Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Kartu Nama dan Tuduhan Gila

Denyut perih di pelipis Dirga perlahan menyurut, menyisakan hawa dingin yang menjalar dari dahinya menuju seluruh batang otak. Visi asing yang baru saja membedah tabir waktu masih terpatri amat jelas di dalam benaknya, sebuah kamar bernomor 808 di hotel berbintang, isak tangis keperihan, dan sesosok pria berjas mewah yang merangkul mesra wanita lain di atas ranjang. Sosok wanita yang menangis histeris di dalam kilatan penglihatan itu tak lain adalah Lisa, gadis anggun yang kini berdiri persis di hadapannya dengan raut panik.

"Mas! Mas dengar suara saya? Jangan membuat saya makin takut!" jerit Lisa seraya mengguncang pelan kedua bahu Dirga.

Dirga menarik napas panjang, menstabilkan pijakan kakinya yang sempat goyah. Ia menatap iris mata Lisa yang bening. Ada kepolosan dan ketulusan di sana, tetapi juga ada nestapa besar yang sedang memburu masa depannya dalam kurun waktu dua hari ke depan.

"Saya tidak apa-apa, Mbak Lisa," ucap Dirga dengan suara bariton yang teratur, amat dingin namun berwibawa. Ia perlahan mundur satu langkah, melepaskan cengkeraman tangan Lisa dari bahunya.

Lisa menghela napas lega, meski alisnya yang rapuh masih bertaut heran. "Mas benar-benar membuat jantung saya hampir copot. Kalau Mas memang merasa pusing atau mual, tolong jangan dipaksakan berdiri. Kita ke rumah sakit—"

"Dua hari lagi," potong Dirga tegas. Suaranya tidak keras, tetapi memotong ucapan Lisa dengan presisi yang mengejutkan.

Lisa tertegun, mengerutkan dahinya bingung. "Apa? Dua hari lagi apa maksud Mas?"

Dirga menatap lurus ke dalam mata gadis itu. Anugerah dari leluhurnya menuntut keberanian untuk menyuarakan kebenaran takdir, sekalipun itu terdengar gila bagi orang awam. "Dua hari dari sekarang, jangan pernah mendatangi Hotel Grand Paramita. Khususnya kamar nomor 808."

Suasana di antara mereka yang semula dipenuhi ketegangan akibat kecelakaan lalu lintas mendadak berubah menjadi keheningan yang membingungkan. Lisa menatap Dirga dengan tatapan tak percaya, seolah-olah pria di hadapannya baru saja menuturkan mantra asing yang tak masuk akal.

"Hotel... Grand Paramita?" ulang Lisa pelan, matanya berkedip lambat. "Dari mana Mas tahu nama hotel itu? Dan... nomor kamar apa yang Mas sebutkan tadi?"

"Kamar 808," ulang Dirga tanpa ragu sedikit pun. "Jika Anda pergi ke sana dua hari lagi, Anda hanya akan menemukan kehancuran bagi hati Anda. Pria yang sangat Anda percayai... pria yang Anda sebut kekasih setia itu, sedang berduaan dengan wanita lain di atas ranjang kamar tersebut."

Mata Lisa membelalak lebar. Keresahan dan rasa kasihan yang sebelumnya terpancar dari wajah anggun itu seketika sirna, berganti menjadi sengatan keheranan yang amat mendalam sebelum akhirnya mengeras menjadi kemarahan yang dingin.

"Cukup, Mas!" bentak Lisa, nada suaranya berubah tajam dan penuh rasa tersinggung. "Saya berusaha bersikap sopan dan bertanggung jawab atas kecelakaan ini, tapi ucapan Mas sudah sangat melampaui batas dan sangat lancang!"

"Saya hanya menyampaikan apa yang harus Anda ketahui, Mbak Lisa," balas Dirga tenang, tidak terpengaruh oleh perubahan drastis sikap gadis tersebut. "Pria itu tidak sesetia yang Anda kira. Jangan biarkan diri Anda menjadi korban penipuan emosional."

"Tahu apa Mas tentang hidup saya?!" cecar Lisa dengan dada berombak menahan amarah. Matanya menatap Dirga dari ujung kepala hingga ujung kaki, meneliti jaket ojol kusam yang ternoda darah dan celana jeans yang robek di bagian lutut. "Kita baru pertama kali bertemu di tengah jalanan karena insiden kecelakaan! Mas bahkan tidak mengenal nama kekasih saya! Bagaimana bisa Mas dengan sangat percaya diri melemparkan tuduhan sekeji itu?!"

