Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 10
Pagi harinya, Dilara tiba di sebuah rumah megah bergaya modern minimalis di kawasan perumahan elit. Dengan koper di tangan dan hijab krem yang rapi, ia melangkah masuk melalui pintu samping sesuai arahan Bu Melani kemarin. Rumah itu masih tampak lengang, hanya terdengar gemericik air dari kolam renang di halaman tengah.
Saat Dilara melintasi area dapur bersih yang luas dan serba putih, seorang pria tinggi bertubuh tegap keluar dari arah ruang kerja dengan kemeja putih yang lengan bajunya tergulung separuh. Wajahnya tampan namun memiliki garis rahang yang tegas dan dingin. Mata tajam pria itu memindai Dilara dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"ART baru, ya?" tanya pria itu dengan suara berat tanpa basa-basi, mengabaikan koper besar yang dipegang Dilara.
Dilara tertegun sejenak. Sebelum sempat ia meluruskan perkataan pria itu, sang pria sudah melangkah ke meja bar dapur dan menyodorkan sebuah cangkir keramik hitam.
"Tolong buatkan saya black coffee tanpa gula. Antarkan ke ruang kerja saya di sebelah sana dalam lima menit," ucapnya datar, lalu berbalik arah tanpa menunggu respon dari Dilara.
Dilara menatap cangkir hitam di meja bar, lalu beralih menatap punggung pria itu yang menghilang di balik pintu kayu jati. Bukannya tersinggung, Dilara justru menyunggingkan senyum tipis. Bagi wanita yang sudah melewati badai perceraian kemarin, salah paham kecil seperti ini sama sekali tak membuat emosinya terpancing.
Dengan tenang, Dilara meletakkan kopernya di sudut ruangan. Ia menghampiri mesin kopi modern di atas meja, menyeduh kopi hitam sesuai pesanan dengan gerakan cekatan dan penuh kehati-hatian. Setelah aroma kopi yang harum memenuhi dapur, ia menata cangkir tersebut di atas nampan kecil.
Dilara melangkah menuju ruang kerja yang ditunjuk tadi. Ia mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya perlahan.
"Kopi Anda, Pak," ucap Dilara halus, meletakkan nampan di atas meja kayu besar di hadapan pria yang sedang fokus menatap layar laptopnya itu.
Pria itu menoleh, menyesap kopinya sedikit, lalu mengangguk singkat. "Aromanya pas. Kamu bisa lanjut bersihkan lantai atas sekarang."
"Maaf menyela, Pak," potong Dilara sangat sopan, menautkan kedua tangannya di depan tubuh.
"Sepertinya Bapak salah paham. Saya bukan Asisten Rumah Tangga baru di sini."
Pria itu menghentikan ketukannya di atas meja, mendongak menatap Dilara dengan alis terangkat sebelah.
"Maksudmu?"
Tepat saat itu, pintu ruang kerja terbuka lebih lebar. Bu Melani melangkah masuk dengan senyum hangat, diikuti seorang balita laki-laki tampan berusia lima tahun yang menggandeng tangannya.
"Loh, Dilara? Kamu sudah sampai?" sapa Bu Melani ramah. Ia beralih menatap pria di balik meja.
"Elian, kamu sudah ketemu sama Dilara? Ini babysitter baru yang kemarin Ibu ceritakan untuk mengasuh Elang."
Pria yang dipanggil Elian itu tersentak pelan. Matanya beralih dari ibunya ke arah Dilara yang berdiri anggun dan tenang, lalu kembali menatap cangkir kopi di tangannya. Untuk pertama kalinya, raut dingin di wajah Elian berubah menjadi canggung dan serba salah.
Elian berdeham pelan, mencoba menutupi rasa canggung yang mendadak menyerang pertahanannya. Ia meletakkan cangkir kopi itu kembali ke meja, lalu menegakkan posisi duduknya.
"Babysitter?" ulang Elian, matanya memicing menatap ibunya, lalu beralih pada Dilara.
"Tapi Ibu bilang Babysitter Elang lulusan sarjana? Kenapa gaya penampilannya..."
"Kenapa? Kamu pikir Babysitter harus pakai seragam khusus?" potong Bu Melani cepat sembari menggeleng heran.
"Dilara ini sarjana ekonomi, Elian. Dia sengaja Ibu minta berpakaian bebas tapi sopan agar Elang merasa nyaman,"
Dilara tetap berdiri dengan posisi tubuh yang tenang. Tidak ada raut tersinggung, apalagi marah di wajahnya. Ia justru tersenyum halus menatap Elian.
"Maafkan saya, Pak Elian," suara Dilara terdengar begitu merdu dan tenang.
"Tadi saya sengaja tetap membuatkan kopinya karena Bapak kelihatan sangat membutuhkan asupan kafein pagi ini. Tapi untuk urusan membersihkan lantai atas, sepertinya itu di luar kewajiban saya."
Tembakan halus dari Dilara sukses membuat Elian bungkam seketika. Bu Melani yang menangkap situasi itu langsung menatap putranya dengan tatapan menyidik.
"Astaga, Elian! Kamu menyuruh Dilara buat kopi dan menyapu lantai atas?!" seru Bu Melani tak percaya.
