Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kaizar baru saja berbalik ketika pandangannya bertemu dengan Amira yang berdiri di tangga. Perempuan itu masih di sana. Dari wajahnya, Kaizar tahu Amira sudah mendengar percakapan mereka.
“Sejak kapan kau di situ?”
Amira turun beberapa anak tangga. “Entahlah.”
Kaizar mengangkat alis. “Entahlah? Apa mungkin kau terlalu lama, sampai tidak bisa jawab."
“Aku tadi mau turun," terang Amira.
“Lalu?”
“Aku dengar suara Papi.”
Kaizar menatapnya. “Dan kau memilih berdiri di sana sampai selesai?”
Amira mengangguk polos. “Sayang kalau dilewatkan.”
Kaizar mengerutkan kening. “Apa yang sayang?”
“Pertunjukannya.”
“Pertunjukan?”
Amira akhirnya sampai di anak tangga terakhir. “Iya. Aku belum pernah melihat ada orang yang berani menyuruh Papi pulang.”
Kaizar terdiam, namun diamnya begitu dingin dan anehnya Amira justru menahan senyum melihat ekspresi wajah pria itu. “Apalagi orang itu kamu.”
“Jadi kau menikmati aku berdebat dengan ayahmu?”
“Sedikit," sahutnya dengan sedikit senyuman.
“Apa! Sedikit?"
“Baiklah, banyak.”
Kaizar memandangnya datar. “Kau ternyata cukup berani.”
“Bukankah kamu sendiri yang bilang aku tidak perlu menjadi orang lain di rumah ini?”
“Aku tidak pernah bilang kau boleh menjadikanku bahan hiburan.”
Amira akhirnya tertawa. “Aku tidak sedang menghibur diri.”
“Lalu?”
“Aku sedang menikmati pemandangan langka.”
Kaizar menghela napas. “Apa yang langka?”
“Kaizar Abraham kehilangan kesabarannya.”
“Aku tidak kehilangan kesabaran.”
“Benarkah?”
“Benar.”
Amira menunjuk pintu utama yang baru saja tertutup. “Tadi wajahmu seperti ingin menendang Papi sampai ke jalan.”
“Bagaimana mungkin aku menendang jika kakiku saja lumpuh.”
Seketika Amira terdiam, ia baru menyadari jika ucapannya tadi menyinggung pria itu. "Aku gak bermaksud."
Kaizar menatapnya beberapa detik. “Aku tidak masalah."
"Tapi beneran aku gak ada maksud," ucap Amira sedikit canggung.
"Sudahlah, kamu terlalu banyak bicara," sahut Kaizar datar.
“Katanya kamu tidak suka orang yang menyimpan sesuatu.”
“Itu bukan berarti kau harus mengomentari semuanya.”
Amira tersenyum lebar. “Kalau begitu, kamu harus lebih spesifik saat membuat aturan.”
Kaizar terdiam. Perempuan ini memang berbeda. Baru beberapa hari berada di rumahnya, tetapi sudah berani membalas setiap perkataannya. Anehnya, ia tidak merasa terganggu. Malah rumah yang biasanya terasa terlalu sunyi itu mendadak memiliki suara yang tidak ingin ia hentikan.
Kaizar memutar kursi rodanya hendak pergi, ke ruang kerjanya akan tetapi Amira berjalan mengikutinya.
“Kamu mau ke mana?”
“Ruang kerja.”
“Untuk apa?”
“Bekerja.”
“Setelah marah-marah begitu?”
Kaizar menghentikan kursinya. “Aku tidak marah.”
Amira berdiri di belakangnya. “Baik.”
Kaizar kembali melanjutkan langkah tangannya perlahan menekan tombol kursi rodanya, namun beberapa detik kemudian terdengar suara Amira.
“Kalau begitu, setelah tidak marah, biasanya kamu melakukan apa?”
“Bekerja.”
“Selain bekerja?”
“Tidak ada.”
“Kasihan."
Kaizar berhenti lagi. Ia menoleh. “Apa?”
Amira langsung memasang wajah serius. “Aku cuma bilang kasihan.”
“Kenapa aku dikasihani?”
“Karena hidupmu membosankan.”
Kaizar menatapnya tak percaya. “Kau baru tinggal di sini beberapa hari dan sudah berani menilai hidupku?”
“Aku hanya mengamati.”
“Dan kesimpulanmu?”
“Rumah besar, banyak orang, banyak uang, tetapi penghuninya cuma satu yang hobinya bekerja, apa tidak jenuh bekerja terus seharian."
Kaizar menatapnya lama. “Menurutmu aku harus melakukan apa?”
Amira mengangkat bahu. “Entahlah. Jalan-jalan mungkin?"
“Aku tidak bisa berjalan.”
Amira langsung terdiam, entah kenapa ia bisa mengulangi kesalahannya kembali, akan tetapi pria dihadapannya itu justru mengerutkan keningnya.
"Dasar gadis bodoh, sudah tahu aku gak bisa jalan," ulah Kaizar.
Amira lalu berkata, “Ya sudah, kita naik mobil saja gimana?"
Kaizar menatapnya, kali ini lebih dingin mungkin bagi orang lain terlihat begitu menyeramkan. Sementara Amira menahan tawa.
