Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Kerja Kelompok dan Kode di Balik Mikroskop

Sore hari seusai bel pulang sekolah bergaung di seluruh koridor SMA Nusantara Jaya, suasana laboratorium Biologi di lantai dua masih tampak lumayan ramai. Aroma khas alkohol 70%, cairan pewarna metilen biru, dan samar-samar wangi sampel daun segar memenuhi ruangan ber-AC tersebut. Sesuai pembagian dari Rama saat kelas berakhir tadi, kelompok Biologi mereka yang terdiri dari Alee, Rama, Nara, Rendy, dan Bima memilih langsung berkumpul di satu meja laboratorium panjang untuk menyelesaikan pengamatan struktur jaringan tumbuhan.

"Oke, guys, perhatian sebentar!" buka Rendy sambil meletakkan tas sekolahnya yang berat di atas bangku kayu lab. "Tugas Pak Budi kali ini lumayan banyak step-nya. Kita harus bikin preparat basah dari irisan sel daun, amati bentuk selnya di bawah mikroskop cahaya, terus bikin laporan resmi lengkap sama sketsa penampang selnya. Nah, biar cepet pulang dan nggak kemalaman, mari kita bagi tugas!"

"Bima sama Rendy bagian potong sampel daun setipis mungkin pakai pisau silet sama siapin kaca preparatnya ya," potong Nara cepat, mengambil alih perannya sebagai seksi sibuk kelompok. "Gue bagian nyatat data hasil pengamatan, nyari studi literatur di internet, terus mulai menyusun draf laporan di laptop."

Alee yang berdiri di samping meja langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan raut wajah berbinar antusias. "Gue bagian ngelukis dan mengarsir struktur selnya di lembar kertas laporan! Kan kalian semua udah tahu sendiri, kemampuan menggambar gue adalah yang paling estetik dan artistik di antara kalian semua!"

Rama yang baru saja selesai mengambil mikroskop cahaya dari lemari penyimpanan kaca di ujung ruangan melangkah menghampiri meja mereka. Ia meletakkan alat optik presisi itu di tengah meja dengan sangat hati-hati. Usai merapikan posisi kacamata bertulang hitamnya, Rama menatap Alee sambil menyunggingkan senyum tipis yang amat lembut.

"Boleh banget, Alee," ujar Rama pelan. "Tapi menggambarnya harus benar-benar sesuai dengan apa yang terlihat di bawah lensa mikroskop ya. Jangan pakai imajinasi bebas, apalagi kalau gambarnya malah kamu ubah jadi bentuk lukisan bunga atau karakter kartun."

Alee langsung membelalakkan mata, menyenggol lengan Rama pelan dengan sikunya. "Dih, Pak Ketua! Kok malah mengejek kemampuan seni gue sih?! Lihat aja nanti, gambar sel epidermis sama stomata buatan gue bakal rapi dan sempurna banget sampai Pak Budi kasih nilai seratus!"

Rama terkekeh pelan suara tawa khasnya yang selalu berhasil menggetarkan dada Alee. "Ya sudah, kalau begitu saya sama Alee yang bakal fokus di bagian pengamatan mikroskop, mengatur pencahayaan, dan memverifikasi letak jaringan selnya."

---

Proses kerja kelompok pun berjalan cukup efektif. Di ujung meja, Bima dan Rendy tampak serius memotong irisan tipis daun nenas kerang dengan pisau silet tajam di atas kaca objek, sementara Nara mulai sibuk mengetik draf laporan di laptopnya. Di sudut meja yang lain, Rama dan Alee duduk berdekatan menghadapi satu-satunya mikroskop cahaya yang dialokasikan untuk kelompok mereka.

Rama memutar pemutar kasar (coarse focus) dan pemutar halus (fine focus) mikroskop secara perlahan, menyesuaikan sudut cermin pemantul agar cahaya lampu ruangan masuk sempurna ke dalam diagfragma.

"Coba kamu intip dulu, Alee," ucap Rama seraya menggeser sedikit posisi duduknya agar Alee bisa mendekati bagian lensa okuler.

