyata worthnya sesuai sama antrian panjang tadi.
Cahaya, yang lagi makan nasi campur dengan konsentrasi yang enggak proporsional buat aktivitas tersebut, angkat bicara tiba tiba. "Ren."
"Hm?"
"Kalau kamu lagi di tempat rame," katanya, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya, "dan kamu cari aku dari kejauhan, kamu bisa langsung nemuin aku enggak?"
Pertanyaan yang, di permukaan, kedengeran kayak pertanyaan logistik sederhana soal kemampuan identifikasi visual di keramaian.
Aku mikirinnya dengan serius selama beberapa detik.
"Tergantung kondisinya," jawabku akhirnya. "Kalau pencahayaannya cukup dan enggak ada halangan visual yang signifikan, iya. Kamu punya beberapa fitur yang cukup distinctive, tinggi badan rata rata tapi postur tegak, rambut yang biasanya dikuncir jadi lebih gampang diidentifikasi dari belakang, dan kamu cenderung gerak dengan energi yang lebih tinggi dari orang sekitarnya jadi..."
"RENDY."
Nampan Sasa berguncang dikit karena dia nahan tawa dengan cara yang melibatkan seluruh bahu dan sebagian meja.
"APA?" aku balik nanya dengan genuine enggak ngerti apa yang salah dari jawabanku.
"BUKAN ITU YANG KUMAKSUD." Cahaya naruh sendoknya dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi dari yang diperluin. Pipinya ada warna merah yang tipis, bisa karena panas kantin, bisa karena alasan lain, tapi aku enggak cukup yakin buat ngklasifikasiinnya. "Aku nanya apakah kamu... apakah kamu bisa nemuin aku di tempat rame. Maksudnya..." Dia berhenti.
Aku nunggu.
"Enggak jadi," kata Cahaya akhirnya, ambil balik sendoknya. "Pertanyaan bodoh."
"Pertanyaannya enggak bodoh. Aku cuma jawab..."
"Secara teknis." Dia niruin nada suaraku dengan akurasi yang cukup ngejutin. "Aku tau."
Sasa udah enggak bisa lagi nahan apapun. Dia naruh wajahnya ke lengan atas sejenak, bahu berguncang, sebelum ngangkat balik dengan ekspresi yang udah dirapiin jadi sesuatu yang mendekati netral. "Ayam gepreknya enak, Ren?" tanyanya ke aku, topik pindah dengan kecepatan yang aku duga disengaja.
"Cukup. Cabainya kurang konsisten dari minggu lalu."
"Kamu perhatiin konsistensi rasa dari minggu ke minggu?"
"Itu jenis data yang terkumpul secara pasif."
"Okay." Sasa seruput es tehnya. "Data yang terkumpul secara pasif." Dia ngucapinnya dengan nada datar yang entah ngandung penilaian atau enggak, aku belum bisa bedain tiap kalinya.
Makan siang lanjut dengan obrolan yang gerak ke berbagai arah: jadwal ujian tengah semester yang mulai keliatan di horizon, gosip ringan soal dosen yang tugas mingguannya kebanyakan, rencana Sasa buat masuk ke salah satu unit kegiatan mahasiswa yang gerak di bidang kesehatan mental kampus.
"Kamu enggak mau masuk UKM apa apa, Ren?" tanya Sasa.
"Belum ada yang menarik."
"Ada UKM anime."
Aku berhenti ngunyah sebentar. "Di sini ada UKM anime?"
"Ada. Sekretariatnya di gedung D lantai dua. Aku liat posternya kemarin waktu mau ke perpustakaan." Sasa angkat bahu. "Keliatan aktif. Beberapa kali ada yang pake merchandise karakter karakter di lorong gedung D."
Ini informasi yang secara objektif relevan dan aku enggak ngerti kenapa Bimo enggak pernah nyebutinnya padahal mereka berdua sejauh ini satu satunya mahasiswa di kelompok pertemanan aku yang cukup akrab buat diajak berbagi informasi spontan.
"Aku bakal cek," kata aku.
"Kamu bakal gabung?" tanya Cahaya, nada suaranya ngandung sesuatu yang enggak bisa aku identifikasi persis, bukan enggak suka, tapi ada semacam pertanyaan tambahan di balik pertanyaan utamanya yang enggak dia ucapin.
"Mungkin. Tergantung kegiatannya."
"Kalau gabung," kata Cahaya, "kamu bakal makin jarang ke kantin jam segini."
"Jam makan siang UKM biasanya enggak bentrok sama jam makan siang reguler."
"Bukan itu maksudku."
