Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Brak!

"Lihat data grafik ini, Dion!" teriak seorang pria berjas rapi sambil melempar tumpukan kertas ke atas meja kaca.

Pria itu adalah Pak Surya, manajer eksekutif dari label rekaman raksasa, Mega Bintang Sejahtera.

Dion dan Natasha duduk tegang di sofa kulit yang mahal itu.

"Lagu indie sampah bernama Bayangan Bisu ini baru saja menggeser posisi promosi lagu debut kalian," ucap Pak Surya dengan urat leher menonjol.

"Bagaimana bisa seorang amatir tanpa label mengalahkan algoritma pemasaran kita yang harganya miliaran?"

Dion menelan ludah dan mengambil kertas grafik tersebut dengan tangan sedikit gemetar.

"M-maafkan kami, Pak Surya," ucap Dion terbata-bata.

"Lagu itu tiba-tiba saja viral semalam karena diulas oleh Riko si influencer musik."

Natasha ikut mengangguk dengan cepat untuk mendukung alasan kekasihnya.

"Benar, Pak. Ini murni keberuntungan belaka dari musisi kampungan itu," tambah Natasha.

Pak Surya memijat pelipisnya yang berdenyut keras.

"Di industri ini tidak ada yang namanya keberuntungan, yang ada hanya tren dan dominasi," desis manajer itu.

"Kalian berdua adalah proyek emas yang akan kuluncurkan bulan depan."

"Jika lagu Zero ini terus naik, orang-orang akan membandingkan kualitas vokalmu dengan penyanyi misterius itu, Natasha!"

Natasha menggigit bibir bawahnya karena merasa tersinggung, namun ia tidak berani membantah ucapan bos besarnya.

"Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang, Pak?" tanya Dion mencoba mencari solusi.

Pak Surya mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Dion dengan tatapan licik.

"Cari tahu siapa musisi bernama Zero ini menggunakan koneksi kampus kalian."

"Beli hak cipta lagunya dengan harga murah, atau tawarkan kontrak budak padanya."

"Jika dia menolak, cari kelemahannya dan kita akan curi lagunya lalu daftarkan atas nama kalian berdua."

Mendengar rencana kotor itu, Dion justru tersenyum lebar.

"Baik, Pak. Saya punya banyak kenalan peretas dan preman di sekitar kampus untuk melacak asal unggahan lagu itu," jawab Dion dengan sangat percaya diri.

Sementara itu, di tempat yang jauh dari kemewahan kantor label rekaman.

Sring... sring...

Suara lampu kelap-kelip pasar malam berpadu dengan hiruk pikuk obrolan ratusan manusia.

Aroma sosis bakar dan jagung manis tercium sangat pekat di udara malam yang dingin.

Clara berdiri kaku di sudut jalan setapak yang ramai dilewati pengunjung pasar.

Ia mengenakan jaket hoodie hitam besar, kacamata hitam bulat, dan masker medis yang menutupi wajahnya rapat-rapat.

"K-kak Stevan, kita mau apa di tempat seramai ini?" tanya Clara dengan suara yang mulai bergetar.

Stevan yang berdiri di sampingnya terlihat sangat santai sambil merakit sebuah keyboard portabel lipat.

Ia meletakkan instrumen itu di atas sebuah kotak kayu bekas di pinggir jalan layaknya pengamen jalanan.

Stevan lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan instruksi untuk Clara.

"Kita akan melakukan terapi mental untuk demam panggungmu malam ini juga," ketik Stevan di layar ponselnya.

Mata Clara membulat sempurna di balik kacamata hitamnya.

"Maksud kakak... aku harus menyanyi di sini? Di depan ratusan orang ini?!" teriak Clara tertahan.

Napas gadis itu mendadak menjadi sangat cepat dan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

"Aku tidak bisa, Kak! Aku pasti akan pingsan lagi seperti waktu ujian praktik!"

Clara membalikkan badannya dan bersiap untuk lari menjauh dari keramaian tersebut.

Grep.

Stevan menarik ujung hoodie Clara dengan cepat sebelum gadis penakut itu sempat kabur.

Ia menyodorkan layar ponselnya lagi tepat ke depan wajah Clara dengan tatapan menuntut.

"Kau sudah berjanji akan menuruti semua arahanku, Clara."

"Mereka tidak tahu siapa dirimu di balik pakaian tebal itu."

"Tutup matamu, bayangkan kau hanya sendirian di studio kita, dan biarkan suaramu yang berbicara."

Clara membaca rentetan kalimat itu dengan dada yang naik turun dengan sangat cepat.

"Tapi... tapi orang-orang akan menatapku," lirih gadis itu.

Stevan menatapnya dengan pandangan yang tajam namun memberikan rasa aman.

"Jadilah hantu yang bersuara indah. Hantu tidak perlu peduli pada tatapan manusia."

Clara terdiam mendengar perumpamaan aneh namun masuk akal dari seniornya itu.

[TING!]

[Mengaktifkan fitur stabilisator emosi pasif untuk radius dua meter di sekitar tuan rumah.]

Stevan menggunakan sedikit bantuan dari sistem untuk membuat udara di sekitar mereka menjadi lebih rileks dan menenangkan.

Ia duduk di atas ember cat bekas yang terbalik dan mulai menyalakan keyboard portabelnya.

Tuk... tuk...

Stevan mengatur volume speaker bawaan instrumen itu agar cukup keras menembus kebisingan pasar malam.

Ia mengangguk pada Clara sebagai aba-aba untuk segera bersiap.

Clara menelan ludah, menutup matanya rapat-rapat, dan memegang erat ujung mikrofon kabel yang terhubung ke keyboard.

Ting... neng... ting...

Stevan mulai memainkan progresi akor yang sama persis dengan lagu Bayangan Bisu.

Nada piano yang melankolis itu langsung membelah kebisingan hiruk pikuk pasar dalam sekejap.

Beberapa orang yang sedang berjalan santai perlahan menghentikan langkah mereka dan menoleh ke arah sumber suara.

"Lagu apa ini? Kok rasanya tidak asing ya?" bisik seorang remaja putri kepada teman di sebelahnya.

Clara menarik napas panjang ke dalam diafragmanya, menahan gemetar di kakinya, lalu membuka mulutnya.

"Bayanganmu... memudar di ujung jalan..."

Suara vokal kualitas S-Rank milik Clara keluar menembus udara malam dengan sangat jernih.

Meskipun ia bernyanyi dengan mata tertutup rapat, resonansi suaranya menyebar ke segala arah dengan sangat magis.

Seketika itu juga, belasan orang mulai berkerumun membentuk lingkaran besar di sekitar mereka.

"Astaga! Bukankah ini lagu Bayangan Bisu yang sedang viral itu?!" seru seorang pemuda sambil merekam menggunakan ponselnya.

"Gila, suara penyanyi aslinya ternyata jauh lebih merinding daripada versi rekaman di internet!"

Bisik-bisik kekaguman mulai terdengar dari kerumunan yang semakin membesar menjadi puluhan orang.

Clara yang masih menutup matanya sama sekali tidak melihat kerumunan raksasa itu.

Namun ia bisa mendengar suara langkah kaki mereka yang mendekat.

Awalnya jantungnya berdetak sangat kencang seperti mau meledak keluar dari dadanya.

Namun seiring berjalannya lagu, Clara menyadari bahwa tidak ada yang menertawakannya.

Tidak ada yang mencemoohnya atau menganggapnya aneh.

Mereka semua terdiam mendengarkan nyanyiannya dengan penuh rasa hormat dan kekaguman.

"Meninggalkan luka... yang tak sempat terucap..."

Clara menaikkan nada suaranya di bagian chorus, melepaskan seluruh ketakutannya ke udara lepas.

Stevan mengiringinya dengan senyuman tipis di balik masker, jemarinya menari dengan sangat lincah di tuts yang sempit.

Suasana pasar malam yang tadinya bising kini berubah drastis layaknya konser tunggal eksklusif.

Beberapa penonton bahkan sampai menitikkan air mata karena terbawa emosi dari lagu patah hati tersebut.

Saat nada terakhir akhirnya ditekan oleh Stevan, keheningan menyelimuti kerumunan itu selama tiga detik penuh.

Prok! Prok! Prok!

Tiba-tiba, suara tepuk tangan yang sangat gemuruh meledak dari segala penjuru arah.

