Indonesia
NovelToon NovelToon
PUTRIKU DITUKAR, KINI AKU MENGGUNCANG DUNIA

PUTRIKU DITUKAR, KINI AKU MENGGUNCANG DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Hanya ada suara mesin pendingin ruangan dan nafas teratur Luna yang akhirnya tertidur karena kelelahan menangis.

Nabila duduk di kursi samping tempat tidur sambil terus mengelus rambut Luna yang sudah bersih dan wangi.

"Dia tertidur pulas, Leon. Wajahnya sangat tenang sekarang," bisik Nabila tersenyum haru menatap putrinya.

Leon berdiri di belakang Nabila dan memijat lembut bahu istrinya yang tegang.

"Tiga jam lagi kita akan mendapatkan bukti hitam di atas putih, Nabila," ucap Leon menatap wajah Luna yang tertidur lelap.

"Aku tidak butuh kertas itu Leon, hatiku sudah seratus persen yakin dia adalah anak kita," balas Nabila tanpa menoleh.

"Aku tahu, aku juga merasakannya. Tapi kertas itu kita butuhkan untuk menuntut balas secara legal dan ilegal," jawab Leon dengan senyum sinis yang kejam.

Leon mengambil ponselnya dari saku jasnya dan berjalan keluar dari ruang perawatan itu.

Dia butuh tempat yang lebih sepi untuk menghubungi orang-orang kepercayaannya.

Leon berjalan menuju ujung lorong rumah sakit dan menelepon kepala tim intelijen pribadi Wegan Group.

"Halo, Tuan Besar. Ada perintah apa?" suara serak seorang pria terdengar dari seberang telepon.

"Kumpulkan semua pasukan bayangan kita malam ini juga, persenjatai mereka dengan lengkap," perintah Leon dengan nada suara yang membekukan darah.

"Siap, Tuan! Apa target operasi kita malam ini?" tanya kepala intelijen itu tanpa ragu sedikit pun.

"Aku butuh kalian mencari sepasang suami istri bajingan bernama Siska dan Herman di seluruh kawasan kumuh ibu kota," jawab Leon.

"Mereka kemungkinan besar bekerja sebagai pengepul pengemis atau memiliki latar belakang kriminal kelas teri."

"Cari mereka hidup atau mati?" tanya kepala intelijen itu santai seperti menanyakan cuaca.

"Hidup! Bawa mereka ke markas bawah tanah kita malam ini! Aku sendiri yang akan menguliti mereka berdua!" perintah Leon dengan urat leher yang menonjol.

"Dimengerti, Tuan. Dalam dua jam, mereka berdua akan bersujud di kaki Anda," janji kepala intelijen itu sebelum mematikan telepon.

Leon memasukkan kembali ponselnya ke saku jas dan menatap ke luar jendela kaca rumah sakit.

Matahari siang ibu kota bersinar sangat terik, namun hati Leon terasa lebih panas seperti lahar gunung berapi.

"Kalian salah mencari lawan, Siska, Herman. Kalian menyentuh harta karun milik keluarga Wegan," gertak Leon meninju pelan kaca jendela.

Sementara itu, di sebuah gubuk reyot di kawasan kumuh yang sedang dicari oleh pasukan Leon.

Siska sedang duduk di depan televisi tabung tua sambil menghitung uang receh hasil setoran beberapa anak pengemis lain.

"Dasar anak-anak pemalas! Cuma dapat lima puluh ribu seharian!" gerutu Siska melempar recehan itu ke lantai.

Herman keluar dari kamar sambil menguap lebar, matanya masih merah karena pengaruh minuman keras semalam.

"Mana uang setorannya? Aku butuh modal buat main judi kartu di pos satpam nanti malam!" tagih Herman menadahkan tangannya.

"Belum terkumpul banyak, anak-anak sialan ini kerjanya pada malas semua!" omel Siska menyerahkan uang lima puluh ribu itu dengan kasar.

"Gunakan otakmu, Siska! Suruh anak haram bernama Luna itu kerja lebih keras!" bentak Herman menampar paha istrinya.

"Anak itu kan tampangnya paling menyedihkan, pasti gampang dapat belas kasihan dari orang kaya tolol di mall!" lanjut Herman terkekeh pelan.

"Ini sudah jam berapa? Kenapa anak sialan itu belum juga pulang menyerahkan setorannya?!" Siska melirik jam dinding yang sudah menunjuk angka dua siang.

"Biasanya jam segini dia sudah bawa seratus ribu pulang buat makan siang kita," lanjut Siska mulai merasa jengkel dan curiga.

"Paling dia ketiduran di depan mall atau malah dipakai jajan uangnya!" tuduh Herman sembarangan menyulut emosi istrinya.

Siska langsung berdiri dari kursinya dan mengambil sepotong kayu panjang dari sudut ruangan.

"Berani-beraninya dia mencuri uangku! Awas saja kau Luna, ibu patahkan kakimu malam ini biar besok pakai kursi roda sekalian!" ancam Siska mengayunkan kayu itu ke udara.

Siska tidak tahu bahwa anak yang dia panggil anak haram itu kini sedang tidur nyenyak di ranjang rumah sakit VVIP bernilai puluhan juta per malam.

Dan Siska juga sama sekali tidak sadar bahwa hitungan mundur menuju kematiannya sudah dimulai detik ini juga.

Waktu tiga jam yang diminta oleh dokter genetika terasa sangat menyiksa bagi Nabila dan Leon.

Mereka berdua duduk diam di dalam ruang perawatan menemani Luna yang masih tertidur pulas karena efek obat bius ringan penghilang rasa sakit.

Tok... Tok... Tok...

Pintu ruangan VVIP itu akhirnya diketuk pelan dari luar setelah tiga jam berlalu.

Jantung Nabila langsung berdegup sangat kencang hingga dia tanpa sadar meremas tangan suaminya erat-erat.

"Masuk," perintah Leon dengan suara tenang yang dibuat-buat, padahal tangannya sendiri sedikit berkeringat dingin.

Dokter ahli genetika tadi berjalan masuk ke dalam ruangan membawa sebuah amplop putih tertutup rapat berlambang rumah sakit Wegan.

Dokter itu tampak sangat berhati-hati dan menundukkan kepalanya dalam-dalam saat menyerahkan amplop itu pada Leon.

"Ini hasil tes DNA jalur prioritasnya, Tuan dan Nyonya," ucap dokter itu dengan suara sedikit bergetar.

Leon menerima amplop itu dan menatap kertas putih berlogo Wegan itu seolah itu adalah bom waktu yang siap meledak.

"Buka saja Leon, aku sudah siap dengan hasil apa pun yang tertulis di dalam sana," ucap Nabila memberanikan diri.

Leon menarik nafas panjang dan merobek ujung amplop itu dengan cepat sebelum keberaniannya hilang.

Dia menarik selembar kertas hasil uji laboratorium dan langsung membaca kesimpulan di bagian paling bawah halaman.

Mata hitam tajam milik Leon bergerak cepat membaca setiap huruf dan angka probabilitas yang tertera di kertas itu.

Suasana ruangan itu hening mencekam selama beberapa detik hingga Leon menurunkan kertas itu perlahan.

"Bagaimana hasilnya, Leon? Jangan membuatku menunggu seperti orang bodoh," desak Nabila mengguncang lengan suaminya.

Leon menatap mata istrinya yang berkaca-kaca dengan pandangan yang sulit diartikan.

Bibir Leon bergerak pelan membentuk seulas senyuman tipis yang sangat jarang dia perlihatkan pada siapa pun.

"Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen, Nabila," bisik Leon dengan suara yang akhirnya bergetar hebat karena haru.

"Probabilitas kecocokan DNA antara aku, kamu, dan gadis kecil ini adalah mutlak. Dia benar-benar putri kandung kita, Luna Wegan."

Kalimat konfirmasi dari mulut suaminya itu ibarat hujan deras yang mengguyur padang pasir gersang di hati Nabila.

Nabila langsung menangis sejadi-jadinya dan memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.

"Aku tahu, Leon! Hati kecilku selalu berteriak bahwa anak ini adalah bayiku yang hilang!" tangis Nabila menumpahkan seluruh perasaannya.

"Syukurlah Tuhan mengembalikan anak kita sebelum terlambat," lanjutnya bersyukur dari lubuk hati terdalam.

Leon membalas pelukan istrinya sambil menatap Luna yang masih tertidur tenang di ranjang pasien.

Kertas hasil tes DNA itu diremas kuat di tangan kanannya hingga kusut.

Satu fakta sudah terpecahkan, Luna adalah putri kandungnya yang asli dan sah secara hukum dan medis.

Sekarang saatnya masuk ke tahap fakta kedua yang harus segera diselesaikan hari ini juga.

"Nabila, kamu temani Luna di sini sampai dia bangun dari tidurnya," ucap Leon melepaskan pelukan istrinya dengan lembut.

"Kamu mau pergi ke mana, Leon? Jangan bilang kamu mau..." Nabila menatap suaminya dengan pandangan paham.

Leon tersenyum sangat dingin dengan aura membunuh yang kembali menguar pekat dari tubuhnya.

