Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10 — Lepaskan Tanganku
Dimas membetulkan pin nama di dada Nara sebelum mereka masuk.
“Miring.”
Ia menekan tepinya dengan ibu jari, lalu mundur untuk melihat.
Nara menahan napas sampai tangannya turun.
Di dalam galeri, dua lukisannya tergantung berdampingan pada dinding abu-abu. Lampu diarahkan sesuai permintaannya, tidak tepat di tengah, sehingga lapisan tipis warna pada sisi kanvas terlihat ketika orang bergerak.
Nara berhenti sebentar.
Selama beberapa detik ia lupa pada suaminya.
“Na!”
Maya datang dengan headset kecil di satu telinga dan kertas susunan acara terlipat di tangan.
“Cantik banget. Gue senang yang ini akhirnya dipajang.”
Ia memeluk Nara, lalu menyapa Dimas.
Nara menunggu sebentar saat suaminya membalas sapaan Maya.
“Aku ke sana dulu, ya. Kalau perlu apa-apa, panggil staf.”
Maya sudah dipanggil seseorang sebelum selesai bicara.
Dimas mengambil dua gelas minuman dari nampan, memberikan satu kepada Nara.
“Jangan tegang. Ini cuma pameran.”
Nara menyesap sedikit. Ia telah berbulan-bulan bekerja untuk berada di ruangan yang menurut suaminya tidak perlu dianggap terlalu penting.
* * *
Seorang perempuan berhenti di depan karya yang lebih besar. Ia membaca label, mendekat, lalu bertanya kepada Nara tentang warna pada sudut kanvas.
Nara menjelaskan bagaimana lapisannya berubah dalam cahaya.
Perempuan itu mengangguk, tertarik. Ia menyebut ukuran dinding rumahnya, bertanya apakah bingkai termasuk.
“Sesuai label, delapan belas juta, termasuk bingkai,” jawab Nara. “Untuk pengiriman—”
“Masih bisa dibicarakan,” potong Dimas.
Nara menoleh.
Suaminya tersenyum kepada calon pembeli.
“Istri saya ini kalau sudah senang ada yang suka, soal harga biasanya gampang. Melukis kan memang hobinya.”
Perempuan itu ikut tersenyum sopan, lalu menatap Nara untuk memastikan.
“Ini pekerjaan saya,” kata Nara.
Dimas menepuk punggungnya ringan.
“Iya, iya. Pekerjaan yang disukai.”
“Dan harganya tetap sesuai label.”
Senyum Dimas tertahan.
Nara memanggil staf untuk menjelaskan prosedur pemesanan. Ia tidak membiarkan suaminya menjawab lagi.
Calon pembeli meminta waktu melihat karya lain sebelum memutuskan. Sesudah ia pergi, Dimas mendekat ke telinga Nara.
“Harus banget kamu mempermalukan aku di depan pembeli? Aku sedang bantu. Orangnya belum tentu jadi beli kalau kamu kaku begitu.”
Nara mengikuti calon pembeli itu dengan pandangan. Ia ingin mengejarnya untuk menjelaskan pengiriman yang tadi terpotong, tetapi sekarang malah tertahan membela harga karyanya kepada suami sendiri.
“Kalau dia nggak jadi beli, biarkan. Harganya sudah aku sepakati dengan galeri. Jangan ditawar-tawarkan lagi, Dim.”
Dimas tertawa kecil.
“Bagus. Aku diam saja, ya. Nanti jangan bilang nggak didukung.”
Nara menggigit bagian dalam pipinya. Ia hampir meminta maaf karena nadanya terlalu tajam, lalu teringat suaminya baru menyebut pekerjaan ini hobi. Ia membiarkan Dimas menunggu.
Dimas meletakkan gelasnya pada meja tinggi di samping mereka.
Nara tahu suaminya tersinggung. Ia tetap memandang lurus ke depan, tidak mau meminta maaf hanya karena mempertahankan harga karyanya.
Kemudian ia melihat Adrian.
