Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: TAMPARAN REALITA

​Mo Xie hanya mengangguk pelan.

​Baginya, ada atau tidak adanya kekuatan dari Inti Es Abadi tersebut tidaklah mengubah apa pun. Fokus utamanya sejak awal adalah pedang hitam di pergelangan tangannya yang telah berhasil ia tundukkan dan segel dengan kehendaknya sendiri. Selama ia masih bisa memanggil bilah besi hitam pembawa maut itu, ia sudah memiliki alasan yang lebih dari cukup untuk terus melangkah maju.

​Mereka berdua melangkah menembus badai salju yang menderu di luar kastil, menuju area binatang roh. Angin malam yang membekukan menerpa jubah hitam mereka dengan kasar.

​Sambil melangkah di samping Xue Qingyue, Mo Xie melirik sekilas ke arah profil samping wajah wanita itu. Garis wajahnya kembali memanggil ingatan tentang Chu Yurou, sebelum Mo Xie segera membuang muka dan melontarkan pertanyaan yang mengusik rasa penasarannya sejak di Aula Agung.

​"Hei, Xue Qingyue," panggil Mo Xie, suaranya parau tertiup angin dingin. "Seberapa kuat sebenarnya Ketua Agung itu?"

​Xue Qingyue menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang kayu kokoh yang dilapisi es tebal. Ia menoleh perlahan, menatap mata kiri Mo Xie yang berwarna biru es redup dengan pandangan sangat serius, seolah menilai apakah Mo Xie siap mendengar jawabannya.

​"Ketua Agung Han Wuyan adalah salah satu dari sedikit manusia yang telah melampaui batas mortalitas," ucap Xue Qingyue dengan nada penuh hormat dan ketakutan yang samar. "Di dunia yang hancur ini, ia berada di tingkat Ascendant lapisan puncak—satu tingkat di bawah ranah para Dewa itu sendiri. Hukum Es miliknya bukan lagi sekadar membekukan air atau menciptakan badai, melainkan mampu membekukan aliran waktu dan konsep ruang di sekitarnya jika ia menghendakinya."

​"Satu tingkat di bawah para Dewa...?" ujar Mo Xie.

​Mendengar penjelasan itu, Mo Xie tertegun di tempatnya. Hawa dingin dari badai salju mendadak terasa lenyap, digantikan oleh rasa dingin yang jauh lebih menusuk di dalam rongga dadanya.

​Ascendant... Membekukan waktu dan ruang?

​Kesadaran itu menghantam mental Mo Xie bagai godam raksasa. Keangkuhan dan sikap menantang yang baru saja ia tunjukkan di hadapan Han Wuyan seketika terasa konyol dan memalukan.

​Selama ini, setelah berhasil membantai Utusan Celah Voiddan menundukkan ego Pedang kehampaan di dalam kawah, ia merasa kekuatannya sudah cukup untuk merobek langit dan membalas dendam. Namun ternyata, ia tidak lebih dari seekor katak bodoh di dalam sumur yang dangkal. Katak yang merasa telah menguasai samudra hanya karena berhasil menundukkan seekor serangga, tanpa pernah tahu betapa megah dan mengerikannya langit di atas sana.

​Jika manusia setingkat Ascendant yang sanggup menghentikan ruang dan waktu saja masih harus bertahan di benteng terisolasi ini, sejauh apa jarak antara dirinya yang sekarang dengan para Dewa yang ia benci?

​Jawabannya jelas: ia hanyalah sebutir debu fana yang sama sekali tidak bernilai.

​"Aku... tidak tahu apa-apa," bisik Mo Xie sangat lirih, suaranya habis ditelan deru angin.

​Mata hitam dan biru es miliknya meredup seketika. Bukan karena putus asa, melainkan sebuah tamparan realitas yang menyadarkannya bahwa jalan dendam ini ribuan kali lebih mematikan dari yang ia bayangkan. Kepalan tangan kirinya mengetat hingga tulang jarinya memutih, mengunci rasa malu itu menjadi fondasi tekad baru yang jauh lebih gelap.

​Xue Qingyue yang tidak menyadari pergolakan batin Mo Xie mendorong gerbang kayu tersebut hingga terbuka, menampilkan serigala es raksasa bermata biru tajam yang sedang mendengus di dalam kandangnya.

​"Jika kau berpikir kemarahanmu bisa menyentuhnya sekarang, kau salah besar, Mo Xie. Bagi Ketua Sekte, kau saat ini tidak lebih dari sebutir debu yang kebetulan membawa senjata berbahaya," lanjut Xue Qingyue sembari mendekati salah satu serigala es yang paling besar dan mengusap surainya yang membeku.

​"Sekarang naiklah. Kita harus mencapai perbatasan selatan sebelum celah dimensi itu memuntahkan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan."

​"Naik?"

​Mo Xie refleks menghentikan langkahnya tepat di sisi serigala es raksasa yang sedang mendengus kasar, mengeluarkan uap abu-abu dari moncongnya yang dipenuhi taring panjang. Matanya melebar sedikit, bergantian menatap punggung serigala yang lebar dan sosok Xue Qingyue yang sudah bersiap untuk melompat naik.

​"Berbagi tunggangan denganmu?" tanya Mo Xie kemudian. Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering hingga ia terpaksa menelan ludah dengan berat.