"Kamu ini ya, main perintah saja!"
"Aku cuma salah sangka, Bu," jawab Elian defensif, walau ada sedikit warna merah di ujung telinganya karena malu. Ia memandang Dilara lagi, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih intens.
"Lagi pula, mana aku tahu kalau dia pengasuhElang yang baru. Pagi-pagi sudah berdiri di dapur sambil bawa koper besar."
"Itu karena Dilara mulai hari ini akan menginap di sini!" tegas Bu Melani. Beliau lalu memegang bahu Dilara dengan penuh kasih.
"Abaikan saja Omnya Elang ini, Dilara. Sikapnya memang sering kaku dan asal tebak."
Tiba-tiba, balita tampan di samping Bu Melani melepaskan pegangan tangannya. Anak laki-laki itu melangkah pelan mendekati Dilara. Matanya yang bulat menatap hijab krem dan wajah lembut Dilara tanpa rasa takut.
Elang mendongak, menarik pelan ujung gamis Dilara. Saat Dilara berlutut menyamakan tinggi badannya dan mengukir senyum hangat, anak itu menyembunyikan wajahnya di bahu Dilara dengan kekeh kecil.
Bu Melani tersenyum lega melihat interaksi instan itu. Namun, suara dehaman dingin dari balik meja kerja langsung memecah suasana.
Elian menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, bersedekap dada sembari menatap Dilara dengan pandangan meremehkan.
"Jangan senang dulu, Bu," ujar Elian sinis, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Saat melihat Elang mulai mau dekat dengan dia. Kita lihat saja seberapa lama wanita ini bisa bertahan."
Dilara berdiri kembali dengan tenang, merapikan letak gamisnya tanpa menunjukkan riak emosi.
Elian menatap Dilara lurus-lurus, melipat jemarinya di atas meja.
"Sekadar informasi buat kamu, Dilara. Sudah ada belasan pengasuh sebelum kamu yang keluar dari rumah ini. Yang paling bertahan cuma dua minggu. Anak itu kalau sudah kumat tantrumnya bisa melempar barang dan menangis tanpa henti seharian. Apalagi buat orang yang tidak punya latar belakang pendidikan PAUD atau psikologi anak seperti kamu."
"Elian! Jaga bicaramu!" tegur Bu Melani dengan nada tajam.
"Kamu ini bukannya berterima kasih ada yang mau mengasuh keponakanmu, malah menakut-nakuti."
"Aku cuma realistis, Bu," balas Elian datar, matanya tak lepas dari sosok Dilara.
"Lulusan Sarjana Ekonomi cumlaude mendadak mau jadi babysitter dan tinggal di rumah orang? Terdengar sangat mencurigakan. Paling-paling seminggu lagi dia sudah angkat koper karena tidak sanggup menghadapi Elang, atau memang punya niat lain."
Mendengar sindiran yang cukup menyengat itu, Dilara tidak membalas dengan nada tinggi. Ia justru menatap Elian dengan binar mata yang jernih dan senyuman yang teramat sopan.
"Terima kasih atas peringatannya, Pak Elian," tutur Dilara halus namun mantap.
"Dua minggu memang waktu yang singkat. Tapi bagi saya, bertahan atau tidaknya seseorang dalam sebuah pekerjaan bukan cuma soal gelar, melainkan tentang kesabaran dan niat yang tulus."
Elian mengerutkan alisnya, sedikit terkejut dengan ketenangan wanita di depannya.
"Lagipula," sambung Dilara pelan sembari melirik cangkir kopi hitam di meja Elian,
"menghadapi anak balita yang sedang tantrum jauh lebih mudah untuk dipahami daripada menghadapi orang dewasa yang suka mengambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya."
Bu Melani langsung tertawa kecil mendengar jawaban cerdas itu, sementara Elian seketika membisu. Pria tegap itu mengepalkan tangannya di atas meja, menatap Dilara dengan tatapan yang makin tajam, namun kali ini tak mampu membalas sepatah kata pun.
"Sudah, sudah! Elian, kamu pergi bekerja sana!" potong Bu Melani seraya menuntun Dilara keluar ruang kerja.
"Ayo Dilara, Ibu antarkan kamu ke kamarmu di lantai bawah, dekat dengan kamar Elang."
Dilara mengangguk ramah, lalu menuntun jemari mungil Elang yang enggan melepaskan genggamannya. Sebelum memutar tubuhnya, Dilara sempat membungkuk sopan ke arah Elian.
"Saya permisi dulu, Pak Elian. Semoga harimu menyenangkan," pamit Dilara santun.
Elian hanya menatap punggung Dilara yang melangkah keluar ruangan bersama ibu dan keponakannya. Saat pintu kayu jati itu tertutup rapat, Elian bersandar di kursinya, melirik cangkir kopi hitam yang masih berasap di tangannya.
Pria itu menyesap kopinya sekali lagi. Pahitnya pas, persis seperti yang ia sukai. Elian mendengus pelan, menatap pintu ruangan dengan garis rahang yang mengetat. Wanita itu tidak sesederhana yang ia duga.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