Alee membungkukkan badannya, menempelkan satu matanya ke lensa okuler mikroskop. Namun bukannya melihat bentuk bayangan sel yang rapi, pandangannya justru gelap gulita dan samar-samar. "Lah... kok gelap banget sih, Ketua? Nggak kelihatan bentuk sel atau dinding sel apa-apa nih. Apa mikroskopnya rusak ya?"

Rama yang mendengar aduan itu langsung menyunggingkan senyum maklum. Tanpa ragu, Rama memajukan tubuhnya mendekat ke arah Alee dari belakang. Tangannya terulur melintasi bahu kanan Alee untuk meraih dan membetulkan posisi cermin pemantul cahaya di bagian bawah mikroskop. Jarak mereka yang mendadak sangat dekat membuat Alee bisa merasakan aroma wangi musk yang segar dan lembut dari seragam Rama, serta merasakan hembusan napas cowok itu yang berembus hangat di sekitar pelipis dan telinganya.

Deg! Deg! Deg!

Jantung Alee mendadak berdebar maraton tak beraturan, persis seperti drum yang dipukul bertubi-tubi.

"Cerminnya tadi kehalangan sama bayangan tangan kamu sendiri pas mau intip," bisik Rama sangat dekat di samping telinga Alee. "Nah, coba sekarang kamu intip lagi."

Alee menelan ludah berulang kali, berusaha sekuat tenaga menguasai desakan napasnya yang mendadak patah-patah dan patah fokus. "E-eh... iya! Udah terang banget sekarang! Kelihatan jelas sel-selnya mirip susunan batu bata!" sahut Alee cepat-cepat sambil menegakkan tubuhnya kembali, berusaha menciptakan jarak aman agar rona merah di wajahnya tidak terlihat jelas.

Nara yang duduk tepat di sebelah mereka memicingkan mata curiga. Ia memperhatikan gerak-gerik Alee yang serba salah dan merona merah padam dari pipi hingga ke ujung telinga. Nara lalu menyenggol kaki Rendy di bawah meja sambil memberikan kode kerlingan mata yang penuh arti. Rendy dan Bima yang menangkap kode itu langsung menahan tawa geli, mengagumi betapa sang Ketua Kelas yang selalu bersikap tenang itu bisa membuat seorang Aleena yang pemberani menjadi salah tingkah berat tanpa sadar.

---

Beberapa puluh menit berlalu. Saat Alee sibuk memindahkan gambaran penampang sel epidermis dan celah stomata ke atas lembar kertas gambar dengan pensil 2B, Rama duduk tepat di sebelahnya sambil memeriksa draf tabel hasil pengamatan yang diketik Nara. Namun sesekali, mata Rama yang teduh di balik kacamata itu melirik ke arah jemari Alee yang menari lincah di atas kertas.

"Gambarmu bagus dan rapi banget, Alee," puji Rama jujur, mengamati detail arsir penampang dinding sel yang dibuat oleh Alee.

"Jelas dong!" Alee membanggakan diri, mencoba mengembalikan citra dirinya meski rona merah di pipinya belum sepenuhnya surut. "Tapi jujur ya, bagian batas dinding selnya lumayan rumit. Bentuknya melengkung-lengkung gitu, takut salah bikin batas jaringannya."

"Sini, biar saya bantu rapihin garis batas luar selnya," tawar Rama ramah.

Rama mengambil pensil 2B dari kotak pensil milik Alee. Kemudian, tanpa ada jarak canggung, Rama menuntun ujung pensil di atas kertas gambar. Karena posisi kertas berada sangat dekat dengan tangan Alee, jemari Rama yang hangat dan tegap sempat bersentuhan sengaja dengan jemari Alee yang lentik. Alee seketika terpaku diam, menatap jemari Rama yang memegang pensil dengan begitu tenang dan mantap.

"Rama..." panggil Alee pelan, suaranya halus dan nyaris tenggelam di antara dengung AC laboratorium yang dingin.

Rama mendongak sedikit, memutar kepalanya untuk menatap langsung ke dalam mata Alee dari jarak yang begitu dekat. Binar mata di balik kaca bening itu begitu teduh, dalam, dan seolah-olah hanya fokus pada sosok Alee seorang. "Iya, Alee? Ada yang salah?"

