Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labrakan di Ruang Kerja dan Korban yang Tertindas

Bagi Valerie, pesan singkat dari Dania semalam bukan lagi sekadar percikan api, melainkan sebuah bom waktu yang meledakkan seluruh sisa kesabarannya. Pagi itu, dia tidak pergi ke kampus. Dengan langkah yang dihentak amarah, Valerie berjalan menyusuri koridor lantai atas gedung perusahaan Dean. Di sampingnya, Tiara melangkah dengan wajah yang sama tegangnya, siap pasang badan untuk membela sahabatnya.

"Kamu yakin mau melabraknya di kantor, Val?" tanya Tiara setengah berbisik saat mereka mendekati meja sekretaris senior sebelum ruang kerja CEO.

"Aku tidak bisa diam lagi, Ra. Perempuan itu ular. Dia sengaja menantangku," jawab Valerie tajam. Matanya merah, tanda dia tidak tidur semalam karena menahan sesak di dadanya.

Ketika mereka berbelok di koridor utama, sosok Dania terlihat sedang berdiri di dekat meja mesin fotokopi, merapikan beberapa dokumen dengan gerakan yang anggun. Lorong itu cukup ramai karena beberapa staf divisi pemasaran baru saja keluar dari ruang rapat kecil di sebelahnya.

"Dania!" panggil Valerie, suaranya menggelegar membelah keheningan koridor kantor yang formal.

Beberapa staf kantor langsung menghentikan langkah mereka. Suasana mendadak senyap. Dania menoleh, wajahnya seketika menunjukkan ekspresi terkejut dan ketakutan yang sangat natural begitu melihat Valerie dan Tiara berjalan cepat ke arahnya.

"Eh... Kak Valerie? Ada apa ya—"

"Jangan panggil aku 'Kak' dengan mulut palsumu itu!" potong Valerie ketus, berdiri tepat satu langkah di depan Dania. Dia merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya, lalu menyodorkan layar yang menampilkan pesan singkat Dania semalam tepat di depan wajah wanita itu. "Apa maksudmu mengirim pesan seperti ini semalam?! Kamu sengaja mau memamerkan kalau kamu diantar pulang oleh pacarku?!"

Dania melangkah mundur satu langkah, tubuhnya gemetar halus. Dia menatap staf-staf kantor yang mulai berbisik-bisik di sekitar mereka dengan pandangan meminta tolong yang sangat ringkih. "Kak Valerie... saya... saya bersumpah saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya ingin bersikap jujur dan sopan agar Kakak tidak salah paham jika mendengar dari orang lain..." Air mata Dania mulai menggenang di sudut matanya, suaranya bergetar hebat seolah dia sedang diintimidasi oleh preman.

"Jujur atau mau memancing keributan?!" sela Tiara, ikut maju menunjuk wajah Dania. "Dania, aku tahu kamu adiknya Kak Timoty, tapi kelakuanmu di kantor ini sudah kelewat batas! Kamu sengaja meninggalkan lipstik di mobil Kakakku, dan sekarang kamu bertingkah seolah-olah kamu adalah wanita paling malang di dunia?!"

"Mbak Tiara... saya mohon jangan bicara keras-keras..." tangis Dania akhirnya pecah. Dia menundukkan kepalanya, meremas ujung kemeja putihnya dengan erat, menampilkan gestur seorang bawahan yang sedang ditindas habis-habisan oleh keluarga pemilik perusahaan. "Saya ke sini hanya untuk bekerja membantu Kak Timoty... Saya bersumpah tidak pernah punya niat buruk pada hubungan Pak Dean dan Kak Valerie..."

Beberapa staf kantor mulai memandang Valerie dan Tiara dengan tatapan tidak suka. Di mata mereka, Dania adalah sekretaris baru yang sangat rajin, santun, dan profesional. Sementara Valerie hanyalah anak kuliah luar yang tiba-tiba datang membuat keributan di tempat kerja formal, membawa drama romansa yang kekanak-kanakan.

"Jangan pura-pura menangis, Dania! Hapus air mata buayamu itu!" bentak Valerie yang semakin tersulut emosi melihat akting Dania. Sifatnya yang blak-blakan membuatnya tidak peduli dengan situasi sekitar. Dia maju selangkah lagi, hendak menarik lengan Dania untuk memaksanya menatap matanya.

"Ada apa ini?!"

Sebuah suara berat, dingin, dan sarat akan otoritas mutlak menggelegar dari arah pintu ruang kerja CEO.

Dean berdiri di ambang pintu. Setelan jas hitamnya tampak sempurna, namun wajahnya mengeras seperti batu karang. Matanya yang tajam menatap tajam ke arah kerumunan staf, lalu beralih pada Valerie yang masih mengangkat ponselnya, dan terakhir pada Dania yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk berkas dokumen di dadanya.

"Pak Dean..." bisik Dania, langsung berlari kecil berlindung di balik punggung Dean, memegang sedikit ujung jas pria itu dengan tangan yang gemetar. "Maafkan saya... Ini semua salah saya... Kak Valerie hanya salah paham tentang semalam..."