"Luar biasa! Tambah satu lagu lagi dong, Mbak!" teriak para penonton dengan sangat antusias.

Clara membuka matanya perlahan dan tersentak kaget melihat puluhan ponsel sedang merekam ke arahnya.

Ia mundur selangkah karena panik dan tanpa sengaja menabrak punggung Stevan.

Stevan segera berdiri, mematikan keyboard, lalu melipatnya dengan sangat cepat menjadi ukuran tas jinjing.

Ia meraih pergelangan tangan Clara yang terbalut kain hoodie.

"Kita lari sekarang," ketik Stevan cepat di ponselnya menggunakan satu tangan.

Clara mengangguk panik dan mereka berdua langsung menunduk menerobos kerumunan penonton yang kebingungan.

"Hei tunggu! Kalian siapa sebenarnya?! Tolong buka maskernya!" teriak beberapa orang yang berusaha mengejar.

Namun Stevan sangat pintar mencari celah di antara keramaian stan makanan pasar malam tersebut.

Mereka berbelok ke sebuah gang sempit yang gelap di antara ruko dan berhasil lolos dari kejaran para penggemar dadakan itu.

Hah... hah... hah...

Clara bersandar di dinding bata gang sempit itu sambil mengatur napasnya yang terputus-putus.

Maskernya sedikit melorot ke bawah, memperlihatkan separuh wajahnya yang memerah karena kelelahan berlari.

Namun, di balik napasnya yang ngos-ngosan, sebuah senyum yang sangat lebar mengembang cerah di bibirnya.

"Kak... aku berhasil melakukannya," ucap Clara dengan mata berbinar-binar kegirangan.

"Aku menyanyi di depan puluhan orang secara langsung dan aku tidak pingsan sama sekali!"

Stevan tersenyum melihat perkembangan itu lalu mengacungkan ibu jarinya dengan bangga ke arah Clara.

Terapi mental ekstrem ini memang sangat berisiko, tapi hasilnya sangat sepadan untuk menghancurkan dinding trauma gadis itu.

[TING!]

[Misi terapi mental tahap pertama berhasil diselesaikan dengan sempurna.]

[Status: Demam panggung subjek Clara menurun drastis sebanyak tiga puluh persen.]

[Hadiah tambahan: Keterampilan Peretasan dan Keamanan Jaringan Tingkat Mahir telah diintegrasikan.]

Mata Stevan seketika menyipit tajam membaca hadiah dari layar sistem barunya ini.

Keterampilan peretasan jaringan internet?

Sistem Pintar ini sepertinya selalu tahu secara akurat masalah apa yang akan datang menyerangnya di masa depan.

Jika Dion dan label rekaman sombong itu mencoba melacak jejaknya di dunia maya, Stevan kini sudah memiliki senjata untuk menghancurkan mereka balik.

"Ayo kita pulang sekarang, Kak. Aku tidak sabar ingin berlatih lagu baru lagi besok," ucap Clara dengan semangat membara yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

Stevan mengangguk dan mengetikkan satu pesan terakhir sebelum mereka berpisah malam itu.

"Bersiaplah, karena besok pagi video penampilan jalananmu ini akan menggemparkan seluruh negeri."

Clara membaca pesan itu dan menelan ludah, ia baru menyadari bahwa puluhan orang tadi telah merekam aksinya dari jarak dekat.

Dan benar saja, pada malam itu, dunia maya kembali diguncang oleh puluhan unggahan video amatir dari berbagai sudut.

Video yang memperlihatkan sosok misterius berhoodie hitam menyanyikan lagu fenomenal Bayangan Bisu secara langsung.

Misteri tentang siapa sebenarnya musisi di balik nama Zero kini menjadi topik pencarian nomor satu di seluruh platform media sosial.

Di saat yang sama, di salah satu kamar apartemen mewahnya, Dion menatap layar ponsel yang memutar video tersebut dengan tangan bergetar.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

"Aku akan menemukan siapa kalian sebenarnya, dan aku akan mencuri semua ketenaran ini," desis Dion dengan pandangan gelap.

Permainan kucing-kucingan antara si komposer bisu dan label raksasa kini telah resmi memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!