Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:918
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi KUA, Konspirasi Konsorsium, dan Rahasia Terlarang Siska

Pagi itu, udara di dalam ruangan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan terasa lebih membebani daripada saat Senja menghadapi lima penjahat bersenjata tajam. Di dinding pastel yang catnya mulai mengelupas, jam dinding berdetik dengan suara monoton yang menyiksa.

Gala dan Senja duduk berdampingan di kursi kayu yang berderit. Gala mengenakan kemeja putih yang disetrika terlalu licin oleh ibunya, sementara Senja mengenakan blus krem melati yang dipadukan dengan celana kain tegap—pakaian tersopan yang pernah ia kenakan seumur hidupnya. Di hadapan mereka, tumpukan dokumen pernikahan: map merah, pasfoto berlatar biru ukuran 2x3, hingga surat keterangan sehat dari puskesmas.

“Bapak Penghulu mana ya, Pak? Kita sudah menunggu dari jam delapan,” tanya Gala sopan kepada petugas piket yang sejak tadi sibuk memindahkan berkas tanpa menatap mereka.

Petugas itu menyesuaikan letak kacamata beralas tebalnya, menatap Gala dengan pandangan tidak ramah. “Pak Penghulu sedang dipanggil ke kantor wilayah. Dan untuk berkas kalian… ada kendala sistemik.”

Senja mengerutkan kening. “Kendala sistemik? Maksudnya NIK kami bermasalah? Saya sudah cek di Disdukcapil minggu lalu, aman kok.”

Petugas itu tidak menjawab. Ia hanya mengetik sesuatu di kibor komputer tabung yang berderit, lalu memutar layarnya ke arah Gala. Di layar hijau monokrom itu, nama lengkap Gala dipenuhi garis merah dengan status bertuliskan: NIP/DOKUMEN TERKUNCI — DIBEKUKAN OLEH OTORITAS PUSAT.

“Nama Anda terdaftar sebagai buronan atas kejahatan peretasan data rahasia negara dan konspirasi perbankan,” kata petugas itu dingin. Tiba-tiba, dari pintu belakang ruangan, empat pria berpakaian setelan safari kelabu—bukan seragam polisi, melainkan agen intelijen swasta—melangkah masuk secara tenang namun menutup seluruh akses keluar.

Gala membelalakkan mata. “Tunggu! Ini gila! Saya ini jurnalis, bukan hacker!”

Di saat ketegangan memuncak, pintu utama KUA terbuka pelan. Bukannya Siska yang biasanya muncul dengan mesin EDC, melainkan seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja batik sutra mahal dan cincin batu akik raksasa di jari manisnya. Pria itu adalah Drs. Bambang, pejabat tinggi Kementerian Informasi yang juga menjabat sebagai komisaris utama di bank swasta terbesar di kota tersebut.

Di belakang Drs. Bambang, berdiri dua sosok yang sangat familier: Bos Naga Hitam (ayah Rian) yang lengan tangannya masih digips, serta Madame K (Karmila) yang rahangnya masih memar tertutup concealer tebal.

“Surprise, Jurnalis,” bisik Drs. Bambang dengan senyum culas yang sangat teratur. “Kau pikir konflikmu di kota ini cuma soal mafia eceran dan mantan pacar yang dendam?”

Senja langsung berdiri, menyembunyikan Gala di belakang punggungnya. “Siapa Bapak? Dan mau apa membawa kriminal-kriminal ini ke kantor KUA?”

Drs. Bambang tertawa pelan, sebuah tawa yang terlatih untuk acara-acara televisi nasional. “Kriminal? Jangan naif, Anak Muda. Di dunia atas, kami ini dipanggil ‘Konsorsium Lima Cincin’. Ayah Rian memegang jalur logistik pelabuhan, Karmila memegang arus kas pasar gelap, dan saya… saya memegang seluruh regulasi data serta anggaran yang membuat kota ini tetap berputar.”

Bambang melangkah mendekati meja registrasi KUA, menggeser map merah pernikahan Gala dan Senja menggunakan ujung tongkat komando berukir kayu jati.

“Tiga tahun lalu, Gala,” lanjut Bambang dengan suara merendah, “kau menulis riset mendalam tentang pencucian uang proyek infrastruktur digital. Draf itu tidak pernah kau terbitkan karena editormu takut. Tapi draf itu ada di dalam flashdisk merah milikmu. Karmila dan Naga Hitam gagal merebutnya darimu karena mereka bertindak seperti preman pasar. Tapi saya? Saya hanya perlu menekan satu tombol di kementerian untuk menghapus seluruh identitas sipilmu.”