"Terus apa maksudnya?"
Cahaya buka mulut. Nutup lagi. Ambil suapan terakhir nasi campur yang udah hampir abis. "Enggak ada," katanya akhirnya. "Coba aja dulu."
Sasa natap Cahaya. Terus natap aku. Terus natap Cahaya lagi dengan ekspresi yang sangat jelas ngandung kalimat kalimat yang dia simpen buat dikomunikasiin ke Cahaya di luar kehadiran aku.
Aku milih buat enggak komentarin ekspresi tersebut karena pengalaman nunjukin bahwa komentarin itu biasanya ngasilin situasi yang lebih membingungkan dari yang perlu.
Sisa siang berjalan dengan ritme yang udah jadi familiar: satu kelas lagi setelah makan siang, Matematika Diskrit yang diisi Ibu Ratna dengan gaya ngajar yang kontras penuh sama Pak Hendra, energik dan penuh pertanyaan retoris yang dia jawab sendiri sebelum semua orang sempet mikir, terus jam kosong terakhir yang biasanya aku abisin di perpustakaan atau di bangku bawah pohon di area taman kecil antara gedung B dan C.
Hari itu aku milih taman.
Bangku beton di bawah pohon mahoni yang udah cukup gede buat ngasih naungan yang berarti, cukup jauh dari jalur lalu lintas manusia buat kerasa lebih tenang dari yang sebenernya. Aku buka laptop, ada tugas pemrograman yang belum selesai, walau "belum selesai" di sini artinya "udah tujuh puluh persen jadi tapi bagian terakhirnya butuh konsentrasi yang enggak keganggu", dan naruh earphone di satu telinga.
Sekitar dua puluh menit berlalu dengan produktif.
Terus seseorang duduk di ujung bangku yang sama.
Aku enggak noleh dulu, standar protokol bangku taman adalah ngabaiin keberadaan orang lain sampe ada sinyal yang ngindikasiin interaksi diperluin, tapi dari sudut mata aku bisa liat bahwa orang tersebut laki laki, pake jaket abu abu gelap walau cuaca enggak terlalu dingin, dan buka hape dengan gerakan orang yang lagi nunggu sesuatu.
Aku balik ke kode.
Lima menit kemudian, orang itu nerima telepon.
Percakapan telepon di tempat umum adalah salah satu sumber informasi enggak sengaja yang paling kaya, orang orang cenderung ngomong dengan volume yang disesuaiin buat lawan bicara di seberang telepon, bukan buat orang di sekitarnya, sampe informasi ngalir bebas ke siapapun yang ada dalam radius denger.
Aku enggak secara aktif dengerin. Tapi beberapa fragmen masuk ke sistem pendengaranku yang setengah aktif.
"...iya, acaranya minggu depan..."
"...udah konfirmasi sama Kak Firman belum?..."
"...kalau Kak Firmansyah yang handle bagian logistik harusnya oke, dia selalu rapi..."
"...iya bener, dia emang udah senior banget di BEM, angkatan tiga..."
Nama itu lewat gitu aja, Firmansyah, dalam konteks obrolan orang lain yang enggak ada hubungannya sama aku, sebagai referensi ke seseorang yang kayaknya dikenal baik sama si penelepon dan diasosiasiin sama karakteristik rapi dan posisi di BEM angkatan ketiga.
Informasi yang, dalam skema besar kehidupanku saat ini, enggak lebih signifikan dari informasi bahwa kantin hari itu kehabisan jus alpukat lebih cepet dari biasanya.
Aku catet namanya secara pasif, bukan sebagai sesuatu yang penting, lebih sebagai cara otak kerja waktu mroses input sekitar, dan balik ke baris kode yang lagi aku kerjain.
Laki laki di ujung bangku selesain teleponnya dua menit kemudian dan pergi tanpa noleh ke arahku.
Taman balik ke tingkat kebisingan dasarnya: angin, suara daun, sesekali langkah orang yang lewat.
Aku lanjutin tugas sampe jam nunjukin jam lima kurang seperempat, nyimpen progress, nutup laptop, dan beranjak ke arah gerbang.
Malam itu, di kamarku, aku rebahan di atas kasur dengan satu lengan di bawah kepala dan mata natap ke langit langit yang udah aku hafal seluruh detail teksturnya karena ini bukan kegiatan baru.
Hari Rabu yang, dalam skala kebermaknaan peristiwa, termasuk kategori "standar", enggak ada yang terlalu luar biasa, enggak ada yang terlalu buruk, sebuah hari yang bakal larut ke dalam memori jangka panjang sebagai bagian dari "masa awal kuliah" tanpa detail yang spesifik.
