Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Tidak punya suami
Nayla akhirnya menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Napasnya sedikit terengah-engah. Bagi wanita dengan berat badan sekitar 80 kilogram seperti dirinya, berjalan kaki mengenakan sepatu hak tinggi dari perempatan jalan hingga menyusuri selasar gedung kantor sukses membuat beberapa bulir keringat menetes di pelipisnya.
Perlahan, Nayla membuka cermin lipat di atas meja. Sebagai sekretaris CEO Dewangga Group, penampilan rapi adalah harga mati. Ia menyapu lembut pelipisnya dengan tisu, merapikan beberapa helai rambut yang berantakan, serta memastikan riasan tipisnya tidak luntur.
Setelah merasa penampilannya kembali prima, tenggorokan Nayla terasa begitu kering. Ia meraih botol minumnya di sudut meja, tetapi begitu diangkat, tumbler kesayangannya itu ternyata kosong melompong.
Ego Nayla menolak untuk memanggil OB hanya untuk urusan sepele mengambil air minum. Maka, ia memilih berdiri dan melangkah sendiri menuju pantry kantor.
Namun, sesampainya di pantry, nasib buntung justru menyambutnya. Dua galon besar di atas dispenser sudah kosong tak bersisa. Tampak seorang petugas OB bernama Bimo sedang santai mengaduk cangkir-cangkir kopi pesanan staf lain.
"Mas Bimo, ini air galonnya habis ya?" panggil Nayla sopan.
Bimo menoleh sekilas tanpa menghentikan ayunan sendoknya. "Eh, Bu Nayla... mau ngisi air botol ya? Maaf ya, Bu, saya masih sibuk nih bikin minuman pesanan staf lain. Tunggu sebentar ya." Bimo terkekeh kecil, lalu melayangkan pandangan ke arah lengan Nayla. "Tapi kalau buru-buru, Bu Nayla bisa kan melakukannya sendiri? Maaf nih, lengan Bu Nayla saja rasanya lebih besar dari lengan saya..."
Jleb.
Kalimat yang diucapkan dengan nada gurauan itu menghantam dada Nayla tanpa ampun. Hatinya terasa remuk dan sesak seketika. Rasanya menyakitkan, apalagi diucapkan di area publik. Namun, alih-alih meluapkan emosi atau menggunakan jabatannya sebagai sekretaris CEO untuk menindas, Nayla menahan napasnya pelan. Ia memilih untuk menegur dengan tegas, meski tetap disampaikannya dengan nada lembut.
"Bisa... tapi ini kan tugas kamu, Mas Bimo," sahut Nayla tenang, menatap Bimo lurus-lurus.
Bimo sedikit salah tingkah. "I-iya, Bu, sebentar..."
Tepat pada momen itu, pintu pantry terbuka. Desi, salah satu staf senior yang baru saja kembali bekerja usai cuti, melangkah masuk. Usianya beberapa tahun lebih tua dari Nayla.
"Eh! Bu Desi! Selamat pagi, Bu!" sapa Bimo mendadak bersemangat tinggi, ekspresi malasnya menguap entah ke mana. "Sudah masuk kerja lagi, Bu?"
Desi tersenyum manis. "Iya nih, Bimo. Masa cuti melahirkan saya sudah habis."
"Mau ambil air ya, Bu? Sebentar ya, saya naikkan galonnya dulu!" Tanpa diminta, Bimo langsung sigap mengangkat galon baru berbobot belasan kilo itu dan memastikannya terpasang sempurna di dispenser. "Ini sudah, Bu Desi... silakan!"
Nayla berdiri membisu di sudut ruangan. Rasa terasingkan merayapi benaknya. Ia yang datang lebih dulu dan memohon bantuan justru diabaikan, sementara Desi disambut bak ratu hanya dalam hitungan detik.
Menyadari antrean galon kini dikuasai Desi, Nayla memilih bersabar. Untuk mengalihkan rasa canggungnya, perhatian Nayla teralih pada meja snack gratis kantor. Jemari jemarinya terulur hendak mengambil sebuah croissant cokelat. Namun, tangannya membeku di udara tatkala percakapan di belakangnya kembali bergulir.
"Bu Desi ini padahal sudah punya dua anak ya, tapi badannya tetap langsing banget. Kalau dibilang usianya masih 25 tahun, orang-orang pasti percaya deh!" puji Bimo melayang-layang.
Desi tertawa manja seraya menuang air. "Kamu ini bisa saja, Bimo. Saya sangat menjaga pola makan, tahu. Soalnya kerja di perusahaan besar begini kan kita harus selalu berpenampilan menarik." Desi melirik sekilas ke arah punggung Nayla sebelum melanjutkan kalimatnya dengan nada menyindir. "Ah... maaf ya, Bu Nayla, saya tidak bermaksud menyinggung siapapun di sini. Tapi saya cuma sarankan, Bu Nayla sebaiknya jauhi makanan manis-manis deh."
Bimo yang merasa mendapat dukungan dari staf senior melontarkan celetukan yang makin berani. "Bener tuh kata Bu Desi! Masa sekretaris CEO kalah menarik dari staf di bawahnya?"
Nayla memejamkan mata rapat-rapat. Sakit di dadanya merebak tajam, menembus pertahanan dirinya. Namun, ia tidak boleh terlihat lemah. Nayla menarik tangannya kembali dari croissant cokelat itu, lalu melangkah menuju dispenser yang sudah kosong.
Sambil mengisi botol minumnya, Nayla menoleh dan mengumbar senyum tipis yang tampak sangat tegar. "Terima kasih sarannya, Bu Desi... Mas Bimo."
Tanpa menunggu balasan, Nayla berbalik dan melangkah pergi meninggalkan pantry.
Sepanjang koridor menuju meja kerjanya, bisikan-bisikan berisik di dalam kepala Nayla terus bergema liar, 'Ternyata kemampuan kerjaku saja tidak cukup untuk membungkam mereka. Sebanyak apa pun usahaku, semuanya selalu tertutup oleh kata gemuk dan kelebihan berat badan...'
"NAYLA!"
Puk!
Nayla tersentak kaget tatkala sebuah tepukan melayang di bahunya. Ia mendongak panik dan menemukan Mira yang sedang menatapnya heran.
"Astaga, Mir! Bikin kaget saja!" seru Nayla mengelus dadanya.
"Kamu yang bikin aku heran! Kenapa sekaget itu? Melamunkan apa sih?" selidik Mira curiga.
Nayla menguasai dirinya cepat-cepat. "A-ah, tidak kok, Mir. Aku cuma lagi mikir pekerjaan."
Sembari mengekor di samping Nayla menuju meja sekretaris, ingatan Mira mendadak teringat pada investigasi yang tertunda tadi pagi. "Eh, Nay! Ngomong-ngomong... soal suara pria semalam itu, kamu jangan bohong ya! Nggak mungkin tukang ledeng!"
Nayla menghela napas pasrah. "Itu benar-benar cuma tukang ledeng, Mir..."
"Ah, aku nggak percaya!" cibir Mira.
"Beneran, Mir!" Nayla yang berniat menegaskan kebohongannya tanpa sadar mengacungkan dua jarinya ke udara.
Sial bagi Nayla, gerakan tangan itu membuat kilau emas putih di jari manisnya serta kilauan berlian dari gelang mewah di pergelangan tangannya terpapar jelas di bawah pendar lampu koridor.
Mira yang bermata jeli seketika menyambar pergelangan tangan Nayla dengan kekuatan penuh!
"TUNGGU DULU!" pekik Mira berbisik, matanya melotot sempurna menatap perhiasan di tangan sahabatnya. "Nay! Kamu pakai cincin?! Dan ini... gelang ini kan gelang berlian yang harganya setara mobil mewah?! Nayla! Kamu punya pacar konglomerat yang kamu sembunyikan dariku, kan?!"
"M-Mir! Lepasin dulu, aku bisa jelaskan!" panik Nayla berusaha menarik tangannya.