Gala tertegun. Otaknya memutar memori masa lalu. Tiga tahun lalu, saat ia masih menjadi jurnalis magang yang idealis, ia memang pernah menemukan kejanggalan dana miliaran rupiah. Ia menyimpan salinannya di flashdisk merah yang kini tergantung di gantungan kunci rumahnya.

“Persyaratannya sederhana,” Bambang menatap Gala tajam. “Serahkan flashdisk itu, beserta seluruh salinan cadangannya. Atau hari ini, pernikahan kalian dibatalkan permanen. Kamu akan ditangkap atas tuduhan terorisme siber, dan Senja… aku pastikan izin lembaga stuntman-nya dicabut, keluarganya diselidiki atas tuduhan pencucian uang.”

Senja mengepal erat jemarinya. Titik-titik darah seolah meledak di otaknya. Ini bukan sekadar perkelahian di jalanan atau restoran; ini adalah pembunuhan karakter secara sistematis yang menggunakan instrumen negara.

“Kalian benar-benar busuk,” desis Senja, matanya menembus manik mata Bambang.

“Ini bisnis, Manis,” sela Madame K dari belakang dengan nada ketus. “Kalian sudah mengacaukan bisnis kami terlalu banyak. Sekarang saatnya membayar harganya.”

Tiba-tiba, bayangan sesosok wanita yang familiar melangkah masuk dari koridor samping KUA. Siska. Namun kali ini, penampilannya berbeda. Ia tidak mengenakan jaket bomber atau rompi taktis murahan. Siska mengenakan setelan jas hitam memotong rapi tanpa logo, rambutnya diikat kelabang sempurna, dan di dadanya tersemat lencana perak kecil bergambar tengkorak dengan dua pedang menyilang—simbol dari Vanguard Executive Protection, organisasi tentara bayaran elit internasional yang paling ditakuti di Asia Tenggara.

Melihat Siska, Bambang tersenyum lebar. “Ah, Agen Siska. Tepat waktu. Kontrakmu sudah ditandatangani oleh konsorsium kami tadi pagi. Lima ratus juta rupiah untuk memastikan kedua anak muda ini menyerahkan berkas dan tidak pernah keluar dari gedung ini secara bernapas.”

Gala dan Senja menatap Siska dengan tatapan tak percaya. Dada Senja terasa dihantam godam raksasa.

“Sis…?” suara Senja bergetar tipis. “Kamu… menjual kami?”

Siska berdiri di tengah ruangan, memosisikan dirinya persis di antara Gala-Senja dan rombongan Konsorsium. Wajahnya tetap sedatar es di Kutub Utara. Tidak ada riak emosi, tidak ada keraguan.

“Dua jam yang lalu, Konsorsium Lima Cincin menstransfer dana sebesar lima ratus juta rupiah ke rekening penampungan saya,” ucap Siska dengan intonasi mekanisnya.

Gala memejamkan mata, menghela napas parau. “Tentu saja. Uang. Pada akhirnya, lo cuma tentara bayaran, kan, Sis?”

Siska memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Ia tidak menatap Gala, melainkan menatap Drs. Bambang. Ia merogoh saku jas mewahnya, mengeluarkan buku notanya yang lusuh, lalu mencabut pena berujung titanium.

“Namun,” kata Siska, suaranya bergema menembus keheningan KUA yang mencekam, “dalam klausul Pasal 14 Kode Etik Vanguard, seorang agen tidak boleh menerima kontrak baru yang membatalkan kontrak berjalan dari klien primer, kecuali jika pihak musuh membayar biaya pemutusan klien eksklusif sebesar tiga ratus persen.”

Bambang mengerutkan kening, ketenangannya mulai terganggu. “Apa yang kau bicarakan, Agen? Kami sudah bayar lima ratus juta!”

Siska menekan pena titaniumnya. Klik.

“Klien primer saya, Gala dan Senja, saat ini memiliki total nilai kontrak berjalan dengan saya—termasuk deposito WO, pengawalan fisik, dan piutang terakumulasi—sebesar delapan puluh empat juta rupiah. Ditambah dengan faktor Lompatan Loyalitas Klien, biaya pembatalan mereka adalah satu koma lima miliar rupiah.”