Laki-laki itu baru masuk bersama seorang pegawai kantornya. Ia sedang mendengarkan penjelasan kurator, mengangguk, lalu mengangkat kepala dan menemukan Nara di seberang ruangan.
Nara segera memalingkan wajah.
Terlambat untuk mencegah rasa lega yang datang.
* * *
Adrian menghampiri setelah kurator selesai mengajak melihat sisi lain galeri.
“Selamat, Nara.”
“Terima kasih.”
Ia berharap suaranya terdengar biasa.
Dimas berdiri di sebelahnya.
“Datang sendiri?” tanyanya.
“Dengan staf kantor. Maya di sana.” Adrian menunjuk dekat pintu layanan, tempat istrinya sedang berbicara kepada pemasok.
“Rajin sekali mengikuti lukisan istri saya.”
Nara memegang gelas lebih erat.
Adrian memandang Dimas, lalu kembali ke kanvas.
“Kantor kami dapat undangan dari galeri.”
“Iya. Selera ternyata cocok.”
Dimas tersenyum. Adrian membiarkan sindiran itu lewat tanpa menjawab.
Pegawai kantor yang bersama Adrian menghampiri dan memuji posisi lukisan yang sudah terpasang di kantornya. Nara menjawab pertanyaan tentang perawatan permukaan, bersyukur memiliki sesuatu yang jelas untuk dibicarakan.
“Banyak tamu tanya,” kata pegawai itu. “Terutama yang di ruang rapat.”
Dimas menyela, “Berarti pembeliannya berhasil menyenangkan semua orang.”
“Empat karya itu memang dipilih tim,” jawab Adrian.
Ia tidak meninggikan suara. Nara bisa merasakan ketegangan di antara dua laki-laki itu, tetapi tidak tahu bagian mana yang berasal dari dirinya dan mana yang sudah ada sebelum malam ini.
Maya mendekat sambil melepas headset.
“Yang, nanti foto bareng seniman, ya. Na, lo juga jangan pergi dulu.”
Dimas langsung menjawab, “Kami sebentar lagi pulang.”
Nara menoleh.
“Acaranya belum selesai.”
“Sudah hampir satu jam berdiri. Mukamu juga tegang dari tadi. Pulang, istirahat.”
“Aku masih ada sesi kolektor dan foto. Aku harus di sini sampai selesai, Dim.” Nara menoleh kepada Maya, berharap sahabatnya membantu menjelaskan.
Maya melihat Nara, kemudian Dimas.
“Masih ada sesi kolektor. Sebentar lagi kok.”
“Bisa diwakili galeri.”
Dimas mengambil gelas dari tangan Nara, menaruhnya di meja, lalu menggenggam pergelangan tangannya.
“Ayo.”
Nara tertahan di tempat.
“Lepas.”
Dimas menggerakkan kepalanya ke arah pintu.
“Jangan di sini.”
“Kamu yang pegang aku di sini.”
Pegawai kantor Adrian berhenti bicara. Dua orang di dekat karya sebelah menoleh.
Nara mendengar suara sendiri lebih jelas daripada musik galeri.
“Lepaskan tanganku.”
Dimas menatapnya. Jemarinya belum lepas.
Adrian bergerak satu langkah, tetapi Nara sudah menarik pergelangannya sendiri.
Dimas akhirnya membuka genggaman.
“Baik. Aku tunggu di mobil.”
Ia tersenyum kepada orang-orang di sekitar, mengambil napas seperti suami yang sedang bersabar menghadapi tingkah istrinya.
“Jangan lama.”
Dimas berjalan ke pintu tanpa menoleh lagi.
Maya meraih siku Nara.
“Na…”
Nara menggeleng cepat.
“Gue masih harus foto.”
Ia melihat Adrian. Laki-laki itu tetap di tempatnya, tampak khawatir. Nara buru-buru mengalihkan pandangan; ia takut menangis kalau terus melihatnya, padahal sebentar lagi harus berfoto.
Nara berdiri di depan lukisannya saat fotografer memanggil.
Di saku tas, ponselnya bergetar sekali.
Aku di mobil.
Ia tersenyum untuk kamera.