Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Cukup
Ada teori yang pernah aku baca di suatu forum diskusi anime, salah satu thread panjang yang jenis jenisnya cuma muncul di jam tiga pagi waktu semua orang yang ikut diskusi udah terlalu ngantuk buat nyaring pikiran mereka, yang bilang bahwa bagian paling berbahaya dari sebuah cerita bukan bagian yang paling dramatis.
Bukan arc konflik. Bukan episode kehilangan. Bukan momen pengakuan yang udah ditunggu dua puluh episode.
Bagian paling berbahaya adalah arc yang tenang. Yang nyaman. Yang kerasa kayak kehidupan berjalan tepat sebagaimana mestinya, dan semua variabel udah ada di posisi yang bener, dan enggak ada yang perlu dikhawatirin karena semuanya baik baik aja.
Karena itu yang biasanya datang tepat sebelum segalanya berubah.
Aku baca thread itu sekitar dua tahun lalu dan waktu itu nganggepnya sebagai analisis naratif yang cukup menarik tapi enggak terlalu relevan sama kehidupan nyata, mengingat kehidupan nyata enggak ditulis sama seseorang yang udah rencanain plot dari jauh.
Sekarang, duduk di lantai kamarku pada malam di penghujung minggu ketiga September, minggu terakhir PKKMB, beberapa hari sebelum kuliah resmi dimulai, aku enggak lagi yakin sama kesimpulan itu.
Malam ini enggak ada yang istimewa.
Itu justru yang bikin kerasa kayak sesuatu.
Laptop kebuka di depanku nampilin episode ketiga belas dari serial yang udah aku tonton ulang buat ketiga kalinya, bukan karena aku enggak punya tontonan baru, tapi karena ada kenyamanan tertentu dalam nonton sesuatu yang udah kamu hafal, di mana kamu tau persis apa yang bakal kejadian di tiap scene dan bisa nikmatinnya bukan sebagai informasi baru melainkan sebagai ritual. Di sebelah laptop, ada gelas teh yang udah setengah dingin, dua bungkus snack yang salah satunya udah kosong, dan hape yang nyala sesekali dengan notifikasi dari grup PKKMB yang masih cukup aktif walau acaranya hampir selesai.
Aku enggak baca notifikasi notifikasi itu secara individual. Cukup tau bahwa ada, dan bahwa isinya kemungkinan besar foto foto dari hari terakhir kegiatan tadi dan beberapa orang yang udah mulai nanya soal jadwal minggu depan.
Kehidupan sosial di era smartphone punya karakteristik unik di mana kamu bisa secara teknis terlibat dalam obrolan kelompok tanpa bener bener terlibat, dan aku udah cukup mahir dalam seni ini.
Hapeku nyala lagi. Kali ini bukan notifikasi grup.
Pesan dari Cahaya.
"Kamu nonton apa?"
Aku lirik layar laptop. "Re:Zero season dua."
"Lagi? Ini keberapa kalinya?"
"Ketiga."
"...kenapa?"
Aku mikir sebentar sebelum ngetik. "Ada hal hal yang lebih masuk akal ditonton buat ketiga kalinya daripada pertama kalinya."
Tiga titik muncul cukup lama.
"Itu kalimat yang kedengeran filosofis tapi sebenernya kamu cuma males nyari tontonan baru."
"Kedua hal itu enggak saling mengecualikan."
"Wibu."
"Terima kasih."
"Itu masih bukan pujian."
"Aku tau."
Satu stiker masuk, karakter yang sama dengan yang dia kirim di malam pertama itu, kucing cemberut dengan pipi merah, tapi kali ini dengan tambahan bintang kecil di sudut frame yang artinya, berdasarkan sistem interpretasi yang kami kembangin secara organik selama beberapa minggu terakhir, kurang lebih adalah: aku lagi iseng dan enggak ada yang lebih penting buat dilakuin malam ini.
Aku naruh hape, balik ke layar laptop. Di episode tiga belas, ada scene yang udah aku hafal tiap framenya, scene di mana karakter utama akhirnya mahamin sesuatu yang harusnya dia sadari jauh lebih awal, dan respons emosionalnya terhadap kesadaran yang telat itu adalah salah satu penulisan karakter yang paling jujur yang pernah aku temuin dalam medium ini.
Aku nonton sampe selesai tanpa nekan pause.
Tiga minggu.
Kalau aku harus ndeskripsiin tiga minggu terakhir dalam satu kata, aku mungkin bakal milih kata yang enggak terlalu dramatis: normal. Atau mungkin lebih tepatnya: seperti yang seharusnya.
