Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Ke Masa Muda, Tak Lagi Mengejarmu

Kembali Ke Masa Muda, Tak Lagi Mengejarmu

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: mejiku

Selama enam tahun, Kinara hidup sebagai istri dari Zergan Airlangga, seorang direktur sekaligus CEO muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang indah, melainkan hasil perjodohan dua keluarga besar.
Sejak awal, Kinara mencintai Zergan seorang diri. Ia bertahan dengan harapan bahwa suatu hari hati suaminya akan luluh. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Bagi Zergan, hatinya telah terkubur bersama wanita yang pernah ia cintai dan telah meninggal dunia. Kehilangan itu mengubahnya menjadi pria yang dingin, acuh, dan tak pernah benar-benar melihat keberadaan Kinara sebagai istrinya.
Hingga sebuah kejadian tak terduga mengakhiri segalanya.
Saat membuka mata, Kinara mendapati dirinya kembali ke masa lalu saat usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia kembali ke waktu sebelum perjodohan itu terjadi, sebelum enam tahun penuh luka dan penantian.
Kali ini, Kinara bertekad mengubah takdirnya. Ia tidak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Aroma obat-obatan yang menyengat dan bunyi ritmis alat pendeteksi detak jantung perlahan mengembalikan kesadaran Kinara. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap langit-langit putih kamar rumah sakit yang asing. Rasa nyeri yang hebat langsung berdenyut di punggung dan bahunya saat ia mencoba menggerakkan tubuh.

​Kinara menoleh ke kanan dan kiri. Ruangan itu tampak sunyi. Ia sendirian di dalam kamar perawatan VIP tersebut. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama ketika sayup-sayup suara dari balik pintu kayu yang sedikit terbuka menangkap perhatiannya. Itu suara Zergan dan seorang pria yang terdengar seperti petugas kepolisian, serta suara isakan tangis Haura.

​"Berdasarkan pemeriksaan awal dan interogasi di tempat, ketiga pelaku murni preman lokal yang sering mangkal di sekitar Alun-Alun, Zergan. Mereka mengaku memang mengincar barang berharga dan berniat membawa korban karena melihat korban sendirian di tempat gelap. Tidak ada indikasi keterlibatan pihak luar atau musuh bisnis keluarga Anda," terdengar suara polisi menjelaskan sebelum pamit pergi.

​Mendengar hal itu, Kinara tertegun di atas bangsalnya. Ia terdiam seribu bahasa, mencerna informasi yang baru saja didengarnya.

​'Berarti... mereka cuma preman iseng? Penculikan yang sesungguhnya belum terjadi malam ini?' pikir Kinara dengan jantung yang berdegup kencang. Ia menyadari bahwa ia telah salah mengira garis waktu kehidupan lalunya. Penculikan tragis oleh musuh bisnis keluarga Airlangga ternyata memang belum dimulai. Malam ini hanyalah sebuah kebetulan yang hampir merenggut nyawa Haura karena kecerobohan gadis itu sendiri.

​"Hiks... Zer, aku takut banget. Kalau tadi nggak ada perempuan itu, aku nggak tahu apa yang bakal terjadi sama aku..." suara tangisan Haura kembali pecah di luar pintu.

​"Sstt... sudah, tenanglah. Kamu aman sekarang. Aku di sini, Haura. Maafkan aku karena tadi sempat melepaskan tanganmu," terdengar suara Zergan yang begitu dalam, lembut, dan penuh penyesalan, mencoba menenangkan kekasihnya.

​Mendengar intonasi suara itu, Kinara tahu persis apa yang sedang terjadi di luar sana tanpa harus melihatnya langsung. Zergan pasti sedang mendekap erat tubuh Haura, mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang untuk meredakan rasa takutnya.

​Rasa sakit yang teramat pekat kembali menghantam dada Kinara. Rasanya begitu sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Air matanya menetes pelan di atas bantal rumah sakit. 'Rasanya terlalu sakit... kenapa melihat mereka seperti ini selalu membuat hatiku hancur?' batinnya meratap. Namun, ia segera menghapus air mata itu dengan kasar. 'Sabar, Nara... Kamu harus kuat. Kamu ke sini hanya untuk menyelamatkan nyawa orang, bukan untuk merebut kembali hatinya. Ingat tujuanmu untuk bebas di kehidupan ini.'

​Enggan menjadi penonton dari kemesraan pria yang pernah menjadi suaminya, Kinara memantapkan tekad. Dengan perlahan dan menahan ringisan di bibirnya, ia menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Sambil memegangi bahunya yang kaku dan nyeri, ia melangkah pelan menuju pintu, berniat untuk pulang ke kos secara diam-diam.

​Namun, tepat saat ia membuka pintu, langkahnya langsung mengagetkan dua orang yang berada di koridor. Benar dugaan Kinara, Zergan baru saja melepas pelukannya dari Haura.

​"Eh? Kamu sudah bangun?" Haura buru-buru menghapus sisa air matanya dan melangkah mendekati Kinara. Wajah ketusnya siang tadi sepenuhnya hilang, digantikan sorot mata penuh rasa bersalah dan terima kasih yang amat tulus.

​"K-kamu mau ke mana? Kondisi kamu belum stabil. Dokter bilang punggungmu memar parah," ucap Haura menahan lengan Kinara dengan lembut. "Aku... aku mau berterima kasih banyak sama kamu. Kalau kamu nggak datang dan jadi tameng buat aku sama Zergan, mungkin aku udah dibawa kabur sama preman-preman itu. Maaf karena siang tadi aku sempat mengira kamu orang gila."

​Kinara hanya tersenyum tipis, tampak lelah. "Nggak apa-apa. Yang penting kamu aman."

​Ting-ting-ting!

​Ponsel di dalam tas Haura mendadak berdering nyaring. Haura merogoh tasnya dan melihat layar ponsel. "Ah, Mama telepon," ucapnya panik. Ia menatap Kinara dan Zergan bergantian. "Aku angkat telepon dari Mama sebentar di ujung koridor, ya." Haura pun berjalan menjauh, meninggalkan Kinara dan Zergan dalam keheningan yang mendadak terasa mencekam.

​Begitu Haura berada cukup jauh, atmosfer di sekitar mereka langsung berubah dingin. Zergan melangkah maju, menutup jarak di antara mereka. Matanya yang tajam bak elang mengunci sepenuhnya pergerakan Kinara, seolah sedang menguliti isi kepala gadis di hadapannya.

​"Sekarang, jelaskan semuanya padaku," tuntut Zergan dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana kamu bisa tahu nama kami, tahu bahaya yang mengintai, dan yang paling membuatku terganggu..." Zergan menggantung kalimatnya sejenak, matanya menyipit tajam. "...kenapa saat di gang tadi, kamu refleks memanggilku dengan sebutan 'Mas'?"

​Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat jantung Kinara mencelos. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Di kehidupan lalu, selama enam tahun pernikahan, panggilan "Mas Zergan" sudah menjadi makanan sehari-harinya hingga melekat menjadi refleks yang sangat sulit dihilangkan dalam situasi darurat.

​Kinara mengepalkan jemarinya, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan datar di hadapan tatapan menyelidik Zergan.

​"Soal namamu dan bahaya itu... sudah kukatakan siang tadi, aku hanya tidak sengaja mendapat firasat buruk tentang kalian berdua," jawab Kinara bohong, mencari alasan asal bunyi dengan raut wajah sedingin mungkin. "Dan soal panggilan 'Mas'..." Kinara mendengus pelan, berpura-pura menganggapnya hal sepele. "...jangan terlalu percaya diri, Tuan Airlangga. Di daerah asalku, memanggil pria yang lebih tua atau pria asing yang dihormati dengan sebutan 'Mas' adalah hal yang sangat lumrah dan refleks yang biasa dilakukan oleh semua orang saat panik. Jadi jangan menyimpulkan sesuatu yang tidak-tidak."

​Zergan terdiam, menatap lekat-lekat mata Kinara untuk mencari kebohongan. Namun, Kinara berhasil menyembunyikan emosinya dengan sangat rapat di balik tatapan matanya yang kosong dan lelah. Meski logikanya mencoba menerima alasan lumrah tersebut, ada bagian kecil di lubuk hati Zergan yang merasa tidak puas dan merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang disembunyikan oleh gadis ini.

​"Aku rasa urusanku di sini sudah selesai. Biaya pengobatan ini, aku anggap sebagai bayaran karena aku sudah menolong kekasihmu," ucap Kinara tegas memotong keheningan.

​Tanpa menunggu jawaban atau izin dari Zergan, Kinara langsung melangkah lebar melewati tubuh jangkung pria itu. Ia terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan punggung yang terasa nyeri, mengabaikan panggilan Haura yang baru selesai menelepon. Kinara terus melangkah keluar menuju pintu utama rumah sakit, bertekad untuk pulang ke kosnya dan mengubur dalam-dalam sisa perasaannya malam ini.

1
Winda Oktaviani
gimana sih para pembaca ga konek amat sama cerita nya,,,yg bilang nara bucin lah bodoh lahhh,,itu semua alur takdir kinara woiiiii. .dia balik kemasa dlu untuk merubah takdir nya dan orang sekitar nya,otomatis pusaran takdir itu selalu dikelilingngi oleh orang tersebut,,kalo gak paham sama cerita nya mending baca ulang deh dari awalll. .emg alur ceritanya begini. .gimana sihhh liat komenan orang orang ini. . ampun dahhh😂
est
suka
Ilham Abu Uwais
sejauh ini cerita nya bagus tapi tiba" nama nya jdi berubah.. gimana ini trot
Nyoman Muti
penonton nya mrah" nih thoor🤣
Nyoman Muti
tegang bcny👍
Niken Ns
bukannya msh pd kuliah ya???
est
bodoh thor mau kehidupan ke 2 tetap bodoh klo aku jd dia udah kaya kan move on bikin perusahan hidup bahagia goblok2 kok ada org kaya nara ya
est
wkwkwkwk
est
parah malea jd ma nara lah ikut campur urusan org tambah bohong pulak
Anonim
utk apa marah2..sok teguh prinsip..ujung2nya bom bom kar jg dgn sukarela..ceritanya mo balas dendam..tp sgt mudah ngangkang...🤭
CV.fuadhh
makasihh thorr keren bngtt ceritanya
Anik Setyowati
itu sop,yg niatnya dibawa pulang ke kos ,jaraknya pasti jauh kan Thor,kok rasanya aneh ya,biasanya kan kalo beli yg kuah2 naruhnya di plastik ini kok mangkok nggak habis pikir Lo aku maaf ya thor
Zeylina Alzia A.E.
💪💪
Irma Luthfah
kabur ke luar negeri seperti dulu, maksudnya itu gimanaaaa
evana gusani
baru mampir
King Ruo
goblok betul Zargen ini makas pengawal semua nya di bawa,,, boss amatiran begini sudah,,,
Permata_tanty
tipo
awin's
gak aneh sih... dari tadi kek ke klinik 😑😑
awin's
🤣🤣🤣
Yuli Widiani
biasa kyk adegan film India gitu, yg jatuh dr tangga sampe ber menit menit. wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!