Indonesia
NovelToon NovelToon
Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.

Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.

Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.

Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.

Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.

Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana dan Niat

POV Paolo

Setelah selesai membaca laporan itu, aku terdiam untuk waktu yang lama.

Ponsel masih di tanganku, tetapi pikiranku melayang jauh.

Maria Cecília.

Dua puluh empat tahun… dan sepanjang hidup ditandai luka.

Aku mendapati diriku memikirkan sesuatu yang belum pernah kurenungkan dalam-dalam: orang macam apa yang tega meninggalkan bayi berusia tiga bulan?

Itu bukan sekadar ketidakpedulian.

Itu kekejaman.

Itu ketiadaan rasa kemanusiaan yang sempurna.

Seorang anak… tak berdaya… ditinggalkan pada nasibnya sendiri.

Hal itu mengusikku dengan cara yang berbeda.

Bukan amarah biasa.

Sesuatu yang lebih dingin.

Lebih berbahaya.

Saat itu juga kuputuskan: urusan ini tidak berakhir di sini.

Kuraih ponsel sekali lagi.

"Rogério."

"Ya, Bos."

"Aku mau lebih."

"Lebih?"

"Cari tahu siapa orang tuanya."

Ada jeda sejenak.

"Mengerti. Anggap beres."

Kuputuskan sambungan.

Kusandarkan kepala ke sandaran ranjang.

Kupandang langit-langit.

Namun kantuk… tak juga datang.

Aku berbalik ke satu sisi.

Lalu ke sisi yang lain.

Berjam-jam berlalu.

Pikiranku selalu kembali ke tempat yang sama.

Ke bayangan yang sama.

Ke perempuan yang sama.

Akhirnya aku tertidur menjelang dini hari.

Aku bangun pagi-pagi.

Meski hanya beristirahat beberapa jam.

Kubersihkan diri, kukenakan pakaian yang nyaman, lalu kuminta Mama mengantar kopi ke kamar. Ada banyak yang harus kubereskan.

Dan aku pun tenggelam dalam pekerjaan.

Urusan perusahaan.

Urusan keluarga.

Keputusan-keputusan yang menuntut fokus.

Dan, untuk beberapa jam…

Berhasil.

Tetapi saat kulirik jam…

Sudah lewat pukul satu siang.

Aku menghela napas.

Bangkit.

Kuputuskan turun untuk makan siang.

Namun, ketika berada di tengah tangga, aku mendengar suara-suara.

Luna.

Emosinya meninggi.

"Ada apa, Nak?" tanya Mama, tenang.

"Aku sungguh tak percaya pada mereka!"

Aku berhenti.

Nyaris secara refleks.

Aku tak biasa menguping percakapan.

Tak pernah perlu.

Tapi… hal itu membuatku tertarik.

Kulangkahkan kaki ke samping, sedikit menyembunyikan diri.

"Apa yang terjadi?" Mama mendesak.

"Cissa dan Ana Paula dipecat!"

Tubuhku menegang.

Aku terus mendengarkan.

"Dan sekarang mereka sedang cari kerja…" lanjut Luna, jelas kesal. "Aku menawari mereka ikut kita ke Italia, dan mereka menolak!"

Hening.

"Cissa bilang itu bukan dunianya," sambungnya dengan frustrasi. "Katanya mereka akan mengurus diri sendiri."

Mama menghela napas.

"Dan dia benar."

Luna terdiam sesaat.

"Maksud Mama apa?"

"Mereka gadis-gadis yang punya harga diri," jawab Mama tegas. "Dan itu, di zaman sekarang, langka. Menawari mereka meninggalkan segalanya dan hidup di bawah syarat kita bisa dianggap sebagai penghinaan."

"Aku cuma mau membantu!"

"Mama tahu, Nak."

Suara Mama melembut.

"Tapi membantu juga butuh kepekaan. Kau harus menghormati ruang mereka. Prinsip mereka."

"Tapi mereka sedang kesusahan!"

"Dan meski begitu mereka memilih untuk tidak bergantung pada siapa pun," kata Mama. "Itu bukan kesombongan. Itu karakter."

Hening.

Berat.

Lalu kudengar Luna menangis.

"Aku menyayangi mereka… seperti saudari sendiri… aku cuma ingin melakukan sesuatu…"

"Dan kau bisa," jawab Mama, merengkuhnya. "Tapi dengan cara lain. Tanpa memaksa. Tanpa melampaui batas mereka."

Aku bertahan di sana beberapa detik lagi.

Berpikir.

Mama… benar.

Seperti hampir selalu.

Aku mundur tiga langkah.

Lalu kembali maju, berpura-pura turun seperti biasa.

Ketika aku muncul, Luna melewatiku tanpa sedikit pun memandangku.

Menaiki tangga.

Sambil menangis.

Mama mengamatiku.

"Teman-temanmu adalah perempuan-perempuan terhormat," katanya, tanpa berbasa-basi. "Sepanjang hidupku, aku tak pernah mengenal gadis-gadis seperti mereka berdua."

Aku mengangguk.

Tetapi, dalam hati…

Aku memikirkan hal yang berbeda.

"Itu karena Mama belum tahu segalanya…"

Belakangan, aku pergi ke ruang kerja.

Ayah sudah ada di sana.

Pietro juga.

Begitu aku masuk, kurasakan suasananya berbeda.

Ayah tampak serius.

Tapi bukan keseriusan yang tertuju pada urusan bisnis.

Ini sesuatu yang lain.

"Pietro," ia memulai. "Apa niatmu terhadap Ana Paula?"

Langsung.

Tanpa berputar-putar.

Seperti biasa.

Pietro tidak mengelak.

"Aku tak ingin main-main dengannya."

Ayah mengangkat sebelah alis.

"Tidak?"

"Tidak."

"Lalu apa maumu?"

Pietro menarik napas dalam.

"Kurasa aku mulai punya perasaan padanya."

Hening.

Ayah tertawa pendek.

"Kalau begitu berhenti membuang waktu."

Pietro mengerutkan kening.

"Maksud Ayah?"

"Lelaki sejati tidak berputar-putar," kata Ayah, tegas. "Kejar. Nyatakan perasaanmu. Selesaikan."

Pietro menyunggingkan senyum miring.

"Langsung ke pokoknya, seperti biasa."

"Selalu berhasil."

Lalu Ayah mengambil dua map dari atas meja.

Dan melemparnya.

Satu untukku.

Satu lagi untuk Pietro.

"Baca."

Kubuka mapku.

Berkas.

Maria Cecília… sudah kukenal.

Tapi ada lebih dari itu.

Ana Paula.

Aku mulai membaca.

Ditinggalkan ayahnya bahkan sebelum lahir.

Dibesarkan hanya oleh ibunya.

Seorang perempuan yang berjuang seorang diri.

Yang membesarkan putrinya dengan harga diri.

Kehilangan ibunya pada usia delapan belas tahun.

Bekerja.

Belajar.

Masuk kuliah.

Di sanalah ia bertemu Maria Cecília.

Kututup map itu perlahan.

Dua kisah.

Dua penyintas.

Kupandang Ayah.

"Aku sudah tahu kisah Maria Cecília."

Ia mengangkat alis.

"Tahu?"

"Aku menyuruh orang menyelidikinya."

"Kenapa?"

"Dia menarik perhatianku."

Aku berhenti sejenak.

"Aku ingin tahu siapa yang berada di dekat Luna."

Ia menatapku beberapa detik.

Lalu…

Tersenyum miring.

Seperti orang yang tak sepenuhnya percaya.

Tapi ia tak berkata apa-apa.

Tak mendesak.

"Mereka sedang menganggur," ucapku kemudian, santai.

"Aku tahu."

"Luna cerita pada Mama."

Ayah terdiam sejenak.

Berpikir.

Lalu…

"Rekrut keduanya."

Aku menatapnya.

"Bagaimana?"

"Di cabang Brasil."

"Mereka tak akan mau menerimanya."

"Mereka akan mau," katanya, tenang. "Tapi bukan sebagai amal."

Aku mengerti.

"Berdasarkan kemampuan."

Ia mengangguk.

"Buat proses yang resmi. Wawancara. Penilaian. Pelatihan. Seiring waktu, kalian tawari pemindahan ke Italia sebagai promosi."

Pietro tersenyum.

"Jenius."

"Strategi," Ayah mengoreksi.

Aku bersandar di kursi.

Berpikir.

Masuk akal.

Tak akan melukai harga diri mereka.

Tak akan melampaui batas.

Dan, meski begitu…

Akan menyelesaikan masalahnya.

"Kita lakukan," ucapku.

Aku memanggil Luna.

Ia masuk dengan mata masih agak memerah.

"Ada apa?"

"Mama cerita soal teman-temanmu."

Ia langsung bersikap defensif.

"Lalu?"

"Aku punya tawaran."

Ia menatapku, curiga.

"Tawaran apa?"

"Pekerjaan."

Hening.

"Maksudmu?"

"Di perusahaan. Di sini, di Brasil. Bagian administrasi."

Ia mengerjap.

"Serius?"

"Tapi ada satu syarat."

"Apa?"

"Semuanya resmi. CV. Wawancara. Proses normal."

Ia menatapku sesaat.

Lalu…

Ia tersenyum lebar.

"Kau serius?!"

"Serius."

Ia menghampiriku dan memelukku.

"Kau kakak terbaik sedunia!"

Aku memutar bola mata.

"Jangan berlebihan."

"Aku akan menelepon mereka sekarang juga!"

"Sabar."

Terlambat.

Ia sudah menekan nomor.

"Cissa! Kau tak akan percaya!"

Aku menjauh.

Membiarkannya bicara.

Beberapa menit kemudian, ia kembali, bersemangat.

"Mereka akan mengirim CV!"

"Bagus."

"Terima kasih, Paolo."

Aku hanya mengangguk.

Tapi dalam hati…

Aku sudah selangkah di depan.

"Jadwalkan wawancaranya besok," kataku pada Pietro.

Ia tersenyum.

"Aku suka ini."

Aku menatap map di atas meja.

Nama perempuan itu tertera di sana.

Maria Cecília Santana.

Sekarang…

Ia tak lagi jauh.

Aku hampir membawanya masuk ke duniaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!