Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Nomor Lama
...#...
...Pak Darto dijahit di kamar belakang dengan lampu bohlam telanjang yang ditarik ke atas kepala. Wartini memegang senter di mulutnya sambil menahan bahu lelaki itu, dan setiap kali jarum masuk, Pak Darto cuma mengeluarkan bunyi kecil dari hidung. Bima berdiri di ambang pintu dan tidak masuk....
..."Kamu berdiri di situ kayak satpam," kata Wartini tanpa menoleh, senter masih di mulut....
..."Saya nggak apa-apa di sini."...
..."Ya sudah. Jangan ganggu."...
...Bima tidak pergi. Ia memperhatikan tangan ibunya bergerak, mengikat benang, memotongnya dengan gunting kecil yang tadi direbus di panci. Tangan itu tidak gemetar sama sekali, dan itu membuat Bima merasa lebih takut daripada kalau ibunya menangis....
..."Pak," katanya....
...Pak Darto membuka mata. "Hm."...
..."Surat yang bawa amplop tiap bulan itu. Tulisan alamatnya siapa yang nulis?"...
...Pak Darto tidak langsung menjawab. Ia menatap langit-langit, dan Bima melihat rahangnya mengeras sebentar, lalu kendor lagi....
..."Saya nggak pernah lihat orangnya, Mas. Amplopnya ditaruh di laci kasir tiap tanggal dua. Tulisannya miring."...
..."Miring kayak apa?"...
..."Kayak tulisan ayah Mas."...
...Wartini berhenti sebentar. Hanya sebentar. Lalu ia menarik benang lagi, dan Pak Darto menggigit bibirnya....
...Bima keluar. Di ruang tamu, Dimas masih tertidur di sofa, satu kakinya menggantung ke lantai dengan sepatu yang belum dilepas. Rico duduk di kursi plastik dekat pintu depan, membuka dan menutup korek api tanpa menyalakan apa-apa. Perempuan itu berdiri di jendela, menyibak tirai sedikit dengan dua jari....
...Bima berhenti di belakang bahunya. Ia bisa mencium parfum tipis, bercampur bau minyak senjata. Jarak mereka cuma sejengkal....
..."Kamu mau ngapain?" tanya perempuan itu tanpa menoleh....
..."Mau lihat."...
..."Lihat apa?"...
..."Yang ada di luar."...
...Perempuan itu melepas tirai. "Tidak ada yang bisa kamu lihat dari sini."...
..."Mobil hitam tadi malam juga nggak keliatan. Tapi Dimas tetap bilang ada."...
..."Dia benar."...
..."Terus kenapa Mbak tetap berdiri di situ?"...
...Perempuan itu akhirnya menoleh. Matanya turun sebentar ke lengan Bima yang diperban, lalu naik lagi....
..."Karena yang lewat tadi sudah dua kali," katanya. "Motor. Jalannya pelan."...
... ...
...Bima membuka pintu depan sedikit dan melihat gang. Sinar matahari baru masuk ke sela-sela atap seng. Di ujung gang ada tukang sayur yang lewat sambil mendorong gerobak, seorang ibu-ibu menyapu teras, dan anak kecil berlari dengan kaki telanjang. Sepintas semuanya terlihat biasa....
...Lalu motor itu lewat. Dua orang di atasnya, helm full-face, jaket hitam yang sama. Motornya tidak berhenti. Ia hanya memelankan laju di depan rumah Pak Darto, seperti orang yang membaca nomor rumah, lalu membelok ke ujung gang dan menghilang....
...Bima menutup pintu pelan-pelan....
..."Itu bukan orang kampung," katanya....
..."Tidak," kata Rico dari kursinya. "Kampung ini tidak punya motor yang plat-nya ditutup lakban."...
..."Berarti mereka ngincer apa?"...
..."Pintu."...
...Rico berdiri dan memasukkan korek api ke saku. Ia membuka laci meja di sebelah pintu dan mengambil pistol kecil berwarna hitam. Ia memeriksanya sekilas, lalu memasukkannya ke belakang celana....
..."Bangunin adikmu," katanya pada Bima. "Ibumu juga. Lewat belakang."...
..."Belakang ke mana?"...
..."Ke tembok yang ada pohon jambunya. Ada gang kecil di sebelahnya."...
...Bima menghampiri sofa dan menepuk pundak Dimas. Adiknya langsung membuka mata dengan panik, lalu meringis karena pipinya yang memar tertekan bantal....
..."Apa?"...
..."Bangun. Sepatu."...
..."Kenapa?"...
..."Dimas."...
...Dimas bangun dengan wajah kusut, menarik tali sepatunya yang sudah basah. Ia tidak bertanya lagi. Itu lebih menakutkan daripada pertanyaan....
...Wartini keluar dari kamar belakang tanpa diminta, masih memegang gunting dengan tangan yang berlumuran sedikit darah. Ia melihat Rico, lalu melihat tirai, lalu melihat Bima....
..."Ada apa?"...
..."Ibu ikut Dimas lewat belakang."...
..."Pak Darto?"...
..."Kita bawa."...
...Pak Darto sudah berdiri di ambang pintu kamar, terhuyung, tangannya memegang tiang. Wartini langsung menyelipkan lengannya ke bahu lelaki itu tanpa bicara....
...Perempuan itu belum bergerak. Ia masih menatap tirai, lalu menghadap ke Rico. "Buka pintu belakang. Pelan."...
..."Mbak nggak ikut?" tanya Bima....
...Perempuan itu tidak menjawab. Ia mengambil ponsel dari atas meja, menekan satu nomor, dan menempelkannya ke telinga tanpa bicara. Di seberang sana, seseorang menjawab cepat. Ia hanya berkata satu kata, pelan....
..."Sekarang."...
... ...
...Pintu belakang terbuka dengan bunyi engsel yang berkarat. Udara pagi langsung masuk, lembap dan berbau sampah basah dari tong di sudut halaman. Tembok setinggi dada berdiri di ujung halaman, dengan pohon jambu yang cabangnya menjulur ke luar....
...Dimas lebih dulu, memanjat seperti kucing, lalu menjulurkan tangan untuk Wartini. Bima membantu Pak Darto naik dengan satu tangan, dan lelaki itu mengerang sepanjang jalan....
..."Mas, lengannya," bisik Pak Darto....
..."Diam, Pak."...
...Mereka turun ke gang sempit di sisi lain. Tanahnya becek. Di dinding ada coretan kapur yang sudah pudar, tanda-tanda main anak-anak yang tidak lagi main di sini....
...Baru tiga langkah, Bima mendengar motor berhenti di depan....
...Lalu suara pintu depan didobrak....
...Bunyi kayu pecah terdengar jelas dari dalam rumah, disusul bentakan laki-laki. Wartini berhenti dan menoleh ke belakang, tapi Bima langsung menarik tangannya....
..."Jalan, Bu!"...
...Mereka berlari. Pak Darto hampir jatuh, dan Dimas menariknya ke samping dengan kedua tangan. Bima melihat ujung gang, tapi di sana sudah ada satu motor lain yang baru lewat dan melambat....
..."Ke kiri!" teriak Rico dari belakang. Ia sudah keluar lewat pagar, memegang pistol kecil dengan tangan rendah....
...Dua orang berjaket hitam keluar dari balik motor. Yang satu langsung mengangkat tangan. Bima melihat kilatan logam, lalu suara tembakan yang pendek dan keras, memantul di dinding gang....
...Dimas menjerit dan menunduk. Wartini menarik Pak Darto jatuh ke tanah, menutupi kepala lelaki itu dengan tubuhnya....
..."Tiarap!" bentak Rico....
...Bima tidak tiarap. Ia menarik Dimas dari bahunya, menyeret adiknya ke balik tong sampah besi. Seng tong itu bergetar setiap kali peluru menghantamnya. Lengan kirinya berdenyut sampai ke kepala. Ia menyadari tangannya tidak bisa menggenggam dengan benar, dan ia menggenggam pinggiran tong itu dengan jari yang tersisa....
..."Mas..."...
..."Diam."...
...Tembakan lagi. Dari arah rumah, sebuah suara lain menyela. Satu tembakan, tenang, tanpa tergesa. Sesaat kemudian, laki-laki berjaket hitam yang tadi mengangkat tangan jatuh berlutut sambil memegang paha....
...Bima menoleh. Di ambang pintu belakang rumah Pak Darto, perempuan itu berdiri dengan pistol di tangan kanan. Mantelnya tertiup angin, dan wajahnya tetap sama. Ia tidak berteriak. Ia tidak lari. Ia hanya melangkah maju satu langkah, mengarahkan pistol ke orang kedua....
..."Lempar senjatamu," katanya....
...Laki-laki itu menatapnya, lalu ke Rico yang sudah di sisinya, lalu ke motor di ujung gang. Motor itu menyala, dan orang yang duduk di jok belakang menepuk bahu pengemudinya dua kali....
...Laki-laki berjaket hitam melempar senjatanya ke tanah....
...Motor itu melesat pergi. Orang yang tadi jatuh berlutut ditinggal begitu saja di sana, merintih sambil memegang pahanya....
...Perempuan itu menurunkan pistol perlahan. "Bawa dia ke mobil."...
..."Mbak..." Bima berdiri, kakinya gemetar. "Itu orang kita?"...
..."Bukan."...
..."Terus siapa?"...
...Perempuan itu melirik Bima sebentar. Ada sesuatu di matanya, sekilas, seperti orang yang tidak suka dipaksa menjawab pertanyaan di depan orang lain....
..."Orang yang mau tahu kamu masih hidup atau tidak," katanya. "Sekarang berdiri, Bima. Ibumu menunggu."...
... ...
...Mereka duduk di mobil yang sama, dengan Wartini memeluk Dimas di kursi belakang dan Pak Darto terbaring di jok tengah, napasnya pendek. Rico menyetir pelan lewat jalan tikus di belakang pasar. Laki-laki yang tadi tertembak diikat di kursi depan dengan kain sarung, wajahnya pucat, dan ia tidak berani menatap siapa pun....
...Bima duduk di sebelah ibunya. Ia memperhatikan Wartini. Ibunya tidak menangis, tapi tangannya menggenggam kerah baju Dimas erat sekali, seolah takut anak itu menghilang kalau dilepas....
..."Bu," panggil Bima....
..."Apa?"...
..."Tadi malam Ibu bilang bapak nggak pernah ke pelabuhan lagi, kan?"...
...Wartini tidak langsung menjawab. Ia menatap kaca jendela yang buram oleh embun....
..."Bapakmu meninggal, Mas. Ibu lihat sendiri waktu dimandikan."...
..."Ibu lihat mukanya?"...
..."Ibu lihat badannya. Dingin."...
..."Bukan itu yang saya tanya."...
...Wartini menoleh tajam. Sebentar, lalu ia menghela napas dan kembali menatap jendela....
..."Ibu nggak mau bahas ini di mobil."...
..."Bu..."...
..."Ibu bilang nggak mau, Mas!"...
...Dimas mengangkat wajah dari bahu ibunya. Ia menatap Bima, lalu ke ibunya, dan wajahnya tampak lebih tua dari yang Bima ingat....
..."Mas," bisik Dimas. "Ibu dapet telepon."...
...Bima menoleh. "Kapan?"...
..."Waktu Mas di kantor pasar, pagi-pagi. Aku lihat Ibu angkat, terus dia diam lama banget. Terus dia nyuruh aku ke kamar."...
...Wartini memalingkan wajah. Ia tidak membantah....
..."Dari siapa, Bu?"...
...Wartini diam. Mobil melewati lubang besar, dan kepala mereka terguncang bersamaan. Di kursi depan, perempuan itu menoleh sedikit, tapi tidak bicara....
...Bima menunggu. Ia tahu ibunya sedang menimbang sesuatu. Ia sudah mengenal cara itu sejak kecil, tangan yang diam dan napas yang ditahan....
..."Nomor lama bapakmu," kata Wartini akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Yang dulu dipakai waktu dia kerja di pelabuhan. Yang sudah Ibu buang ke laci sejak dia nggak ada."...
...Bima merasa dadanya kosong sesaat....
..."Ibu jawab?"...
..."Ibu cuma dengar." Wartini menutup matanya. "Ada suara orang batuk. Terus suaranya bilang, *Jangan biarkan Bima pegang buku itu sendirian, Wa.*"...
...Hening....
...Perempuan di kursi depan tidak menoleh, tapi Bima melihat bahunya kaku. Tangan Rico berhenti di setir sebentar, lalu bergerak lagi....
...Pak Darto membuka mata di jok tengah. Ia menatap langit-langit mobil, pelan-pelan, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk bicara....
..."Itu suara Ardhana," bisiknya....
...Bima menoleh cepat. "Pak?"...
..."Ayah Mas," kata Pak Darto, air mata turun pelan dari sudut matanya. "Saya kenal suaranya. Dan dia batuk persis begitu waktu dia pulang dari pelabuhan, malam sebelum saya disuruh nyetir."...
...Wartini membuka matanya. Ia menatap Bima, dan untuk pertama kalinya sejak tadi ia tidak menyembunyikan apa pun dari wajahnya. Takut. Dan sesuatu yang lebih buruk daripada takut....
..."Ibu nggak tahu harus cerita apa lagi, Mas," katanya lirih. "Telepon itu datang bulan lalu. Dua hari sebelum tanggal dua."...
...Bima tidak bisa bernapas sebentar. Ia menoleh ke kursi depan....
...Perempuan itu sudah menatap dirinya sendiri di kaca spion. Dan kali ini, Bima melihat dengan jelas bahwa tangan perempuan itu gemetar di pangkuan....