Tepat pada detik ketegangan itu, pintu lift khusus eksekutif berdenting terbuka. Adrian melangkah keluar bersama Rio. Pria tampan itu baru saja kembali dari showroom mobil.
Langkah tegap Adrian seketika terhenti beberapa meter dari meja sekretaris. Pandangan matanya mengunci sosok Mira yang sedang memojokkan Nayla dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Katakan padaku, Nayla!" tekan Mira makin menjadi-jadi. "Ini cincin dari kekasihmu, kan?! Atau... jangan-jangan dari suamimu yang kamu rahasiakan?!"
Di tempatnya berdiri, dada Adrian bergejolak aneh. Ada riak penasaran yang sangat besar di dalam hatinya. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Adrian sangat ingin mendengar Nayla mengakui keberadaannya sebagai sang suami di hadapan orang lain, meski tanpa perlu menyebutkan nama lengkapnya.
Nayla yang makin tersudut akhirnya tertawa canggung demi menutupi rasa gugupnya yang meroket. "AHAHAHA! Kamu ini ngomong apa sih, Mir?! Ini... ini cuma cincin aksesori mainan! Dan gelang ini? Ini cuma emas putih biasa kok, hasil custom di toko perhiasan langganan kita dekat pasar itu!"
"Masa sih?!" cetus Mira tak percaya.
"Iya, Mir! Beneran! Aku tidak punya kekasih apalagi suami!" tegas Nayla meyakinkan.
Di balik wajah datarnya yang dingin, Adrian merasakan denyut kekecewaan yang tak kasat mata di dalam dadanya. Sudut bibirnya mengencang samar. Istrinya itu lagi-lagi memilih untuk menyembunyikannya.
Mira yang masih penasaran berniat menekan Nayla lebih jauh. Namun, beberapa staf yang melintas mendadak membungkuk hormat. "Selamat pagi, Pak Adrian."
Kesadaran Mira melesat kembali. Ia buru-buru melepaskan tangan Nayla dan memutar tubuhnya untuk menyapa sang CEO. "S-selamat pagi, Pak..."
Kalimat Mira terhenti di tenggorokan. Matanya membelalak lebar tatkala menatap penampilan Adrian secara utuh.
Adrian sengaja tidak mengenakan jasnya hari ini. Pria itu berdiri gagah hanya terbalut kemeja biru elegan berpotongan fit, dengan motif batik yang sama persis dan melingkar sempurna di kerah kemejanya, identik seratus persen dengan kemeja yang sedang dipakai Nayla.
Mira secara refleks menatap kemeja Adrian, lalu menatap kemeja Nayla, kembali menatap kemeja Adrian, dan memandangi kemeja Nayla lagi berulang kali!
"T-tunggu..." gumam Mira dengan otak yang bekerja keras memproses keganjilan ini. Ia melirik Rio yang berdiri di belakang Adrian. Rio memang memakai baju warna biru yang sama, tetapi kemeja Rio polos tanpa motif batik sedikit pun! Sementara kemeja Adrian dan Nayla... itu jelas-jelas kemeja couple!
Keadaan Nayla makin terpojok. Wajahnya pucat pasi tatkala menyadari bahwa Mira dan beberapa staf lain mulai saling berbisik dan menatap kemeja mereka berdua dengan pandangan penuh tanya.
Melihat kepanikan yang nyaris membunuh istrinya itu, Adrian akhirnya mengambil alih situasi. Dengan wajah dingin dan suara beratnya yang berwibawa, Adrian menatap Nayla.
"Nayla, tidak ada waktu untuk bersantai," ujar Adrian tegas namun datar. "Segera bersiap dan masuk ke ruangan saya. Siapkan seluruh berkas rapat untuk presentasi sepuluh menit lagi."
Nayla seolah mendapat talang penyelamat di tengah lautan bencana. "B-baik, Pak Adrian! Segera saya siapkan!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Nayla menyambar dokumennya dan melesat masuk mengekor di belakang Adrian menuju ruangan CEO, meninggalkan Mira yang berdiri membatu dengan beribu pertanyaan yang makin liar berkecamuk di kepalanya.
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️