Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Puing-Puing Diri
Deru mesin sedan mewah milik Lisa Larasati melaju kian jauh, membelah kepadatan jalanan kawasan Senopati hingga akhirnya sepenuhnya menghilang di balik tikungan. Bekas decitan ban di atas aspal dan aroma karet terbakar perlahan tersapu oleh hembusan angin sore yang membawa hawa dingin. Para warga serta pengendara yang tadinya mengerumuni lokasi insiden telah membubarkan diri satu per satu, meninggalkan persimpangan jalan yang kembali riuh oleh arus lalu lintas seperti sediakala.
Dirga masih berdiri kaku di atas trotoar yang kasar. Tubuhnya yang memar terasa makin kaku, sementara rasa nyeri dari luka di pelipisnya terus berdenyut konstan. Di jemari tangannya yang gemetar, ia menggenggam selembar kartu nama bersepuh emas dengan cetakan tulisan yang berkilau di bawah temaram cahaya sore: Lisa Larasati – Director of Corporate Strategy, Larasati Group.
"Larasati Group..." gumam Dirga lirih dengan nada suara yang teramat dingin.
Ia mengusap dahinya yang kembali dihantam gelombang pening dahsyat. Sengatan kilatan penglihatan gaib tadi masih meninggalkan bekas rasa sakit yang amat menusuk di dasar otaknya, seolah-olah tabir waktu yang baru saja dibongkar oleh kekuatan sang leluhur telah memeras seluruh daya tahan fisiknya hingga batas teratas.
Seorang pria paruh baya penjual jamu gendong yang kebetulan melintas di trotoar menghentikan langkahnya, menatap Dirga dengan raut iba yang mendalam.
"Mas... Mas tidak apa-apa?" tanyanya ragu-ragu. "Kepala Mas itu masih keluar darah. Itu ada amplop tebal di tangan Mas, kenapa tidak dipakai naik taksi saja untuk pergi ke klinik terdekat?"
Dirga perlahan menoleh, menatap pria tua itu dengan iris mata yang redup namun memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Terima kasih atas perhatian Bapak. Saya masih sanggup berjalan."
"Tapi Mas, kondisi Mas ini sangat memprihatinkan," pangkas pria penjual jamu itu lagi dengan nada cemas. "Langit sudah sangat gelap. Sebentar lagi hujan badai turun. Rumah Mas masih jauh?"
"Cukup jauh, Pak," jawab Dirga singkat seraya memasukkan kartu nama emas milik Lisa ke dalam saku jaket ojolnya yang sobek. "Saya harus segera pulang."
"Kalau begitu, ini... minumlah sedikit air putih hangat dari termos saya," tawar pria itu seraya menyodorkan gelas kecil. "Supaya pusing di kepala Mas sedikit berkurang."
Dirga memandangi gelas hangat itu sejenak, lalu menggeleng pelan secara sopan. "Tidak perlu, Pak. Simpan saja untuk Bapak sendiri. Terima kasih banyak atas kebaikan hati Bapak."
Tanpa menunggu balasan lagi, Dirga memutar badannya dan mulai memacu langkah kaki yang berat. Sepeda motor tuanya yang telah hancur terpaksa ia tinggalkan di pelataran parkir sebuah pertokoan terdekat setelah dibantu oleh warga sekitar. Setiap tumpuan langkahnya terasa amat menyiksa, lututnya gemetar dan persendian kakinya serasa mau lolos, namun Dirga terus memaksa tubuhnya bergerak menembus hawa dingin ibu kota yang makin mencekam.
Gumpalan awan hitam pekat yang sejak tadi menggantung rapat di atas langit Jakarta akhirnya pecah. Hujan deras mengguyur bumi tanpa ampun, disertai kilatan petir yang menyambar-nyambar dengan suara menggelegar. Air hujan yang dingin menghantam tubuh Dirga yang tak terlindung, menyapu darah kering di wajahnya dan membasahi pakaian kusamnya hingga basah kuyup.
Namun, Dirga tidak mempercepat langkahnya. Ia berjalan pelan di bawah guyuran hujan badai, menembus gang-gang sempit permukiman kumuh dengan pandangan lurus ke depan. Di dalam benaknya, bayangan kepahitan bertumpuk tanpa henti, rintihan ibunya saat sakit, hinaan Eri dan Leon di kafe mewah, makian Bu Maya yang menghancurkan helm peninggalan almarhum ibunya, pemecatan sepihak oleh Pak Hendra dan Pak Bambang, hingga tuduhan gila dari Lisa Larasati.
Setelah menempuh perjalanan panjang berjalan kaki hampir satu jam menembus hujan, Dirga akhirnya tiba di ujung gang sempit. Di hadapannya berdiri sebuah rumah panggung kayu yang amat lapuk dengan dinding papan yang mulai menghitam dan lapuk dimakan usia. Rumah yang menyimpan seluruh kenangan masa kecilnya bersama kedua orang tuanya itu kini tampak menyedihkan di tengah terpaan angin kencang.
Saat Dirga melangkah mendekati pintu depan, sebuah suara gemertak kayu yang amat keras mendadak terdengar dari bagian belakang rumahnya.
KRAAAK... DUAARR!
Suara benturan berat beradu dengan tanah becek membahana di tengah deru hujan deras. Air hujan seketika menyembur deras keluar dari celah-celah dinding kayu bagian dapur.
Dirga terperanjat. "Dapur...!"
Dengan sisa tenaga yang ada, Dirga mendobrak pintu depan dan berlari kencang menuju bagian belakang rumahnya. Begitu ia menjejakkan kaki di ambang pintu dapur, matanya membelalak lebar menyaksikan pemandangan yang menghancurkan hatinya.
