Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tampak Sangat Menyedihkan
Selama hampir 45 menit yang mencekam, Reyna mengacak-acak arsip nota pengiriman barang, resi jalan balik dan bukti penyerahan barang jalan. Jemarinya ternoda abu-abu oleh debu kertas lama, namun ia tidak peduli.
Akhirnya, di balik selipan berkas audit internal lama, ia menemukan lembar bukti penerimaan retur bertanda tangan basah dan berstempel dari kepala gudang utama yang belum dipindahkan Bu Sandra ke baki utama.
Reyna kembali berlari ke ruang rapat, meletakkan lembaran bukti itu tepat di hadapan ketua tim audit.
"Pak, 100 gulung kain sutra seri S-900 tidak hilang, barang tersebut diretur sementara ke pabrik pemroses di Garut karena cacat warna pada awal bulan lalu. Ini surat bukti penerimaan retur fisiknya yang sah, pihak gudang belum memperbarui kode sistemnya karena dokumen ini tertahan di meja administrasi internal sebelum proses disposisi," terang Reyna napasnya terengah-engah.
Sang auditor meneliti berkas berstempel basah itu dengan cermat, memindai tanda tangan di atasnya, lalu mencocokkan nomor seri barang. Setelah dua menit keheningan yang serasa menyiksa, auditor tersebut mengembungkan napas panjang dan mengangguk.
"Dokumen ini valid, ini murni keterlambatan update administrasi dari pihak manajemen kalian dan bukan kehilangan fisik, bagus sekali pencatatan arsip fisikmu," ucap sang auditor.
Bu Sandra terduduk lemas di kursinya, mengusap keringat dingin di dahinya tanpa berani menatap mata Mas Akbar dan Clarissa yang menyunggingkan senyum lega.
Reyna pun melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 15.30 WIB. Ia menghela napas panjang, membayangkan bisa memburu waktu pulang ke kontrakan jam 16.00 WIB untuk bersiap-siap.
Namun, bayangan itu buyar seketika. Karena masalah diskrepansi tadi, tim audit memutuskan untuk melakukan pemeriksaan ulang seluruh lembar verifikasi barang bernilai tinggi dari awal demi memastikan tak ada dokumen terlupa lainnya.
Proses re-pemeriksaan itu berjalan sangat lambat dan melelahkan. Reyna harus berdiri seharian, menyajikan berkas demi berkas, hingga stempel penutupan berita acara audit baru ditandatangani tepat pukul 19.00 WIB malam.
Pukul 19.30 WIB. Jam dinding kantor seolah menertawakan Reyna yang masih berdiri mematung di koridor utama, resepsi pernikahan Agnia dijadwalkan mulai pukul 19.00 WIB di salah satu hotel bintang lima paling megah di pusat Kota Bandung.
"Reyna! Kamu belum selesai juga? Bukannya kamu mau ke resepsi teman kamu, kalau nggak pulang sekarang... bisa telat loh," seru Mbak Maya sebelum pulang.
"Aku langsung berangkat dari kantor, Mbak. Aku siap-siap dulu, Mbak," jawab Reyna panik dan bergegas masuk ke toilet kantor.
Di dalam kamar mandi, Reyna segera membersihkan tubuhnya, lalu memoles wajahnya seadanya. Ia mengusap bedak padat tipis dan menggunakan lip balm merah muda untuk memberi sedikit warna pada bibir pucatnya dan mengurai rambut sebahunya.
Setelah itu, Reyna lalu berganti pakaian dan mengenakan gaun krem. Gaun itu pas di tubuhnya yang ramping, namun bahannya terlihat kusam dan tidak memiliki payet atau kilauan anggun sama sekali, sepatu yang digunakannya adalah sepatu flat shoes hitam beralas tipis yang permukaannya sudah agak mengelupas di sisi kanan.
"Tampak sangat menyedihkan," gumam Reyna menatap pantulan dirinya di cermin remang toilet.
"Nggak apa-apa, yang penting aku datang untuk Agnia," lanjut Reyna.
