"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Kejadian tak terduga
Fitri melangkah meninggalkan ruang makan, masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu pelan. Di balik meja makan yang dingin, Adam terduduk sendirian. Ditatapnya kursi kosong di hadapannya dengan tatapan hampa. Hitungan mundur perceraian mereka telah dimulai, dan untuk pertama kalinya, Adam merasa dialah pihak yang paling kalah di balik perjanjian yang ia buat sendiri.
"Masih saja pembelaan diri, dasar pria tak tau malu." Gumam FItri yang berjalan masuk kedalam kamarnya.
Sementara Adam, dia tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari sahabat nya..
"Damm.. lagi dimana kamu!" Ucap Rendy
"Di rumah" jawab Adam.
"Kesini gih.. lu ga kesini apa? Lupa kah?"
"Kemana emang??"
"Hey malam ini tuh pesta kecil-kecilan di resto panama.. pak Dirut adain buat tim kita."
"Kok aku enggak di kasih tau sih?"
"Baca grup maka nyaa! Cepetan kesini.. ruang VIP ya. Mumpung masih baru di mulai"
Acara ini pas dengan apa yang sedang Adam rasakan . Karena itu, dia memutuskan untuk bergabung dan mengikuti acara tersebut.
Malam akhir pekan itu, riuh rendah gelak tawa menggema di ruangan VIP sebuah restoran ternama. Teman-teman lama Adam berkumpul untuk merayakan keberhasilan proyek terbaru mereka. Di tengah denting gelas dan obrolan hangat, beberapa sahabat Adam yang mengenal sosok Fitri saling bertukar pandang prihatin. Mereka tahu betul betapa dinginnya rumah tangga Adam dan bagaimana tulusnya Fitri yang selama ini diabaikan demi Rosa.
"Dam, kamu itu beneran nggak ada kasihan-kasihannya sama Fitri?" cetus Budi, sahabat dekat Adam, sembari menuangkan minuman ke gelas Adam. "Dia itu cewek baik-baik, serba bisa, sabar banget merawat almarhumah ibumu. Mau cari di mana lagi istri kayak begitu?" Ucap lagi Budi.
Adam yang sudah meneguk beberapa gelas minuman beralkohol hanya menyunggingkan senyum miring, matanya agak sayu. "Kalian nggak tahu apa-apa. Dari awal kita menikah cuma status formalitas."
"Formalitas tapi kamu yang rugi sendiri kalau lepasin dia," timpal Rendy geleng-geleng kepala. Tanpa sepengetahuan Adam, Rendy menyeringai tipis sembari diam-diam mencampurkan racikan obat pemicu gairah dosis tinggi ke dalam gelas baru milik Adam. "Nih, minum dulu. Jangan terlalu kaku jadi cowok. Biar otakmu agak jernih sedikit."
Tanpa rasa curiga, Adam meneguk habis isi gelas tersebut. Namun, hanya dalam hitungan menit, reaksi kimia obat itu mulai bekerja ganas. Suhu tubuh Adam melonjak drastis, napasnya memburu, dan kesadarannya perlahan terkikis oleh gelombang panas yang tak tertahankan. Sensasi aneh merayapi seluruh pembuluh darahnya, membuat dadanya berdegup kencang bak ditabuh.
"Gua... gua harus pulang sekarang," pangkas Adam terbata-bata, bangkit berdiri walau kakinya sudah terasa gemetar hebat.
***
Teman-temannya sempat bermaksud menahan, tetapi Adam menepis mereka dan langsung menyambar kunci mobilnya. Dengan sisa sisa kesadaran yang kian memudar, ia mengemudikan mobilnya membelah jalanan malam yang sepi, didorong oleh satu insting purba untuk kembali ke rumah.
Sementara itu di rumah, suasana terasa sangat sunyi. Fitri baru saja selesai menunaikan salat malam. Ia mengenakan piyama kain katun longgar bertangan panjang dengan rambut panjangnya yang terurai halus tanpa jilbab penampilan rumahan yang teramat jarang dilihat oleh Adam. Fitri sedang merapikan beberapa buku kedokteran di ruang tengah saat mendengar pintu depan didobrak kasar.
"Mas Adam?" panggil Fitri panik saat melihat suaminya oleng menabrak bingkai pintu.
