Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Ketika Takdir Mengambil Alih
Mobil yang membawa Jayadi, Cepi, dan Caca melaju meninggalkan tempat pernikahan.
Beberapa saat suasana di dalam mobil cukup tenang sampai Cepi tiba-tiba mendengus. "Dasar pelit."
Jayadi yang duduk di kursi depan sebelah pengemudi menoleh. "Siapa yang pelit?"
"Ayah pikir aja sendiri," sahut Cepi dengan nada kesal.
Jayadi masih belum mengerti siapa yang dimaksud istrinya hingga suara wanita itu kembali terdengar.
"Masa melamar anak orang cuma bawa pakaian, sepatu, sama perhiasan buat nikah." Cepi melipat tangan di dada. "Seloyang bolu pun gak ada."
Jayadi menghela napas. "Bu, gaun, sepatu, dan satu set perhiasan yang diberikan itu bukan barang murah."
"Ya tetap saja." Cepi masih merasa kurang. "Kalau memang keluarga kaya, masa ngasihnya cuma begitu?"
Jayadi menoleh sekilas ke belakang. "Sudahlah. Jangan banyak menuntut."
Caca yang duduk di samping ibunya ikut menyahut. "Tapi yang Ibu bilang ada benarnya, Yah. Setidaknya bisa kasih sesuatu buat keluarga pengantin."
Jayadi hendak menjawab, tetapi suara lain lebih dahulu terdengar.
"Maaf kalau saya lancang."
Semua orang langsung diam.
Sopir yang sejak tadi fokus menyetir akhirnya berbicara. "Tapi setahu saya, toko dan rumah yang sekarang kalian tinggali merupakan peninggalan keluarga mendiang istri pertama Pak Jayadi."
Cepi mengerutkan dahi.
Sopir melanjutkan dengan nada tetap tenang. "Termasuk biaya kuliah Nona Aynara. Selama ini, kalau tidak salah, sebagian besar kebutuhan pendidikannya juga berasal dari beasiswa, dan hasil kerja keras Nyonya muda sendiri."
Jayadi langsung terdiam. Caca yang tadi hendak menyahut ikut membisu.
Sopir melirik kaca spion sebentar. "Jadi menurut saya, keluarga Wicaksono sudah memberikan lebih dari cukup hari ini."
Cepi mulai tidak nyaman.
Namun sopir belum selesai. "Kalau boleh jujur, saya justru heran kenapa setelah semua yang Nona Aynara terima dari keluarganya sendiri, masih ada yang merasa pemberian keluarga Wicaksono kurang."
Suasana di dalam mobil seketika menjadi hening.
Caca menundukkan wajah. Ia tahu apa yang dikatakan sopir itu ada benarnya.
Jayadi pun tidak membantah. Selama ini ia memang tidak pernah mengeluarkan banyak uang untuk biaya kuliah Aynara. Putrinya mendapatkan beasiswa dan bekerja sambil kuliah. Namun, mendengar semua itu diucapkan oleh orang lain membuat wajahnya terasa panas.
Cepi mengepalkan tangan. "Siapa bilang kami meminta?"
Sopir kembali fokus pada jalan. "Saya hanya menyampaikan yang saya tahu, Bu."
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Justru keheningan setelahnya terasa jauh lebih menyakitkan bagi Cepi.
Caca yang tadi begitu yakin ibunya benar kini tidak lagi bersuara.
Sementara Jayadi hanya menghela napas pelan. Dalam hati, ia tahu satu hal. Sopir itu tidak sedang menghina keluarganya. Ia hanya mengatakan kenyataan yang selama ini mereka abaikan.
***
Sementara itu, sebuah mobil hitam melaju meninggalkan tempat pernikahan menuju Aksara Group.
Wicaksono duduk di kursi belakang. Tongkatnya tersandar di samping tubuh, sementara ponsel berada di dekat telinganya.
"Pak Gunadi."