“Bisa, kan?” lanjut Amira.
Untuk beberapa detik Kaizar hanya memandangnya. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.
“Kau memang menyebalkan.”
Amira tersenyum puas. “Tapi kamu tidak marah.”
Kaizar kembali menghadap ke depan. “Jangan terlalu yakin.”
Amira mengikuti di belakangnya. “Aku yakin.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu benar-benar marah, dari tadi aku sudah diusir.”
Langkah kursi roda Kaizar terhenti. Ia tidak membantah. Sebab untuk kali ini, ia sadar bahwa ucapan Amira benar. Ia bisa saja menyuruh perempuan itu kembali ke kamar.
Bisa saja meminta rumah kembali sunyi seperti biasanya. Tapi ia tidak melakukannya.
Entah sejak kapan, suara Amira yang memenuhi rumahnya justru terasa seperti sesuatu yang ingin ia dengar lagi.
Kaizar kembali melanjutkan langkah. “Besok.”
Amira mengerutkan kening. “Apa?”
“Kita jalan-jalan.”
Amira langsung bersorak kecil, entah kenapa mendengar ucapan itu, ia seperti gadis kecil yang baru saja diberi hadiah oleh ayahnya. Lalu Kaizar yang melihat itu entah kenapa hatinya merasa tersentuh.
“Serius?” tanya Amira.
“Jangan terlalu senang dulu."
“Kenapa?”
“Aku bisa berubah pikiran.”
Amira segera mempercepat langkah. “Tidak boleh!”
Kaizar menoleh, cepat.
Amira langsung nyengir kuda. “Kamu sudah terlanjur janji.”
Kaizar menggeleng pelan. Perempuan ini benar-benar merepotkan. Dan anehnya... ia tidak keberatan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam itu, Kaizar masih berada di ruang kerjanya. Beberapa dokumen terbuka di atas meja ketika ketukan terdengar dari pintu.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Amira muncul sambil membawa sebuah buku.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Aku tadi mengambil buku ini, sekalian memastikan, Tuan dinginku sudah tidur atau belum?"
Kaizar tidak kemakan dengan rayuan itu justru ia melirik buku di tangannya.
“Masih membaca?”
“Daripada bosan.”
Amira berjalan masuk, lalu berhenti di dekat meja. Matanya sempat melirik tumpukan dokumen di hadapan Kaizar.
“Kamu kalau kerja memang sebanyak itu?”
“Kadang.”
“Pantas saja wajahmu selalu kelihatan serius.”
Kaizar mengangkat pandangan. “Memangnya wajahku harus seperti apa?”
Amira berpikir sebentar. “Lebih ramah.”
“Untuk apa?”
“Supaya orang tidak takut mendekat.”
Kaizar kembali melihat dokumennya. “Tidak semua orang harus mendekat.”
Amira tersenyum. “Untung aku tidak termasuk semua orang itu."
Kaizar terdiam sesaat, ia masih fokus dengan pekerjaannya sementara Amira mulai berbalik hendak keluar.
“Amira.”
Gadis itu menoleh. “Hm?”
“Besok kau ada kegiatan?”
Amira langsung tersenyum. “Bukannya kamu yang bilang mau mengajakku jalan-jalan?”
Kaizar mengangkat alis. “Aku bilang besok.”
“Nah, berarti besok kan.”
“Kau benar-benar mengingatnya?”
“Jelas.”
Amira menunjuk Kaizar. “Besok jangan lupa, ya. Kita jalan-jalan. Kamu sudah janji.”
Kaizar menggeleng kecil. “Iya, dasar cegil posesif.”
Amira langsung tertawa. “Enggak apa-apa. Kan aku ingin Tuan dinginku mencair saat nanti melihat dunia luar.”
Kaizar menatapnya beberapa detik. “Kalau nanti kau yang membuatku pusing?”
Amira tersenyum lebar. “Berarti jalan-jalannya berhasil.”
Kaizar menggeleng lagi. “Pergilah tidur.”
“Besok jangan batal.”
“Aku tidak akan batal.”
“Janji?”
“Iya.”
Amira akhirnya keluar dari ruangan. Pintu tertutup perlahan. Kaizar kembali menatap dokumen di hadapannya. Baru beberapa detik membaca, pikirannya kembali teringat pada ucapan Amira.
Tuan dinginku mencair.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Ia segera mengusap wajahnya dan kembali memasang ekspresi serius.
“Dasar Cegil.”
Tetapi untuk pertama kalinya, panggilan itu tidak terdengar seperti keluhan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Di kamarnya, Amira sudah membayangkan ke mana mereka akan pergi esok hari.
Sementara di ruang kerja, Kaizar masih duduk di tempatnya dengan dokumen yang sejak tadi belum juga selesai dibaca.
Besok seharusnya hanya menjadi perjalanan singkat. Setidaknya begitu yang Kaizar pikirkan.
Ia belum tahu bahwa satu hari bersama Amira di luar rumah akan membuat hubungan mereka berubah sedikit lebih jauh dari yang mereka sadari.
Dan mungkin... setelah sekian lama, Kaizar akan menemukan bahwa dunia di luar rumahnya tidak selalu terasa begitu dingin ketika ada seseorang di sampingnya.
Bersambung ....
Semoga suka ya Kak .....