Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10. cincin yang tersembunyi di balik lengan bajuku

Sejak hari kesepakatan itu terjalin, langkah kakiku melangkah dengan beban yang tak tampak namun terasa begitu berat di pundak. Setiap pagi saat bersiap menuju kampus, ada satu hal yang selalu menjadi ritual sebelum melangkah keluar kamar. Hal kecil namun penuh makna, sekaligus menjadi pengingat senyap atas ikatan yang harus kusembunyikan dari seluruh dunia.

Di atas meja rias kamarku, tersimpan sebuah cincin sederhana namun terlihat begitu indah dan kokoh. Terbuat dari perak berkilau lembut, dihiasi sebutir permata kecil yang berkelap-kelip seakan menahan cahaya di dalamnya. Itulah cincin pertunangan kami. Hadiah pemberian keluarga Arga, tanda pengikat janji yang telah resmi terucap di hadapan para saksi. Sebuah ikatan yang mengikat hidup dan nasib kami berdua, namun sayangnya... harus tetap tersimpan rapi dalam kerahasiaan selama kami masih berada di lingkungan kampus.

Setiap kali aku hendak memakainya, jariku terasa ragu sejenak sebelum akhirnya menyelipkannya perlahan ke jari manisku. Cincin itu terasa begitu pas, hangat, dan seakan menyatu dengan kulitku sendiri. Namun begitu ia terpasang sempurna, tanganku segera bergerak menarik turun lengan baju seragamku, menutupi jari manis itu hingga tak terlihat sedikit pun. Cincin itu tersembunyi rapat di balik kain yang menutupinya, tak akan terlihat oleh siapa pun yang memandang, sekalipun mereka berdiri sangat dekat.

Namun meski tertutup rapat, keberadaannya tetap terasa nyata. Setiap kali tanganku bergerak menulis di atas kertas, setiap kali aku mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan di kelas, atau sekadar saat melipat tangan di pangkuan demi menahan gugup... aku selalu dapat merasakan adanya benda kecil yang menekan lembut kulit jariku. Sebuah tekanan halus namun terasa begitu nyata, seakan menjadi pengingat senyap bahwa tak sepenuhnya aku sendirian di sini. Bahwa ada ikatan rahasia yang menyatukan kami berdua, meski tak seorang pun tahu. Bahwa di balik sikap tenang dan wajah dinginnya di depan kelas, ia terikat padaku, sebagaimana aku terikat padanya melalui cincin kecil ini.

Kadang kala, saat Arga sedang berdiri menjelaskan materi di depan kelas, mataku tanpa sengaja akan jatuh pada jari manisnya. Di sana pun terpasang cincin yang serupa, sama persis dengan milikku. Namun begitu pula dengannya—selalu tertutup rapat oleh lengan kemeja putihnya yang rapi, tersembunyi di balik lipatan lengan jasnya yang berwibawa. Hanya sesekali saat ia melambaikan tangan atau menunjuk sesuatu di papan tulis, kain lengan itu sedikit terselip ke atas, memperlihatkan sekilas kilau perak yang sejenak menyapa pandanganku sebelum kembali tertutup rapat. Saat itulah hatiku akan bergetar halus. Bukan hanya aku yang menyembunyikannya. Ia pun melakukan hal yang sama persis. Di balik sikap tenangnya, ia pun menyimpan ikatan yang sama, tersembunyi dari pandangan siapa pun.

Suatu siang, saat jam istirahat tiba dan Rina sedang asyik bercerita di sebelahku, aku tak sengaja mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk merapikan rambutku. Lengan bajuku ikut ikut terselip sedikit ke atas. Seketika itu jantungku hampir meledak. Terlihat ujung cincin itu sedikit menyembul keluar, memantulkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Dengan sigap dan jantung berpacu kencang, aku segera menurunkan tangan dan menarik kembali lengan bajuku hingga menutupinya sempurna. Aku menoleh ke samping dengan napas tertahan. Rina tak menyadari apa pun. Ia masih tertawa riang seakan tak melihat apa-apa. Namun tanganku yang menyentuh cincin itu di balik kain terasa dingin dan berkeringat dingin. Betapa berbahayanya. Sedikit saja lengah, rahasia besar itu bisa terbongkar. Sejak hari itu, aku semakin berhati-hati. Tak boleh sekilas pun ia terlihat. Cincin itu harus tetap tersembunyi, seakan tak pernah ada.

Di dalam hatiku, benda kecil itu menyimpan ribuan makna. Ia adalah bukti nyata dari janji yang terucap. Ia adalah pengingat bahwa di hadapan siapa pun aku harus bersikap tenang dan menjaga jarak, namun di dalam hati ada ikatan yang tak boleh kulupakan. Ia adalah tanda bahwa pria yang berdiri tegak di depan sana, yang bersikap dingin dan tak memihak kepada siapa pun, adalah pria yang kelak akan menjadi pelindung hidupku. Bahwa di balik kesunyian dan kerahasiaan ini, ada sesuatu yang menyatukan kami berdua melalui benda kecil yang sama—cincin yang tersembunyi rapat di balik lengan bajuku, dan juga di balik lengan bajunya.

Setiap kali pulang ke rumah dan sendirian di kamar, barulah aku berani melipat lengan bajuku ke atas, menatap cincin itu lekat-lekat di bawah cahaya lampu kamar. Menyentuh permukaannya perlahan dengan ujung jari lain, merasakan kehangatan yang seakan masih tersisa. Di saat itulah aku merasa dekat dengannya. Meski tak bertemu, meski tak bersuara, kami berdua memakainya pada jari yang sama, menyembunyikannya dengan cara yang sama, menanggung kerahasiaan yang sama pula. Dan itulah yang menjadi kekuatan bagiku untuk melangkah kembali keesokan harinya—menyembunyikan ikatan kami di balik lengan bajuku, membiarkannya menyembunyikan ikatan kami di balik lengan bajunya, dan membiarkan hati kami berdua saling mengerti tanpa perlu saling berucap sepatah kata pun.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!