Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mainan Sergio?

Langkah kaki Calum berhenti tepat di depan sebuah dinding batu tersembunyi di sudut lorong lantai bawah. Dengan menekan sebuah panel digital rahasia dan memindai sidik jarinya, dinding batu tersebut bergeser otomatis, menampakkan sebuah lorong bawah tanah yang bernuansa modern dengan pencahayaan temaram.

​Sepanjang ditarik kasar oleh Calum melewati lorong tersebut, Serena terus saja mengomel panjang pendek. Namun, jauh di lubuk hatinya, mata gadis itu berbinar-binar penuh takjub.

"Wah... Jadi seperti ini bentuk ruang bawah tanah tempat persembunyian rahasia para mafia? Keren banget, mirip markas agen rahasia di film Hollywood! batinnya kagum," mengabaikan rasa sakit di pergelangan tangannya.

​"Masuk ke dalam dan jangan membuat masalah, Nyonya!" perintah Calum dengan suara dingin tanpa kompromi, lalu mendorong tubuh Serena masuk ke dalam sebuah ruangan khusus yang aman.

​Serena terhuyung, namun langsung berbalik memprotes. "Tapi kan aku masih penasaran bagaimana jalannya perang di luar, Calum! Kenapa aku malah dikurung di sini?!" kesal Serena dengan bibir mengerucut cemberut.

​Calum menatap tajam ke arah Serena, rahangnya mengeras menahan emosi. "Jangan menambah beban pekerjaan saya, Nyonya! Jika bukan karena perintah mutlak dari Tuan Sergio agar melindungi Anda, maka Anda sudah saya bunuh dan buang ke laut sejak hari pertama Anda menginjakkan kaki di mansion ini!" ucap Calum tajam menusuk, suaranya sedingin es yang membekukan udara di ruangan itu.

​Sebelum Serena sempat membalas, Calum langsung membanting pintu besi tebal tersebut dari luar.

​Cklek!

Bum!

​Pintu terkunci rapat, meninggalkan Serena yang berdiri mematung di tengah ruangan dengan mulut sedikit terbuka. Ia terdiam cukup lama, meresapi ucapan Calum barusan. Jadi... pria putih pucat itu benar-benar berniat membunuhnya?.

​Serena mengalihkan pandangannya mengelilingi kamar bawah tanah tersebut. Interiornya sebenarnya cukup nyaman, ada sofa empuk, tempat tidur, dan fasilitas lengkap layaknya kamar hotel bintang lima, sama sekali tidak terlihat menyeramkan. Tapi sisa-sisa kata-kata tajam Calum tadi sukses membuat suasana hatinya langsung drop. Dengan langkah lesu, Serena berjalan dan menjatuhkan diri ke atas sofa, melipat kedua tangannya di dada sambil cemberut sedih.

​"Jahat banget... Ngomong-ngomong soal si Calum kutub es itu, dia memang kelihatan benci banget sama aku sejak pertama kali jemput ke rumah," gerutu Serena pilu, matanya mulai berkaca-kaca bukan karena takut, melainkan karena kesal harga dirinya sebagai penonton perang diinjak-injak.

"Apa salahku coba? Padahal Zayden dan penjaga lain ramah-ramah... Atau jangan-jangan mereka semua cuma akting doang?"

​Waktu terus berjalan. Sekitar satu jam berlalu dalam keheningan di dalam bunker bawah tanah tersebut, hingga tiba-tiba...

​Cklek!

​Pintu besi itu terbuka lebar. Sosok Sergio melangkah masuk dengan aura gelap yang masih menyelimuti tubuhnya. Kemeja hitam yang dikenakannya tampak sedikit kusut, dengan beberapa noda samar di bagian lengan, menandakan betapa sengitnya pertempuran di luar baru saja selesai.

​Serena, yang masih merasa sebal dan sakit hati, sengaja membuang mukanya ke arah samping begitu melihat suaminya datang. Ia melipat tangan dan memasang wajah masam, enggan menyambut kedatangan sang kepala mafia.

​Sergio menghentikan langkahnya beberapa meter dari sofa. Pria itu menyipitkan mata birunya, memperhatikan gerak-gerik istrinya dengan penuh keheranan. Ada yang sangat aneh dengan Serena hari ini. Biasanya, wanita itu akan langsung menyambutnya dengan omelan panjang, celetukan blak-blakan, atau pertanyaan aneh seolah mulutnya memang diciptakan untuk terus bersuara tanpa henti. Tapi sekarang? Jangankan menyapa, melirik saja tidak mau.

​"Kamu kenapa?" tanya Sergio dingin, suaranya berat dan menyelidik.

​Serena tetap diam membisu, sengaja membuang muka semakin jauh ke arah dinding, menunjukkan gestur merajuk yang kental.

​Merasa diabaikan, sesuatu yang paling dibenci oleh seorang pemimpin mafia berdarah dingin seperti dirinya membuat rahang Sergio mengeras. Ia paling pantang tidak dianggap ada di hadapan siapapun, termasuk oleh istrinya sendiri.

​"Serena!" panggil Sergio dengan nada suara yang naik satu tingkat, sarat akan peringatan.

​Belum sempat Sergio melangkah mendekat, tiba-tiba sebuah suara isakan kecil terdengar lolos dari bibir Serena. Pundak gadis itu bergetar halus.

​"Hiks... Mengapa kalian semua jahat sekali padaku..." isak Serena lirih dengan suara parau yang dibuat-buat sedih, tetap memunggungi Sergio.

"Padahal... hiks... aku kan cuma ingin melihat perang di luar sebentar saja... Kenapa harus diseret kasar, dikurung, lalu diancam mau dibunuh?!"

​Mendengar pengakuan blak-blakan itu, Sergio yang tadinya bersiap marah mendadak tertegun di tempat. Otaknya seketika membeku. Jadi... Serena bertingkah semarah dan sesedih ini hanya karena ia tidak diizinkan menonton perang antar klan?!.

"​Apa-apaan wanita ini?!" batin Sergio frustrasi. Seharusnya, di situasi genting tadi, seorang istri normal akan merasa ketakutan setengah mati, memeluk suaminya, atau bersyukur karena diselamatkan ke tempat aman. Tapi Serena? Istrinya ini malah merajuk histeris dan menangis sedih gara-gara gagal nonton baku tembak layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan di mal!

​"Serena, berbalik lah dan dengar—" panggil Sergio mencoba melunak, berusaha mendekat.

​"Jangan panggil aku!" potong Serena tajam, lalu menoleh cepat dengan mata cokelatnya yang basah berair, menatap Sergio dengan sorot penuh kemarahan kekanak-kanakan.

"Mulai sekarang, aku akan mogok bicara padamu! Titik!"

​Sergio mengangkat sebelah alisnya. Alih-alih takut, pria itu justru tersenyum geli melihat ekspresi merajuk di wajah istrinya yang tampak memerah.

"Oh ya? Mogok bicara?" tanya Sergio dengan nada meremehkan yang sengaja dipancing.

​"Tentu saja!" seru Serena sengit, air matanya kini benar-benar meleleh turun membasahi pipinya karena emosi yang campur aduk.

"Coba dipikir pakai logika! Suami macam apa yang membiarkan pengikutnya menyeret istrinya secara kasar, mengurungnya di dalam bunker gelap, bahkan mengatainya dengan ancaman mau dibunuh?! Suami durjana!" protes Serena menggebu-gebu, meluapkan seluruh kekesalannya.

​Mendengar kata-kata ancaman mau dibunuh dan diseret kasar, ekspresi wajah Sergio mendadak berubah tegang. Aura di sekitar tubuhnya langsung berubah dingin secara drastis. Sergio melirik sekilas ke arah pintu bunker yang tertutup rapat. Ia tahu betul di balik pintu besi itu, Calum sedang berdiri berjaga dengan setia.

"​Jadi... Calum berani berkata kasar dan mengancam Serena?" batin Sergio berbahaya.

​Meskipun Calum adalah tangan kanan paling setia dan dapat diandalkan dalam urusan membunuh musuh, Sergio tidak pernah mentoleransi siapa pun yang berani melompati batas atau bersikap tidak sopan kepada wanita yang sudah ia sahkan sebagai istrinya, terlebih lagi membuat Serena menangis merajuk seperti ini.

​Sergio kembali mengalihkan pandangannya pada Serena, menatap lembut ke arah mata istrinya yang masih berkaca-kaca. Pria bertubuh tegap itu menghela napas pelan, menghilangkan sedikit jarak di antara mereka, lalu melangkah mendekati sofa.

​"Siapa yang mengancam akan membunuhmu?" tanya Sergio dengan suara yang mendadak jauh lebih rendah dan tenang, namun menyembunyikan kemarahan yang tertahan di baliknya.