Reyna keluar dari toilet, menyambar helm dan tas ransel berisi pakaian kerjanya, lalu mengendarai motor matic tuanya dengan kecepatan maksimal menembus kemacetan malam Minggu kota Bandung.
Asap knalpot dan pekatnya jalanan melengkapi penderitaan Reyna malam itu, gerimis tipis sempat membasahi ujung gaun kremnya sewaktu ia membelah jalanan. Pukul 20.45 WIB, motor matic tuanya akhirnya meraung memasuki area parkir hotel bintang lima tersebut.
Reyna memarkirkan motor tuanya di area parkir sepeda, ia memegang tas kanvas lusuhnya, merapikan gaun kremnya yang sedikit lembap di bagian bawah dan melangkah ragu menuju lobi hotel yang sangat megah.
Lantai marmer yang berkilau bagaikan cermin dan lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit, serta aroma wewangian mahal menyambut langkahnya, Reyna merasa bagaikan seekor itik buruk rupa yang tersesat di istana megah.
Saat melangkah menuju pintu ballroom, para tamu yang melintas adalah jajaran pria berjas mahal dan wanita-wanita berkebaya glamor dengan perhiasan emas serta tas bernilai puluhan juta rupiah.
Beberapa tamu sempat melirik ke arah Reyna, menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan heran dan merendahkan menatap gaun murah serta sepatu mengelupas milik Reyna.
Reyna menundukkan kepala, meremas jemarinya yang dingin. 'Tahan Reyna, kamu di sini buat Agnia, bukan buat pamer,' batin Reyna menyemangati dirinya sendiri.
Reyna melangkah masuk ke dalam ballroom yang sangat luas, alunan musik orkestra lembut memenuhi ruangan dan dekorasi bunga segar beraroma harum memenuhi setiap sudut pelaminan. Di atas panggung utama yang megah, tampak Agnia tampil begitu cantik mempesona bak ratu dalam balutan gaun pengantin modern berwarna silver-kristal, bersanding dengan suaminya, Bagas yang tampak gagah perkasa mengenakan seragamnya
Reyna berdiri di sudut ruangan, cukup jauh dari panggung. Ia tidak berani mendekat karena antrean tamu VIP begitu panjang, melihat Agnia tersenyum lebar melayani ucapan selamat para tamu membuat air mata haru Reyna menetes pelan, sahabatnya, kini telah resmi menjadi istri seorang perwira.
Ditengah lamunannya, tiba-tiba lampu utama ballroom sedikit diredupkan dan lampu sorot memusat ke tengah area panggung dan suara pembawa acara pun bergaung nyaring menggunakan mikrofon.
"Hadirin sekalian yang berbahagia! Kita memasuki acara yang paling ditunggu-tunggu oleh para lajang malam hari ini! Lempar Bunga Pengantin!" seru sang pembawa acara disambut tepuk tangan dan sorakan meriah dari para tamu.
Para pemuda berjas dan gadis-gadis lajang berkebaya indah langsung berlari-lari kecil menuju area depan panggung dan membentuk barisan antusias demi memperebutkan buket bunga mawar putih segar yang dipegang sang pengantin wanita.
Reyna yang menyadari posisinya tak sebanding dengan para tamu kaya di sana, secara refleks melangkah mundur. Ia memilih bersembunyi di balik pilar besar dekat meja hidangan penutup, berniat menonton keramaian itu dari kejauhan tanpa ingin terlibat sedikit pun.
Namun, takdir berkehendak lain. Dari atas panggung, Agnia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan untuk mencari sosok yang ditunggunya sejak tadi. Saat matanya menangkap figur wanita bergaun krem polos yang sedang berusaha sembunyi di balik pilar, senyum Agnia merekah lebar.
Tanpa ragu-ragu, Agnia mengambil mikrofon dari tangan pembawa acara. "Reyna! Reyna! Kamu mau sembunyi ke mana? Ayo maju ke depan!" suara Agnia menggema di seluruh pengeras suara ballroom.
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor