Indonesia
NovelToon NovelToon
Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa pedesaan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.

Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.

Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?

“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AVB 10

Rintik gerimis yang turun perlahan tak menyulutkan semangat penduduk desa untuk berbondong-bondong menuju balai kampung setelah mendengar pengumuman dari speaker masjid lepas adzan subuh tadi, perihal hasil pemeriksaan batang padi. Warga yang didominasi pria itu memenuhi bangku kayu, sebagian berdiri bergerombol di serambi sambil menunggu mantri tani, sedang dalam perjalanan.

Dari kejauhan, mobil Volkswagen kodok tua merangkak pelan, lalu berhenti di pinggir jalan. Maria turun dengan gaya elegan, mengenakan kemeja safari lengan panjang berwarna cream, tangan menjinjing tas serta padi baru diperiksa di laboratorium kota, satu lagi menghalau tetesan air hujan.

Senyum terus merekah, menyapa penduduk yang menatapnya dengan raut bisa diterka, kagum.

Kasak-kusuk pun berganti perhatian tertuju pada aparat mulai keluar dari ruangan, berdiri pada mimbar lebar.

Maria maju lebih dulu, wajah kemerahan sebab terkena dingin air hujan menambah kesan ningrat Eropa, dengan pembawaan sederhana, namun memancarkan wibawa seseorang yang terbiasa bekerja di lapangan.

“Saudara … saudara, sebelumnya saya mohon maaf karena sedikit terlambat datang, hujan teramat deras saat di perjalanan, membuat saya sedikit kesulitan melewati jalanan desa. Tapi demi ketenangan penduduk sekalian, saya abaikan bahaya, bersyukur tak terjadi apa-apa dan saya bisa menemui Anda semua.” Suaranya terdengar lembut dan menenangkan disertai senyum hangat di bibir bergincu merah klasik.

“Saudara-saudara, hasil pemeriksaan di laboratorium telah kami terima. Dari penelitian sampel batang padi yang saya bawa kemarin, tidak ditemukan adanya bahan kimia berlebih pada padi-padi kita, tak juga ada bibit virus ataupun hama. Semua normal, saya dan tim dari dinas terkait akan terus mencari penyebab utamanya karena ini terlihat begitu janggal.” Ia terdiam sejenak, membiarkan kasak-kusuk kembali menggema.

“Lantas apa sebenarnya yang terjadi, Bu Mantri, mosok iya padi mati tak ada penyebabnya?!” Seorang warga memberanikan diri melempar tanya.

“Betul. Jika desa hanya bisa memberi jawaban tak pasti, lalu bagaimana nasib padi kami. Apa benar-benar harus dibiarkan mati?!” Lainnya mulai menimpali, tersulut emosi.

“Paling tidak beri kami solusi ibu mantri!”

“Betul itu!"

“Betul!”

Teriakan sahut menyahut, kegaduhan kembali mencuat.

“Ibu ketua, jangan diam saja. Bagaimana ini nasib kami!”

Seorang warga berteriak ke arah Anne sambil mengacungkan jari.

Anne masih bergeming di tempatnya. Ia paham, saat ini bukan ranahnya berbicara meski seluruh pertanian desa di bawah tanggung jawabnya, memilih menyimak dan membiarkan mantri tani menjelaskan tentang apa yang terjadi.

“Tenang … tenang. Saudara-saudara. Permasalahan ini tak sepenuhnya tanggung jawab ketua kelompok tani kita, kami dari dinas serta aparat desa juga bertanggung jawab. Kami akan terus berusaha mencari tahu akar permasalahan ini, dan mengusahakan yang terbaik demi menutupi kebutuhan pangan sampai musim yang akan datang, seperti yang sudah saya katakan tempo hari.” Maria kembali menengahi.

“Huuuuu! Punya ketua kelompok tani ada masalah, bukannya memberi solusi malah diam saja.”

“Betul. Untuk apa tetap duduk di kursi ketua kalau bisanya hanya bersembunyi di belakang aparat desa serta bu mantri.”

“Betul itu!”

“Harusnya ibu ketua mencontoh Noni Mantri tani, sangat cepat dan tepat mengambil keputusan bukan malah melimpahkan kesalahan pada kami, para kaum bawah,” seorang petani kembali bersuara, memancing suasana riuh para penduduk desa.

Mendengar seruan para warga, Anne maju selangkah dari tempatnya, berdiri tenang sambil menyapu wajah-wajah yang melihat ke arahnya dengan tatapan mencibir.

Gadis ayu berkebaya merah hati dengan renda bunga tanjung itu tersenyum tipis, suaranya terdengar penuh kendali.

