Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Formulir Sertifikasi

...#...

...Flat itu ada di lantai dua sebuah toko kain di Jalan Kenari, dua kali naik tangga kayu yang berderit di setiap anak tangga. Rico membawa Pak Darto dengan memapah dari bawah ketiak, dan lelaki itu berhenti dua kali di tangga sambil menahan napas. Wartini berjalan di belakang sambil menggandeng Dimas, tidak melepas tangannya sampai pintu terbuka....

...Ruangannya kecil. Ada lemari kayu, kasur lipat yang sudah diberi seprai, dan satu meja makan dengan kursi tiga. Jendela menghadap ke jalan, tirainya tebal dan berwarna cokelat tua....

..."Bu, duduk," kata Bima....

...Wartini tidak duduk. Ia langsung ke dapur kecil di sudut dan membuka keran. Ada tumpukan piring di bak yang bukan miliknya, dan ia mulai mencuci satu per satu, pelan, sangat teliti, seperti orang yang takut berhenti....

..."Bu, itu piring orang lain."...

..."Ya nanti Ibu ganti."...

..."Ibu, duduk sebentar."...

...Wartini tidak menjawab. Ia mengeringkan piring dengan kain yang dilipat rapi, lalu meletakkannya di rak, lalu mencuci piring yang sama lagi....

...Bima berdiri di pintu dapur. Ia tidak tahu harus menarik ibunya atau membiarkannya. Akhirnya ia pergi ke ruang tengah dan duduk di lantai, bersandar ke dinding, sambil mengawasi Dimas yang sudah ambruk di kasur lipat dengan sepatu masih terpasang....

... ...

...Pagi berikutnya, Bima bangun karena suara sendok beradu dengan panci. Ia sempat bingung di mana dirinya, lalu melihat langit-langit yang retak seperti peta, dan lengan kirinya yang berdenyut di bawah perban....

...Ia keluar ke dapur. Di atas kompor ada panci kecil berisi air yang sudah mendidih, dan di meja ada bungkus teh manis dan gula pasir yang tumpah sedikit....

...Perempuan itu berdiri di dekat jendela dapur, memakai kaus hitam yang bukan mantel. Rambutnya tidak diikat, dan itu membuatnya terlihat lebih muda, atau mungkin hanya lebih lelah. Ia memegang gelas, tapi tidak meminumnya....

..."Dari tadi?" tanya Bima....

..."Dari subuh."...

..."Mbak nggak tidur?"...

..."Tidur itu buang waktu."...

...Bima mengambil gelas dari rak dan menuangkan teh ke dalamnya. Ia tidak tanya dulu mau gula atau tidak. Ia memasukkan satu sendok, mengaduk, lalu berhenti sebelum meletakkannya di meja, karena sadar ia tidak tahu apakah perempuan ini minum teh manis....

..."Itu buat siapa?" tanya perempuan itu....

..."Buat Mbak."...

..."Aku tidak minta."...

..."Terus mau dibuang?"...

...Perempuan itu melihat gelas itu sebentar, lalu meraihnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih ia sembunyikan di saku kaus....

..."Kamu hafal kebiasaan orang?" tanyanya....

..."Nggak. Itu cuma teh."...

..."Tapi kamu tidak bertanya apakah aku mau gula."...

..."Saya tahu Mbak nggak akan jawab."...

...Perempuan itu menyesap tehnya. Sekilas, hampir tidak kelihatan, alisnya bergerak, tapi ia tidak berkomentar. Bima tidak tahu apakah itu tanda suka atau tanda terganggu, dan ia kesal karena tidak bisa membaca itu....

..."Tangan Mbak kenapa?" tanya Bima lagi....

..."Sudah kubilang itu tidak penting."...

..."Saya nanya lagi."...

...Perempuan itu meletakkan gelas di meja dengan bunyi pelan. Ia menatap Bima, dan Bima menatap balik, meski lengannya terasa berat dan perutnya masih kosong....

..."Kamu mau pulang ke warung?" tanyanya....

..."Saya mau tahu soal telepon Ibu."...

..."Ibumu yang harus cerita."...

..."Ibu nggak mau cerita."...

..."Kalau begitu, dia belum siap."...

..."Dan Mbak siap?"...

...Perempuan itu tidak menjawab. Ia mengambil gelasnya lagi dan berjalan ke jendela. Dari sana ia bisa melihat jalan, toko kain di bawah, dan motor-motor yang lewat sambil membawa kardus....

..."Ibumu tadi malam bilang sesuatu ke aku," katanya, tanpa menoleh. "Dia bilang kamu dulu suka berdiri di dapur sampai larut. Waktu kecil, sebelum bapakmu pulang, kamu suka menunggu di depan panggangan sambil bawa kipas."...

...Bima tidak tahu harus bereaksi apa. Ia merasa tenggorokannya tersumbat dan ia benci perasaan itu....

..."Ibu ngomong gitu?"...

..."Dia bilang itu waktu kamu membersihkan kipas dan bilang api itu harus dijaga supaya tidak mati." Perempuan itu menyesap tehnya lagi. "Dia bilang kamu keras kepala dari kecil."...