​Selama hidupnya yang sederhana di Lembah Yunlan yang kini telah musnah, Mo Xie adalah pria yang sangat tertutup. Satu-satunya wanita yang pernah berada di dekatnya, yang pernah ia sentuh, dan yang pernah berbagi kehangatan dengannya hanyalah Chu Yurou.

​Pikiran bahwa ia harus duduk sangat dekat—bahkan mungkin harus memeluk pinggang Xue Qingyue dari belakang agar tidak jatuh terlempar selama perjalanan menembus badai—membuat seluruh tubuhnya mendadak kaku. Sensasi kaku ini bahkan jauh lebih menyiksa daripada saat ia dihantam hawa dingin Kawah Refleksi.

​Xue Qingyue yang sudah duduk dengan anggun di atas pelana kulit tebal serigala itu menoleh ke bawah. Ia menatap Mo Xie dengan sepasang mata birunya yang datar tanpa ekspresi, sama sekali tidak memahami pergolakan rasa canggung yang sedang menyiksa pemuda di bawahnya.

​"Hanya ada satu serigala es yang siap berpacu menembus badai selatan malam ini, Mo Xie," ucap Xue Qingyue dingin, menepuk sisa ruang di belakang pelananya yang dilapisi bulu tebal. "Atau kau lebih memilih berlari menembus salju setinggi dada sejauh puluhan mil ke perbatasan?"

​"Bukankah kau punya formasi ruang saat itu?" tanya Mo Xie cepat, mencoba mencari celah untuk menghindari situasi tak nyaman ini. Ingatannya kembali pada momen saat Xue Qingyue berpindah tempat dan membawanya pergi dari reruntuhan Lembah Yunlan.

​Xue Qingyue menghela napas pendek, menatap Mo Xie seolah pemuda itu baru saja menanyakan hal bodoh.

​"Menggunakan formasi manipulasi ruang untuk melintasi jarak jauh membutuhkan Qi yang sangat besar, Mo Xie," jelas Xue Qingyue dingin, jemarinya mengetuk gagang pelana dengan tidak sabar.

​"Terlebih lagi, celah dimensi di selatan sedang bergejolak hebat. Melakukan distorsi ruang di dekat area yang tidak stabil sama saja dengan bunuh diri—kita bisa terlempar ke dalam kehampaan atau terbelah menjadi dua."

​Ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke samping, menatap Mo Xie yang masih mematung di atas salju.

​"Formasi ruang bukanlah mainan yang bisa digunakan kapan saja hanya karena kau merasa canggung untuk duduk di belakangku," lanjut Xue Qingyue, nadanya sedikit menyindir. "Sekrab ini, naik. Itu perintah, bukan tawaran."

​"Kalau begitu, biarkan aku di depan. Kau duduklah di belakangku," ucap Mo Xie cepat, berusaha mengamankan posisi yang menurutnya lebih bisa ia toleransi daripada harus mendekap pinggang ksatria wanita itu dari belakang.

​Xue Qingyue menaikkan satu alisnya, menatap Mo Xie dengan pandangan meremehkan yang sangat jelas. "Kau yakin?" tanyanya ragu. "Menunggangi serigala es tidak sama seperti mengendarai kuda fana di desamu. Mereka digerakkan oleh niat dan tekad penunggangnya."

​"Ya, aku yakin. Cepat pindah," sahut Mo Xie keras kepala, tidak ingin terlihat lemah atau bimbang di hadapan wanita ini.

​Xue Qingyue menghela napas pasrah, lalu dengan satu gerakan anggun ia menggeser posisinya ke bagian belakang pelana bulu yang lebar.

​Mo Xie segera melompat naik ke bagian depan, meraih tali kekang kulit tebal yang terasa membeku di telapak tangannya. Begitu Mo Xie duduk, ia bisa merasakan kehadiran Xue Qingyue yang sangat dekat di belakangnya. Aroma dingin seperti salju murni dari tubuh wanita itu membuat otot-otot Mo Xie kembali menegang kaku.

​"Pegang kendalinya dengan mantap, dan salurkan sedikit kehendakmu untuk menyuruhnya maju," instruksi Xue Qingyue dari belakang, kedua tangannya berpegangan pada sabuk di pinggang Mo Xie untuk menjaga keseimbangan.

​Mo Xie menarik tali kekang itu dengan sentakan tegas. "Maju!" titahnya.

​Namun, itu adalah sebuah kesalahan fatal.

​Begitu Mo Xie menyalurkan kehendaknya, Qi Kegelapan yang tersegel di tangan kanannya bereaksi secara tidak sengaja terhadap emosi Mo Xie yang tegang. Qi Kegelapan yang pekat dan liar merembes keluar melalui sela-sela jarinya, langsung menyentuh kulit serigala es melalui tali kekang.

​Seketika itu juga, mata biru jernih milik serigala raksasa itu berubah menjadi merah menyala penuh kegilaan. Hewan buas itu melolong mengerikan, merasakan ancaman maut dari kegelapan Mo Xie.

​"ROOOORRRR!"

​Serigala es itu langsung hilang kendali.

​Ia berdiri tegak dengan dua kaki belakangnya, melompat liar ke udara, lalu melesat maju menuruni lereng tebing es Benteng Es Abadi dengan kecepatan yang mengerikan dan tidak beraturan.

​Hewan itu meliuk-liuk kasar, mencoba melempar Mo Xie dari punggungnya, membuat mereka berdua berguncang hebat di ambang jurang maut yang curam!

​"Dasar bodoh!" teriak Xue Qingyue dari belakang.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!