Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:256.3k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat Reatha diam-diam pergi. Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sepuluh

Pagi itu, Reatha terbangun dengan kepala yang terasa sedikit berat. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya menyadari bahwa dirinya masih berada di kamar hotel. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar sambil mencoba mengingat apa yang terjadi sejak kemarin.

Pernikahan dengan Azka. Dan statusnya yang sekarang sudah berubah menjadi seorang istri. Reatha mengembuskan napas pelan. Ia menoleh ke tempat tidur. Kosong. Azka tidak ada di sana.

Reatha hanya tersenyum simpul. Baru ingat pagi-pagi buta Azka telah pergi ke tempat kekasihnya Vania. Tanpa banyak memikirkan hal itu, Reatha bangkit dari sofa tempatnya tidur.

Ia mandi, kemudian berganti pakaian dengan pakaian sederhana yang dibawanya dari rumah. Setelah rambutnya dikeringkan, Reatha duduk di depan cermin dan menyisir rambutnya perlahan.

Baru saja ia hendak mengambil ponsel, terdengar ketukan dari pintu. Reatha segera berdiri.

"Siapa?" tanya Reatha sambil berjalan menuju pintu.

"Ini Mama," jawab seseorang di luar sana.

Reatha langsung membuka pintu. Di hadapannya berdiri Mama dan Papa Azka.

"Kalian sudah bangun?" tanya Mama Azka.

"Sudah, Ma," jawab Reatha.

Mama Azka melirik ke dalam kamar. Kemudian matanya mencari-cari seseorang.

"Azka mana?" tanya Mama karena tak melihat keberadaan sang putra.

Reatha sedikit terdiam. Ia lalu menjawab, "Azka keluar, Ma."

"Keluar?" tanya Mama Azka lagi.

"Iya. Mungkin ada urusan," jawab Reatha.

Raut wajah Mama Azka langsung berubah. "Urusan apa?" tanyanya.

Reatha menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, Ma.."

Mama Azka menghela napas. Papa Azka yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara.

"Dia tidak bilang apa-apa?" tanya Papa.

"Tidak, Pa."

Mama Azka tampak kesal. "Anak itu benar-benar ...," gumamnya.

Reatha hanya menunduk. Ia tidak tahu harus berkata apa.

"Kamu saja ikut sarapan dengan kami," ujar Papa Azka akhirnya.

Reatha mengangguk. "Baik, Pa." Mereka bertiga kemudian berjalan menuju restoran hotel.

Sepanjang perjalanan, Reatha lebih banyak diam. Ia merasa sedikit canggung berada bersama kedua mertuanya. Apalagi sejak pagi, pertanyaan tentang Azka terus bermunculan di kepalanya.

Sesampainya di restoran, mereka duduk di meja yang sudah disediakan. Mama Azka kembali menatap Reatha.

"Raisa," panggil Mama Azka. Reatha merasa asing dipanggil dengan nama saudara kembarnya. Tapi ia harus tetap membiasakan diri sebagai Raisa.

"Iya, Ma," jawab Raisa.

"Mulai besok, kalau Azka pergi, kamu tanyakan dia pergi ke mana," ucap Mama.

Reatha mengerutkan kening. "Baik, Ma."

"Dia bilang urusan pekerjaan?" tanya Mama.

Reatha mengangguk kecil. "Mungkin."

Mama Azka langsung menggeleng. "Jangan percaya begitu saja. Dia cuti satu minggu. Jadi kalau dia bilang pergi karena urusan pekerjaan, itu bohong."

Reatha terdiam. Cuti satu minggu? Ia bahkan baru mengetahuinya sekarang. Tapi mengenai kebohongan Azka, ia mengakuinya delam hati. Ia tahu Azka pergi dengan kekasihnya Vania.

"Baik, Bu," jawabnya pelan.

Mama Azka menghela napas. "Dia memang anak Mama. Tapi bukan berarti Mama tidak tahu sifatnya. Kalau sudah punya sesuatu yang ingin dilakukan, dia sering lupa memberitahu orang lain."

