Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebaikan yang Dianggap Siasat

"Kak Revan..!" terdengar pekikan di dalam kamar mandi.

Suara benda jatuh itu terdengar keras. Apa yang terjadi? Jangan-jangan, keran shower...?

Aku bergegas turun dari ranjang, melangkah cepat menuju kamar mandi lantas mengetuknya tiga kali. Terdengar suara ringisan pelan di dalam sana. Pintu kamar mandi terbuka. Alya bersandar di atas kloset duduk, wajahnya tampak kesakitan.

Pandanganku beralih pada lantai. Keran shower berjatuhan di atas lantai, bercampur dengan darah yang mengalir dari kaki Alya. Keran shower itu ambruk tepat menindih jempol kaki Alya. Darah mengalir begitu deras.

Keran shower memang sudah tidak layak pakai, beberapa bautnya sudah lepas. Semalam aku sudah berniat akan melepasnya, tapi aku urungkan karena sudah terlalu lelah. Namun, inilah akibat kelalaianku. Alya menjadi korbannya.

Aku mengambil handuk yang menggantung di atas kastop, mengambil satu gayung air lantas menuangkan pada kaki Alya. Darah segar masih mengalir deras. Sepertinya lukanya dalam, aku belum bisa memastikan karena darah masih terus keluar.

Terdengar ringisan yang tertahan dari Alya. Aku mendongakkan wajah, kulihat wajah Alya yang sudah memerah menahan sakit. Sementara luka Alya aku balut dengan handuk bersih yang aku pegang.

"Duduk di sofa, aku akan mengobatinya. Lukanya dalam, sepertinya aku akan menjahitnya," ujarku yang lantas direspons oleh anggukan samar dari Alya. Wanita itu tampak berdiri dengan susah payah, berjalan terpincang-pincang menuju sofa.

Revan... ini akibat kelalaianmu.

Aku berdecak singkat, kemudian membersihkan darah yang masih tersisa pada lantai kamar mandi, menyiramnya sampai bersih. Kemudian merapikan keran shower yang berceceran, melepasnya untuk kemudian diganti oleh tukang.

Setelah itu aku bersiap untuk mengobati luka Alya, mengambil beberapa alat yang akan digunakan. Kemudian duduk di samping Alya yang tengah menunggu. Tanpa banyak kata, aku meraih kaki Alya dan mengangkatnya ke atas sofa. Handuk putih itu telah basah oleh darah.

Aku membuka lilitan handuk itu perlahan, darah kembali mengalir. Terdengar lagi ringisan pelan dari Alya. Entah mengapa, melihat wanita ini kesakitan, hatiku terasa perih.

Mungkin hanya perasaan bersalah saja, karena tidak mengikuti kata hati untuk segera melepas keran shower.

Aku menyiapkan NaCl 0,9 persen untuk irigasi luka, kemudian menyiramnya pada luka jempol kaki Alya yang masih mengeluarkan darah.

"Ini akan sedikit terasa perih. Tahan!"

"Iya, Kak..." terlihat anggukan samar dari Alya, kemudian tangannya memegang erat pada pinggiran sofa, untuk melampiaskan rasa perih pada kakinya.

Luka tampak lebih bersih dari darah. Aku memeriksanya dengan teliti pada tiap jaringan kulit. Ternyata aman, lukanya kecil tapi dalam. Lantas aku melakukan anestesi lokal, agar Alya tidak terlalu merasakan sakit saat lukanya dijahit.

Alya terlihat lebih tenang, memperhatikan setiap perawatan yang aku lakukan pada kakinya. Aku melirik wajahnya, sekilas sorot mata kami bertemu. Binar bening itu tampak masih terlihat sembab oleh air mata.

"Kak... keran shower-nya kenapa tiba-tiba ambruk?" tanyanya, seperti biasa tutur bahasanya akan terdengar sopan dan sangat ramah pada telinga.

Pada kenyataannya, ini bukan pujian dariku.

"Sudah tidak layak pakai, tadinya saya akan copot semalam. Tapi keburu lelah, maaf kamu yang jadi korbannya," ucapku datar, dengan tatapan masih fokus untuk menautkan benang jahit pada luka.

"Namanya musibah, tidak ada yang tahu. Tapi terima kasih, Kak, kamu sudah merawat lukanya."