​Serena mendengus pelan, memalingkan wajahnya sambil menyeka sisa air matanya menggunakan punggung tangan.

"Siapa lagi kalau bukan si kutub es bertanduk, Calum! Dia bilang kalau bukan karena perintahmu, dia sudah membunuhku sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di mansion ini!" adu Serena dengan nada mengadu, bibirnya masih mengerucut sebal.

"Kamu tahu kan, rasanya sakit hati dibilang begitu? Padahal aku ini istri sahmu! Istri sah, Tuan Sergio! Meskipun ujungnya dijadikan pembantu!"

​Sergio mengepalkan tangan kanannya erat-erat di sisi tubuhnya. Urat-urat di punggung tangannya sedikit mencuat. Calum benar-benar sudah melewati batas. Meskipun niat awal Calum mungkin hanya mengamankan situasi dan menganggap Serena sebagai beban, tetap saja ada tata krama mutlak di bawah kekuasaannya.

​"Dia berkata seperti itu padamu?" tanya Sergio memastikan, sorot matanya menatap tajam ke depan pintu.

​"Iya! Jelas banget! Kupingku belum tuli untuk mendengarnya!" balas Serena sewot, masih enggan menatap suaminya.

"Makanya, jangan salahkan aku kalau aku mogok bicara dan menolak tidur sekamar sama kamu malam ini!"

​Sergio terdiam sejenak. Mendengar ancaman mogok tidur dari istrinya, sudut bibirnya justru kembali berkedut membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Di tengah kekacauan pasca-penyerangan musuh dan masalah keamanan klan yang menumpuk, siapa sangka ia harus menghadapi drama rumah tangga yang begitu absurd dan menggemaskan dari wanita di depannya ini.

​Sergio akhirnya melangkah lebih dekat, lalu duduk di tepi sofa tepat di sebelah Serena. Serena langsung bergeser menjauh, menempelkan tubuhnya ke sandaran sofa sebelah kiri, memberi jarak sejauh mungkin dari suaminya.

​"Geser lagi sana, sampai kamu jatuh ke lantai," ucap Sergio datar bernada menggoda.

​"Biarin! Daripada dekat-dekat sama suami yang nggak bisa ngebelain istrinya waktu dihina anak buah!" ketus Serena, melipat kedua tangannya semakin erat di dada.

​Sergio mengulurkan tangan kanannya secara tiba-tiba, meraih dagu Serena dan dengan lembut memaksa wajah gadis itu untuk menoleh padanya. Serena sempat meronta pelan, namun cengkeraman Sergio begitu kokoh namun tidak menyakitkan.

​"Dengar sini, Serena," ucap Sergio dengan suara beratnya yang menghanyutkan, menatap lurus ke dalam mata cokelat gadis itu.

"Pertama, aku minta maaf karena anak buahku sudah bersikap kurang ajar dan melontarkan kata-kata ancaman padamu. Malam ini juga, aku akan beri dia pelajaran agar tahu cara menghormati nyonyanya sendiri."

​Serena mengerjap, sedikit terpaku mendengar ucapan serius dari suaminya. Kemarahannya mendadak menguap setengah melihat kesungguhan di mata biru terang Sergio.

​"Kedua," lanjut Sergio dengan nada yang sedikit melembut, ibu jarinya bergerak mengusap lembut sisa air mata di pipi Serena.

"Alasan kenapa aku menyuruhmu dibawa ke tempat aman bukan karena aku ingin menyiksamu atau mengekang mu... tapi karena aku tidak mau kehilangan mainan yang cerewet ini gara-gara peluru nyasar di luar sana. Paham?"

​Jantung Serena berdegup kencang seketika. Pipi mulusnya langsung merona merah padam mendengar kalimat bernada posesif namun manis yang meluncur dari bibir sang mafia kejam.

"Duh... Kenapa dia bisa ngomong hal romantis dengan ekspresi seserius itu, sih? Bisa-bisa aku kena serangan jantung beneran," batin Serena histeris dalam hati.

​Meskipun hatinya berbunga-bunga, Serena berusaha tetap memasang wajah jual mahal. Ia menepis pelan tangan Sergio dari dagunya lalu mendengus kecil.

Bersambung...

1
Mia Camelia
sergio mah ngancem mulu🤭🤭🤭
Mia Camelia
chapter nya kurang banyak thor🤭🤭🤭🤭
It's me Ri🥕: Padahal author up 4 yang terupdate 1, baru di cek🙏
total 1 replies
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!