GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu Diskon dan Target Utama
Angin malam berembus kencang menerpa kaca jendela Vila Melati, sebuah penginapan murah bergaya arsitektur tahun 90-an yang terletak di lereng bukit terpencil. Dinding kayunya sedikit lapuk, dan suara jangkrik dari luar terdengar lebih keras daripada alunan musik jaz yang diputar dari ponsel Gala.
Setelah menghancurkan Konsorsium Lima Cincin, membongkar korupsi triliunan rupiah, dan menikah di bawah garis polisi KUA, Gala dan Senja akhirnya resmi menjadi suami istri. Sayangnya, kemenangan moral dan penegakan keadilan tidak berbanding lurus dengan ketebalan dompet mereka. Seluruh uang tabungan mereka telah habis untuk melunasi utang vendor pernikahan dan biaya "jasa" Siska. Alhasil, bulan madu impian di Bali terpaksa direvisi menjadi liburan tiga hari dua malam di vila berdiskon lima puluh persen ini.
Gala keluar dari kamar mandi mengenakan jubah handuk putih yang lengannya agak kependekan. Ia membawa dua gelas kaca tipis dan sebotol sparkling wine murah yang ia beli di minimarket sebelum mendaki ke vila.
Di atas ranjang, Senja duduk bersila. Alih-alih mengenakan gaun tidur sutra yang romantis, wanita itu mengenakan kaus oblong bergambar band rock lawas dan celana pendek training. Ia sedang sibuk mengoleskan salep pereda nyeri ke memar di buku-buku jarinya—sisa pertarungan dengan agen safari di KUA minggu lalu.
"Nja, kamu tahu nggak apa yang membedakan vila diskonan ini sama hotel bintang lima?" Gala berjalan mendekat, meletakkan botol dan gelas di atas meja nakas, lalu tersenyum tengil.
Senja mendongak, meniup poni yang menutupi matanya. "Kasurnya yang bunyi berderit tiap kali kita napas? Atau aroma kapur barus di lemarinya?"
"Bukan," Gala duduk di tepi ranjang, menatap Senja dengan tatapan lembut yang jarang ia perlihatkan di depan umum. "Yang bikin beda itu karena di sini nggak ada Bos Mafia yang nodongin pistol, nggak ada politikus korup, dan yang paling penting... nggak ada mesin EDC Siska yang tiba-tiba muncul nagih bayaran."
Senja tertawa pelan. Tawa yang selalu berhasil membuat dada Gala menghangat. Senja menggeser duduknya, menyandarkan kepalanya di bahu Gala. Aroma sabun mandi murah bercampur dengan wangi alami tubuh Gala membuat Senja merasa sangat aman.
"Maaf ya, Gal. Gara-gara aku, bulan madu kita disponsori sisa limit kartu kredit yang tinggal sejuta. Padahal kamu baru aja bikin headline berita nasional."
Gala meraih tangan Senja, mengecup buku-buku jarinya yang memar dengan penuh perasaan. "Gue nggak butuh Maldives, Nja. Gue cuma butuh lo. Kalaupun kita harus makan mi instan pakai telur bagi dua sebulan ke depan, selama lo yang masak, gue bakal anggap itu hidangan Michelin Star."
Senja tersipu, rona merah menjalar di pipinya. "Tumben kamu puitis. Pasti ada maunya."
"Ya namanya juga bulan madu," Gala mengedipkan sebelah mata, perlahan mencondongkan wajahnya mendekati bibir Senja. Suasana mendadak dipenuhi tarikan napas yang tertahan, debaran jantung yang berakselerasi, dan romansa yang akhirnya terasa normal.
KLIK. BIP BIP BIP. Lampu kamar mendadak padam. Musik jaz dari ponsel Gala berhenti karena Wi-Fi vila mati. Kegelapan total menyergap ruangan itu.
Gala menghela napas panjang, merusak momen. "Serius deh, Nja. Lo lupa isi token listrik vilanya?"
"Sembarangan! Aku udah isi cepek tadi sore! Harusnya cukup buat tiga hari kalau kita nggak nyalain AC sekampung!" protes Senja di tengah kegelapan.
Tiba-tiba, insting mantan atlet bela diri Senja berteriak. Bulu kuduknya berdiri. Ia menahan napas dan menekan dada Gala agar diam. Di tengah deru angin malam, pendengaran Senja menangkap suara yang sangat spesifik: decit pelan dari sol karet tactical boots yang menginjak lantai kayu teras depan. Bukan hanya satu, melainkan setidaknya empat pasang kaki. Mereka bergerak dengan sinkronisasi dan kesunyian yang mustahil dimiliki oleh maling kampung biasa.
"Gal," bisik Senja sangat pelan, nyaris tanpa suara di telinga suaminya. "Ada tamu. Empat orang. Senjata berat. Di teras."