PKKMB selesai besok lusa dengan satu acara penutup yang menurut jadwal bakal berlangsung setengah hari dan menurut pengalaman tiga minggu terakhir bakal berlangsung satu jam lebih lama dari yang dijadwalin. Aku udah nyiapin dua chapter manga buat antisipasi.
Dalam tiga minggu ini, beberapa hal udah netap jadi rutinitas dengan cara yang enggak pernah direncanain tapi kerasa sangat natural setelah kejadian.
Pertama: aku dan Cahaya berangkat bareng tiap pagi dari persimpangan gang kami, jam enam empat puluh lima, tanpa perlu konfirmasi karena udah jadi hal yang diasumsiin kejadian kecuali salah satu ngirim pesan sebaliknya. Selama tiga minggu itu, enggak pernah ada pesan sebaliknya dari pihak manapun.
Kedua: makan siang kami lebih sering berdua atau bertiga sama Sasa daripada dalam kelompok besar, di kantin sayap kanan yang meja pojoknya paling jauh dari area keramaian dan cukup sunyi buat aku bisa makan tanpa ngerasa perlu secara aktif terlibat dalam obrolan di atas delapan topik per menit.
Ketiga: Cahaya, yang secara teknis punya lebih banyak temen baru dan lebih aktif secara sosial, selalu, tanpa gagal, ngirim satu pesan ke aku di antara jam delapan dan sembilan malam, isinya sesuatu yang enggak terlalu penting secara substansial tapi kehadirannya udah jadi semacam penanda bahwa hari belum bener bener selesai sebelum ada pesan itu.
Aku enggak pernah komentarin pola ini. Cahaya juga enggak. Itu cuma kejadian, kayak banyak hal lain di antara kami yang cuma kejadian tanpa pernah dibicarain.
"Menurutmu nama yang paling absurd di angkatan kita apa?"
Sasa ngajuin pertanyaan ini sambil nusuk nusuk es batu di gelasnya pake sedotan, pada hari Rabu minggu ketiga, di meja pojok kantin sayap kanan yang udah jadi semacam markas enggak resmi kami bertiga.
Cahaya, yang lagi buka kotak makan siangnya, langsung dongak dengan ekspresi tertarik. "Definisi 'absurd' itu gimana?"
"Yang bikin kamu mikir dua kali waktu pertama denger."
"Hmm." Cahaya mikir. "Ada yang namanya Bintang Kejora di angkatan Komunikasi. Itu nama lengkap."
Sasa naruh sedotan. "Serius?"
"Serius. Panggilan sehari harinya Bintang. Tapi nama lengkapnya Bintang Kejora Nusantara."
"Nusantara juga?"
"Orang tuanya sangat patriotis rupanya."
Aku angkat pandangan dari buku yang udah sepuluh menit aku pegang tanpa bener bener baca. "Ada yang lebih menarik."
Keduanya noleh ke arahku.
"Ada yang namanya Firmansyah," kataku. "Tapi dipanggil Firman. Bukan angkatan kita, mahasiswa tingkat tiga."
"Lah, itu nama biasa," kata Sasa.
"Nama belakangnya Prasetyo Adiguna Wibisono."
Sasa diem sebentar. "Oke itu emang lumayan panjang."
"Tujuh suku kata buat nama belakang aja."
"Darimana kamu tau nama orang itu?" tanya Cahaya. Nada suaranya netral, sekadar pertanyaan, enggak ada muatan lain di dalamnya.
"Bimo nyebutin namanya kemarin. Katanya senior itu cukup dikenal di kampus." Aku balik ke buku. "Ketua salah satu UKM besar atau sesuatu kayak gitu. Aku enggak terlalu merhatiin detailnya."
"Oh." Cahaya balik ke kotak makan siangnya. "Belum pernah ketemu orangnya."
"Angkatan tiga, wajar kalau belum kenal," kata Sasa, yang udah balik nusuk nusuk es batunya. "Oke tapi balik ke pertanyaan awal, nama paling absurd. Aku tetep vote Bintang Kejora Nusantara."
Obrolan lanjut ke arah yang sama sekali beda, dan nama Firmansyah Prasetyo Adiguna Wibisono enggak muncul lagi buat sisa makan siang itu.
Aku juga enggak mikirinnya lagi setelahnya.
Yang paling sering aku pikirin dalam tiga minggu ini, dalam konteks "hal yang enggak pernah aku antisipasi bakal aku pikirin", adalah betapa bedanya kampus dari yang aku bayangin dan betapa enggak bedanya dia dari yang aku takutin.