Siska menoleh sedikit ke arah Gala. “Dan yang lebih penting… mereka selalu membayar cicilan tepat waktu, meskipun harus makan nasi kecap.”

Siska kembali menatap Bambang. “Anda kurang bayar satu miliar rupiah. Kontrak Anda batal demi hukum internal kami.”

Sebelum Bambang sempat berteriak memanggil pengawalnya, Siska mengayunkan tangan kanannya. Pena titanium di tangannya melesat bagai anak panah, menusuk tepat di poros persendian bahu pengawal terdepan Bambang. CRACK! Pria berbadan besar itu meliuk dan roboh menghantam ubin.

“Senja! Ambil map merah!” teriak Gala yang tersadar instan.

Bukan Senja namanya jika tidak memanfaatkan kekacauan dengan presisi tinggi. Ia tidak melompat menyerang Bambang, melainkan menyapu kaki petugas piket KUA yang mencoba mengunci laci komputer. BAM! Petugas itu pingsan seketika di atas kibor. Senja menyambar komputer tabung itu, mencabut kabel power-nya, dan menghantamkannya ke arah dua agen safari kelabu yang mencoba mendekati Gala.

“Gal! Ambil flashdisk di server belakang!” seru Senja sambil menendang meja pendaftaran hingga terbalik, menjadikannya perisai dari tembakan peredam suara yang dilepaskan anak buah Madame K.

Gala tidak membuang waktu. Sebagai jurnalis yang paham struktur bangunan publik, ia melompati pagar pembatas loket, menerobos pintu staf, dan berlari menuju ruangan server KUA. Otaknya berputar cepat. Jika Bambang bisa mengunci NIK-nya lewat sistem pusat, berarti ada router akses jaringan khusus yang dipasang secara ilegal di gedung ini!

Di koridor utama KUA, pertarungan berjalan dalam ritme yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ini bukan lagi tawuran komedi. Siska bertarung dengan presisi seorang mesin pembunuh berdarah dingin. Ia tidak membuang tenaga untuk pukulan dramatis; setiap gerakannya diarahkan untuk mematahkan persendian, merobek urat rasa takut musuh, dan mematikan fungsi gerak dalam hitungan detik.

Senja melengkapi kebuasan itu dengan gaya pertarungan MMA-nya yang adaptif. Ketika Bos Naga Hitam mencoba menarik rambutnya, Senja menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya melingkari lehernya sendiri, dan memberikan bantingan bahu (Ippon Seoi Nage) yang menghancurkan meja kaca penerimaan tamu.

“Karmila! Lari!” teriak Bambang yang mulai panik melihat enam pengawal pribadinya tumbang dalam waktu kurang dari sembilan puluh detik.

Namun Karmila tidak sempat melangkah. Siska melemparkan papan klip kayunya yang melayang bak cakram, menghantam tepat di belakang lutut Karmila hingga wanita berbaju merah itu berlutut tak berdaya di lantai yang kotor.

Sementara itu, di dalam ruang server yang gelap dan berbau ozon, Gala berdiri di depan rak komputer tua. Jemarinya menari di atas kibor terminal. Ia tidak hanya mencoba membuka kuncian NIK-nya; insting jurnalisnya memberitahunya bahwa ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk membalikkan keadaan.

“Kalau sistem ini terhubung ke kementerian… berarti firewall-nya pakai protokol pusat,” gumam Gala, pelipisnya meneteskan keringat dingin. Ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel pintar milik Senja yang sudah dimodifikasi dengan aplikasi pemindai jaringan.

Gala menyambungkan ponsel itu ke port USB server KUA. Dengan kecepatan mengetik yang dipacu oleh adrenalin kematian, Gala berhasil menembus enkripsi lokal. Ia tidak hanya menghapus status "buronan" pada NIK-nya, tetapi ia menyalin seluruh log transaksi rahasia antara rekening pribadi Drs. Bambang dengan konsorsium Naga Hitam dan Madame K yang tersimpan di server bypass tersebut!

“Dapat kau, Pria Tua,” desis Gala dengan senyum paling berbahaya yang pernah ia miliki. Ia menekan tombol Enter, mengirimkan seluruh berkas transaksi beserta bukti korupsi sebesar 1,2 triliun rupiah langsung ke surel resmi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lima puluh jaringan media nasional, dan saluran siaran langsung redaksi tempatnya bekerja.