Aku mendongakkan wajah, sorot mata kami kembali bertatapan untuk beberapa detik. Aku melihat senyum samar dari wajahnya. Aku mengangguk singkat, lantas kembali fokus pada luka di kakinya, membalut luka itu dengan kain kasa.

Semuanya selesai, aku mengumpulkan semua alat medis untuk disterilkan. Duduk bersebelahan bersama Alya yang masih fokus menatap balutan kain kasa pada kakinya.

"Lukanya masih basah, jangan terlalu banyak gerak."

Alya mengangguk, lantas ia berdiri.

"Kalau hanya ke kamar mandi dengan hati-hati mungkin itu boleh. Aku hanya ingin melaksanakan kewajiban, hari sudah mulai terlihat terang."

Beberapa jam kemudian, aku sudah siap dengan pakaian kerjaku. Hari ini Alya tidak menyiapkannya, karena mungkin ia tidak bebas dalam bergerak. Aku cukup kewalahan untuk menyiapkannya seorang diri, karena biasanya Alya yang membantu semua.

Wanita itu tengah duduk tenang di atas sofa, dengan pandangan yang fokus pada layar laptop. Sebenarnya apa yang dia lakukan?

"Aku berangkat..." Aku berkata datar, sambil meraih tas kerja yang terletak di atas meja depan Alya.

"Kak..." Alya mengulurkan tangannya, mungkin berniat untuk mencium punggung tanganku.

Beberapa detak aku menatap tangannya, belum juga berniat untuk membalas uluran tangannya.

"Kak, sampai waktu baktiku terhenti, bolehkah?" Alya menatapku lembut. Sial, binar indah itu selalu menciptakan rasa aneh.

Aku mengangguk singkat, mengulurkan tangan lantas Alya menyambutnya. Ini kali kedua Alya mencium punggung tanganku selepas akad. Dan, yang kedua ini rasanya cukup berbeda.

Lantas aku meninggalkannya, harus cepat-cepat berangkat karena Aira sudah menunggu.

"Van... Alya mana, kok enggak kelihatan turun? Apa sudah berangkat?"

Aku menoleh pada Ibu yang berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Alya kakinya luka, Bu, sudah Revan kasih perawatan juga. Bu, Revan harus segera berangkat." Aku mencium punggung tangan Ibu, lantas melangkah cepat sebelum Ibu kembali menanyakan soal Alya padaku.

🌸🌸🌸

Wanita cantik itu terlihat anggun dengan balutan dress berwarna krem muda. Rambutnya terurai indah, semuanya selalu manis.

Aira, kekasihku, wanita yang sangat aku sayangi setelah Ibu. Kami sudah menjalin hubungan selama tiga tahun, tapi entah mengapa Ibu tidak merestui hubungan kami.

"Sayang... kamu lama banget..." Aira memasuki mobilku, wanita itu akan duduk manis di sampingku.

"Maaf, Sayang, tadi aku ada beberapa hal yang harus diurus."

"Ngurus istrimu?"

"Aira... sudah kubilang aku tidak akan pernah menyukai wanita lain selain kamu."

Aira tampak cemberut, ia menyandarkan tubuhnya pada jok kursi. Wajahnya tampak berkerut.

"Dia tidak masalah dengan hubungan kita, Sayang, bahkan ia siap kapan saja jika aku melepasnya."

"Justru itu yang aku takutkan. Kamu terpesona dengan keluguan dan kelembutan wajahnya. Wanita itu enggak banyak drama, tapi kelembutan itu perlahan bisa meluluhkan hati kamu, Sayang."

Aku mendengar hembusan kasar wanita di sampingku.

"Aku hafal betul tabiat wanita seperti itu. Dalam diamnya dia penuh ambisi untuk menaklukkan hati kamu, Revan."

Apa yang dikatakan oleh Aira itu benar. Kelembutan dan kebaikan yang Alya lakukan padaku itu adalah sebuah siasat untuk menaklukkan hatiku.

Alya menyukaiku, aku tahu itu.

Aku jangan sampai terjebak dengan permainan Alya.

"Sayang..."

Aku menoleh pada Aira, ia menampilkan layar ponselnya padaku. Sebuah tas merek yang sudah ia incar satu bulan yang lalu.

"Pesankan, aku yang membayarnya, Sayang."

Bersambung.

Janga lupa like dan komen ya...

Jangan loncat bab ya sayang-sayangku...author mohon.

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!