“Kalian mengatakan aku tak melakukan apa-apa setelah berjuang menyelamatkan berhektar-hektar sawah kalian dengan cara pengairan. Menuduh aku bersembunyi di belakang para perangkat desa sedang akulah yang berada di persawahan hingga malam sampai pagi menjelang. Apa mata kalian sudah benar-benar di butakan oleh kebencian hingga tak bisa melihat perjuanganku dan para kamituwo desa!”

“Lantas jika memang Anda sudah berjuang mana hasilnya? Sawah kami masih tetap mati, tak ada harapan panenan!” Sugi petani yang sawahnya kemarin sempat terdampak maju ke depan, menatap nyalang Anne beserta aparat desa lainnya.

“Kang, kowe mabok tuak? Genah-genah baru kemarin kami kerjakan masalah ini, kowe minta langsung ada bukti, kok pikir kami poro kamituwo iki sulapan?” Dasim turut ambil suara, tak tahan melihat ndoro kecilnya terus di sudutkan.

“Intinya kami hanya ingin tau penyebab sawah kami mengalami gagal panen. Itu saja!” Sugi masih tak mau kalah, sengaja menyenggol lengan temannya agar ikut bersuara.

“Iyo betul kui. Paling tidak kami tak lagi berharap jika benar-benar tak ada panenan tahun ini.”

“Betul!”

“Betul!”

“Saudara-saudara kami tak mengatakan tak ada panenan. Tolong pengertiannya, kami hanya belum menemukan apa penyebab pasti padi-padi itu menguning dan mati.” Maria kembali berusaha menjelaskan.

Sementara itu di belakang, dengung percakapan mengisi barisan ibu-ibu.

Wanita paruh baya dengan kerudung masih menutupi setengah wajahnya, berbisik ke salah satu ibu muda di sebelahnya. “Rasanya kok aneh, ya. Padi-padi mati tanpa penyebab, atau jangan-jangan ini tulah, malapetaka akibat perbuatan salah satu warga desa ini.”

“Maksude opo, Mbokde?” balas si wanita muda tengah sibuk menyusui anaknya, dia istri Rusli, Rodiyah namanya.

“Kita ndak pernah tau ada kesalahan besar apa yang di tinggalkan pendahulu kita, bisa jadi saat ini penduduk desa sedang menerima balak sebagai penebusan dosa masa lalu,” jelas si wanita, sengaja merapatkan kerudung yang menutupi kepalanya. “Wes kita tunggu saja bagaimana para kamituwo menyikapi, kalaupun benar ini adalah tulah, maka penduduk harus mencari sumbernya dan menyingkirkan dia sejauh mungkin dari desa.”

Alis Rodiyah mengerut dalam, pikiran menerka-nerka arah ucapan orang di sebelahnya. “Sek, Mbokde, maksude sampean iki azab seko Gusti Pengeran?” (Sebentar, Bude, maksudnya sampean ini azab dari Gusti Allah)

“Bisa jadi. Tapi amit–amit, kalau bisa jangan sampai, karena kalau benar ini balak dari Gusti Allah, maka tidak akan ada lagi kemakmuran di desa ini sampai si pembawa balak diusir dan desa mengadakan ruwatan,” imbuh wanita berkerudung panjang seraya beranjak dari duduknya, meninggalkan barisan ibu-ibu yang masih menyimak penjelasan para petinggi desa.

Wanita sedikit gemuk itu menyempatkan diri menoleh ke mimbar lebar, menatap lekat wajah Anne sembari menyeringai sinis.

‘Sebentar lagi kekuasaanmu akan runtuh bersama kesombonganmu, dan kowe juga ibumu akan berlutut memohon ampunanku.’

Rodiyah manggut-manggut, bibir berkedut, sudut mata memicing berusaha menggali ingatan lama. “Opo jangan-jangan iki balak karena dulu desa ini pernah menampung gund—”

Ia menoleh ke kanan-kiri mencari sosok wanita yang baru saja bicara dengannya, namun sudah berpindah entah kemana berganti lelaki tua beraroma minyak urut dengan udeng di kepala.

“Nangdi minggat e mbokde mau,” gumamnya sambil menggaruk kepala.

(kemana perhinya bude tadi)

Ia kembali mendongak, fokus pada deretan pria masih berdebat sengit dengan para aparat desa. Mulut terus komat-kamit meyakini hal yang terlintas pertama kali dipikirannya. Wanita tak pernah berpikir saat berbicara itu tiba-tiba berdiri dari duduknya, membenarkan sejenak tali gendongan yang melilit bayi tertidur pulas lalu berteriak, menarik perhatian seluruh penduduk desa.

“Saudara-saudara, Jangan-jangan iki tulah, balak karena desa ini pernah menampung gundik!”