Kecuali mungkin satu: respons Cahaya di kantin tadi, waktu dia nanya soal keramaian dan nemuin di antara keramaian dan terus ngentiin kalimatnya di tengah jalan.
Aku mikirinnya bukan dengan intensitas penuh, lebih kayak pikiran yang muncul di latar belakang waktu enggak ada yang lebih prioritas buat diproses. Pertanyaan itu sendiri enggak aneh. Yang aneh cara dia ngentiinnya, cara warna di pipinya muncul, cara dia bilang bukan itu maksudku sebelum aku sempet nyelesain jawaban.
Maksud yang mana, tepatnya?
Aku udah nyimpulin beberapa interpretasi alternatif dan semuanya kerasa enggak cukup lengkap buat bisa dipegang dengan keyakinan. Ada kemungkinan pertanyaannya soal sesuatu yang lebih personal dari identifikasi visual, semacam pernyataan enggak langsung soal sesuatu yang dia pengen validasi, tapi aku enggak cukup yakin dengan interpretasi itu buat ngakuinnya sebagai kesimpulan.
Otakku lebih baik kerja dengan data yang lengkap. Data yang enggak lengkap ngasilin loop yang enggak produktif.
Aku ambil hape. Nama Cahaya di baris paling atas kayak biasa.
Aku ketik: "Tadi kamu mau nanya apa?"
Aku hapus.
Ketik lagi: "Pertanyaan tadi di kantin, aku pikir jawabanku kurang tepat."
Aku hapus juga.
Aku naruh hape balik ke dada dan natap langit langit lagi.
Ada kalanya diem itu pilihan yang lebih baik bukan karena enggak ada yang pengen dikatain, tapi karena aku belum cukup tau kalimat yang tepat. Dan aku lebih suka diem yang akurat daripada ngomong yang enggak.
Dalam hening itu, pikiran pikiran hari itu gerak pelan, kelas Pak Hendra, antrian ayam geprek, kalkulasi yang bikin Cahaya mendelik, obrolan soal UKM anime yang mungkin bakal aku cek minggu depan, taman di sore hari, dan suara obrolan orang lain yang lewat tanpa diminta.
...kalau Kak Firmansyah yang handle bagian logistik harusnya oke...
Nama yang aku enggak pernah denger sebelumnya. Senior di BEM. Angkatan ketiga. Dikenal rapi dan bisa dipercaya sama orang orang yang nyebut namanya dengan nada familiar yang nunjukin reputasi yang udah kebentuk.
Informasi yang masuk sebagai noise dan aku tangkep sebagai noise, enggak lebih dari itu.
Pikiran pindah ke chapter dua puluh delapan yang belum selesai aku baca karena kepotong kuliah tadi, ke jadwal besok yang mulai lebih awal dari hari itu, ke pertanyaan apa kantin Kamis paginya jual bubur ayam yang kemarin abis sebelum jam delapan.
Nama itu enggak muncul lagi.
Di kepalaku malam itu, Firmansyah adalah nama tanpa wajah, tanpa konteks yang relevan, tanpa berat apapun selain satu fakta dasar: dia ada di suatu tempat di kampus yang sama, dikenal orang orang yang enggak aku kenal, ngejalanin kehidupannya di orbit yang enggak bersinggungan sama orbitku.
Dan buat semua yang aku tau malam itu, itulah yang bakal terus kejadian.
Aku tutup mata.
Di luar kamarku, malam Rabu berjalan dengan tenang, suara motor sesekali dari jalan, angin yang gerak lewat celah jendela yang sedikit kebuka, dan dua rumah dari situ, di balik tembok dan jalan sempit dan pagar besi warna hijau tua yang udah ada sejak kami kecil, Cahaya Kusuma Dewi mungkin lagi ngelakuin hal yang sama: rebahan, natap langit langit, mikirin sesuatu yang mungkin enggak sama dengan yang aku pikirin walau kami berakhir di tempat yang sama pada akhir hari yang sama.
Tapi itu jenis refleksi yang terlalu abstrak buat aku tahan lama malam itu.
Aku milih buat tidur.
Dan di suatu tempat di kota yang sama, dalam kehidupan yang belum pernah sekalipun bersinggungan sama kehidupanku, seorang mahasiswa tingkat tiga bernama Firmansyah nutup hari Rabunya juga.
Tanpa tau bahwa namanya udah pernah lewat, satu kali, sebentar, kayak angin, di telinga seseorang yang belum tau betapa bedanya dunia ini nantinya.