..."Ibu bilang gitu ke Mbak?"...

..."Dia bilang ke aku karena aku tanya."...

...Bima menggaruk alis dengan tangan kanan, lalu menyadari perban di lengan kirinya membuatnya susah menyembunyikan gerakan itu....

..."Ibu nggak pernah cerita soal saya ke orang lain," katanya pelan....

..."Mungkin dia ingin cerita pada seseorang yang tidak ada di warung."...

...Dari ruang tengah terdengar langkah pelan. Dimas muncul di pintu dapur dengan rambut berdiri, sepatu sudah dilepas, dan kaki telanjang yang tergores. Ia melihat kakaknya dan perempuan itu bersamaan, lalu langsung mundur setengah langkah....

..."Aku nggak ganggu, kan?"...

..."Nggak," kata Bima....

..."Ya," kata perempuan itu bersamaan....

...Dimas menatap mereka berdua bergantian. "Oke. Aku mau makan."...

..."Ada roti," kata Bima....

..."Roti apaan?"...

..."Roti yang tadi malam dibawa Rico."...

..."Oh." Dimas mengambil dua potong dari bungkus di meja dan mengunyahnya sambil berdiri. Ia tidak duduk, tidak juga pergi. Ia hanya berdiri di sana, dan Bima melihat ia sedang mencuri pandang ke tangan kanan perempuan itu di saku kaus....

..."Mbak," kata Dimas tiba-tiba. "Yang di gudang, itu orang suruhan siapa?"...

...Perempuan itu menoleh pelan ke arahnya. Dimas langsung menunduk ke rotinya....

..."Kamu tidak perlu tahu itu," kata perempuan itu....

..."Aku cuma nanya."...

..."Dan aku cuma jawab kamu tidak perlu tahu."...

...Dimas mengangkat bahu, menyelesaikan rotinya dalam dua gigitan, dan keluar lagi. Bima mendengar pintu kamar dibanting pelan. Ia tidak tahu apakah itu disengaja....

... ...

...Siang itu Wartini akhirnya duduk. Ia duduk di kursi makan dengan punggung tegak dan tangan di pangkuan, seperti orang yang sedang menunggu antrean. Bima duduk di seberangnya. Pak Darto tidur di kasur lipat dekat jendela, selimut tipis menutup dada, dan napasnya terdengar berat....

..."Bu," kata Bima....

..."Ibu dengar."...

..."Telepon itu."...

..."Ibu sudah bilang."...

..."Ibu bilang nomor lama bapak. Tapi bapak nggak pernah bilang punya dua nomor."...

...Wartini menghela napas panjang, dan untuk pertama kalinya Bima melihat bahunya turun, seperti benda berat yang akhirnya dilepas....

..."Dia punya dua hp," katanya. "Satu buat kerja, satu buat di rumah. Yang kerja selalu dimatikan kalau pulang. Ibu pikir itu cuma kebiasaan."...

..."Terus kenapa ada yang nelepon?"...

..."Karena yang nelepon tahu nomor itu." Wartini menatap meja. "Dan karena yang nelepon tahu cara bapakmu batuk."...

..."Ibu kenal suaranya?"...

..."Ibu tidak kenal siapa. Ibu cuma tahu suara itu biasa bilang Wa."...

..."Wa itu Ibu?"...

..."Wartini. Iya." Wartini tertawa kecil, tanpa senyum. "Dia cuma manggil begitu kalau lagi takut atau lagi kesal. Yang lain dia panggil Ibu, atau Mbok, atau Ni. Cuma Wa kalau dia sudah tidak tahu harus bilang apa."...

...Bima merasakan sesuatu mengencang di dadanya. "Dan dia manggil Ibu Wa di telepon?"...

..."Iya."...

..."Ibu yakin itu bapak?"...

...Wartini tidak menjawab. Ia mengambil sendok di meja dan memutarnya perlahan, sekali, dua kali, tanpa melihat benda itu....

..."Kamu mau Ibu bilang yakin?" tanyanya. "Ibu sudah mandiin mayatnya. Ibu sudah lihat dia dimasukkan ke tanah. Ibu tidak yakin apa-apa, Mas. Tapi kalau dia bilang Wa dengan suara begitu, Ibu tidak bisa tidak dengar."...

..."Terus apa yang bapak bilang?"...

..."Cuma satu kalimat. Yang tadi Ibu bilang di mobil."...

..."Jangan biarkan Bima pegang buku itu sendirian."...

..."Iya."...

..."Kenapa bapak ngomong gitu? Dia kan nggak tahu saya ada di warung."...

...Wartini meletakkan sendok. Ia menatap Bima lama, dan wajahnya tampak menua beberapa tahun dalam satu tarikan napas....

..."Karena dia tahu kamu yang akan pegang buku itu," katanya. "Dia tahu sejak kamu masih kecil dan selalu ikut berdiri di dekat panggangan. Dia pernah bilang ke Ibu, *Wa, kalau aku nggak pulang, jangan biarkan Bima menyimpan buku itu sendirian.* Ibu pikir dia cuma mabuk waktu itu, makanya Ibu tidak pernah cerita."...

..."Bapak pernah minum?"...