Aku enggak takut sama hal hal besar. Bukan takut enggak bisa ngikutin materi kuliah, karena materi bisa dipelajarin dan aku punya cukup pengalaman belajar mandiri dari tahun tahun baca berbagai hal yang enggak selalu relevan sama kurikulum sekolah. Bukan takut sama beban akademis, karena tekanan itu variabel yang bisa diukur dan direspons.
Yang aku takutin adalah hal yang lebih kecil dan karena itu lebih susah buat dipersiapin.
Takut bahwa dinamika yang udah aku dan Cahaya punya selama belasan tahun enggak akan bisa berfungsi di konteks yang baru. Bahwa ada sesuatu dalam perpindahan dari SMA ke kampus yang secara alami bakal geser keseimbangan, bahwa Cahaya yang cepet beradaptasi, yang langsung punya temen temen baru dan kehidupan sosial yang lebih luas, bakal secara organik gerak menuju lingkaran yang enggak ada ruangnya buat aku di situ.
Itu ketakutan yang enggak pernah aku ucapin ke siapapun, termasuk ke Cahaya. Sebagian karena ngucapinnya kerasa terlalu... gede buat topik yang mungkin cuma ada di kepalaku sendiri. Sebagian lagi karena aku enggak yakin ada kata kata yang tepat buat ngekspresiinnya tanpa kedengeran kayak aku nuntut sesuatu yang enggak semestinya aku tuntut.
Tapi tiga minggu berlalu, dan ketakutan itu enggak terwujud dengan cara yang aku bayangin.
Cahaya emang punya lebih banyak temen sekarang, nama nama baru yang dia sebut dengan natural dalam obrolan kami, orang orang yang aku liat ngobrol sama dia di lorong atau di kantin tapi enggak selalu aku kenali secara personal. Dunia sosialnya lebih luas dari duniaku, itu udah jelas sejak hari pertama dan enggak berubah.
Tapi meja pojok itu tetep meja kami. Persimpangan jam enam empat puluh lima itu tetep titik temu kami. Pesan antara jam delapan dan sembilan itu tetep kejadian tiap malam.
Semuanya tetep ada.
Dan ada sesuatu di kenyataan itu yang kerasa lebih melegakan dari yang seharusnya, lebih dari sekadar "bagus, enggak ada yang berubah". Lebih dari itu, walau aku belum bisa ndeskripsiin lebih baik dari itu.
Laptop udah aku tutup jam sepuluh malam waktu pesan berikutnya dari Cahaya masuk.
"Eh Ren. Besok ada yang mau aku tunjukin. Ketemu di kantin pagi ya sebelum acara mulai."
Aku ketik balik. "Apa yang mau ditunjukin?"
"Nanti tau sendiri."
"Itu bukan jawaban."
"Emang."
"Cahaya."
"Rendy."
"Kamu enggak akan ngasih tau aku sekarang?"
"Enggak."
"Kenapa?"
"Karena kalau aku kasih tau sekarang kamu bakal overthink dan tidurnya telat."
Aku natap layar hape selama beberapa detik.
Itu... bukan alasan yang bisa aku bantah dengan gampang, mengingat akurasi historisnya cukup tinggi.
"Oke."
"Bagus. Tidur yang bener ya."
"Kamu juga."
Tiga titik muncul. Ilang. Muncul lagi. Terus:
"Ren."
"Hm?"
"Tiga minggu ini menyenangkan ya."
Aku baca kalimat itu dua kali. Terus satu kali lagi, mastiin aku bacanya dengan bener dan enggak ngelewatin nuansa apapun.
Tiga minggu ini menyenangkan ya.
Cara Cahaya ngomonginnya, bukan sebagai pertanyaan, bukan minta konfirmasi, tapi sebagai pernyataan yang dia lempar ke ruang antara kami berdua dan biarin di situ tanpa tuntutan buat direspons dengan cara tertentu, adalah sesuatu yang udah sangat aku kenal. Ini cara Cahaya ngomong hal hal yang buat dia cukup penting buat diucapin tapi enggak cukup penting buat dibuat gede.
Aku ketik: "Iya."
Terus, setelah nimbang nimbang beberapa detik, nambahin: "Cukup menyenangkan buat ukuran tiga minggu pertama kuliah yang seharusnya stressful."
"Wibu. Bahkan dalam nyetujuin sesuatu kamu harus nambahin disclaimer."
"Itu bukan disclaimer. Itu kontekstualisasi."
