Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
Matahari siang menyengat pelataran parkir pusat perbelanjaan paling elit di pusat kota. Sebuah mobil sedan hitam mewah berlogo keluarga Elard berhenti tepat di depan pintu masuk utama.
Alana melangkah keluar dari mobil dengan gaun panjang berwarna nude yang anggun, dilapisi mantel tipis bermerek ternama. Di belakangnya, dua pengawal bersetelan jas hitam dari Mansion Elard mengikuti langkahnya dengan jarak tepat dua meter—sebuah pengawalan ketat atas perintah Nyonya Helena.
Setelah hampir satu bulan terkurung dalam kamar beraroma obat dan tekanan medis yang menyiksa, Alana akhirnya diberi izin keluar mansion. Nyonya Helena mengizinkannya pergi ke pusat perbelanjaan elit untuk membeli perlengkapan dekorasi dan kebutuhan rumah tangga—sebuah tugas kecil untuk melatih Alana agar siap mengelola Mansion Elard suatu hari nanti, sekaligus menyegarkan pikirannya demi kesehatan rahim yang tak kunjung terisi.
Namun bagi Alana, kebebasan ini tidak lebih dari sekadar memindahkan ikatan rantai dari dalam kamar ke ruang publik.
"Nyonya Alana, kita punya waktu dua jam sebelum jadwal minum suplemen siang," ujar Pak Budi, pengawal senior yang berdiri kaku di sampingnya.
"Terima kasih, Pak. Saya hanya ingin melihat-lihat sebentar," bisik Alana pelan. Suaranya datar, tanpa binar antusiasme yang biasa dimiliki wanita seusianya saat berada di mal mewah.
Alana melangkah menyusuri lorong-lorong mal yang berkilauan. Langkah kakinya membawa dirinya masuk ke sebuah gerai perlengkapan rumah tangga. Jemari tangannya yang kurus mengusap cangkir porselen berukir emas di atas rak, membayangkan betapa kontrasnya kehidupan yang ia jalani sekarang dengan keluarganya di rumah.
"Lihat tuh! Itu bukannya Kak Alana?"
Suara bisikan renyah sekelompok remaja berseragam SMA dari arah pintu gerai membuat langkah Alana terhenti seketika. Tubuhnya membeku. Alana memalingkan wajah dan menangkap sosok Mutiara—adik bungsunya yang masih mengenakan seragam putih-abu-abu—sedang berdiri bersama tiga teman sekolahnya.
"Mutiara...?" bisik Alana, matanya yang redup mendadak bergetar oleh rasa rindu bercampur cemas.
Mutiara menatap Alana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pandangan adik bungsunya tertuju pada mantel mahal yang dikenakan Alana, tas kulit buatan desainer ternama di lengannya, serta dua pengawal berbadan tegap yang berdiri siaga di belakangnya.
Bukannya menyapa atau memeluk sang kakak, Mutiara justru tersenyum sinis dengan mata memerah. Ia melangkah maju menembus jarak, mengabaikan tatapan heran teman-temannya.
"Wah, hebat ya," cetus Mutiara dengan nada suara keras yang cukup lantang, menarik perhatian beberapa pengunjung toko di sekitar mereka. "Ternyata begini bentukannya orang yang katanya 'berkorban' demi keluarga?"
Alana memajukan langkahnya, tangannya terulur hendak menggapai lengan adiknya. "Mutiara, ini Mbak... Kamu baru pulang sekolah? Bagaimana keadaan Ayah dan Ibu—"
"Jangan sentuh aku!" bentak Mutiara sambil menepis tangan Alana secara kasar.
Dua pengawal Elard di belakang Alana refleks mengambil langkah maju. "Nyonya Alana, apakah ada masalah?" tegur Pak Budi tegas.
"Tidak, Pak! Tolong... jangan mendekat, ini adik saya," tahan Alana cepat dengan mata berkaca-kaca. Ia kembali menatap Mutiara dengan dada yang bergemuruh. "Mutiara, tolong jangan seperti ini..."
Mutiara terkekeh pait, air mata frustrasi menetes di pipinya yang masih muda. "Kenapa, Mbak? Takut dipermalukan di depan pengawal-pengawal kaya Mbak itu? Atau takut citra Mbak sebagai Nyonya Elard yang sempurna jadi tercoreng?"