"Ya, Tuan," jawab Gunadi yang berada di seberang sambungan telepon.
"Setelah bulan madu, berikan kartu ATM kepada Aynara," ujar Wicaksono.
Gunadi terdiam sesaat. "Kartu ATM, Tuan?"
"Ya." Wicaksono menyandarkan punggungnya.
"Berapa nominal saldonya, Tuan?" tanya Gunadi yang sedang berada di kantor, duduk di balik meja kerjanya.
Wicaksono berpikir sejenak. "Isi dengan lima ratus juta."
Gunadi mengangkat alis. "Dan setiap bulan?"
"Transfer dua puluh lima juta ke rekening itu. Nominalnya sama setiap bulan," jelas Wicaksono.
"Baik, Tuan." Gunadi kemudian bertanya dengan hati-hati. "Kalau boleh bertanya... kenapa bukan Tuan Muda saja yang memberikannya kepada Nyonya Muda?"
Wicaksono menghela napas kasar. "Karena aku tidak yakin anak itu akan memerhatikannya."
Ia menatap keluar jendela. "Aku tidak mau cucu menantuku kekurangan uang belanja hanya karena Aksa terlalu sibuk dengan dirinya sendiri."
Gunadi tersenyum tipis. "Baik, Tuan."
Wicaksono terdiam sejenak sebelum kembali berkata, "Dan soal jabatan CEO."
"Ya, Tuan?" Suara Gunadi berubah serius.
"Jika dalam enam bulan Aynara belum hamil," Wicaksono menjeda kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan. "naikkan Aksa menjadi CEO."
Mata Gunadi sedikit membesar. "Tapi bukankah Tuan mengatakan jabatan itu akan diberikan setelah Nyonya Muda hamil?"
"Itu hanya alasan agar dia mau menikah dan bertanggung jawab." Wicaksono kembali memandang keluar jendela. "Selama ini kinerja Aksa sebenarnya cukup baik. Dia memahami perusahaan, mampu mengambil keputusan, dan beberapa proyek yang ditanganinya juga berhasil."
Nada suaranya berubah tegas. "Masalahnya hanya satu. Dia terlalu manja dan tidak disiplin."
Gunadi memutar pena di jarinya. "Jadi menurut Tuan, Tuan Muda sudah cukup pantas?"
"Sudah." Wicaksono mengangguk pelan. "Kalau dia tidak bisa belajar bertanggung jawab setelah menikah, berarti aku salah menilainya."
"Baik, Tuan. Saya akan mengurus semuanya." Gunadi baru saja selesai berbicara ketika—
TIIIIINNNNN!
Suara klakson panjang memekakkan telinga. Wicaksono spontan menoleh ke depan.
"Ada apa—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—
BRAK!
Benturan keras mengguncang seluruh mobil. Tubuh Wicaksono terhempas ke samping. Ponsel terlepas dari tangannya. Suara pecahan kaca dan logam beradu memenuhi telinga. Mobil mereka berputar setelah dihantam kendaraan lain yang terpental ke arah mereka.
Wicaksono mencoba membuka mata, namun pandangannya mulai kabur. Suara Gunadi dari ponsel yang terjatuh terdengar samar.
"Tuan! Tuan Wicaksono!"
Wicaksono ingin menjawab, tetapi tubuhnya terasa semakin berat.
Pandangan terakhirnya hanya menangkap langit dari balik kaca mobil yang retak. Lalu semuanya menjadi gelap.
...🔸🔸🔸...
...“Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita terima, sampai lupa menghargai begitu banyak hal yang sudah diberikan.”...
...“Keserakahan membuat pemberian sebesar apa pun terasa kurang, sementara rasa syukur mampu membuat hal sederhana terasa begitu berarti.”...
...“Kita sering baru menyadari nilai sebuah kebaikan setelah orang yang memberikannya tidak lagi berada di sisi kita.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?