Indonesia
NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: Wajah Baru di Balik Meja Direksi

Reno yakin Sutradara Wira akan menyambutnya sendiri.

Sementara itu, di gedung PE, tidak ada seorang pun yang berani lagi menyambut Arya sebagai sekadar suami direktur.

Keesokan siangnya, Arya berdiri di lobi dengan dua kotak kue. Satu untuk Sasa, satu lagi untuk staf audit yang bekerja sampai dini hari. Ia masih memakai kemeja sederhana, tetapi kartu akses yang menggantung di lehernya berwarna hitam, tingkat akses tertinggi setelah direktur utama.

Seorang resepsionis buru-buru berdiri. "Selamat siang, Pak Arya."

"Siang. Bu Anindya di atas?"

"Sedang rapat produksi, Pak. Perlu saya hubungi?"

"Tidak usah. Saya bisa menunggu."

Dua pegawai muda berjalan melewati pintu putar. Salah satunya berbisik terlalu keras, "Itu suaminya Bu Nindya, kan?"

Yang lain menjawab, "Katanya cuma pernikahan bisnis."

Arya menoleh. Keduanya langsung pucat.

"Benar," katanya. "Saya suami Bu Anindya. Dan mulai kemarin, saya juga wali saham pengendali perusahaan ini. Kalau mau membicarakan saya, gunakan data terbaru."

"Maaf, Pak Arya."

"Tidak perlu minta maaf. Bekerjalah yang baik. Gosip paling cepat mati kalau perusahaan punya hasil."

Seorang supervisor yang baru turun dari lift memberanikan diri mendekat. "Pak Arya, kami menerima surat bahwa semua persetujuan belanja di atas Rp1 miliar kini memerlukan tembusan wali saham. Apakah alurnya akan diperlambat?"

"Tidak," jawab Arya. "Tembusan bukan izin kedua. Tim Anda tetap bekerja sesuai kewenangan. Saya hanya ingin jejak digitalnya utuh."

"Kalau ada kebutuhan produksi mendadak?"

"Catat alasan, unggah bukti, lalu jalan. Jangan menunggu saya hanya untuk melindungi kursi sendiri."

Supervisor itu tampak lega. "Baik, Pak."

Arya menunjuk kartu aksesnya. "Dan beri tahu tim TI, kartu ini tidak boleh membuka ruang server. Pemegang saham tidak perlu masuk ke semua pintu."

Kalimat itu didengar cukup banyak orang. Kekhawatiran bahwa pemilik baru akan mencampuri semua urusan mulai surut, digantikan pertanyaan lain: dari mana lelaki yang disebut tak berguna itu memahami pemisahan akses begitu cepat?

Kedua pegawai itu mengangguk dan bergegas menuju lift. Dari lantai mezzanine, beberapa staf lain sudah mendengar. Informasi menyebar lebih cepat daripada memo direksi.

Anindya muncul dari lift khusus beberapa menit kemudian. Tatapannya jatuh pada kotak kue.

"Anda merayakan sesuatu?"

"Satu kotak untuk adik saya. Satu untuk tim yang menemukan pembayaran vendor masuk ke rekening perusahaan konsultasi kosong."

"Audit awal selesai?"

Arya menyerahkan kotak kedua kepada resepsionis agar dikirim ke lantai keuangan. "Surya menandatangani perintah bayar, tetapi otorisasi keduanya menggunakan akun mantan komisaris PE. Ada yang mempertahankan akses lama."

Anindya mengerutkan dahi. "Saya akan minta tim legal mengirim pemberitahuan resmi dan membuat berita acara akses sistem."

"Bagus. Jangan pecat Surya dulu. Orang yang merasa aman lebih mudah diikuti."

Anindya menatapnya lama. "Terkadang saya lupa Anda mengaku belajar dari internet."

"Internet sangat luas."

Arya berjalan ke sudut lobi yang sepi dan mengeluarkan ponsel hitam. Ia memilih kontak terenkripsi dengan nama Kevin.

Panggilan dijawab setelah nada kedua.

"Bos," suara muda terdengar bersama bunyi papan ketik. "Gue kira lo lupa punya saudara di luar negeri."

"Pulang ke Surabaya."

"Wah, romantis banget. Alasan resminya apa?"

"Kepala keamanan siber PE. Ada akun mati yang hidup lagi dan vendor kosong menerima miliaran."

Suara ketikan berhenti. "Akhirnya kerjaan yang enggak membosankan. Kapan mulai?"

"Secepatnya. Bawa tim kecil. Jangan bawa reputasimu."

Kevin terkekeh. "Reputasi gue datang lebih dulu daripada pesawat."

"Maka hapus jejaknya sebelum mendarat."