"Mutiara, bicara pelan-pelan..." bisik Alana memohon, tenggorokannya mendadak menyempit oleh rasa sakit yang menusuk.
"Bicara pelan-pelan?" teriak Mutiara, emosi yang ia pendam selama berminggu-minggu akhirnya pecah di depan umum. "Mbak enak-enakan di sini! Jalan-jalan di mal, belanja barang-barang mahal, dikawal orang-orang berbaju hitam! Sementara Mbak tahu nggak gimana kondisi rumah kita sekarang?!"
Pengunjung gerai mulai berhenti dan berbisik-bisik menyaksikan percekcokan itu. Teman-teman Mutiara tampak canggung dan mencoba memanggilnya, namun Mutiara sudah tidak peduli lagi.
Mutiara menunjuk wajah Alana dengan jari bergetar. "Ayah makin kritis di rumah, Mbak! Batuk darah tiap malam, meratapi nasib karena ngerasa udah menjual Mbak! Ibu cuma bisa nangis sendirian di dapur sambil ngumpulin uang sisa buat beli obat Ayah! Rumah kita itu sekarang udah kayak kuburan, dingin dan hampa!"
"Mutiara... Mbak tidak pernah berniat—"
"Mbak udah lupa sama kita, kan?!" potong Mutiara dengan nada menuduh yang teramat kejam. "Mbak udah senang nikah sama CEO kaya raya itu, kan? Mbak menikmati semua kemewahan ini sementara kita di rumah hidup dalam penderitaan dan rasa malu! Di sekolah, semua orang mengejekku sebagai adik dari cewek yang dibeli orang kaya! Aku muak, Mbak! Aku benci sama Mbak Alana!"
Slab!
Kata-kata pedas itu menghantam dada Alana jauh lebih menyakitkan daripada tusukan jarum medis Dr. Maya atau tumpukan ramuan pahit yang ia telan saban hari. Rasa malu, rasa bersalah, dan martabatnya yang sudah hancur kini diinjak-injak tepat oleh adik kandungnya sendiri di depan umum.
Alana mematung dengan mata memerah, air bening mengalir deras menyusuri pipinya yang pucat. "Mutiara... Mbak tidak pernah menikmati ini semua... Mbak melakukan ini agar kamu tetap bisa sekolah, agar Ayah bisa dirawat..."
"Aku nggak pernah minta Mbak menjual diri buat aku!" jerit Mutiara histeris, air matanya makin deras. "Aku lebih baik putus sekolah daripada harus lihat Ayah nangis tiap hari dan lihat Mbak pamer kemewahan kayak gini! Nggak usah sok jadi pahlawan lagi, Mbak. Mbak Alana yang dulu aku sayangi udah mati!"
Tanpa menunggu balasan dari Alana, Mutiara berbalik dan berlari meninggalkan gerai itu sambil menangis sesenggukan, diikuti teman-temannya yang terburu-buru mengejarnya.
Alana berdiri terpaku di tengah toko. Tubuhnya gemetar hebat, kakinya serasa tak bertulang. Ia meremas kain mantel mewahnya di bagian dada, mencoba bernapas di antara histeria batin yang meremukkan dadanya.
"Nyonya Alana... Anda tidak apa-apa?" tanya Pak Budi prihatin, melihat wajah majikannya yang kini seputih kertas.
Alana menyapu air matanya dengan jemari yang dingin, menggeleng pelan. "Saya... saya ingin pulang ke mansion sekarang, Pak. Tolong..."
Malam harinya, keheningan Mansion Elard terasa sepuluh kali lipat lebih mencekam bagi Alana.
Setelah tiba di rumah, Alana langsung mengurung diri di dalam kamar utama. Ia tidak menyentuh makan malam yang diantarkan pelayan, bahkan membiarkan ramuan obat dari Dr. Maya tergeletak dingin di atas meja rias. Wanita itu duduk meringkuk di tepi ranjang berukuran king-size, memeluk kedua lututnya rapat-rapat dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu taman dari luar jendela.
Kata-kata Mutiara terus berputar tanpa henti di kepalanya: Mbak udah senang nikah sama orang kaya... Mbak pamer kemewahan... Mbak Alana yang dulu udah mati!
Bersambung....