Reatha hanya tersenyum tipis.."Iya, Ma."

Sementara itu, di tempat lain, Azka masih menikmati waktunya bersama Vania. Ia sama sekali tidak tahu bahwa kedua orang tuanya mulai mencurigai kepergiannya.

Menjelang siang, barulah Azka kembali ke hotel. Begitu membuka pintu kamar, pria itu langsung menemukan Reatha sedang duduk santai di sofa sambil menonton televisi.

Reatha bahkan tidak langsung menoleh. Azka mengerutkan kening.

"Raisa," panggil Azka.

Reatha menoleh. "Oh, kamu sudah pulang?"

Azka memperhatikannya beberapa detik. Tidak ada pertanyaan kenapa ia baru pulang. Tidak ada kemarahan. Dan tidak ada rasa penasaran sedikit pun. Seolah-olah kepergiannya tadi pagi bukan sesuatu yang penting. Aneh.

"Besok kita pergi liburan," ujar Azka.

Reatha hanya mengangguk. "Baiklah."

Azka kembali menatapnya. "Kamu tidak mau bertanya?" tanyanya.

Reatha menggeleng. "Tidak ada yang perlu ditanyakan," ucapnya.

"Kenapa?" Azka yang justru bertanya.

"Karena kamu sudah pulang."

Jawaban sederhana itu justru membuat Azka sedikit kesal. Ia menghela napas.

"Ya sudah. Sekarang bersiap. Kita pulang, tapi sebelumnya kita ke mal."

Reatha mematikan televisi. "Ke mal?"

"Iya."

"Untuk apa?" tanya Reatha.

"Aku mau membelikanmu pakaian," jawab Azka.

Reatha melihat pakaiannya sendiri. "Bajuku masih banyak."

"Aku mau kamu pakai baju baru semua untuk perjalanan besok," balas Azka.

Reatha hendak membantah, tetapi Azka lebih dulu melanjutkan.

"Kamu itu sekarang sudah menjadi tanggung jawabku," ucap Azka.

Reatha terdiam. Kalimat itu terdengar aneh dipendengarannya, karena ia tahu pernikahan mereka hanya di atas kertas.

Akhirnya ia mengangguk. "Baiklah."

Azka tersenyum tipis. Ia tidak mengatakan bahwa ada alasan lain mengapa ia ingin segera mengajak Reatha pergi berbelanja.

Ia tidak ingin kedua orang tuanya curiga karena dirinya belum juga pulang. Dan yang paling penting, Vania sudah menunggunya di dalam mobil.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Azka kembali menemui Reatha.

"Ayo," ajak Azka.

Reatha mengambil tas kecilnya. "Sebentar. Kita pamit dulu kepada Mama dan Papa, kan?"

Azka mengangguk, dan menjawab singkat, "Iya."

Mereka berjalan menuju kamar kedua orang tua Azka. Pria itu mengetuk pintu.

"Siapa?" terdengar suara Mama dari dalam.

"Aku ... Azka, Ma," jawab Azka.

Pintu terbuka. Mama Azka langsung memasang wajah serius.

"Mau ke mana? Dari pagi tidak ada kabar. Tadi saja kamu tidak ada saat sarapan," ucap Mama dengan nada sedikit kesal.

Azka langsung tersenyum sebelum ibunya sempat mengomel lebih panjang.

"Ma, Pa, aku mau mengajak Raisa ke butik."

Mama Azka mengerutkan kening. "Untuk apa?" tanyanya.

"Beli pakaian," jawab Azka.

"Kenapa mendadak?" tanya Mama lagi.

Azka merangkul bahu Reatha. "Besok aku dan Raisa mau bulan madu."

Reatha langsung menoleh. Bulan madu?

Ia bahkan tidak tahu rencana itu sampai Azka mengatakannya di depan kedua orang tuanya. Mama Azka yang tadinya hendak marah justru tersenyum lebar.