Romansa bulan madu langsung menguap, digantikan oleh mode bertahan hidup. Gala mengangguk dalam gelap. Jurnalis nekat itu langsung berguling ke sisi kiri ranjang, meraih botol sparkling wine dari nakas. Sementara Senja meluncur tanpa suara ke lantai, tangannya meraba-raba kolong tempat tidur dan menemukan satu-satunya "senjata" yang tersedia di vila murah itu: sebuah raket nyamuk listrik berwarna hijau neon.
TUK. Terdengar suara congkelan pelan pada engsel pintu utama. Dalam hitungan detik, pintu itu didobrak terbuka. Tiga bayangan hitam berukuran besar merangsek masuk ke dalam ruang tamu yang temaram oleh cahaya bulan dari jendela. Mereka mengenakan pakaian taktis serba hitam, rompi antipeluru, kacamata night-vision (NVG) berpendar hijau, dan memegang senapan laras pendek yang dilengkapi peredam suara.
"Target di kamar tidur. Eksekusi senyap. Jangan sampai ada suara," terdengar perintah berupa bisikan statis dari radio komunikasi pemimpin regu.
Salah satu pembunuh bayaran itu melangkah memasuki kamar tidur, senapannya terangkat, memindai ranjang yang terlihat kosong.
Tepat saat pria itu melewati kusen pintu, Senja melompat dari balik lemari pakaian. Tanpa ragu, ia mengayunkan raket nyamuk listrik itu tepat ke wajah si pembunuh bayaran. Ia menekan tombol daya di gagang raket hingga maksimal.
BZZZZZT! CRACK! Bunga api biru menyala terang di kegelapan saat kawat listrik raket itu beradu dengan kacamata night-vision dan wajah musuh yang basah oleh keringat. Pria berbadan kekar itu kejang-kejang tersengat listrik tegangan tinggi, mengerang tertahan, lalu ambruk ke lantai.
"Kontak! Target melawan!" teriak salah satu pembunuh dari ruang tamu, mengarahkan senapannya ke arah kilatan cahaya biru tadi.
Sebelum mereka sempat menarik pelatuk, Gala bertindak. Ia berlari keluar dari kamar tidur, mengocok botol sparkling wine murah di tangannya sekuat tenaga, lalu mengarahkan leher botol itu ke wajah musuh kedua dan melepaskan sumbat gabusnya.
POP!! Sumbat gabus itu melesat bagai peluru hampa, menghantam tepat di lensa night-vision musuh kedua hingga pecah. Cairan anggur berkarbonasi menyembur deras, membutakan mata pria itu. Di saat musuh kedua panik mengusap matanya, Gala melayangkan botol kaca tebal yang sudah kosong itu ke sisi rahang si pembunuh. PRAAANG! Kaca pecah berserakan, dan musuh kedua tumbang.
Melihat dua rekannya jatuh dalam waktu kurang dari sepuluh detik oleh raket nyamuk dan botol minuman keras, pemimpin regu pembunuh itu murka. Ia melempar senapannya yang tak berguna di jarak dekat, mencabut sebilah pisau tempur karambit, dan menerjang Gala.
Bilah melengkung itu nyaris menggorok leher Gala jika Senja tidak meluncur di atas lantai kayu yang licin karena tumpahan anggur. Senja menendang pergelangan tangan sang pemimpin dari bawah. Pisau itu terlempar ke udara.
Memanfaatkan momentum, Senja bangkit berdiri, meraih kerah rompi antipeluru pria itu, memutarnya, dan memberikan bantingan supleks ke belakang. Tubuh berat pemimpin regu itu menghantam meja kaca ruang tamu hingga hancur berkeping-keping.
"Gal! Ambil tali gorden!" teriak Senja sambil mengunci pergerakan pemimpin regu dengan kuncian leher rear-naked choke. Pria itu meronta brutal, namun lengan Senja mengunci seperti catok besi.
Gala bergegas merobek tali pengikat gorden vila yang terbuat dari tambang hiasan. Keduanya bekerja sama dengan efisiensi yang mengerikan—seolah melumpuhkan pasukan pembunuh elit di tengah malam bulan madu adalah rutinitas suami-istri yang normal. Dalam waktu lima menit, ketiga pria itu telah terikat erat tak berdaya bagaikan lemper daging, sementara pria keempat (yang berjaga di luar) berhasil disergap Senja dari belakang dan diseret masuk.
Napas Gala memburu. Jubah handuknya berantakan, menampakkan kaus dalamnya yang sobek. Ia menyalakan senter dari ponselnya untuk menerangi ruangan yang berantakan.
"Nja, kamu nggak apa-apa?" Gala memeriksa tubuh Senja dengan panik, mencari luka tembak atau sayatan pisau.
