Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Setelah kepergian Anton, Aisha menghabiskan sisa makan siangnya dengan tenang. Lalu beranjak keluar dari restoran.

Namun, baru lima langkah menyusuri jalan, suara decitan ban yang sangat keras membelah keheningan siang.

CBRRRRRAAASHHH!

Suara hantaman besi yang dahsyat terdengar memekakkan telinga. Dua buah mobil berkecepatan tinggi saling bertabrakan hebat di persimpangan depan area restoran.

"AAAAAHHHH! HELP! SOMEONE HELP!" jerit seorang wanita pejalan kaki di dekat Aisha histeris.

"Ya Allah! Apa yang terjadi?!" seru Aisha kaget.

Orang-orang di sekitar trotoar seketika panik luar biasa. Beberapa pejalan kaki berlarian menjauh sambil menjerit-jerit ketakutan.

Dari dalam mobil hitam yang ringsek di bagian depan, seorang pria melangkah keluar dengan tubuh oleng dan bersimbah darah segar di bagian kepala serta mukanya.

"Arghhh...!" rintih pria itu berat, memegangi dadanya sambil tersungkur di samping pintu mobil.

Belum sempat warga sekitar mendekat untuk menolong, tiga orang pria berbadan tegap keluar dari mobil yang lain. Mereka mengenakan penutup wajah dan menggenggam pemukul besi.

"Astagfirullah! Mereka bawa senjata?!" pekik Aisha tertahan.

"Jangan ikut campur! Jangan ada yang mendekat kalau kalian mau selamat!" bentak salah satu pria bermasker, mengacungkan pemukul besinya ke arah kerumunan warga.

Sontak saja orang-orang di sekitar makin histeris. Tak ada satu pun pejalan kaki yang berani mendekat.

"WOI! Habisi dia sekarang!" teriak pria bermasker lainnya penuh emosi.

BKGKKK!

"ARGHHH!" pria bersimbah darah itu mengerang kesakitan saat salah satu penyerang melayangkan pukulan besi keras tepat ke rusuknya.

"Tolong! Hentikan! Jangan dipukul lagi!" jerit seorang ibu-ibu dari kejauhan sambil menangis histeris.

"Diam kamu! Mau saya pukuli juga, hah?!" gertak penyerang itu makin beringas.

Melihat pria yang sudah tak berdaya dan bersimbah darah itu hendak dihantam kembali dengan tongkat besi tepat ke arah kepalanya, darah Aisha seketika mendidih.

"HEI! BERHENTI!" teriak Aisha melengking, berlari kencang menerjang ke arah persimpangan tanpa peduli keselamatan dirinya.

Aisha melompat dan melayangkan tendangan keras tepat ke punggung pria itu!

DUAAGHH!

"AGHHH!" pria bermasker itu tersungkur ke depan, tongkat besinya terlepas dan jatuh berdentang di aspal.

"Bangsat! Dari mana wanita ini?!" umpat penyerang kedua.

Aisha dengan sigap menghindar ke samping, menyambar papan tanda lalu lintas portable di dekat trotoar, lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke wajah pria kedua!

BAMMM!

"Aagghh!" jerit pria kedua.

"Kurang ajar kamu, cewek sialan!"

Aisha kembali memukul dada pria ketiga menggunakan tas kulit tebalnya, disusul tendangan telak ke area vital pria tersebut!

CRAAASH! DUAAGHH!

"AARRGGHHH!" pria itu langsung jatuh tsambil mengerang kesakitan.

Dari kejauhan, suara sirine mobil polisi mulai terdengar melengking bersahut-sahutan mendekati lokasi kejadian.

"Woi! Polisi datang! Cabut! Cabut sekarang!" teriak salah satu pria yang baru berdiri sambil memegangi punggungnya.

"Awas kamu ya!" ancam pria kedua penuh emosi.

Ketiga penyerang itu dengan terburu-buru melompat kembali ke dalam mobil, lalu tancap gas melesat kabur meninggalkan lokasi kecelakaan.

"Tolong! Siapa saja tolong!" jerit Aisha panik. Ia langsung berlutut di samping pria yang terkapar tak berdaya di atas aspal.

Wajah pria itu tertutup lumuran darah segar yang mengalir deras dari luka di kepalanya, membuat raut mukanya tak dikenali sama sekali.

"Mas! Buka matanya! Tolong jangan pingsan!" panggil Aisha panik, menepuk-nepuk pipi pria yang dingin dan penuh noda darah itu.

Pria itu hanya merintih sangat pelan. Sebelum pandangannya benar-benar menggelap total, matanya samar-samar sempat menangkap sosok gadis berhijab yang sedang memangkunya.

Meski pandangannya kabur, ia sangat mengenali raut wajah gadis berhijab yang membantunya.

'Kamu.....?' batin Zavran merintih pelan sebelum akhirnya kesadarannya terenggut sepenuhnya.

"Tolong bantu saya! Dia pendarahan hebat!" teriak Aisha histeris pada dua orang pejalan kaki pria yang akhirnya memberanikan diri mendekat.

"Kalau nunggu ambulans bakal terlambat! Buka pintu mobil ini cepat! Kuncinya masih nempel di dalam!"

Dengan bantuan dua warga setempat itu, tubuh pria bersimbah darah itu dipapah masuk ke kursi penumpang depan.