"Aku akan membereskan sampah-sampah yang sudah berani menyiksa putri kecil Wegan," jawab Leon santai memperbaiki kerah jasnya.

"Tolong sisakan mereka sedikit nafas untukku, Leon. Aku juga ingin menampar wajah mereka," pinta Nabila dengan mata penuh dendam.

"Tentu saja sayang, aku akan memastikan mereka masih bernafas saat kamu menampar mereka besok pagi," janji Leon mengecup kening istrinya.

Leon berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan VVIP itu dengan aura dominasi yang sangat kuat.

Di luar lorong rumah sakit, Asisten Budi sudah menunggu dengan wajah tegang.

"Tuan Besar, tim intelijen baru saja memberikan laporan. Mereka sudah menemukan lokasi gubuk Siska dan Herman," lapor Asisten Budi.

"Bagus. Berapa lama perjalanan dari sini ke kawasan kumuh itu?" tanya Leon sambil terus berjalan cepat menyusuri lorong.

"Sekitar empat puluh lima menit jika jalanan lancar, Tuan," jawab asistennya mengikuti langkah besar bosnya.

"Suruh tim bayangan mengepung gubuk itu sekarang juga. Jangan biarkan satu ekor lalat pun keluar dari sana!" perintah Leon dengan tegas.

Malam ini, langit ibu kota akan melihat bagaimana Wegan Group menghancurkan orang yang mencari masalah dengan keluarga kita.

1
Astiana 💕
elit sekali lah nama nya🤣
Astiana 💕
dasar bocah, mainan sulap katanya🤣
Thewie
lanjuuuttt💪💪💪
kiyoe: hehehe siap kaka
total 1 replies
Meee
,KLO bisa jangn ada yng mau adopsi sibianca.biar hidupnya. menderita itu karma atas perbuatan biadad orang tuanya😬😬
kiyoe: hehehe iyaa kak bener biar menyesal si Bianca 🤭
total 1 replies
Astiana 💕
kenzo memang teman terbaik🫰🏻
kiyoe: hehehe Kenzo besti nya Luna kak 🤭
total 1 replies
Astiana 💕
cerita nya makin bagus thor, gak sabar nunggu luna gede🤭
kiyoe: heheh makasih kak Astiana
total 1 replies
Astiana 💕
seharusnya hallo princess papa🤭
kiyoe: hehehe makasih kak pokok semangat terus 🤗🥰
total 3 replies
Meee
Luna harusnya di bekali ilmu bela diri,agar bisa melindungin diri sendiri.meski bnyak pengawal jaga" dari bahaya ke DPN ya sebagai seorang pewaris,dan jangn terlalu percaya dngn orang terdekat,musuh yng g bisa terbaca terjadi karena orang terdekat.😬😬
kiyoe: heheh terimakasih atas masukannya kak boleh di coba itu Luna di bekalin PSHT
total 1 replies
Adinda
pasti nanti bianca di adopsi sama orang kaya dan balas dendam sama leon takutnya nanti luna jadi sasarannya
kiyoe: heheh di tunggu update bab selanjutnya aja yaa kak 🤭
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjut
kiyoe: terimakasih Kaka Fauziah Daud ☺️
total 1 replies
Astiana 💕
apakah nanti gede nya tidak menaruh dendam thor pada Luna.🤔
Astiana 💕: haduh jadi penasaran 🤭
total 2 replies
Thewie
bawa ke psikiater anakmu wegan. kasihan traumanya blom hilang
ceuceu
ikutan nangis terharu/Sob/
kiyoe: hehehe baca novel nya sambil ngupas bawang merah yaa kak makanya sampai nangis 🤭😄
total 1 replies
ceuceu
Ya Allah kasihan banget luna/Sob/
Dewiendahsetiowati
Rosalina siap2 aja dirimu dapat kado istimewa dari ponakanmu, sudah tua tetep aja jahat
kiyoe: hehehe
total 1 replies
ceuceu
Hadir thor.
baru mulai baca
kiyoe: Terimakasih Kaka ceuceu semoga suka yaa sama ceritanya ☺️
total 1 replies
Thewie
akhirnya kebohongan itu terungkap juga. othor luar biasa memainkan emosi akuuuuu
kiyoe: wah Terimakasih kak Bintang Lima sehat selalu kak Thewie ☺️🙏
total 1 replies
Thewie
seru thor👍👍😍
kiyoe: Heheh terimakasih kak Thewie
total 1 replies
Astiana 💕
Semangat 💪🏻
Cerita nya bagus banget
Astiana 💕: oke sama-sama ya☺️
total 2 replies
Astiana 💕
cerita nya bagus banget thor, gak bertele-tele
kiyoe: Terimakasih kak Astiana 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!