"Lu... nggak capek apa?" tanya Alee asal, berusaha sekuat tenaga memecah rasa canggung yang mendadak membakar dadanya.

Rama mengaitkan kedua alisnya bingung, menghentikan goresan pensilnya sejenak. "Capek kenapa maksud kamu? Tugas kelompok ini kan dikerjakan ramai-ramai, jadi nggak berasa berat kok."

"Bukan capek ngerjain tugas Biologi..." bisik Alee pelan, memutar kembali memori lelucon jahil Kak Maya semalam yang mendadak melintas di pikirannya. "...maksud gue, lu nggak capek apa ngadepin cewek kayak gue yang banyak tanya, rusuh, dan berisik terus dari kelas 10 sampai kelas 11 sekarang?"

Rama meletakkan pensil 2B itu dengan pelan di atas meja. Ia kemudian memutar posisi duduknya sepenuhnya mengarah pada Alee. Wajahnya meneduh, lalu bibirnya mengukir sebuah senyuman yang sangat tulus dan dalam sebuah ekspresi manis yang jarang sekali dipamerkan Rama kepada teman-teman lainnya di sekolah.

"Kan kemarin pas di kelas saya sudah pernah bilang sama kamu, Alee," jawab Rama dengan suara pelan namun terdengar sangat mantap, matanya terkunci rapat pada manik mata Alee. "Saya nggak pernah merasa capek atau terganggu sedikit pun sama kamu. Malah... saya seneng banget kalau kamu selalu ada di dekat saya. Kehadiran kamu yang ceria itu bikin hari-hari sekolah saya yang monoton dan membosankan jadi terasa jauh lebih hidup."

Glek.

Kalimat jujur dan transparan dari mulut sang Ketua Kelas itu bagaikan sengatan arus listrik lembut yang merambat cepat ke seluruh syaraf tubuh Alee. Pengakuan polos itu jauh lebih efektif melumpuhkan daya pikir Alee daripada ribuan lelucon godaan dari Kak Maya di rumah. Alee sampai benar-benar tak sanggup berkata-kata lagi, hanya mampu menatap Rama dengan mata berkedip-kedip penuh rasa tak percaya.

"Ekhem! Permisi ya Pak Ketua Kelas dan Ibu Seksi Musik tercinta..." sela Nara tiba-tiba dengan nada berdeham yang sengaja dikeras-keraskan. "Ini laporan bagian pendahuluan sama hipotesis pengamatan udah selesai diketik. Boleh tolong diverifikasi dan dibaca dulu nggak? Biar pasangan yang dunia serasa milik berdua ini bisa lanjut kasmarannya nanti pas jalan pulang!"

Rendy dan Bima seketika meledak dalam tawa keras yang menggema di dalam lab. "Parah banget lu Nar! Mengganggu momen sinetron dan dramatis orang aja!" celetuk Rendy sambil menepuk meja.

Wajah Alee seketika merah padam total hingga ke leher dan dahinya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyambar buku paket Biologi tebal di meja dan menggunakannya untuk menutupi seluruh wajahnya yang membara malu. "Naraaaaa! Berisik banget sih lu!" teriak Alee dari balik buku paket.

Rama sendiri hanya tertawa renyah sebuah tawa santai, lepas, dan tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Dengan tenang, Rama mengambil laptop milik Nara untuk memeriksa ketikan draf laporan kelompok mereka. Namun meski tangannya sibuk menggeser kursor laptop, matanya sesekali tetap melirik ke arah Alee yang masih enggan menampakkan wajahnya dari balik buku paket.

Di dalam laboratorium Biologi yang hangat sore itu, di antara jejeran kaca preparat dan mikroskop cahaya, sebuah kepastian baru perlahan-lahan terkuak. Perasaan yang tumbuh di antara mereka berdua bukan lagi sekadar kebetulan sekelas atau kebersamaan biasa. Baik Alee maupun Rama, keduanya kini makin menyadari bahwa ikatan manis yang terjalin erat di antara petikan senar gitar dan obrolan kecil mereka telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan berharga.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!