PING! Notifikasi pengiriman sukses berbunyi.

Gala keluar dari ruang server tepat saat pintu utama KUA didobrak oleh rombongan baru. Kali ini, bukan musuh. Lima mobil dinas kepolisian dan kendaraan taktis KPK berhenti di luar gedung dengan sirene yang melolong menyayat udara. Puluhan petugas bersenjata lengkap merangsek masuk, mengarahkan senjata ke arah Bambang, Madame K, dan Bos Naga Hitam.

“Drs. Bambang! Anda ditahan atas dugaan kejahatan korupsi tingkat tinggi, pencucian uang, dan penyalahgunaan wewenang!” teriak seorang perwira polisi melalui pengeras suara.

Bambang terduduk lemas di atas lantai berdebu, wajahnya yang tadi penuh keangkuhan kini pucat bagai mayat. Madame K hanya bisa mengutuk dalam diam saat tangannya diborgol besi dingin.

Di tengah riuhnya proses penangkapan dan kilatan lampu kamera wartawan yang mendadak berdatangan ke lokasi, Gala berjalan mendekati Senja. Bajunya berantakan, dasinya miring, namun matanya menatap Senja dengan ketegasan yang mutlak.

Senja mengusap buku jari tangannya yang memar, lalu menatap Gala. “Identitasmu sudah balik?”

“Bukan cuma balik,” Gala tersenyum lebar. “Gue baru saja bikin headline terbesar abad ini. Dan NIK kita berdua… sudah bersih 100 persen.”

Gala melangkah menuju meja registrasi yang terbalik, mengambil map merah pernikahan mereka yang sedikit berdebu namun masih utuh. Ia meniup debunya, lalu berjalan mendekati seorang pria tua berpakaian batik bersahaja yang baru saja keluar dari ruang belakang dengan wajah kebingungan—Bapak Penghulu yang asli, yang ternyata tadi hanya terkunci di dalam toilet oleh anak buah Bambang.

“Pak Penghulu,” kata Gala tegap, menyodorkan map merah itu. “Maaf atas kekacauannya. Tapi berkas kami sudah lengkap, sistem sudah hijau, dan kami siap menikah sekarang juga. Di sini. Di antara garis polisi ini.”

Bapak Penghulu menatap Gala, menatap Senja yang gaun kremnya penuh noda oli dan darah musuh, lalu menatap Siska yang sedang sibuk mengelap pena titaniumnya dengan tisu basah.

Pria tua itu menghela napas panjang, lalu tersenyum maklum. “Baiklah. Mari kita selesaikan sebelum ada musuh negara lain yang datang.”

Di atas meja kayu seadanya, diiringi suara sirine polisi dan bisingnya kamera wartawan di luar gedung, Gala dan Senja duduk berhadapan. Saat kata “Sah” diucapkan oleh para saksi—yang salah satunya adalah Siska dengan posisi berdiri kaku—ada sebuah keheningan ajaib yang menyergap dada Gala dan Senja.

Tidak ada gengsi lagi. Tidak ada ketakutan akan masa depan. Mereka tahu, dunia di luar sana mungkin akan terus melemparkan bahaya, kejahatan, dan kekacauan. Tapi selama mereka melangkah bersama, tidak ada satu pun konspirasi di dunia ini yang sanggup memisahkan mereka lagi.

Siska melangkah mendekati pasangan yang baru saja resmi menjadi suami-istri itu. Ia mengeluarkan mesin EDC-nya dari dalam jas mahal.

“Jasa pengawalan tingkat tinggi, pembersihan konspirasi siber, dan biaya pendaftaran akad nikah darurat… Total tagihan: nol rupiah.”

Gala dan Senja terbelalak kaget. “Nol rupiah? Lo sehat, Sis?” tanya Gala tak percaya.

Siska memasukkan mesin EDC-nya kembali ke dalam jas. Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal wanita itu, sebuah garisan tipis—sangat tipis, hampir tak terlihat—terukir di sudut bibir Siska.

“Anggap saja itu hadiah pernikahan dari Vanguard. Tapi untuk biaya resepsi minggu depan… bunga berjalan tetap berlaku.”

Senja tertawa lepas, merangkul lengan Gala erat-erat, sementara Gala mencium kening istrinya di tengah puing-puing KUA. Cinta mereka tidak pernah sederhana, tapi cinta itulah yang membuat mereka tak tertandingi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!