Fitri bergegas mendekat untuk menopang tubuh Adam yang terasa sangat panas. Namun, begitu jemari Fitri menyentuh lengan Adam, pria itu mendadak mencengkeram pergelangan tangannya erat-erat. Matanya yang merah menatap Fitri dengan tatapan liar dan lapar, tatapan yang belum pernah Fitri lihat seumur hidupnya.
"Mas... kamu kenapa? Kamu mabuk?!" cecar Fitri sembari berusaha mendorong dada Adam.
"Panas, Fitri... Panas banget..." mengerang pelan, Adam menyudutkan Fitri ke dinding ruang tengah. Aroma alkohol yang menyengat bercampur dengan desah napasnya yang berat mengurung tubuh Fitri tanpa celah.
"Mas Adam, lepas! Sadar, Mas! Ini aku!" jerit Fitri panik, meronta sekuat tenaga.
Namun, efek obat terlarang yang membakar kesadaran Adam berpadu dengan kekuatan fisiknya yang jauh di atas Fitri. Adam tak lagi mendengarkan jeritan atau rontaan itu. Dalam jeratan ilusi dan dorongan gairah yang tak terkendali, ia mengikis habis batas yang selama ini membenteng mereka.
Malam itu, di bawah keremangan lampu ruang tengah yang dingin, ikatan perkawinan yang selama 360 hari selalu hampa mendadak terjalin dalam kehancuran kesadaran. Fitri pasrah dalam tangis diamnya yang pecah, tak menyadari bahwa malam kelam tersebut meninggalkan jejak rahasia yang kelak akan mengubah garis takdir mereka selamanya.
***
Keesokan harinya,
Sinar matahari pagi merembas tipis melalui celah gorden, menusuk matanya yang berat. Adam mengerang pelan, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah bagai dihantam godam. Efek alkohol bercampur zat pemicu kimia semalam meninggalkan rasa pening yang amat menyiksa. Namun, saat kesadarannya perlahan terkumpul, ingatan samar tentang kejadian semalam mendadak berputar hebat di otaknya.
Adam terperanjat bangun. Matanya membelalak menatap sekeliling kamar tamu yang berantakan. Seprai berantakan dan piyama katun milik Fitri yang robek di sudut tempat tidur seolah melayangkan tamparan keras ke wajahnya.
"Fitri!" panggil Adam gagap, suaranya parau dan dipenuhi kepanikan.
Dengan langkah gemetar, Adam bergegas keluar kamar. Di ruang tengah, suasana begitu sunyi dan rapi, seolah badai semalam tak pernah terjadi. Pandangannya berlabuh ke arah dapur, tempat Fitri sedang berdiri membelakanginya, menuangkan air panas ke dalam cangkir. Fitri sudah mengenakan pakaian dinas koas yang rapi dan jilbab yang tertutup sempurna.
"Fitri..." panggil Adam lirih, mendekat dengan raut wajah pucat pasi. "Semalam... semalam aku..."
Fitri mematikan kompor, lalu berbalik pelan. Wajahnya begitu tenang, namun ada lingkaran hitam tebal dan sembap di sudut matanya yang tak sanggup ia sembunyikan. Sikap dinginnya yang teramat asing membuat Adam membeku di tempat.
"Mas Adam sudah bangun? Kopi panasnya sudah aku buatkan di meja," ucap Fitri datar, tanpa nada benci maupun marah.
Adam menelan ludah gatal, rasa bersalah menggerogoti dadanya. "Fitri, tolong maafkan aku... Semalam aku betul-betul tidak sadar. Teman-temanku... aku rasa mereka mencampurkan sesuatu ke minumanku. Aku sama sekali tidak berniat jahat sama kamu"
"Tidak perlu dijelaskan, Mas," potong Fitri halus, menatap Adam lurus tanpa berkedip. "Aku tahu kamu tidak sadar. Lagipula, secara hukum dan agama, kamu masih suamiku. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah atau kelimpungan begitu."
"Tapi, Fitri..." Adam melangkah mendekat, hendak meraih jemari istrinya, namun Fitri dengan tenang melangkah mundur setindak.
"Anggap saja kejadian semalam tidak pernah ada," lanjut Fitri dengan suara selembut sutra tetapi sedingin es. "Sisa masa perjanjian kita tinggal beberapa hari lagi. Jangan sampai kejadian semalam membuat urusan perceraian kita jadi rumit."
~Bersambung~
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.