Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 10
Malam itu berlalu dengan tenang, tetapi di balik ketenangan Penthouse Maheswari, mesin intelijen Arka atau yang kini dipanggil Maya sebagai Leo bergerak tanpa henti.
Di sudut sofa, Leo tidak benar-benar tidur. Dalam kegelapan kamar, ponsel berlayar gelap tanpa kartu SIM di genggamannya memancarkan pendar cahaya tipis. Jemarinya bergerak lincah menari di atas layar touch-screen terenkripsi.
Semua barang bukti penggelapan dana lima puluh miliar milik Hendra Maheswari sudah dikirim ke email pribadi Maya dan tim audit internal. Rekaman transaksi lepas pantai Singapura lengkap dengan tanda tangan digitalnya,” bunyi pesan singkat yang masuk dari kode enkripsi 'Ghost-1'.
Leo mengetik balasan pendek: “Bagaimana dengan penyerang di area parkir B2?”
Sudah diinterogasi secara halus. Mereka diperintah oleh pihak ketiga bernama Konsorsium Helios lembaga investasi asing yang berniat melakukan hostile takeover terhadap Maheswari Group begitu Hendra berhasil melengserkan Maya. Hendra hanya dijadikan alat. Mereka berencana mengacaukan jalur pemungutan suara di RUPS besok pagi dengan menyebarkan rumor palsu soal kesehatan mental Maya.”
Leo menyunggingkan senyum dingin. Matanya melirik ke arah ranjang king size di mana Maya tertidur lelap. Deru napas halus wanita itu terdengar sangat teratur. Selama berbulan-bulan, Maya hidup dalam tekanan konspirasi keluarga dan beban berat memimpin perusahaan tanpa tahu siapa yang bisa ia percaya. Namun malam ini, wanita itu bisa tidur nyenyak karena tahu ada seseorang yang siap menjadi tamengnya.
“Amankan semua akses ke ruang rapat RUPS lantai 45 besok pagi. Taruh personil kita sebagai petugas keamanan tambahan di setiap titik akses,” perintah Leo sebelum mematikan ponselnya sepenuhnya.
Matahari pagi menyapa ibu kota dengan sinar keemasan yang menembus kaca raksasa Penthouse.
Maya terbangun saat aroma harum kopi hitam dan roti panggang menyeruak masuk ke dalam kamar. Ia membuka mata dan menemukan ranjang di sebelahnya masih rapi, sementara sofa di sudut ruangan sudah tertata bersih tanpa ada sisa-sisa selimut.
Saat melangkah ke ruang makan, Maya melihat Leo sudah rapi mengenakan kemeja putih bersih dengan jas hitam berpotongan pas yang membingkai postur tubuhnya yang tegap dan maskulin. Dasi hitam melingkar rapi di kerahnya. Pria yang kemarin terlihat santai itu kini benar-benar tampak seperti seorang perwira elit berbalut pakaian formal.
"Selamat pagi, Boss," sapa Leo hangat seraya menuangkan kopi ke dalam cangkir di meja. "Sarapan sudah siap. Kita punya waktu empat puluh menit sebelum RUPS dimulai."
Maya sempat mematung sejenak di ambang pintu. Penampilan Leo pagi ini sangat berbeda. Ketampanan dan aura dominannya terpancar begitu kuat hingga membuat Maya harus berdeham pelan untuk menguasai diri.
"Selamat pagi," jawab Maya, melangkah mendekati meja makan. "Kamu... terlihat sangat berbeda hari ini."
"Hari ini adalah hari pertempuranmu, Maya," sahut Leo seraya menarikkan kursi untuk Maya duduk. "Seorang pengawal harus menyesuaikan penampilannya agar pantas berdiri di samping Sang Ratu."
Maya tersenyum tipis sebuah senyuman tulus yang jarang sekali ia perlihatkan kepada siapa pun di dunia bisnis. "Terima kasih, Leo."
Pukul 08.50 WIB, Maheswari Tower sudah dipadati oleh puluhan wartawan media bisnis dan seluruh pemegang saham utama. Suasana di lantai 45 memuncak dalam ketegangan.
Ketika pintu ruang rapat besar terbuka, Maya melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Langkah kakinya yang diiringi suara ketukan tumit sepatu memancarkan wibawa seorang CEO tertinggi. Dan tepat satu langkah di belakang sisi kirinya, Leo berjalan tegap dengan pandangan mata yang tajam menyapu seluruh sudut ruangan.