"Oh, begitu," ucap Mama.

Papa Azka ikut tersenyum. "Kalau begitu pergilah. Nikmati waktu kalian."

"Terima kasih, Pa."

Mama Azka mendekati Reatha. "Jaga suamimu baik-baik."

Reatha tersenyum canggung. "Iya, Ma," jawabnya pelan.

Azka kemudian menggenggam tangan Reatha. "Kami pergi dulu, Ma, Pa."

"Hati-hati," pesan Papa.

Azka mengangguk. Keduanya kemudian berjalan meninggalkan kamar.

Begitu pintu lift tertutup, Reatha langsung menoleh kepada Azka. "Kita benar-benar mau bulan madu?"

Azka tersenyum tipis. "Iya."

Reatha menghela napas. Ia tidak tahu bahwa perjalanan itu bukan sekadar bulan madu. Karena di lantai bawah, sebuah mobil sudah menunggu. Dan di dalamnya, Vania duduk sambil tersenyum penuh kemenangan.

Ia sama sekali tidak sabar melihat wajah perempuan yang selama ini dianggapnya sebagai penghalang. Besok, permainan itu akan dimulai.

Dan Reatha tidak tahu bahwa perjalanan yang disebut Azka sebagai bulan madu justru akan menjadi awal dari sebuah masalah besar yang perlahan mengubah hubungan mereka.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Naufal Affiq
kamu wanita yang baik rea,jadi sudah sewajar nya kamu mendapatkan kasih sayang yang utuh dari mama mertua mu,kalau masalah orang tua mu gak usah kau dengar kan rea,anggap aja angin lalu
Sri Supriatin
ikut seneng buat Azka sm Reatha 👍👍😍😍
Teh Euis Tea
semoga secepatnya kalian menikah dan ortunta reatha ga bikin drama yg menyalahkan reatha lg
Patrick Khan
akhirnya. 👏👏👏👏rea azka bersatu
.kawal sampai sahh
Teh Euis Tea
achhhh meleleh hati ade bang 🤣🤣🤣🤣🤣
Cicih Sophiana
jgn bilang klo orang tua mu akan menjegal pernikahan kamu Reatha... seandai nya iya kamu harus bisa melawan jgn cuma nangis atau mengalah..
Patrick Khan: siap siap demo aja kak.
klo sampai emaknya rea ngereog🔨🔨🔨
total 1 replies
Cicih Sophiana
wadau so sweet deh kalian... terus lah bahagia untuk kalian... klo ada cobaan pun kalian tetap bergandengan tangan jgn lepas kan... pasti ujian yg lebih berat lg akan datang
vania larasati
lanjut kak
Sri Angga
davidd patah hati donk
ken darsihk
Saat nya bahagia 👏👏👏
Nar Sih
kira,,gimana reaksi org tua mu ya reatha klau kmu dtg minta restu mereka ,
Sri Supriatin
Air mataku bombay, pasti ortunya Azka seneng banget 👍👍🙏🙏🙏
Novita Sari
setelah ini..muncul vania
Nar Sih
alhamdulilah lamaran diterima wah...ikutan seneng nih dgn azka dan reatha
Naufal Affiq
Romantis banget kamu azka,cepetan nikahin reatha azka,sebelum di ambil orang
Lusi Hariyani
akhir y perjuanganmu berhasil aska
Eka ELissa
Ahir nya rea ktmu orang yg cinta dgn nya secara ugal ugalan...♥️♥️♥️♥️
tinggal Risa nih ksian yg mengenaskan.....🤦
Apriyanti
Alhamdulillah di terima Azka semoga lancar sampe hari h nya
Linda Ayu Tong-Tong
aaaa meleleh..tp kak itu si azka ceraiin dlu npa yg sah secara negara sama raisa...gmn ya konsepnya aduh gk tau dah pokoknya selesain dlu urusan pernikahannnya sma raisa dlua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!