Bersambung

1
Linceu thea
semangat thor😍😍😍
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
rama Rasyidin
seperti hal nya mentari y terjada mendung
tak mengapa menunggu siang hari
ndoro y baik hati tak usah murung
kami siap menunggu hingga ndoro cerah lagi...

semangat💪...
rama Rasyidin: semoga sang hyang cipta memudahkan segala nya untuk kita
total 2 replies
Ratih Tupperware Denpasar
asyek akhirnya anggono tahu kebusukan bunenya
Anna: tapi akhir ee Argono menyesal🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
untung masih ada kewarasan pikiran mu argono
jati diri palsu yg di gaungkan Marni
musnah ,mencederai argono
tak punya muka untuk berdebat dgn anne
Anna: lebih ke takut gk bisa move on sih 😭
total 1 replies
Andira
👍🙂
Muhammad Arifin
AQ jengkel ambek Kasman...
kenapa sih kak Kasman belum dapat hukuman😒😒😒
Anna: Karena tujuan Kasman belum tercapai. 🔥
total 1 replies
rama Rasyidin
sehat ndoro?
semoga d mudahkan segala urusan nya
maturnuwun wis update🙏
rama Rasyidin: alhamdulillah.... semangat trus ya ndoro
total 2 replies
Andira
🙂
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
knp bisa bgtu
blm tentu yang menyebut sampah
bisa berkarya seperti ini
alur dan penempatan kalimat
juga harus nyaman di cerna
mungkin kalimatt kasar yang terbaca
blm masuk di kamus pembaca yang baik dan Budiman
klo sy yaa , ikutt aaja
mau bahasa aluss apa bahasa bajingg
pun tak baca
Ndak suka ya skip aja to,
Anna: Kak, tolong jangan salah paham. Saya pribadi yang merasa karya ini sampah sebab nggak ada nilainya. bayangkan pembaca saya yang sebaik kakak dan lainnya nggak kedeksi sistem. Jujur sedih banget🙏
total 1 replies
Cen
karya anda bagus, kenapa dibilang sampah!!!! 💪💪tetap semangat berkarya ya /Heart//Heart//Heart/
Anna: Kak, tolong jangan salah paham. Saya pribadi yang merasa karya ini sampah sebab nggak ada nilainya. bayangkan pembaca saya yang sebaik kakak dan lainnya nggak kedeksi sistem. Jujur sedih banget🙏
total 1 replies
rama Rasyidin
sakit hati itu manusiawi ndoro.. y membedakan adalah hati y murni, y mengubah cacian jadi lecutan menjadi lebih baik, mengubah pujian menjadi penting untuk menjaga diri, dan setelah membaca karya ndoro sy yakin ndoro adalah salah satu org y memiliki hati y murni,biarlah waktu y mengembalikan rasa sakit pada tuanya... cukup lah ndoro menunggu dg ke anggunan rasa... titeni ndoro
rama Rasyidin: nangis se puasnya.... tp setelah bangkit lagi... ingat pepatah ken Arok... gula manis gula Jawa... raden Ayu boleh nangis tp jgn lupa ketawa🤭
total 2 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semangat kak, ceritanya bagus kok.. saya suka. abaikan orang2 yg nyinyir. nyinyir thi tanda tak mampu
Ratih Tupperware Denpasar: sistem NT ini yg bikin author pelan2 pergi kerumah lain. sering kuperhatikan karya bagis retensinya jelek trus author menghapus karyanya disini dan pindah rumah dimuat dirumah baru
total 3 replies
Muhammad Arifin
sabar...yg semangat kak...JD kan cambuk untuk JD lebih baik lagi.bagus kok ceritanya...
Anna: Makasih, Kak. Sedih banget pembaca sebaik ini tapi sama sistem ke deteksi 😭😭
total 3 replies
Lylia Yuu
Bune ... akhirnya muncul juga, ayo bantu selamatkan putrimu buneee 😭😭
rama Rasyidin
akhirnya.....bab y sangat melegakan hati.Terima kasih ndoro🙏
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
wlaahdalahh rooodiyah
jebule apem mu
di.icipp.banyak lananganan
Anna: cuma tetangga belakang rumah sama ....🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
rusli meriang ketemu wewe ,
nyebur sawah
🤣🤣
Anna: wewe bukan sembarang wewe 😆😆😆
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
walahh ,hans telat drama mu ...
ngunu langsung sahh yooo
ng balai desa 🤣
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
aahh , yg benerr saja kau Marni
gundik bekasan bnyak orang
masih ngeyell mau rebut harta kartijo
sull aja ke liang kubur sana
Anna: belum waktunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!