"Istilah lain dari disclaimer."
"Enggak..."
"Tidur, Ren."
"Masih jam sepuluh."
"Dan kamu tipe yang kalau udah mulai debat bisa jalan sampe jam dua belas. Tidur."
Aku enggak bales itu. Karena, lagi lagi, akurasi historisnya enggak bisa dibantah.
Aku naruh hape, rebahin diri di kasur, natap langit langit yang gelap dengan satu lampu meja yang masih nyala di sudut kamar.
Tiga minggu ini menyenangkan ya.
Pernyataan yang, dalam kepalaku, berputar dengan cara yang enggak proporsional sama kesederhanaannya.
Aku enggak bisa langsung tidur.
Ini bukan hal yang enggak biasa, aku emang cenderung butuh waktu lebih lama buat pindah dari mode aktif ke mode istirahat dibanding rata rata orang, dan biasanya aku ngisi jeda itu dengan baca atau dengerin musik atau lanjutin episode yang tertunda. Tapi malam itu aku enggak ngelakuin apapun dari itu. Cuma rebahan, natap titik titik samar di langit langit kamarku, biarin pikiran gerak ke arahnya sendiri.
Yang muncul, dengan cara yang enggak terlalu aku undang, adalah semacam inventarisasi.
Tiga minggu.
Berangkat bareng dari persimpangan tiap pagi. Makan siang di meja pojok. Sasa yang komentar komentarnya udah mulai kerasa kayak bagian dari ritme makan siang yang enggak bisa dihilangin gitu aja. Bimo yang nomor kontaknya akhirnya aku minta di hari keempat belas dengan cara yang enggak terlalu canggung berkat satu momen nunggu hujan di koridor gedung yang sama yang bikin obrolan kejadian tanpa perlu direncanain.
Kelompok PKKMB yang udah punya dinamikanya sendiri. Dua orang di kelompok dua belas yang ternyata juga Informatika dan udah mulai ngomongin jadwal kuliah minggu depan dengan antusias yang aku ikutin dengan ngangguk di waktu yang tepat. Kantin yang udah aku hafal menu hariannya dan hari hari di mana laukmya lebih baik dari biasanya.
Hal hal kecil. Tapi kecil dalam cara yang akumulatif, kecil kecil yang numpuk jadi sesuatu yang kerasa lebih gede dari jumlah bagian bagiannya.
Dan di tengah semua itu, benang merah yang sama yang udah ada sejak TK: Cahaya, yang kehadirannya dalam konteks baru ini kerasa persis kayak kehadirannya dalam semua konteks sebelumnya, sesuatu yang udah terlalu ada buat dipertanyain.
Aku telusurin tiga minggu itu kayak nelusurin peta yang udah dikenal baik. Tiap landmark, tiap persimpangan, tiap titik yang dari sudut pandang cerita mungkin bakal disebut sebagai "momen penting" oleh seseorang yang udah tau apa yang bakal kejadian setelahnya.
Tapi dari dalam, dari posisiku yang enggak punya akses ke narasi yang lebih besar, semuanya cuma kerasa kayak: ini kehidupan. Ini kehidupan yang berjalan sebagaimana mestinya, dan enggak ada yang perlu dikhawatirin karena semuanya baik baik aja.
Itulah masalahnya, mungkin.
Atau bukan masalah, bukan kata yang tepat. Lebih kayak: itulah tepatnya.
Jam sebelas malam, aku nyerah sama upaya tidur dan ambil hape lagi, bukan buat buka chat sama Cahaya, karena dia mungkin udah tidur dan ganggu seseorang yang udah berusaha tidur adalah jenis hal yang aku enggak mau lakuin. Aku buka forum diskusi yang biasa aku kunjungin, nelusurin thread thread baru, setengah baca, setengah cuma ngelewatin waktu dengan aktivitas yang enggak butuh pemikiran aktif.
Di suatu thread soal karakter karakter yang bikin penonton frustrasi karena enggak peka terhadap perasaan orang lain, ada satu komentar yang bikin aku berhenti lebih lama dari komentar komentar lain:
"Hal yang paling menyedihkan dari tipe karakter ini bukan bahwa mereka jahat atau enggak peduli. Justru sebaliknya, mereka sangat peduli, tapi dalam mode yang salah. Mereka sangat fokus pada mempertahankan apa yang udah ada sampe enggak punya bandwidth buat merhatiin apa yang sebenernya lagi berubah di depan mereka."
Aku baca komentar itu tiga kali.
Terus naruh hape, natap langit langit lagi.
Ada sesuatu di komentar itu yang, kalau aku jujur sama diriku sendiri, jenis kejujuran yang lebih gampang dilakuin jam sebelas malam sendirian daripada di waktu dan tempat lain, kerasa kayak ngenain sesuatu. Kayak meraba raba dalam gelap dan jari jari nyentuh tepi sesuatu yang bentuknya belum bisa diidentifikasi.
Tapi aku enggak tau bentuk apa yang lagi aku sentuh. Dan karena aku enggak tau, aku enggak tau harus ngelakuin apa dengan perasaan itu selain naruhnya di suatu tempat di kepala dan lanjutin.
Yang kemudian aku lakuin.
Besok pagi ada acara penutup PKKMB.
Minggu depan, kuliah resmi dimulai.
Dunia yang sekarang kerasa cukup gede, kampus ini, meja pojok kantin, persimpangan jam enam empat puluh lima, bakal segera dapet dimensi baru dalam bentuk jadwal mata kuliah, tugas pertama, dosen dosen yang belum punya wajah selain nama nama di atas kertas jadwal.
Variabel variabel baru bakal masuk. Rutinitas yang sekarang udah kerasa solid bakal harus nyesuaiin diri sama tekanan dan tuntutan baru. Dan semua orang di kampus ini, termasuk aku, termasuk Cahaya, termasuk Sasa dan Bimo dan dua puluh dua orang lain di kelompok dua belas dan ratusan mahasiswa baru lainnya, bakal mulai nemuin versi kehidupan kampus mereka yang sesungguhnya, yang bukan lagi PKKMB dengan agenda terstruktur tapi kehidupan nyata yang enggak ada panitia berseragam birunya.
Aku seharusnya mikirin hal hal itu. Secara logis, itu hal yang lebih relevan buat dipikirin menjelang tidur di malam penghujung PKKMB.
Tapi yang aku pikirin justru lebih kecil dari itu.
Aku mikirin besok pagi. Persimpangan jam enam empat puluh lima. Dan sesuatu yang mau Cahaya tunjukin yang dia simpen sebagai kejutan karena, kata katanya sendiri, kalau aku tau sekarang aku bakal overthink.
Dia enggak salah soal itu.
Tapi ada bedanya antara overthink dengan cara yang enggak produktif dan sekadar... penasaran. Dengan cara yang ringan. Yang enggak butuh resolusi segera karena besok pagi bakal ngasihnya.
Aku tutup mata.
Di luar jendela kamarku, suara kampung malam, kendaraan yang makin jarang, seseorang yang masih nonton TV di rumah seberang, jangkrik yang konsisten tanpa mikirin waktu, ngebentuk semacam latar yang udah begitu familiar sampe enggak lagi kedengeran sebagai suara terpisah tapi cuma sebagai tekstur dari malam itu sendiri.
Tiga minggu ini menyenangkan.
Kalimat yang sederhana. Pernyataan yang, kalau diuji secara objektif, akurat. Enggak lebih dari itu, enggak kurang.
Dan sementara aku berusaha enggak mikirin kenapa kalimat sesederhana itu masih berkeliaran di kepalaku waktu mata udah ditutup, pikiran pikiran itu pelan pelan menipis, terurai, digantiin sama ketenangan yang datang pelan waktu tubuh udah terlalu cape buat lanjutin apapun lebih jauh dari ini.
Aku tertidur tanpa nyadar kapan persisnya itu kejadian.
Yang terakhir aku inget, sebelum semuanya gelap dengan cara yang lembut: besok pagi, persimpangan, enam empat puluh lima.
Dan sesuatu soal cara hidup yang kerasa cukup, enggak berlebihan, enggak kurang, cuma cukup, yang seharusnya merupakan hal paling enggak dramatis di dunia ini tapi entah kenapa kerasa kayak hal yang paling penting buat dijaga.
Enggak kepikiran olehku, di ambang tidur itu, bahwa ada hal hal yang kita jaga justru dengan cara yang paling efektif ngancem mereka: dengan pura pura mereka enggak perlu dijaga. Dengan biarin mereka berjalan di bawah asumsi bahwa mereka bakal selalu ada, tanpa pernah bener bener natap ke arah mereka dan nanya apa mereka baik baik aja.
Atau nanya ke diri sendiri: apa kamu udah natap mereka dengan bener?
Tapi itu pikiran buat versi aku yang lain, di waktu yang lain.
Malam ini, dunia yang ada kerasa cukup.
Dan buat malam ini, itu udah lebih dari cukup.