"Aku cuma lecet kena pecahan meja kaca. Santai," Senja mengelap keringat di dahinya. Matanya menatap tajam ke arah empat pria yang terkapar pingsan. "Gal... ini bukan preman sewaan Karmila atau anak buah Konsorsium. Lihat rompi mereka. Nggak ada logo, senjatanya custom tanpa nomor seri. Mereka ini pasukan operasi hitam."
Gala mengerutkan kening. Insting jurnalismenya mendadak mengambil alih. Preman jalanan bisa dibeli, tapi pasukan hantu seperti ini hanya bisa dikerahkan oleh pihak yang memiliki akses militer atau dana tak terbatas.
Gala berlutut di sebelah tubuh pemimpin regu yang terikat. Ia meraba saku dada rompi taktis pria itu dan menemukan sebuah tablet militer berukuran kecil. Layarnya menyala redup, menampilkan barisan kode enkripsi yang rumit.
"Pasti sisa-sisa petinggi Konsorsium yang balas dendam karena aku udah masukin mereka ke penjara," gumam Gala yakin. "Mereka mau membunuhku sebelum aku buka suara di persidangan nanti."
Gala membawa tablet itu ke meja dapur. Menggunakan ponselnya dan aplikasi peretas portabel yang biasa ia gunakan untuk menyadap data narasumber rahasia, Gala menyambungkan kedua perangkat tersebut. Jemarinya mengetik dengan kecepatan tinggi, mencoba menerobos sistem keamanan firewall tablet tempur itu.
"Enkripsinya tingkat militer, tapi protokolnya ketinggalan zaman. Dikit lagi..." Gala bergumam, matanya menyipit menatap layar yang berkedip.
Senja berdiri di belakang Gala, memegang raket nyamuk yang gagangnya sudah bengkok, berjaga-jaga jika ada gelombang serangan kedua. "Bisa dibuka, Gal?"
"Tunggu, sistemnya lagi bypass identifikasi biometrik..."
BIP. Layar tablet itu berubah hijau. Kunci terbuka. Aplikasi perintah operasi muncul di layar utama. Gala membuka dokumen bertanda CONFIDENTIAL yang merupakan surat perintah misi malam itu.
Gala tersenyum miring, sudah menyiapkan mental untuk melihat namanya dan fotonya sebagai target utama atau High-Value Target (HVT) yang harus dilenyapkan.
Namun, ketika dokumen itu terbuka penuh, senyum Gala memudar. Wajahnya seketika pucat pasi. Darahnya seolah berhenti mengalir.
Di layar tersebut, tidak ada foto Gala. Tidak ada satu pun penyebutan tentang "Jurnalis", "Konsorsium", atau "Artikel Pencucian Uang".
Yang terpampang besar di tengah layar adalah pasfoto Senja saat mengenakan seragam stuntwoman. Di bawahnya terdapat baris teks berwarna merah menyala:
TARGET IDENTIFIKASI: SENJA PRAMITA
STATUS: PRIME TARGET (HVT-01)
PERINTAH: TERMINASI DI TEMPAT. JANGAN TINGGALKAN JEJAK.
KETERANGAN TAMBAHAN: SUBJEK ADALAH PEMBAWA PROTOKOL BROTO. JIKA DITEMUKAN BERSAMA SUAMINYA (GALA), SUAMINYA HANYA DIANGGAP SEBAGAI KERUSAKAN KOLATERAL (COLLATERAL DAMAGE). KLIEN: THE ARCHITECT
Gala menatap layar itu dengan horor, lalu perlahan menoleh ke arah istrinya.
Senja yang ikut membaca layar tersebut dari atas bahu Gala sama terkejutnya. Matanya membulat tak percaya.
"Mereka... mereka ke sini bukan untuk membunuhmu karena artikel itu, Gal," bisik Senja, suaranya bergetar menahan kebingungan yang teramat sangat. "Mereka ke sini... untuk membunuhku? Aku ini cuma pemeran pengganti film laga! Kenapa ada tentara bayaran elit yang disewa oleh orang bernama The Architect mau kepalaku?!"
Gala mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ketakutan terbesarnya bukanlah kehilangan nyawanya sendiri, melainkan menyadari bahwa wanita yang paling ia cintai kini menjadi incaran jaringan pembunuh bayaran tingkat global. Terlebih lagi, sebuah frasa di layar itu mengganggu pikiran Gala.
"Nja..." ucap Gala pelan, matanya menatap tajam ke arah istrinya. "Nama bapak kamu... Pak Broto, kan? Apa sebenarnya yang bapak kamu sembunyikan dari kita?"
Di luar vila, suara baling-baling helikopter yang mendekat mulai terdengar membelah langit malam. Serangan pertama hanyalah tim pengintai, dan kini, mimpi buruk yang sesungguhnya baru saja datang menjemput mereka.