Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pertemuan di Istana Permaisuri
Cahaya putih kebiruan memudar perlahan, dan ketiga orang itu pun melangkah keluar dari gerbang portal teleportasi. Mereka tiba di sebuah alun-alun luas yang dikelilingi bangunan-bangunan menjulang megah, berhias ukiran yang bercahaya lembut. Portal ini milik pengelola kota, terbuka bagi siapa saja yang mampu membayar biaya penggunaannya — bukan milik kekuatan tertentu, melainkan sarana umum yang menghubungkan berbagai penjuru Negeri Empat Wilayah.
Begitu melangkah keluar, Riu Lin dan Sui Lan terhuyung. Udara di sini terasa jauh lebih padat, kental dengan energi murni yang menyusup ke setiap pori-pori kulit mereka. Kepala terasa pening seketika, dan keseimbangan tubuh seakan terguncang. Tanpa perintah, keduanya duduk bersila di pinggir alun-alun, memejamkan mata guna menyesuaikan diri dengan lingkungan yang asing ini. Zi Lan berdiri di samping mereka, tenang dan sabar, membiarkan tubuh gadis-gadis itu beradaptasi sendiri. Beberapa orang lewat melirik sekilas, namun tak ada yang berhenti — di tempat ini, pemandangan pendatang yang beristirahat setelah melintasi portal adalah hal yang lumrah.
Tak berapa lama, kedua gadis itu mengangkat kepala. Wajah mereka masih sedikit pucat, namun pandangan mata sudah kembali jernih dan mantap.
"Sudah lebih baik?" tanya Zi Lan lembut.
Riu Lin mengangguk. "Sudah, Tetua. Maafkan kami..."
"Tak perlu minta maaf," potong Zi Lan tersenyum. "Energi di sini jauh lebih pekat daripada tempat asal kalian. Wajar jika tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri. Mari ikut aku."
Ia berjalan di depan, memandu mereka menembus jalanan kota yang sibuk. Bangunan di sekeliling mereka semakin lama semakin indah dan megah, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah kawasan yang sepi dan tenang, dipagari tembok tinggi yang dihiasi ukiran burung phoenix yang menyala. Di balik gerbang itu, terlihat hamparan taman yang luas dan dua bangunan istana yang menjulang gagah, memancarkan keagungan yang tak terbayangkan.
Saat melewati gerbang utama, para penjaga langsung memberi hormat dalam-dalam kepada Zi Lan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka tahu siapa tamu yang datang bersama wanita itu, dan tak ada satu pun yang berani bertanya. Riu Lin dan Sui Lan menatap sekeliling dengan takjub. Istana ini ratusan kali lebih megah dan lebih indah dari istana Kerajaan Jiang maupun Kerajaan Lin yang pernah mereka lihat. Setiap batu lantainya berkilau, setiap tiangnya diukir dengan lukisan yang hidup, dan udara di sini terasa sejuk sekaligus menenangkan.
Mereka berjalan menuju salah satu dari dua istana besar itu. Di atas pintu masuknya, terukir nama dengan huruf emas yang bersinar lembut: ISTANA PERMAISURI FANG YUN JI.
Zi Lan mengajak mereka masuk. Di dalamnya, lorong-lorongnya luas dan bersih, dipenuhi tanaman hias yang mengeluarkan aroma harum menenangkan. Pelayan-pelayan yang lewat menundukkan pandangan, memberi jalan tanpa menatap. Sesampainya di bagian dalam, Zi Lan memanggil kepala pelayan yang sedang berjaga.
"Siapkan dua kamar terbaik untuk gadis-gadis ini," perintahnya. "Pastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi."
Pelayan itu mengangguk hormat, lalu mengantar Riu Lin dan Sui Lan ke sayap kediaman tamu. Masing-masing mendapatkan kamar yang luas, lengkap dengan perabotan indah dan pemandangan taman yang asri.
"Beristirahatlah dulu," kata Zi Lan sebelum pergi. "Aku akan menemui Yang Mulia. Nanti aku panggil kalian."