"Siap, Bos. Dua hari. Gue kirim rancangan segmentasi sistem malam ini."

Arya menutup panggilan. Anindya berdiri beberapa langkah di belakang dengan tangan terlipat.

"Siapa Kevin?"

"Orang yang akan memastikan tidak ada mantan komisaris bangkit dari kubur digital."

"Riwayatnya?"

"Bersih."

"Anda menjawab terlalu cepat."

"Karena saya yang membersihkannya."

Anindya hendak bertanya lagi, tetapi pintu lift terbuka. Tiga manajer keluar dan otomatis menunduk kepada mereka.

"Pak Arya. Bu Anindya."

Arya membalas anggukan. Kali ini tidak ada bisik-bisik. Identitasnya sebagai pengendali sudah mulai menjadi kenyataan di lantai paling bawah, bukan hanya kalimat dalam ruang rapat.

Sore itu ia kembali ke Puri Adiwangsa. Di teras belakang, Mala sedang menyetrika kemeja ketika Arya meletakkan kotak kue di meja.

"Untuk Sasa," katanya. "Pastikan dia makan setelah makan malam."

"Baik, Den Arya."

Arya memperhatikan buku terbuka di samping keranjang pakaian. Buku persiapan ujian kesetaraan sekolah menengah.

Mala buru-buru menutupnya. "Maaf. Saya hanya membaca saat pekerjaan selesai."

"Kenapa minta maaf?"

"Saya tidak ingin dianggap mengabaikan pekerjaan."

Arya menarik kursi. "Kamu berhenti sekolah kelas berapa?"

Mala ragu. "Tahun kedua SMA. Ibu sakit. Saya harus bekerja."

"Sekarang ibumu?"

"Sudah tidak ada."

Arya terdiam sesaat. Kesamaan itu tidak membuat mereka otomatis dekat, tetapi cukup untuk membuat suaranya melunak.

"Ambil ujian kesetaraan. Biayanya masukkan ke kebutuhan staf."

Mala menggeleng cepat. "Tidak perlu, Den. Saya bisa menabung."

"Saya tidak sedang memberi sedekah. Pendidikanmu membuat staf saya lebih berguna. Anggap investasi."

"Kenapa Den Arya peduli?"

"Karena terlalu banyak orang menghabiskan hidup demi keputusan orang lain." Arya mendorong buku itu kembali kepadanya. "Sekali-sekali, hiduplah untuk dirimu sendiri."

Mala menerima buku tersebut dengan kedua tangan. Di balik ekspresi patuh, matanya menilai Arya dengan perasaan yang lebih rumit. Tugas awalnya hanya mengawasi putra Wisnu. Tidak ada laporan yang menjelaskan mengapa target pengawasan justru memperhatikan buku yang berusaha ia sembunyikan.

"Terima kasih, Den."

"Dan satu lagi."

Tubuh Mala menegang tipis.

"Kalau menyembunyikan sesuatu, jangan letakkan di samping setrika. Sudut sampulnya hampir terbakar."

Arya berjalan pergi. Mala menatap bekas gosong kecil di bukunya, lalu mengembuskan napas yang tidak sadar ia tahan.

Di koridor menuju kamar, ponsel Arya berdering. Nama Sutradara Wira muncul.

"Nak Arya, kau masih ingat besok malam?"

"Pesan Om terdengar seperti ancaman. Sulit dilupakan."

"Bagus. Bawa Anindya. Wisnu juga datang, tapi dia belum tahu kau akan hadir. Saya ingin melihat wajahnya."

Arya berhenti di depan jendela. "Om sengaja tidak memberitahunya?"

"Ulang tahun harus punya hiburan."

"Saya kira Om mengundang penyanyi."

"Kalian lebih murah."

Wira menutup panggilan sambil tertawa.

Arya memasukkan ponsel ke saku. Di ujung koridor, Anindya baru kembali dari kantor dan berjalan ke arahnya.

"Pak Wira?" tanyanya.

"Besok malam. Dan Wisnu tidak tahu kita datang."

Anindya berhenti. "Jadi kita akan masuk ke satu ruangan bersama orang yang mengatur pernikahan ini, mantan istri Anda yang mungkin hadir, dan separuh industri film?"

"Kedengarannya menyenangkan."

"Bagi orang normal, tidak."

Arya membuka pintu kamar. "Untung rumor mengatakan saya tidak normal."

Di luar jendela, kabut turun menutupi taman. Besok malam, di Graha Swarna, terlalu banyak orang akan datang membawa versi mereka sendiri tentang siapa Arya sebenarnya.

Dan tak satu pun dari mereka siap ketika versi itu mulai retak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!