perjuangan cinta aji sang pengusaha sukses begitu rumit dan panjang, mencintai dalam diam yang dia pendam selama bertahun-tahun tak membuat dia patah semangat mendapatkan sak kekasih. suci adalah wanita yang dia cintai dalam diam selama ini. akankah aji mendapatkan cintanya suci? di baca sampai akhir ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hamil
"ndak mungkin... ndak mungkin itu anakku" racau aji seorang diri
aji meraih ponselnya dan menghubungi seseorang
"hallo.. mas"
"iya, ada apa ji"
"aku ganggu apa ndak?"
"jelas ganggu lah... mau 2 ronde sudah kamu telp. gagal deh" canda teguh dari sebrang telp
"aku serius mas"
"oke... ada apa"
"ingat dengan ceritaku yang waktu itu kan? yang aku mabok"
"iya kenapa? kamu habis mabok lagi?"
"ndak mas... aku serius ini. kamu ingat yang aku ceritakan tentang hubungan itu kan mas"
"iya trus kenapa?"
"kemarin aku ngantar wulan ke dokter, dia hamil mas"
"hamil??? wulan???? kamu???" teguh tak kalah terkejutnya
"iya mas, 6 minggu"
"ah masak 6 minggu sih ji, seingatku kamu cerita bulan kemarin, tepat satu bulan sebelum pernikahanku"
"nah itu yang membuat aku bingung mas, aku berbuat yang benar-benar aku ndak ingat itu sebulan kemarin. ini usia kandungan wulan 6 minggu"
"coba nanti aku tanyakan ke mbakmu ya"
"jangan bilang mama dulu ya mas, aku takut mama shock"
"iya.. sudah nanti aku telp"
Mereka mengakhiri percakapan itu
"siapa yang hamil ji?" suara bu Lina mengagetkan aji, hampir jantungnya keluar
"mama... sejak kapan mama disitu?"
"sejak tadi, sejak kamu nelp masmu. siapa yang hamil?" ucap bu Lina dengan nada serius
"wulan ma"
"wulan? pacar kamu itu?" bu Lina tak percaya anaknya menghamili orang
Aji diam
"jawab... apa kamu yang berbuat?" tegas bu Lina
"aku ndak yakin itu anakku ma"
"bagaimana kamu ndak yakin kalau kamu pernah tidur dengan dia"
"aku mabok ma, aku ndak sadar waktu itu dan sampai sekarang aku ndak ingat kalau melakukan hal itu dengan wulan" ucap aji menyesal
"aji.... mau di taruh mama muka orang tuamu ini" bu Lina menangis
"maafkan aji ma... "
"seandainya semua selesai dengan kata maaf akan mudah. kamu harus tangung jawab"
"tapi ma... " suara aji parau "aku ndak yakin itu anakku ma"
"perut wulan akan semakin membesar, ndak bisa di tutupi lagi. sebelum membesar segera nikahi wulan"
"tapi ma.... "
"berani berbuat harus berani bertanggung jawab, itu laki-laki sejati ji"
Ponsel aji berdering
"ya mas bagaimana?"
"kata mbak mu, terlambat seminggu aja itu sdh masuk 1 bulan ji"
"jadi... " aji tak kuasa meneruskan ucapannya
"kemungkinan besar itu anakmu"
"seandainya aku sedikit sadar aku melakukan itu, mungkin aku bisa langsung bertanggung jawab mas teguh. tapi aku ndak ingat sama sekali, aku waktu itu mabok mas, bukan hilang ingatan"
"tapi kamu sudah tidur dengan dia ji, jadi mau ndak mau kamu harus bertanggung jawab"
"tapi aku ndak yakin itu anakku"
"kalau kamu ndak yakin itu kamu. kamu cari siapa ayah sebenarnya janin itu"
Kata-kata teguh menjadi PR buat aji. PR yang tidak mudah
"tanggung Jawab ya nak" celetuk bu Lina
"itu mama?" tanya teguh
"iya mas, mama dengar semua percakapan kita tadi
Suasana hening, hubungan pembicaraan tiba-tiba di putus oleh aji
"ma... aku harus bagaimana?"
"tanggung jawab" ucap bu Lina tegas
"papa?"