Setelah kedua gadis itu ditinggalkan, Zi Lan melangkah menuju bagian terdalam istana — tempat kediaman permaisuri. Di sana terdapat sebuah taman bunga yang tenang, di tengahnya berdiri sebuah paviliun tempat Fang Yun Ji biasa duduk menikmati ketenangan. Wanita itu tampak cantik dan anggun, wajahnya memancarkan kelembutan sekaligus kewibawaan, meski terlihat jelas kerutan halus di sudut matanya yang mengisyaratkan usia sekitar lima puluh tahun.
Zi Lan melangkah mendekat dan memberi hormat dalam-dalam. "Salam hormat, Yang Mulia."
Fang Yun Ji menoleh, senyum tipis menyungging di bibirnya. "Zi Lan... bagaimana perjalananmu? Apakah kau menemukan jejak kepingan Giok Nirvana yang hilang itu?"
"Yang Mulia, izinkan hamba menceritakan semuanya dari awal," jawab Zi Lan dengan tenang.
Ia pun bercerita — mulai dari kedatangannya ke Klan Hao di Daratan Bawah, pertemuannya dengan Tuan Hao, perjalanannya ke perkampungan Riu, hingga pertemuannya dengan Riu Zheng. Ia menceritakan semuanya secara jujur, tanpa menambahkan atau mengurangi sedikit pun.
Fang Yun Ji mendengarkan dalam diam. Saat mendengar nama Fang Yi Lan disebut, tangannya yang bertumpu pada sandaran kursi perlahan mengepal.
"Jadi... putriku menikah di sana?" suaranya terdengar bergetar pelan.
Zi Lan mengangguk perlahan.
Fang Yun Ji terdiam. Dua puluh tahun berlalu sejak putri tunggalnya hilang. Selama itu, ia perlahan belajar merelakan, meyakini bahwa Yi Lan telah tiada. Namun mendengar kabar ini secara langsung, mengetahui bahwa putrinya hidup, membangun keluarga, lalu pergi selamanya di tempat yang jauh... hati seorang ibu tetap tak kuasa menahan kesedihan. Air mata menetes perlahan di pipinya yang halus.
"Apapun yang terjadi... seorang anak tetaplah jantung orang tuanya," gumamnya pelan. Ia menarik napas panjang, lalu mengangkat wajahnya kembali. "Kau bilang... Yi Lan meninggalkan anak?"
"Benar, Yang Mulia. Putri itu kini ada di istana ini."
Mata Fang Yun Ji berbinar. "Benarkah? Bawa dia ke sini sekarang."
Sementara itu, di kamarnya, Riu Lin duduk menunggu dengan perasaan berdebar. Ia tak tahu apa yang akan terjadi, namun hatinya merasa hangat — seakan ada sesuatu yang memanggilnya, sesuatu yang dekat dan akrab. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Zi Lan masuk, dan di belakangnya berdiri seorang wanita paruh baya yang cantik dan anggun, tatapannya penuh kasih sayang yang tak bisa disembunyikan.
"Riu Lin... ini adalah Tuanku, Ibu Suri Fang Yun Ji," kata Zi Lan lembut.
Riu Lin bangkit berdiri, tertegun. Ia menatap wanita itu, dan seketika rasanya seakan ada benang halus yang menghubungkan hati mereka.
"Kau..." Fang Yun Ji melangkah mendekat, suaranya tercekat. Tanpa sadar ia melesat ringan, memeluk gadis itu erat-erat. "Kau persis seperti dia... begitu mirip... wajahmu, matamu... Yi Lan, anakku... sebelum kau pergi, kau ternyata masih meninggalkan kami sepotong hatimu..."
Riu Lin terpejam, memeluk wanita itu balik tanpa sadar. "Nenek..." panggilnya pelan.
Fang Yun Ji melepaskan pelukannya, menatap wajah cucunya dengan senyum bahagia. "Apakah kau sendirian? Tadi aku melihat ada seorang gadis lain..."
"Itu Sui Lan, Nenek. Dia saudaraku, sahabatku, dan saudara angkatku," jawab Riu Lin.