"Penglihatan tidak membutuhkan kenalan untuk menjadi kenyataan," pangkas Dirga pendek. "Saya melihatnya sendiri. Anda berdiri di depan pintu kamar itu, menangis histeris sambil menyaksikan pengkhianatannya."

"Cukup! Jangan diteruskan lagi bualan gila ini!" potong Lisa seraya mengangkat tangannya, menolak mendengarkan sepatah kata pun lagi dari mulut Dirga. Wajahnya yang mulus kini memerah padam akibat penghinaan yang ia rasakan atas nama kekasihnya. "Kekasih saya adalah seorang pengusaha terhormat! Dia sangat mencintai saya dan kami sudah menjalin hubungan bertahun-tahun! Tidak mungkin dia melakukan hal serendah itu, apalagi di tempat yang Mas sebutkan tadi!"

"Kebenaran sering kali terasa pahit saat pertama kali didengar," ujar Dirga datar. "Orang yang paling Anda percayai bisa menjadi orang yang paling tega menikam Anda dari belakang. Saya sudah merasakannya sendiri, Mbak."

"Itu adalah masalah pribadi Mas, jangan samakan hidup pahit Mas dengan hubungan saya!" seru Lisa dingin, kata-katanya memotong tajam. "Saya pikir Mas adalah pria jujur dan terhormat yang menolak dibawa ke rumah sakit karena memiliki harga diri. Tapi ternyata saya salah. Mas hanyalah orang aneh yang tidak beres otaknya akibat benturan di kepala tadi!"

Dirga tidak membantah. Ia membiarkan makian dan pandangan rendah dari Lisa menyapu dirinya. Pengalaman pahit dihina oleh keluarga Eri dan atasan kantornya telah menempa mental Dirga menjadi sekeras baja. Ia tidak lagi butuh pengakuan dari orang lain demi membuktikan kebenarannya.

"Saya sudah peringatkan," sahut Dirga pendek. "Apakah Anda ingin percaya atau menganggap saya gila, itu sepenuhnya menjadi pilihan Anda. Waktu yang akan membuktikannya."

Lisa menghembuskan napas kasar, memalingkan wajahnya dengan raut jijik dan kecewa yang amat sangat. Ia merasa telah membuang-buang waktu serta simpatinya pada orang yang salah. Dengan gerakan cepat dan penuh kekesalan, Lisa mengambil selembar kartu nama bersepuh emas dari dalam tas mewahnya, lalu menarik amplop tebal berisi uang tunai puluhan juta rupiah yang semula disimpannya.

"Saya tidak punya waktu untuk melayani khayalan gila Mas lebih lama lagi," kata Lisa dengan nada suara yang kini terasa berjarak, angkuh, dan tertutup rapat. Ia menyodorkan kartu nama serta amplop tebal itu secara paksa ke dada Dirga.

"Saya sudah katakan, saya tidak butuh uang Anda," pangkas Dirga seraya menolak mendorong balik amplop tersebut.

"Ambil ini!" paksanya keras, menyenggolkan amplop itu hingga Dirga terpaksa menangkapnya agar tidak jatuh ke aspal. "Uang ini adalah ganti rugi atas sepeda motor Mas yang hancur dan biaya pengobatan medis yang Mas tolak secara bodoh. Setelah ini, urusan kita selesai secara hukum dan moral! Jangan pernah muncul di hadapan saya lagi, dan jangan pernah menyebut nama kekasih saya dengan tuduhan sampah Mas itu!"

Dirga menggenggam amplop tebal itu di tangannya, merasakan bobot lembaran uang puluhan juta rupiah yang berada di dalamnya. Matanya lalu beralih menatap kartu nama elegan yang terselip di balik jemarinya. Di atas kertas tebal berkualitas tinggi itu, tertera tulisan emas yang berkilau: Lisa Larasati – Director of Corporate Strategy, Larasati Group.

"Larasati Group..." gumam Dirga lirih dalam hati. Nama konglomerasi raksasa yang bergerak di bidang properti dan investasi tersebut sama sekali tidak asing di telinganya.

"Ya, itu kartu nama saya," tukas Lisa dingin saat melihat Dirga membaca kartu tersebut. "Simpan kartu itu jika Mas memang berniat menuntut ganti rugi tambahan melalui jalur hukum. Tapi jika Mas menghubungi saya hanya untuk menyebarkan dongeng tuduhan gila ini lagi, saya tidak akan segan memenjarakan Mas atas tuduhan pencemaran nama baik!"

Tanpa menunggu respon atau balasan dari Dirga, Lisa balik kanan dengan ketukan sepatu hak tingginya yang nyaring di atas aspal. Ia berjalan cepat menuju mobil sedan mewah hitamnya yang terparkir di tepi jalan dengan kondisi bagian depan yang sedikit penyok.

Seorang petugas polisi yang bertugas mengatur lalu lintas mendekati Lisa. "Bagaimana, Mbak? Apakah penanganan korbannya sudah selesai? Apakah perlu dibawa ke kantor polisi untuk membuat laporan kecelakaan?"

"Tidak perlu, Pak," jawab Lisa tegas tanpa menoleh lagi ke arah Dirga. "Korban menolak dibawa ke rumah sakit dan sudah menerima ganti rugi tunai secara penuh di tempat. Masalah ini sudah selesai."

"Baik jika begitu, Mbak. Mohon lebih berhati-hati dalam berkendara," ujar petugas itu seraya memberi jalan.

Lisa membuka pintu kemudi mobil mewahnya. Sebelum melangkah masuk ke dalam kabin, ia sempat melirik ke arah Dirga yang masih berdiri kaku di tepi jalan raya, memegang amplop tebal dan kartu namaya dengan pakaian kusam bersimbah darah.

"Orang aneh..." cibir Lisa lirih dengan raut kekecewaan mendalam, sebelum akhirnya menutup pintu mobil dengan hempasan keras.

Mesin mobil sedan mewah itu meraung halus. Dalam hitungan detik, kendaraan itu meluncur pergi meninggalkan persimpangan jalan, menyatu di tengah lautan kendaraan ibu kota yang padat. Para warga dan pengendara lain yang tadinya mengerumuni lokasi insiden perlahan-lahan membubarkan diri, kembali pada kesibukan mereka masing-masing karena drama di tengah jalan telah usai.

Dirga berdiri seorang diri di atas trotoar yang panas. Angin sore berhembus kencang, menampar wajahnya yang kusam dan mengibarkan jaket ojolnya yang sobek. Ia berdiri menatap kepergian mobil Lisa hingga kendaraan itu menghilang di balik tikungan jalan.

Jemarinya meremas pelan amplop tebal berisi uang puluhan juta rupiah di tangannya. Seumur hidupnya bekerja keras sebagai petugas kebersihan dan pengemudi ojek, ia tidak pernah memegang uang tunai sebanyak ini dalam satu genggaman. Namun, tidak ada rasa senang atau lega sedikit pun di matanya. Rasa sakit di kepalanya akibat kilatan visi masa depan kembali berdenyut perlahan, seolah memperingatkan bahwa takdir yang ia lihat tidak akan pernah melesat.

"Dua hari lagi..." bisik Dirga pada dirinya sendiri, suaranya pelan namun sarat akan keyakinan yang mutlak. "Dua hari lagi, Mbak Lisa... kartu nama ini yang akan membawa Anda kembali berlutut mencari saya."

Dirga membalikkan badannya, melangkah mendekati bangkai sepeda motor tuanya yang tergeletak tragis di atas aspal. Rangka besinya bengkok, stangnya patah, dan roda depannya sudah tidak berbentuk lagi. Motor yang selama ini menjadi satu-satunya alat penopang hidupnya kini resmi menjadi sampah yang tak berguna.

Dengan sisa-sisa tenaga di tubuhnya yang memar dan kepala yang masih berdarah, Dirga menyeret langkahnya meninggalkan persimpangan jalan Senopati. Di satu tangannya, ia memegang erat amplop uang dan kartu nama Lisa, sementara di tangan lainnya, ia menggenggam pecahan helm tua peninggalan almarhum ibunya yang berhasil ia amankan.

Awan hitam pekat mulai bergulung rapat di atas langit Jakarta, menandakan badai besar akan segera mengguyur ibu kota. Dirga terus berjalan menembus hawa dingin yang mulai menusuk kulit, melangkah menuju rumah lamanya tanpa menyadari bencana lain sedang menunggu di sana.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!