Indonesia
NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Tawaran dari Awan Putih

Perayaan kemenangan berlangsung hingga larut malam di kediaman Klan Lin—sesuatu yang tak pernah terjadi sejak bertahun-tahun terakhir. Lampion-lampion merah digantung di sepanjang halaman utama, dan untuk pertama kalinya sejak Lin Mu dilahirkan, seluruh klan berkumpul bukan untuk menghinanya, melainkan untuk merayakannya.

Lin Hao sendiri yang mendatangi Halaman Belakang malam itu, sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama tujuh belas tahun terakhir.

"Aku salah menilaimu," katanya, berdiri kaku di depan pintu gubuk sederhana Lin Mu, suaranya penuh rasa canggung yang jarang ia tunjukkan sebagai kepala klan. "Mulai besok, kau akan kembali ke kediaman utama. Kamar lamamu—kamar yang seharusnya menjadi hakmu sebagai putra klan ini—sudah kuperintahkan untuk dibersihkan kembali."

Lin Mu menatap ayahnya sejenak. Di kehidupan lalunya, ia pernah menghadapi kaisar-kaisar dan tetua agung tanpa gentar sedikit pun. Namun menghadapi permintaan maaf canggung dari seorang ayah yang selama tujuh belas tahun mengabaikannya—entah kenapa terasa jauh lebih rumit.

"Terima kasih, Ayah," ia akhirnya menjawab, memilih untuk tidak memperpanjang kecanggungan itu. "Tapi izinkan aku tetap tinggal di sini untuk sementara. Ruang latihan di bawah Aula Leluhur masih banyak yang bisa kupelajari, dan aku lebih nyaman dekat dengannya."

Lin Hao mengangguk, tak sepenuhnya mengerti namun tak ingin membantah lebih jauh, lalu berbalik pergi dengan langkah yang terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Keesokan paginya, seorang tamu tak terduga muncul di gerbang Klan Lin—wanita muda berjubah putih bersih dengan lambang awan disulam di dadanya, sosok yang kemarin duduk di tribun kehormatan menyaksikan pertarungan dengan tatapan penuh perhitungan.

"Namaku Yun Zhi," ia memperkenalkan diri pada penjaga gerbang yang gugup, "murid senior Sekte Awan Putih. Aku ingin berbicara dengan Lin Mu, jika ia berkenan."

Lin Mu menerimanya di kebun obat Halaman Belakang, tempat yang sama di mana rahasianya pertama kali terungkap pada Tetua Qing. Yun Zhi duduk di batu yang sama, menatapnya dengan mata tajam yang menilai setiap gerakannya.

"Pertunjukan yang menarik kemarin," ia membuka pembicaraan, tanpa basa-basi berlebihan. "Teknik pengendalian qi lawan melalui titik akupuntur seakurat itu tidak diajarkan di klan atau sekte mana pun di wilayah ini—bahkan sekte kami sendiri hanya menyimpan catatan usang tentang teknik semacam itu, disebut sebagai warisan dari Puncak Pedang Sembilan Langit yang runtuh tiga abad lalu."

Lin Mu menjaga ekspresinya tetap datar. "Aku hanya kultivator biasa yang beruntung menemukan catatan lama, Nona Yun."

"Beruntung," Yun Zhi mengulang kata itu dengan senyum tipis yang menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya, meski tidak juga memaksa. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu bercerita lebih jauh hari ini. Tapi aku datang bukan hanya untuk rasa penasaran pribadi."

Ia mengeluarkan sebuah token kecil berukir awan dari balik jubahnya, meletakkannya di atas batu di antara mereka.

"Sekte Awan Putih mengadakan ujian penerimaan murid luar setiap musim semi, terbuka bagi siapa pun di wilayah Perbatasan Utara yang menunjukkan bakat luar biasa. Token ini adalah undangan langsung—kau tidak perlu melalui seleksi awal seperti peserta lainnya."

Lin Mu memandangi token itu, memikirkan berbagai kemungkinan. Sebuah sekte besar bisa menjadi tempat berlindung sekaligus sumber daya berharga untuk mempercepat pemulihan kekuatannya. Namun ia juga tahu, bergabung dengan sekte besar berarti mengikatkan diri pada aturan dan pengawasan yang mungkin tidak selalu sejalan dengan tujuannya sendiri—mencari sisa-sisa Penakluk Fajar yang tersebar, dan pada akhirnya, mencari tahu siapa dalang sesungguhnya di balik pengkhianatan tiga abad lalu.

"Boleh aku bertanya sesuatu, Nona Yun?" katanya akhirnya.

"Silakan."

"Jika seseorang membawa warisan dari Puncak Pedang Sembilan Langit," Lin Mu berkata hati-hati, memilih kata-katanya dengan cermat, "apakah sekte Anda—atau kekuatan-kekuatan besar lain di dunia ini—akan menganggapnya sebagai peluang, atau sebagai ancaman yang harus disingkirkan?"

Senyum Yun Zhi memudar sedikit, digantikan ekspresi yang lebih serius. Ia menurunkan suaranya, memastikan hanya Lin Mu yang mendengar.

"Itu pertanyaan yang bijak untuk ditanyakan," jawabnya pelan. "Kejatuhan Puncak Pedang tiga abad lalu bukan sekadar tragedi biasa. Rumor mengatakan ada kekuatan besar di balik layar yang mendalangi seluruh peristiwa itu—kekuatan yang cukup berkuasa untuk membungkam salah satu kekuatan terbesar di masanya dalam satu malam saja, dan cukup licik untuk membuat dunia percaya itu hanyalah pengkhianatan internal biasa."

Ia menatap lurus ke mata Lin Mu.

"Jika benar ada seseorang yang membawa warisan itu kembali ke dunia ini, aku menyarankan orang itu untuk sangat berhati-hati tentang kepada siapa ia mempercayakan rahasianya. Bukan semua yang tampak sebagai peluang benar-benar aman untuk didekati—dan bukan semua yang tampak sebagai ancaman benar-benar bermaksud jahat."

Kata-kata itu menggantung di udara, memberi Lin Mu lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

"Aku akan mempertimbangkan tawaranmu, Nona Yun," katanya akhirnya, mengambil token itu dan menyimpannya hati-hati. "Tapi izinkan aku menyelesaikan beberapa urusan di sini terlebih dahulu sebelum memutuskan."

Yun Zhi mengangguk, bangkit dari batu tempatnya duduk. "Ujian penerimaan diadakan tiga bulan lagi, saat musim semi tiba. Token itu berlaku selama itu. Sampai saat itu tiba—" ia berhenti sejenak, menatap Lin Mu dengan tatapan yang sulit ditebak, "—berhati-hatilah, Lin Mu. Kabar tentang kemenanganmu kemarin akan menyebar lebih jauh dari yang kau kira, dan tidak semua yang mendengarnya akan menyambutmu dengan tangan terbuka seperti aku."

Ia berbalik pergi, jubah putihnya berkibar tertiup angin pagi, meninggalkan Lin Mu sendirian di kebun obat dengan token awan di genggamannya dan pikiran yang dipenuhi pertanyaan baru tentang kekuatan tak terlihat yang mungkin sudah mulai memperhatikan kebangkitannya kembali.

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!