"itu urusan mama. sekarang datangi rumah wulan, bilang jika kamu bertanggung jawab. perut dia akan semakin membesar, ndak bisa di tutupi"
aji terdiam mendengar mamanya itu
"tapi ma... "
"kamu laki-laki ji, jangan lepas tangung jawab"
aji beranjak dari duduknya, masuk ke kamar dan mandi. dengan baju sederhana aji pergi ke kediaman wulan
setibanya aji di rumah wulan, aji mengetuk berberapa kali pintu rumah itu
"bik, wulan ada?"
"ada mas, mbak wulan di kamar, katanya sakit"
ucap bik asih
Tanpa permisi aji masuk kedalam kamar wulan, mendapati wulan tertidur di ranjang miliknya, ketika masuk kamar itu aji mencoba mengingat lagi kejadian malam itu yang tak pernah dia ingat sama sekali
"lan.... " aji menggoyang tubuh wulan yang tengah nyaman di balik selimut tebalnya
"mas... " wulan mencoba bangun dari tidurnya
"masih pusing? mual?"
"iya... " jawab wulan
"bisa ngobrol kan"
"bisa"
"aku tunggu di luar ya, ndak enak sama bik asih" aji keluar dari kamar wulan
"bik minta tolong dibelikan obat sama vitamin ke apotek depan bisa?" pinta aji
"bisa mas"
aji sengaja menyuruh bik asih untuk membeli obat, agar pembicaraan dia tidak di dengar oleh orang lain
"kemana bik asih mas?"
"aku suruh beli obat"
"obat apa? kan sudah dapat kemarin"
"aku perlu bicara sama kamu, ndak mau di dengar oleh orang lain"
wulan duduk di samping aji
"kalau memang itu benar-benar anakku, aku siap bertanggung jawab"
"kamu ragu ini anakmu? kalau kamu ragu tinggalkan aku sendiri, lebih baik aku mati dengan anak ini"
"jangan seperti ini wulan"
"buat apa? sudah pergi sana"
wulan hendak beranjak dari duduknya, namun di tahan oleh aji "oke aku tangung jawab"
"serius?"
aji mengangguk, meraih tubuh wulan kedalam dekapannya.
Pelukan pertama yang pernah aji buat, selama berhubungan dekat dengan wulan, aji belum pernah meraih tubuh wulan kedalam dekapannya, bahkan belum pernah aji mencium wulan. karena selama ini hubungan mereka sebatas sama-sama nyaman
tangisan wulan pecah dalam pelukan aji
"kenapa non.. masih pusing?" suara bik asih Tiba-tiba
"iya bik"
bik asih meletakkan obat itu di atas meja depan wulan
"non, bibik mau ke pasar, mungkin non wulan mau pesan sesuatu biar agak enak makannya"
"ndak bik, aku pingin mie rebus aja"
Bik asih kembali meninggalkan rumah wulan
"aku harus bicara sama ayahmu" ucap aji
"nanti malam ayah sama ibuk pulang"
"baik, nanti malam aku datang lagi. sudah kamu istirahat, aku harus ke kantor. papa sudah nelp dari tadi"
aji meninggalkan wulan seorang diri.
Selama dalam perjalanan aji teringat jelas ucapan wulan waktu itu sepulang dari dokter "hanya kamu yang berhubungan dengan aku" itu kata kunci yang membuat aji berfikir keras. secara tidak langsung wulan sudah membuka sendiri aibnya dan aji semakin yakin jika itu bukan anaknya.
hari itu pekerjaan aji tidak ada yang beres, sampai mendapatkan teguran dari pak izam
"aji... kamu ini bagaimana? masak ngerjakan neraca seperti ini aja salah semua"
"maaf pa"
"kalau kamu ndak fokus kerja bilang, bisa di Handel yang lain"
"maaf pa" aji pergi meninggalkan pak izam
Pikiran aji kacau
Sepulangnya kerja aji menghubungi lagi teguh
"mas"
"apa? bagaimana?"
"mama Minta aku bertangung jawab mas, tapi aku ragu. jangankan berhubungan, mencium atau meluk wulan saja aku ndak pernah mas"
"tapi masalahnya kamu pernah tidur dengan dia aji... itu masalahnya" tegas teguh
"malam ini aku hendak menemui pak anton, ayahnya wulan"
"jangan lepas tangung jawab ji, papa ndak suka itu"
aji menelaah ucapan teguh. bertanggung jawab