..."Sekali dua kali. Di pelabuhan."...

..."Kenapa Ibu nggak pernah bilang?"...

..."Karena kamu tidak pernah tanya, Mas. Itu jawabannya dari dulu."...

... ...

...Sore harinya, Bima berdiri di balkon kecil di belakang flat. Balkon itu hanya cukup untuk dua orang, dengan pagar besi karatan dan pot tanaman mati di sudut. Dari sana ia bisa melihat atap-atap seng, sebuah masjid kecil, dan jemuran orang-orang yang bergoyang tertiup angin....

...Ponselnya ia genggam dengan tangan kanan. Layarnya menampilkan dokumen kapal yang tadi malam dikirim dari nomor tak dikenal. Ia sudah membacanya lebih dari sepuluh kali, dan setiap kali ia membaca bagian kolom pemilik, jantungnya berdetak lebih cepat....

...*H. Ardhana.* Tanggal pengesahan, bulan lalu....

...Dan di bawahnya ada kolom baru, yang tidak ada di dokumen lama, hanya tercetak samar sebagai salinan. *Ahli waris / penerima kuasa: B. Ardhana.*...

...Bima menatap namanya sendiri di layar. Tulisannya kecil, rapi, dan ia merasa asing dengan nama itu, seperti melihat seseorang di kaca yang tidak sedang ia lihat....

...Pintu balkon terbuka di belakangnya. Perempuan itu melangkah keluar dengan dua gelas air putih. Ia menyerahkan satu ke tangan kiri Bima tanpa bicara, lalu berdiri di sisi pagar, tidak terlalu dekat....

..."Kamu sudah lihat kolom itu," katanya....

..."Sudah."...

..."Dari tadi?"...

..."Dari tadi malam."...

..."Kenapa tidak bilang?"...

..."Karena saya mau tahu dulu kenapa nama saya ada di sana."...

...Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia meminum airnya, lalu menurunkan gelas ke pagar....

..."Kamu pernah tanda tangan sesuatu sebulan terakhir?"...

..."Banyak. Sewa pasar, pajak, surat dari kelurahan."...

..."Yang berhubungan dengan pengelola?"...

...Bima terdiam. Di kepalanya muncul gambaran yang sudah lama tidak ia ingat. Meja plastik di warung, pagi yang cerah, seorang laki-laki berkemeja rapi membawa map biru. Laki-laki itu bilang ini formulir pendataan untuk sertifikasi pedagang pasar. Wartini duduk di sebelah Bima, menyuruhnya cepat-cepat tanda tangan karena orang itu sudah menunggu dari subuh....

..."Ada formulir," kata Bima pelan. "Ada yang datang bawa formulir pendataan. Saya tanda tangan. Ibu yang nyuruh."...

..."Dan KTP?"...

..."Saya kasih fotokopi."...

..."Kamu tidak baca isinya?"...

..."Waktu itu saya lagi ngiris daging."...

...Perempuan itu menatap jalan di bawah balkon, dan Bima melihat rahangnya mengeras, bukan karena marah, tapi karena ada sesuatu yang sudah ia duga sejak lama....

..."Orang itu bukan dari pengelola pasar," katanya....

..."Terus dia dari mana?"...

..."Dari kantor yang sama dengan yang mengirim pesan itu."...

...Bima menatap layar ponselnya lagi. Di sudut bawah dokumen itu ada cap kecil yang hampir tidak terbaca, tanggal yang sama dengan hari laki-laki berkemeja itu datang ke warung. Ia menggeser jarinya, memperbesar gambar, dan jari itu gemetar sedikit....

..."Tanggalnya sama," katanya....

..."Iya."...

..."Mbak sudah tahu dari kapan?"...

...Perempuan itu tidak menjawab langsung. Ia menoleh ke pintu balkon, di mana Dimas berdiri dengan wajah setengah tertutup tirai, pura-pura tidak mendengar....

..."Dimas, masuk," katanya tanpa berpaling....

...Dimas tidak bergerak. "Aku cuma mau tahu—"...

..."Masuk."...

...Dimas mendengus dan menutup tirai dengan kasar. Bima mendengar langkah kakinya di ruang tengah, lalu pintu kamar dibanting....

..."Mbak sudah tahu dari kapan?" tanya Bima lagi....

..."Dari malam di kapal," kata perempuan itu. "Waktu Om Gio bilang namamu ada di dokumen, aku sudah curiga. Tapi aku tidak tahu kenapa namamu ikut tertulis."...

..."Berarti Mbak yang ngirim foto itu?"...

..."Bukan."...

..."Terus siapa?"...

...Perempuan itu menatap Bima untuk pertama kalinya sejak mereka di balkon, dan kali ini ia tampak tidak yakin dengan jawabannya sendiri....

..."Orang yang tahu kamu akan menandatangani formulir itu," katanya pelan. "Karena dia yang menulisnya."...

...Bima menatap namanya di layar, lalu tanda tangan kecil yang menempel di bawah kolom penerima kuasa. Miring. Naik sedikit ke kanan....

...Tanda tangan itu bukan milik ayahnya....

...Itu tanda tangannya sendiri....

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!