Indonesia
NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Retakan di Klan Zhao

Kekalahan Zhao Feng menyebar ke seluruh Perbatasan Utara lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun. Dalam waktu seminggu, cerita tentang "sampah Klan Lin yang mengalahkan penerus Klan Zhao dengan teknik kuno yang telah punah" telah menjadi bahan pembicaraan di setiap kedai teh dan pasar kota.

Di ruang utama kediaman Klan Zhao, suasana jauh berbeda dari kemeriahan yang dinikmati Klan Lin. Zhao Kang duduk di kursi utamanya, wajahnya keras seperti batu, sementara di hadapannya berjajar para tetua klan dengan ekspresi tak kalah suram.

"Kita bukan hanya kehilangan Ladang Obat Utara," salah seorang tetua senior berkata tajam, "kita kehilangan muka di depan seluruh Aliansi Kota. Klan-klan lain yang dulu segan pada kita kini mulai berani mempertanyakan wibawa Klan Zhao secara terbuka."

"Aku tahu," Zhao Kang menjawab dingin, meski di balik ketenangannya tersimpan kemarahan yang membara. Ia menatap putranya, Zhao Feng, yang duduk di sudut ruangan dengan wajah pucat, masih memulihkan diri dari qi yang kacau balau akibat serangan Lin Mu.

"Rencana Ayah gagal total," Zhao Feng bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun di ruangan itu. "Aku sudah meremehkannya."

"Cukup," potong Zhao Kang tajam. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di sandaran kursi, berpikir keras. Rencana licik yang dulu ia banggakan kini berbalik menjadi aib terbesar dalam sejarah klannya. Cara-cara konvensional jelas tidak lagi cukup untuk menghadapi ancaman yang ternyata jauh lebih besar dari sekadar "sampah cacat" seperti yang selama ini mereka kira.

Setelah para tetua membubarkan diri satu per satu dengan wajah muram, Zhao Kang tetap duduk sendirian di ruangan yang kini sunyi, menatap sebuah kotak kecil tersembunyi di balik lemari pribadinya—kotak yang telah lama tak pernah ia buka, berisi sebuah token hitam berukir simbol yang jarang dikenal orang awam: sepasang sayap gagak melingkari bulan sabit.

Sudah bertahun-tahun aku berjanji tidak akan pernah menggunakan ini lagi, pikirnya, tangannya gemetar sesaat sebelum akhirnya mengambil token itu dari kotaknya. Tapi jika benar ada yang membawa kembali warisan Puncak Pedang ke dunia ini... aku bukan satu-satunya yang perlu tahu.

Sementara itu, jauh dari ruang perundingan yang penuh perhitungan itu, Zhao Yan berdiri gelisah di depan gerbang belakang kediaman Klan Lin, mengenakan jubah sederhana tanpa lambang klan agar tak dikenali, ragu apakah ia benar-benar harus melangkah masuk.

Sejak hari di alun-alun—hari ia memukuli tunangannya sendiri di depan umum karena tekanan dari ayah dan kakaknya—sesuatu di dalam dirinya tak pernah benar-benar tenang. Dan sejak turnamen kemarin, rasa bersalah itu berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit: kekaguman yang enggan ia akui, bercampur ketakutan atas apa yang mungkin direncanakan ayahnya selanjutnya.

Ia akhirnya mengetuk pintu gerbang kecil itu, dan tak lama kemudian, Lin Mu sendiri yang membukanya, mengernyit sedikit melihat siapa yang datang.

"Zhao Yan," katanya datar, tak menyembunyikan kewaspadaan di suaranya. "Kupikir kau sudah cukup jelas menyampaikan pendapatmu tentangku beberapa bulan lalu, dengan pedang kayu di tanganmu."

Wajah Zhao Yan memerah, campuran malu dan gugup. "Aku... aku tahu aku tidak berhak meminta apa pun darimu setelah apa yang kulakukan. Tapi aku datang untuk memperingatkanmu, bukan untuk diriku sendiri."

Lin Mu menyilangkan tangan, menunggu.

"Aku melihat Ayah mengeluarkan sesuatu dari lemari pribadinya malam ini," Zhao Yan melanjutkan, suaranya menurun jadi bisikan meski tak ada seorang pun di sekitar mereka. "Sebuah token hitam dengan lambang sayap gagak dan bulan sabit. Aku pernah mendengar sekilas dari salah satu tetua tentang token semacam itu—katanya itu adalah tanda kesetiaan pada sebuah organisasi bayangan yang beroperasi di luar aturan Aliansi Kota, organisasi yang bahkan ditakuti oleh beberapa sekte besar."

Ketenangan di wajah Lin Mu retak sedikit, meski hanya sesaat. Aula Bayangan. Nama itu memicu ingatan samar dari kehidupan lalunya—organisasi yang bahkan di masa kejayaan Puncak Pedang Sembilan Langit dulu dikenal sebagai kumpulan informan dan pembunuh bayaran kelas atas, yang konon melayani siapa pun yang sanggup membayar mahal, tanpa peduli moralitas.

"Kenapa kau memberitahuku ini?" Lin Mu bertanya, menatap tajam ke mata Zhao Yan, mencoba membaca ketulusan di baliknya.

Zhao Yan menunduk sejenak sebelum akhirnya menjawab, suaranya bergetar. "Karena aku tidak ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih buruk dari sekadar perjodohan yang batal dan taruhan ladang yang hilang. Ayahku terlalu bangga untuk mengakui kekalahan secara terhormat. Aku takut ia akan melakukan sesuatu yang jauh lebih gelap untuk membalas dendam—dan aku tidak ingin punya andil dalam itu, meski hanya lewat diamnya aku."

Hening sejenak menggantung di antara mereka, hanya diselingi suara angin malam yang berhembus pelan.

"Terima kasih," Lin Mu akhirnya berkata, nada suaranya sedikit melunak. "Ini bukan permintaan maaf yang cukup untuk masa lalu, tapi ini langkah yang berani untuk datang ke sini malam ini."

Zhao Yan mengangguk kecil, lalu berbalik pergi tergesa-gesa sebelum ada yang menyadari kepergiannya dari kediaman Klan Zhao. Lin Mu berdiri lama di ambang gerbang, menatap kepergiannya sambil memikirkan nama yang baru saja ia dengar kembali setelah tiga ratus tahun.

Aula Bayangan masih ada, pikirnya, rahangnya mengeras. Dan jika mereka benar-benar terlibat dengan kekuatan besar yang menghancurkan Puncak Pedang dulu... maka jejak pertama menuju dalang sesungguhnya di balik pengkhianatanku mungkin baru saja terbuka, dari arah yang paling tak kuduga.

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!