"Hei, Miss! Apa kamu yakin mau mengemudi sendiri?!" tanya salah seorang pejalan kaki asing dengan wajah cemas melihat tangan Aisha gemetaran hebat.

"Seseorang harus membawanya ke rumah sakit sekarang atau dia kehabisan darah!"

Ia memasang sabuk pengaman dengan tangan gemetar, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam.

"Mas... tolong bertahan! Jangan mati di mobil ini!" jerit Aisha histeris sambil menekan klakson tanpa henti.

TIIIINNNNN! TIIIIINNNNN!

Satu tangan Aisha memegang kemudi, sementara tangan lainnya berkali-kali menepuk bahu pria di sampingnya yang sudah terkulai tak sadarkan diri.

Begitu mobil berhenti di depan instalasi gawat darurat Royal Infirmary Hospital, Aisha langsung melompat keluar dan berteriak histeris meminta pertolongan.

"Emergency! Need help here!" teriak Aisha panik.

Tim medis dan perawat berhamburan keluar membawa ranjang dorong. Tubuh pria itu dengan cepat dipindahkan dari dalam mobil. Aisha berlari kecil di samping ranjang dorong menelusuri koridor rumah sakit menuju ruang penanganan kritis.

"Maaf, Anda harus menunggu di luar!" tahan seorang perawat asing begitu mereka sampai di depan pintu UGD.

Pintu UGD tertutup rapat. Aisha terduduk lemas di kursi tunggu koridor, menyandarkan kepalanya ke dinding bata dingin. Seluruh tubuhnya gemetar parah.

Satu jam kemudian, seorang dokter keluar bersama dua perawat yang membawa nampan berisi pakaian korban yang sudah digunting dan barang-barang pribadinya yang terkena noda darah.

"Apakah Anda keluarga dari pasien?" tanya Dokter dalam bahasa Inggris.

Aisha dengan cepat berdiri. "Bukan, Dok. Saya warga yang menolongnya di jalan. Bagaimana keadaannya?"

"Kondisinya sudah stabil, luka di kepalanya sudah dijahit dan pendarahannya berhasil dihentikan. Beruntung Anda membawanya tepat waktu," jelas Dokter itu ramah.

"Thank you, Sir. " Desah Aisha lega.

"You are welcome. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Anda bisa menjenguknya di sana," tambah sang dokter tersenyum hangat sebelum berlalu bersama para perawat, meninggalkan Aisha yang masih berdiri terpaku dan syok di depan pintu kamar penanganan.

Aisha menghela napas panjang. Ia kembali terduduk di kursi koridor rumah sakit, menatap kedua tangannya yang gemetaran dan baru menyadari noda darah kering yang menempel di jemari serta baju bagian depannya.

Dengan langkah layu, Aisha berjalan menuju kamar mandi RS. Di depan cermin, ia memutar kran air, membiarkan air dingin mengalir membersihkan sisa-sisa noda merah pekat dari kulit tangan dan pakaiannya.

Ia membasuh wajahnya berkali-kali, menatap pantulan dirinya di cermin sambil menetralkan napas yang sempat memburu.

Beberapa menit kemudian, setelah merasa lebih tenang dan rapi, Aisha kembali melangkah menyusuri koridor menuju ruang perawatan tempat pria itu dipindahkan.

Ia memutar gagang pintu dan melangkah masuk dengan perlahan.

Suasana ruangan itu begitu tenang. Namun, saat tatapannya mengarah ke ranjang, Aisha mendapati pria berbalut perban di kepala itu ternyata sudah siuman dan sedang bersandar pelan pada tumpukan bantal.

Mata Aisha membelalak sempurna.

"E-Es Kutub?!" cetus Aisha spontan.

Ia melangkah mundur seraya menatap tak percaya pada pria itu. Sosok pria galak dan sengak yang baru kemarin sore membentaknya gara-gara insiden troli di toko oleh-oleh.

Zavran menatap Aisha yang berdiri mematung tak jauh dari ujung ranjangnya.

Aisha mengerjapkan matanya berkali-kali dan mengusap wajahnya.

"K-Kamu?! Jadi... cowok yang dihantam tongkat besi tadi itu... kamu?!"

Zavran memejamkan mata sejenak menahan rasa pening di kepalanya, lalu menghela napas halus.

"Kamu pikir... siapa?"

"Astagfirullahaladzim..." desah Aisha pasrah.

"Kalau tahu dari awal yang ditabrak dan dipukuli penjahat itu kamu, saya—"

"Kamu tidak akan menolong saya?" potong Zavran cepat.

"Ya... tetap saya tolong, sih! Mana tega saya membiarkan orang mati digebukin di depan mata! Tapi kan... saya tidak menyangka dunia sesempit ini! Kenapa kita harus bertemu lagi dalam keadaan mengenaskan begini?!"

Zavran terdiam sebentar. "Terima kasih... sudah nekat menghajar tiga orang itu dan membawa saya ke sini. Saya tidak menyangka perempuan seperti kamu jago beladiri"

"Sama-sama. Makanya jadi orang, jangan emosian...Nggak enak, banyak musuhnya. Untung saja saya lewat dan bisa beladiri, kalau tidak...Kamu sudah tinggal nama di persimpangan jalan tadi."

"Apa kamu bilang?!"

.......

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!