Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan dengan kakak 2
"Yaa... Es krim telah tiba untuk tuan putri!" seru Ali sambil memamerkan senyumnya kearah Nisa yang juga tersenyum.
"Aku mau yang coklat kak," ujar Nisa sembari mengambil salah satu cup es krim di tangan Ali. Begitu cup es krim itu tiba di tangan Nisa, tiba-tiba, ponsel Ali bergetar. Ali melihat nama si penelpon.
"Siapa kak?" tanya Nisa penasaran saat melihat ekspresi sang kakak yang tersenyum saat melihat ponselnya
"Calon kakak iparmu" sahut Ali tanpa keraguan sedikit pun.
"Kakak ipar?" Nisa kebingungan seperkian detik dengan jawaban itu
"Maksudnya calon istri kak Ali, ya?" lanjut Nisa begitu sudah paham apa maksud sang kakak.
"Iya, jangan lupa doakan supaya sukses ya" pinta Ali sambil mengangkat telponnya.
"Kakak angkat telponnya dulu ya, kamu tunggu di sini! Jangan kemana- mana!" lanjutnya sembari menjauh untuk berbicara dengan si penelpon.
"Dasar! Mentang-mentang sedang jatuh cinta, kakak pakai sok tidak boleh kedengaran pembicaraannya" gumam Nisa yang kini memegang kedua cup es krim yang Ali beli di tangannya. Dia menunggu kakaknya kembali dari pembicaraan rahasianya, agar mereka bisa menikmati es krimnya secara bersama-sama.
Tidak lama setelah Ali pergi sibuk dengan telponnya, tiba-tiba terdengar tangisan seorang anak kecil tidak jauh dari tempat Nisa duduk. Melihat itu, Nisa bangkit dan mendekati anak kecil tersebut
"Hei adik manis, kenapa menangis?" tanya Nisa lembut. Si anak kecil menatap kearah Nisa masih dengan tangis yang belum reda.
"Es... Krimku... Ja-jatuh" jawab anak kecil itu sambil terisak. Nisa memandang cup es krim di tangannya.
"Ya sudah, ini kakak kasih es krim lain untukmu," ujar Nisa sambil menyodorkan es krim miliknya kearah anak itu. Si anak melihat Nisa agak ragu.
"Tidak apa-apa. Ambil saja! Kakak ikhlas kok ngasihnya asal adik manis jangan nangis lagi," kata Nisa tersenyum. Akhirnya anak itu mengambilnya sembari menghapus air matanya.
"Terima kasih kakak cantik. Kalau begitu aku pergi dulu ya!" Nisa hanya mengangguk saat anak itu mulai berbalik pergi kearah kerumunan orang banyak. Mungkin orang tuanya ada disana dan Nisa tidak mempermasalahkannya lagi.
Tanpa sepengetahuan Nisa, Rangga mengikutinya. Pria itu cukup menyesal saat melihat senyum cerah istrinya bukan karenanya melainkan karena kakak iparnya. Lalu dilihatnya Ali yang menjauh sembari mengangkat telponnya. Tiba-tiba Rangga tersenyum saat melihat istrinya itu sedang menenangkan seorang anak kecil dengan es krim. Dia berjalan perlahan ingin menghampiri Nisa yang kini kembali mendudukkan diri di tempat semula. Namun niatnya harus segera diurungkannya saat melihat Ali kembali dari urusannya.
Rangga tidak mungkin menemui istrinya sekarang karena bisa saja Ali membunuhnya sekarang begitu melihatnya. Dia tahu benar watak kakak iparnya itu. Padahal Rangga bahkan tidak tahu kenapa dia mengikuti Ali dan Nisa sampai kesini, dan yang lebih parah, dia berbohong pada Tiwi hanya demi mengikuti istrinya.
"Maaf ya, lama menunggunya," ujar Ali sambil mendudukkan diri disamping Nisa.
"Giliran sedang jatuh cinta saja aku disuruh menunggu. Memangnya siapa sih kak calon kakak iparku?" tanya Nisa setelah sebelumnya sedikit memanyunkan bibirnya dan sekarang mimiknya langsung berubah penasaran. Ali hanya bisa tersenyum
"Namanya Fatma, dia bekerja sebagai apoteker. Kakak sudah mengenalnya dua tahun dan kami berencana akan menikah awal tahun depan." jelas ali singkat. Nisa manggut-manggut pelan seakan mengerti.