Fang Yun Ji tersenyum. "Bagus... kalian saling menjaga."
Belum sempat ia melanjutkan, Zi Lan menyela dengan sopan. "Yang Mulia, ada satu hal lagi yang perlu hamba sampaikan. Riu Lin bukan satu-satunya cucu Anda. Ia memiliki seorang kakak laki-laki, bernama Riu Han. Berusia sembilan belas tahun. Dialah yang naik ke alam ini lebih dulu, dan dialah yang memegang kepingan Giok Nirvana lainnya. Saat itulah Anda merasakan kehadiran giok itu."
Fang Yun Ji terbelalak. "Ada lagi? Cucu laki-lakiku?"
"Benar, Yang Mulia. Riu Han kini berada di Negeri Empat Wilayah ini."
Wajah Fang Yun Ji berseri-seri. "Dua cucu... Yi Lan meninggalkan kami dua permata yang luar biasa! Hebat, anakku... sungguh hebat!"
Tiba-tiba ia menoleh ke arah jendela, seakan merasakan sesuatu. "Siapa yang datang?"
Dari arah halaman, terdengar langkah kaki mantap. Pintu terbuka, dan masuklah seorang lelaki paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun, wajahnya tegas namun tetap tampan, dengan aura kekuasaan yang kuat namun meneduhkan.
"Fang Si Zhang..." gumam Zi Lan, lalu memberi hormat.
Pria itu — Fang Si Zhang, Kaisar Penguasa Langit Utara — melangkah masuk. Matanya tertuju pada Riu Lin, dan langkahnya terhenti. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, lalu menoleh kepada Fang Yun Ji.
"Ini..."
"Dia Riu Lin, putri Yi Lan," kata Fang Yun Ji pelan namun tegas.
Fang Si Zhang melangkah mendekat, menatap wajah cucunya dengan mata yang berbinar. "Jadi... kau anak putriku?"
"Riu Lin memberi hormat kepada Kakek," ucap gadis itu sambil menunduk sopan.
Fang Si Zhang tertawa lebar, lalu memeluknya erat. "Cucuku! Wajahmu... persis seperti ibumu! Hebat... sungguh hebat!" Ia melepaskan pelukannya, lalu menatap istrinya. "Yun Ji, ceritakan padaku semuanya."
"Izinkan hamba yang menceritakannya, Yang Mulia," kata Zi Lan, lalu menuturkan kembali perjalanannya, pertemuannya dengan Riu Zheng, serta kisah tentang Riu Han yang telah berada di alam ini.
Fang Si Zhang menghela napas panjang setelah mendengar semuanya. "Untunglah aku tidak sempat bertindak gegabah. Tadi pagi aku sempat bermaksud mengirim Bai Mo untuk meneliti pemuda itu, karena merasakan aura yang tak biasa darinya." Ia menatap Riu Lin. "Cucuku... mengapa Giok Nirvana terpisah? Mengapa satu di tanganmu, dan satu lagi di tangan kakakmu?"
Riu Lin tersenyum polos, wajahnya terlihat lugu namun tulus. "Kakek... bukankah wajar jika anak mewarisi sesuatu dari ibunya? Kakakku juga anak Ibu, bukan? Jadi wajar jika ia memiliki bagian warisannya."
Sederhana, namun tak terbantahkan. Kata-kata itu membuat semua orang di ruangan itu tertawa lepas. Fang Si Zhang tertawa hingga matanya berkaca-kaca, menepuk bahu cucunya berulang kali. Suasana yang selama ini sunyi dan dingin di istana itu kini tiba-tiba terasa hangat, penuh dengan tawa dan harapan yang baru tumbuh.
Fang Si Zhang dan Fang Yun Ji saling berpandangan. Mereka belum pernah melihat wajah satu sama lain sebahagia ini selama dua puluh tahun terakhir. Kehadiran Riu Lin bukan sekadar mengisi kekosongan — ia membawa kembali semangat yang sempat hilang bersama kepergian putri mereka.
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