Atap dapur yang terbuat dari seng tua dan kayu kasau yang sudah lapuk telah rubuh sepenuhnya. Tiang penyangga utamanya patah dihantam angin kencang dan beban air hujan yang menumpuk. Puing-puing kayu, genteng pecah, dan lempengan seng berserakan menghantam lantai tanah dapur yang kini berubah menjadi kubangan lumpur cair. Tungku masak tua peninggalan ibunya hancur tertimpa balok kayu besar, sementara perabotan makan plastik yang rapuh terapung di atas air keruh.
Air hujan yang sangat deras mengguyur langsung dari langit terbuka, membasahi seluruh bagian dalam dapur dan perlahan merembet merusak dinding ruang tengah yang tersisa.
"Ibu..." bisik Dirga dengan suara yang pecah.
Kaki Dirga tidak sanggup lagi menopang berat tubuh dan bebannya yang teramat parah. Lututnya melemah, dan tubuhnya ambruk begitu saja di atas lantai tanah dapur yang basah dan berlumpur. Pakaian kusamnya seketika kotor oleh lumpur cair, namun Dirga sama sekali tidak peduli.
Ia merangkak perlahan di antara puing-puing seng dan kayu yang patah, meraih sebuah tempat bumbu dapur dari tanah liat buatan almarhum ibunya yang kini sudah pecah terbelah dua. Jemarinya yang gemetar memeluk erat serpihan tanah liat tersebut di dadanya.
"Mengapa... mengapa harus seperti ini?" ratap Dirga seraya mendongak menatap langit malam yang terus mencurahkan hujan deras tepat di atas kepalanya. Suaranya tenggelam di antara deru angin dan petir. "Apa salahku, Ya Tuhan?! Aku sudah bekerja keras dari pagi sampai malam! Aku menahan lapar, aku menerima semua makian orang-orang kaya itu! Tapi mengapa Engkau menghancurkan satu-satunya tempat perteduhanku ini?!"
Air mata keputusasaan yang meluap dari pelupuk matanya menyatu dengan guyuran air hujan yang membasahi wajahnya. Di titik ini, Dirga merasakan dirinya benar-benar hancur secara mutlak. Ia tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki kendaraan untuk mencari nafkah, terlilit utang kasbon yang diancam pidana oleh Pak Bambang, dan kini tempat tinggalnya sendiri runtuh menjadi puing-puing tanah.
Tangan kanannya yang bersimbah lumpur masih meremas erat amplop cokelat tebal yang diberikan secara paksa oleh Lisa Larasati di jalanan tadi. Amplop kertas itu kini mulai basah dan lembek terkena air hujan. Di dalamnya, tersimpan puluhan lembar uang kertas nominal seratus ribu rupiah, jumlah uang yang sangat besar, mencapai puluhan juta rupiah, yang sebenarnya lebih dari cukup untuk memperbaiki atap rumahnya yang hancur dan melunasi seluruh utang kasbon kantornya.
Dirga menatap amplop tebal di tangannya itu dengan tatapan mata yang dipenuhi pergolakan batin yang amat dahsyat. Uang itu berada tepat di jemarinya, begitu dekat dan sangat menggiurkan di tengah keputusasaannya yang berada di titik nadir paling bawah.
Namun, saat bayangan wajah Lisa yang memandangnya dengan raut jijik, angkuh, dan melemparkan tuduhan bahwa dirinya adalah orang aneh tak berharga melintas di kepalanya... dada Dirga serasa terbakar oleh harga diri yang sangat dahsyat.
"Tidak..." desis Dirga dengan gigi terkatup rapat, suaranya gemetar menahan gejolak amarah. "Uang ini... adalah uang yang dilemparkan atas dasar rasa kasihan dan pandangan rendah. Jika aku menggunakan uang ini sekarang untuk menyelamatkan diriku... maka aku tidak ada bedanya dengan pengemis yang mereka hina!"
Dirga mengepalkan tangannya rapat-rapt, menahan keinginan ekstrem untuk membuka amplop tersebut. Rasa bangga dan harga dirinya yang tersisa menolak keras untuk menyentuh atau menikmati satu rupiah pun dari lembaran uang ganti rugi yang diberikan oleh gadis kaya yang menganggapnya gila tersebut.
"Aku tidak akan menyentuhnya..." ikrar Dirga lirih namun sarat akan dendam yang amat dingin. "Uang ini... akan menjadi saksi bisu. Aku akan mengembalikan seluruh lembaran uang ini tepat di hadapan Lisa Larasati ketika dia datang berlutut memohon pertolonganku!"
Rasa sakit di kepalanya akibat pendar cahaya keemasan dari sang leluhur mendadak berdenyut kembali secara perlahan, seolah memberikan dorongan energi gaib yang meneguhkan tekad gelap di dalam jiwanya. Pria tua di alam bawah sadarnya telah berpesan bahwa penglihatan takdir yang diberikan kepadanya adalah kunci untuk meraih kekuasaan yang tak tergoyahkan.
Dirga terduduk lemas di atas tanah basah rumahnya yang hancur, membiarkan tubuhnya terus diguyur hujan deras yang tak kunjung reda. Di tengah kegelapan malam, puing-puing atap dapur yang runtuh, dan kehancuran total hidupnya, Dirga menyekat erat amplop uang dan kartu nama emas milik Lisa di balik lipatan jaketnya.
Titik nadir terkoyak ini bukanlah akhir dari jalurnya, melainkan panggung pembuka bagi kebangkitan sosok Dirga yang baru, pria yang tidak akan lagi membiarkan siapa pun di dunia ini menginjak-injak harga dirinya.