Dean melirik ke arah tangan Dania yang memegang jasnya, namun dia tidak menepisnya karena fokus amarahnya kini sepenuhnya tertuju pada Valerie. Logika Dean hancur melihat keteraturan kantornya dirusak oleh keributan domestik yang memalukan ini di depan para karyawannya.

"Valerie, Tiara, masuk ke ruangan saya sekarang," perintah Dean, suaranya rendah namun bergetar menahan amarah yang luar biasa. Dia menoleh pada staf yang menonton. "Kalian semua, kembali ke meja kerja masing-masing. Pertunjukan sudah selesai."

Di dalam ruang kerja CEO yang kedap suara, atmosfer terasa begitu mencekam. Dean berdiri di belakang meja kerjanya, sementara Valerie dan Tiara berdiri di tengah ruangan. Dania berdiri agak jauh di sudut dekat pintu, masih sesekali sesenggukan kecil sambil menghapus air matanya dengan tisu.

"Jelaskan pada saya, apa yang merasuki pikiran kalian sampai berani membuat keributan memalukan di luar sana?" tanya Dean, menatap Valerie dengan pandangan dingin yang paling menusuk yang pernah Valerie terima.

"Dia yang mulai, Dean!" seru Valerie, air matanya sendiri kini mulai luruh karena rasa sakit hati yang mendalam. Dia meletakkan ponselnya di atas meja Dean dengan kasar. "Lihat pesan yang dikirim perempuan ini semalam! Dia sengaja memancingku agar aku cemburu! Dia membuang kotak makan siangku dua minggu lalu dan berbohong padaku, dan sekarang dia bertingkah seolah dia korbannya!"

Dean tidak menyentuh ponsel Valerie. Dia bahkan tidak melirik layarnya. Bagi Dean, isi pesan itu tidak penting. Yang penting adalah fakta bahwa Valerie telah bertindak impulsif tanpa menggunakan akal sehat, merusak citra profesionalitas di kantornya.

"Valerie, cukup," potong Dean, suaranya sedingin es. "Semalam Dania pulang bersama saya karena permintaan langsung dari Timoty untuk mengamankan data audit. Saya sudah menjelaskan hal itu padamu hari Sabtu lalu, bukan? Dania mengirimkan pesan itu secara sopan untuk memastikan tidak ada miskomunikasi, namun kamu justru menanggapinya dengan histeria massal di depan staf saya."

"Sopan?!" Tiara tidak bisa menahan diri lagi untuk membela sahabatnya. "Kak! Buka matamu! Perempuan ini licik! Dia sengaja memainkan psikologis Valerie karena dia tahu Valerie itu ekspresif! Dia berpura-pura lemah agar Kakak membelanya!"

"Tiara, diam! Pulanglah ke rumah sekarang sebelum saya menelepon Papa untuk menjemputmu," bentak Dean pada adiknya, membuat Tiara terbungkam karena terkejut. Dean kembali menatap Valerie, matanya menyiratkan kelelahan psikologis yang teramat sangat. "Valerie, saya sudah berulang kali katakan pada kamu. Hubungan kita berjalan dengan logika dan komitmen. Jika setiap ada hal kecil yang tidak sesuai dengan perasaanmu, kamu selalu meresponnya dengan labrakan, teriakan, dan drama kekanak-kanakan seperti ini, saya tidak melihat adanya masa depan dalam hubungan ini."

Kata-kata Dean bagai palu godam yang menghancurkan sisa-sisa harga diri Valerie. Di ruangan ini, di depan wanita yang jelas-selas memanipulasinya, pria yang dia perjuangkan selama dua tahun ini justru menjatuhkan vonis bahwa dirinya adalah pihak yang bersalah dan tidak masuk akal.

Valerie menatap Dean dengan tatapan kosong, air matanya mengalir deras tanpa suara. "Jadi... di matamu, aku selalu menjadi pihak yang jahat, Dean? Aku yang cemburu buta, aku yang membuat keributan, dan sekretarismu yang sempurna ini adalah korban yang malang?"

Dean tidak menjawab. Keheningan kaku yang dia berikan sudah menjadi jawaban mutlak bagi Valerie.

Valerie tersenyum getir, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa menyerah dan patah hati yang teramat dalam. Dia mengambil kembali ponselnya dari meja Dean, lalu berbalik melangkah menuju pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Tiara segera menyusul di belakangnya, sempat memberikan tatapan tajam penuh kebencian pada Dania sebelum keluar.

Dania yang berdiri di sudut ruangan menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan senyuman kemenangan yang mengembang sempurna di bibirnya. Target keduanya sukses besar. Valerie tidak hanya meledak, tapi dia telah membuat Dean berada di titik paling jengah dalam hubungan mereka. Badai penghancur yang sesungguhnya kini tinggal menunggu satu sentuhan akhir untuk meruntuhkan ikatan mereka selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!