"Kenapa kakak tidak pernah mengenalkannya denganku?"
"Nanti pada saatnya akan kakak kenalkan, oh ya! Kenapa es krimnya tinggal satu? Kemana yang satunya lagi! Sudah kamu makan ya?" tuding Ali saat melihat tangan sang adik hanya memegang satu cup es krim yang mulai mencair.
"Enak saja! Tadi aku kasih ke anak kecil yang es krimnya terjatuh. Dia menangis, jadi aku kasihan dan memberikan es krimku padanya. Nih! Es krim punya kakak" jelas Nisa seraya menyerahkan es krim di tangannya pada Ali.
"Kenapa tidak kamu makan saja?"
"Aku tidak suka rasa Vanila. Ini! Kakak makan es krim ini sampai habis ya. Ingat! Buang-buang makanan itu mubazir," kata Nisa yang sebenarnya sangat tahu kalau kakaknya akan menolak itu. Tapi dengan hak istimewanya hari ini. Ali tidak punya keberanian menolaknya. Ali hanya bisa melongo, dia paling benci sama es krim yang sudah mencair dan sekarang adiknya menyuruhnya untuk menghabiskan es krim itu sampai tuntas, dan Ali juga tidak bisa menolaknya. Nasib... Nasib...
Setelah itu mereka kembali berkeliling taman bermain itu yang dipenuhi dengan berbagai wahana. Ali tak henti- hentinya menggoda sang adik yang terlihat tersenyum bahagia. Sungguh! Pemandangan inilah yang diharapkan Ali dari wajah sang adik.
"Ah menyebalkan! Kenapa kamu harus bawa bawa perut besar itu sih. Karena itu, kita kan tidak bisa naik wahana apapun," ucap Ali dengan nada kesal yang tentu saja itu hanyalah akting.
"KAKAK!!" Nisa kembali berteriak sembari menatap Ali dengan pandangan galak.
"Kakak pikir ini bantal, bisa dibawa dan disimpan begitu saja!"
"Iya- iya. Kakak minta maaf." Ali menampilkan wajah menyesalnya yang lucu hingga Nisa terpaksa menahan tawanya. Dari awal keduanya memang tidak ada yang benar-benar kesal dan marah.
"Bagaimana kalau kita naik itu?" tawar Ali sambil menunjuk kearah sebuah Gondola di tepi danau buatan.
"Ah Gondola! Sudah lama aku tidak naik wahana itu. Ayo kita coba kak!" ajak Nisa yang menarik tangan kakaknya dengan antusias saat melihat wahana itu.
"Dasar!" cibir Ali yang hanya bisa berdecih saat melihat Nisa yang begitu antusias dan penuh semangat.
Setelah menyewanya, perlahan keduanya mulai menaiki perahu dayung itu. Nisa tidak henti-hentinya terkagum- kagum dengan keindahan danau buatan itu.
"Sepertinya bagus deh, kalau kita ambil gambar disini" usul Ali.
"Oh ya benar kak. Tunggu sebentar ya! Aku ambil ponselku dulu." Nisa mulai merogoh tas kecil yang dibawanya dan mengambil ponselnya. Ponsel yang sama sejak tujuh tahun yang lalu, tapi ponsel itu terlihat begitu terawat hingga masih terlihat baru walau hampir satu dekade pemakaian.
"Ini kak, tolong ambilkan fotoku ya." pinta Nisa yang tersenyum. Perlahan Ali membuka kunci ponsel adiknya yang memang tidak pernah dibikin ribet oleh Nisa. Adiknya itu menggunakan ponselnya hanya seadanya saja, tidak pernah benar-benar bergantung terlalu keras pada benda elektronik itu.
Jari Ali hampir menyentuh aplikasi Kamera namun, rasa penasaran menyergapnya. Dia jadi penasaran dengan foto- foto di fitur galeri adiknya. Yang terjadi selanjutnya adalah dia begitu tertegun melihat galeri foto adiknya yang hanya terdapat lima gambar saja. Lima gambar setelah tujuh tahun lebih pemakaian ponsel itu, apakah itu wajar? Ali mulai membuka satu persatu lima gambar tersebut.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean